April 1996
Tangan Seorang Buruh Batu-arang

Trem lari-lari di bawah rintik salju
wajah dalamnya tiada sehijau rumput negeriku
di sini di bumi kelabu
hanya pohon natal bagai pagoda
tinggal sendiri
dan sepi
menanti musim semi.

Trem lari-lari-anjing di bawah rintik salju
seorang memberi tangannya dan bertanya
darimana kau datang? Afrika? Tidak.
Vietnam? Tiongkok?
Dia sendiri yang menjawab: apa gunanya pertanyaan-pertanyaan?
Kau-aku datang dari tangan yang bekerja
Dan aku tak-sampai-hati bilang, ya, apalah harga kedangkalan kata
“aku datang dari ribuan pulau rangkaian permata”
jika mutiara terpendam di laut dalam
jika pohon natal sendiri bagai pagoda sepi menanti musim semi?
Tapi ini: kau datang dari tangan yang bekerja

Trem lari-lari-anjing di bawah rintik salju
dia diberi tangannya aku beri kantongku
Rokok? Tidak. Api? Tidak. Coklat? Tidak apa yang dia mau?
Adakah dingin yang mengendap membuat kalimat
begitu banyak ditidakkan?
Atau busa bir dihapus dari bibir
dan orang bisa tertawa riang?

Jawaban itu tergores di tangan yang kujabat
kasar, kapalan dan belontengan hitam
tangan itu juga yang mengusap salju dari jendela
dan muka-jernihnya muncul bagai mentari musim semi
berkata begitu sederhana dan kuat:
aku mau damai

Trem lari-lari-anjing di bawah rintik salju
hilang di pengkolan dan derunya tinggal jauh
tangan itu masih melambai, dia melambai kepada dunia
karena baginya buruh adalah batu-arang
yang dibakar dan membakar
yang apinya menghangati orang-orang yang bercinta
dalam sedikit kata: aku mau damai.

"Agam Wispi"
Puisi: Tangan Seorang Buruh Batu-arang
Karya: Agam Wispi
Orang-orang Lorong

Dentang piano di hari basah
sampai juga ke jendela tinggal bingkai
di sana terpahat wajah kotor gadis
yang pandangnya menyentak tangan pelukis
yang senyumnya pergumulan antara duka dan tawa
supaya penyair hidupkan tiap kata
supaya orang lorong tidak dijepit gedung tua
supaya tangannya yang berlumur tepung dan arang
juga bisa hitung usia bersahabatan
antara maut dan korbannya

O, tembok tua yang terbelah
dari celah titik air
lumut tak lagi menemu cahaya

Lagu, beri mereka napas
merobek siksa
tinggi suara sekali tentu melayah
biola, di lorong ini jerit menyambar
pudar sinar dan lembab wajah
mengatasi busuk sampah

Mereka yang memikul beban
tahu betul pucat wajah tanah
mereka tidak berkata
karena sudah berikan apa yang ada
dan tiap-tiap tindak tidak mengira dosa
sebab dosa mainan juru-bicara
mereka tidak berkata
jika celana satu harus potong dua
potong saja! Tapi kerja
(Lihat, betapa duka celananya dirinya)
sudah nyata, sudah nyata
kehidupan jadi nyala, menyiangi
hati tak bersisa.

Sebentar nanar
ditembak basah
pengemis bersandar
tangan sia-sia menadah

Kupantik api membakar rokok
dan mukanya sekali
aku tidak minta dan buat janji
karena pembebasan adalah kepastian
dan siapa menolak kepastian
berdamailah sendiri dengan minta dan janji
sedang cinta semusim akan gugur rontok.

Katakanlah, pengemis, jika rongkong masih bisa
menelan ludah: anak kolong, anak kolong
berlarilah lintas jalan-raya!
Betapa pun, takkan kuberi setitik darah
Selain daya merombak segala.

15 Oktober 1954
"Agam Wispi"
Puisi: Orang-orang Lorong
Karya: Agam Wispi
2 X 2 Meter

Di sini ada pohon keramat, memancarkan air.
Satu-satunya sumber air bersih di kampung ini.
Anak-anak menangkap ikan ... dalam lumpur.

Besok, jam 8 malam, kami akan membuat pertunjukan. 
Tentang kota dan kampung yang padat. Inem, Yana dan 
Kunah, bekerja sebagai buruh jahit. Cacuk menjual 
bakmi. Jangan lupa selametan nanti malam. Edy baru 
lulus sarjana. Dedy tidak tinggal lagi bersama orang tua. 
Kuro tidak lagi mencari perempuan dari desa. Besok, jam 
8 malam, kami akan membuat pertunjukan. Tentang 
puskesmas di antara kubangan lumpur. Sumbangan mesjid 
dan setoran keamanan toko-toko. Ke manakah Wardah 
mereka bawa? Mulut kami seperti massa di loteng-loteng 
berhimpit. Langit dari seng dan plastik bekas. Iwan dan 
Firman sakit perut. Ada golok tumpul di bawah bantal.

Besok, jam 8 malam, kami akan membuat pertunjukan. 
Tentang hati kami yang tak bisa dibakar. Ketakutan telah 
berhimpitan di setiap tikungan gang. Orang-orang dari 
desa terus datang ke rumah kami. Tangga kecil dari kayu, 
tempat memasuki kota. Besok, jam 8 malam, kami akan 
membuat pertunjukan. Tentang keputusan lurah. Di 
kamar mandi masih ada sisa banjir, dan iuran sampah. 
Sepatu dan sandal berserak di pintu. Bersama ibu-
ibu menggendong anak, sambil mencuci baju-baju kotor, 
sambil memasak sayur, sambil memikirkan nasib suami, 
sambil ke pasar membeli ikan asin.

Besok, jam 8 malam, kami akan membuat pertunjukan. 
Tentang hati kami yang tak bisa digusur. Bau telur 
digoreng dan bunyi kipas angin. Kota terus melangkah, 
ingin merebut kamar kami dan sisa udara pengap. Nama-
nama kampung telah berubah dari Tanah Sereal, Roxi, 
Jelambar, dengan taksi ke Bintaro, Pondok Indah dan 
kondominium. Kisah kami tinggal 2 X 2 meter.

Jangan lupa, Sumi, Cacuk. Besok kami akan membuat 
pertunjukan, jam 8 malam. Tentang Tini yang hatinya 
terbuat dari 2 X 2 meter. Menunggu pohon keramat. 
Menunggu sumber air bersih. Kota telah berjalan. Jauh. 
Tak pernah puas. Tak pernah memberi pemandangan lagi 
untuk hatinya. Besok, jam 8 malam, kami akan membuat 
pertunjukan. Jangan lupa.

1997
"Afrizal Malna"
Puisi: 2 X 2 Meter
Karya: Afrizal Malna
Migrasi dari Kamar Mandi

Kita lihat Sartre malam itu, lewat Pintu Tertutup: menawarkan manusia mati dalam sejarah orang lain. Tetapi wajah-wajah Dunia Ketiga yang memerankannya, masih merasa heran dengan kematian dalam pikiran: “Neraka adalah orang-orang lain.” Tak ada yang memberi tahu di situ, bagaimana masa lalu berjalan, memposisikan mereka di sudut sana. Lalu aku kutip butir-butir kacang dari atas pangkuanmu: Mereka telah melebihi diriku sendiri.

Wajahmu penuh cerita malam itu, menyempatkan aku mengingat juga: sebuah revolusi setelah hari-hari kemerdekaan, di Pekalongan, Tegal, Brebes; yang mengubah tatanan lama dari tebu, udang dan batik. Kita minum orange juice tanpa masa lalu di situ, di bawah tatapan Sartre yang menurunkan kapak, rantai penyiksa, alat-alat pembakar bahasa. Tetapi mikrofon meraihku, mengumumkan migrasi berbahaya, dari kamar mandi ke jalan-jalan tak terduga.

Di Ciledug, Sidoarjo, Denpasar, orang-orang berbenah meninggalkan dirinya sendiri. Migrasi telah kehilangan waktu, kekasihku. Dan aku sibuk mencari lenganmu di situ, dari rotasi-rotasi yang hilang, dari sebuah puisi, yang mengirim kamar mandi ke dalam sejarah orang lain.

1993
"Afrizal Malna"
Puisi: Migrasi dari Kamar Mandi
Karya: Afrizal Malna
Buat Malika Hamoudi

Kulihat jemarimu yang lentik, dan kusaksikan di langit
Arakan awan mengirimkan senja yang lain
Ke arah kita. Ada warna merah, warna biru yang pupus
Bongkahan-bongkahan kelabu yang melayang jauh
Dari jendela, kulihat sungai Siene yang membelah kota
Dengan jembatan-jembatannya yang penuh ukiran
Seperti rambut ikalmu. Lalu dari puncak apartemen tinggi
Kita berloncatan, meliuk-liuk dan berteriak di udara:
Senja pecah menjadi ribuan isyarat sunyi
Yang mungkin bisa diterjemahkan sebagai hasrat
Atau niat tersembunyi untuk bunuh diri

Masih kuingat tarian perutmu, dan kubayangkan sosokmu
Yang ramping, rautmu yang runcing, dengan alis Aljazairmu
Yang menikam seorang penyair. Di gerbong kereta api
Di sepanjang terowongan yang menembus tubuh tua kota ini
Ada yang menggelepar karena kehilangan kata-kata
Ketika sunyi menyediakan sebuah beranda merah muda
Yang bernama kebisuan. Lalu apakah arti percakapan kita
Dari halte ke halte, menyusuri jalan-jalan yang berliku
Keluar masuk restoran, museum atau toko buku
Sedang yang kutemukan selalu bukan ruang? Demikianlah
Aku mengerti gerak liar sang takdir, hukum awal dan akhir
Pengkhianatan yang kemudian menjadi monumen terkenal
Seperti Bastille yang ramai dikunjungi orang

Di bawah cahaya lampu merkuri, di antara tiang-tiang marmar
Kita merasa lebih tua dari usia bumi yang sebenarnya
Rautmu yang runcing, tatapanmu yang tajam dan berkilat
Seperti ingin membunuhku. Tapi ajal telah beranjak ke timur
Ke lereng-lereng perbukitan, ke Montmartre yang murung
Kini tanganku menyentuh dagumu pelan dan tiba-tiba kurasakan
Sebuah ketajaman yang lain lagi:
Mengapa kecantikan yang luar biasa selalu menghunuskan
Pisau? Seperti senja yang menancapkan satu jawaban
Yang tak mungkin bisa kuucapkan lagi padamu
Tak mungkin bisa kutuliskan di atas pakaian dalammu.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Buat Malika Hamoudi
Karya: Acep Zamzam Noor
Nyanyian Ariadne (1)

Sinar bulan telah mematangkan kandunganmu
Seorang bayi akan lahir dari benua sunyi ini
Begitu lama matamu terpejam, seakan menolak cahaya
Sesaat bintang-bintang berjatuhan menimpamu
Di ranjang, segalanya telah tersusun serba putih
Juga teronggok perasaanku yang letih -
Sedang di lehermu masih tersisa bekas gigitanku

Kita menjadi bagian dari nasib semesta, Ariadne
Bola bumi harus terbelah dan kita akan terlempar
Ke jurang yang berlainan. Pelan-pelan matamu membuka
Masih kurasakan tatapanmu yang mengandung api
Juga senyumanmu yang gemetar -
Napasmu seakan memendam kabut yang tebal

Tak ada yang bisa kuterjemahkan dari sinar bulan
Selain cahaya yang diam-diam memusnahkan kita
Dalam waktu. Masih kudengar suaramu yang sayup
Di antara selamat tinggalku yang terpendam
Tiba-tiba kukumu menekan pundakku keras sekali
Dan aku terbangun dari mimpi yang melelahkan -
Aku menggigil karena kehabisan kata-kata dan senyuman.


Nyanyian Ariadne (2)

Semakin jelas kusaksikan
Kabut bergulung-gulung melindasmu
Gaunmu terlepas dan topan mengusungmu
Ke angkasa. Seperti burung kau pun meronta
Sayapmu yang luka, Ariadne
Masih juga kaukepakkan
Memanggil langit agar mendekat
Memaksa rembulan turun

Apakah kau kedinginan, Ariadne
Tubuhmu telanjang dalam cahaya suram
Kabut terus bergulung-gulung
Tarianmu mulai tak kumengerti
Kau bergumam seperti mega
Keringatmu bercucuran
Membasahi bumi
Tangisanmu menjadi nyanyian

Kini akulah yang menggigil
Musik malam seakan pengantar kematianmu
Kabut semakin tebal, Ariadne
Di udara klakson-klakson terus berdengung
Mobil-mobil berebut ingin menjemputmu
Ke diskotik. Tiba-tiba senyumanmu menyala
Keabadian dalam genggamanmu
Kau meronta dan menari.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Nyanyian Ariadne
Karya: Acep Zamzam Noor
Lagu Pejalan Larut

Ingin kembali mencium rumputan
Bau tanah sehabis hujan, jejak-jejak pagi di pematang
Duapuluh tiga tahun aku dibakar matahari, digarami
Keringat bumi. Ingin kembali, ingin kembali
Mengairi sawah dan perasaan, menabur benih-benih ketulusan.

“Pejalan larut, di manakah kampungmu?”

Langit membara sepanjang padang-padang
Sabana. Pondok-pondok membukakan pintu dan jendela
Tungku-tungku menyalakan waktu. Duapuluh tiga tahun
Aku memburu utara, mengejar selatan, tersesat di barat
Dan kehilangan timur. Beri aku cangkul! Beri aku kerbau!

“Pejalan larut, berapa usiamu sekarang?”

Ingin kembali, ingin kembali mencium rumputan
Bau tanah sehabis hujan, jejak-jejak pagi di pematang.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Lagu Pejalan Larut
Karya: Acep Zamzam Noor
Lembang

Cakrawala membentangkan lukisan. Gerimis
Menghamparkan permadani. Angin menciptakan komposisi
Antara daun-daun bambu dan rumpun perdu:
Di ladang orang-orang memeras keringat dan waktu

“Petani, undang aku ke kebunmu
Lepas aku dalam ladangmu!”

Pagi menggigit. Dingin menikam tulang
Kabut turun, deretan cemara dan bukit yang membiru:
Di pasar orang-orang menjajakan kol, wortel dan kacang panjang

“Petani, undang aku ke teratakmu
Bakar aku bersama wangi jagungmu!”

Senja tersungkur di punggung bukit. Bulan
Menyelimuti malam dengan cahayanya yang redup
Awan merunduk, rumput dan cengkerik khusyuk berdoa:
Di surau orang-orang memaknai kehidupan dengan sederhana.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Lembang
Karya: Acep Zamzam Noor
Dadang, Pemetik Kecapi Tua
(Kepada Bahrum Rangkuti)

Dilingkarkannya angin pegunungan pada denting-denting
selalu di suara sendu berlagu margasatwa

Bila Dadang tiba tua,
dan ada bersua senyap angin bening lembah

Kumandanglah kumandang timang desir lena angin subuh
bambu-bambu berlagu selalu rindu

Sepagi embun Dadang tua tiba,
menyingkap cadar hari berlagu lembah biru
dan burung pagi mengitari dada bumi.

25 Juli 1954
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Dadang, Pemetik Kecapi Tua
Karya: Taufiq Ismail
Burung Unta

Burung unta itu burung yang paling besar di dunia
Tapi anehnya dia tidak bisa terbang seperti burung biasa
Karena sayapnya terlalu kecil ukurannya
Jadi tak dapat mengangkat badannya walau pun dia coba

Lehernya panjang dan tegak menjulang
Kakinya kuat, bulunya halus dan indah rupanya
Dia berlari cepat sekali walau pun tak bisa terbang
Sembilanpuluh kilometer dalam sejam kecepatannya

Mengapa dia dikaruniai Tuhan kecepatan yang begitu hebatnya?
Karena dia harus dapat mengelakkan bahaya yang tiba
Bila binatang buas hendak mengejar dan menerkamnya
Dan karena sayapnya tak bisa menerbangkan dirinya

Mari kita tengok telur burung unta di sarangnya
Waduh! Telur burung unta itu berat dan amat besarnya
Sebutir telurnya sampai dua belas ons beratnya
Sama beratnya dengan dua lusin telur ayam kampung biasa

Kalau dia tak bisa lagi menghindar dari bahaya
Dia sembunyikan mukanya ke dalam pasir, itu anehnya
Dan karena kencang lari dia diajar menarik kereta
Tapi dia cepat merasa lelah dalam tugasnya.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Burung Unta
Karya: Taufiq Ismail
Beruang Es

Putih bulunya, tambun dan berkaki empat
Namanya beruang tapi pintar betul berenang
Kalau dia berjalan amatlah lambat
Ke kiri agak bergoyang, ke kanan agak bergoyang

Di manakah beruang es tempat tinggalnya?
Di tempat yang banyak es dan dingin sekali
Paling utara di dunia, namanya kutub utara
Di sana manusia tinggal tidak berani

Di Kutub Utara dingin bukan kepalang
Air laut jadi es lantas menggumpal jadi gunung beku
Di situ beruang es berjalan dan berenang
Yang jantan, betina dan anak-anaknya yang lucu

Bulunya putih dan amatlah tebalnya
Untuk menahan dingin di kutub utara
Beruang es dewasa sampai lima ratus kilo beratnya
Ikan di laut makanannya yang paling utama

Di kutub utara matahari sering tidak kelihatan
Dalam gelap itu yang jantan berjalan mencari makanan
Kalau ikan tidak ada, wah, kasihan
Yang betina biasanya tidur saja agar tidak begitu kedinginan.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Beruang Es
Karya: Taufiq Ismail
Sapi Daging Peternakan Brenton

Inilah pabrik daging yang hidup
Inilah sebuah sistem
Matahari musim rontok bersinar
Tanahnya landai, lupurnya subur
Duaratus meter persegi tai sapi
dalam satu dengkul
Mata rantai produksi kali ini
Adalah kandang-kandang sapi daging
Peternakan Brenton

Dua ribu sapi menguak sekaligus
Dalam persatuan yang mengharukan
Suara mereka adalah
Ilustrasi padang-padang jagung
Tanah yang landai
Lumpur yang subur
Tangki air sembilan ribu galon
Kamar pengaduk makanan
Timbangan 5000 kilo
Kantor catatan kelahiran
buku hitung dagang
Dan bau serbuk manis
Melayang bersama
Tepung jagung
Hinggap pada suara
Dua ribu sapi menguak sekali gus
Dalam persatuan yang mengharukan
Matahari bersinar miring
Masuk celah peredaran udara
Klinik sapi
Hai!
Para pasien leptospira dan diarrea
Si gemuk ternak penjara
Iowa Beef Packerakan memperinci kalian
Lewat penjagalan
Perusahaan pengalengan
Industri ke seluruh negeri
Dan adpertensi penuh fantasi!

Dua ribu sapi menguak sekaligus
Dalam persatuan yang mengharukan
Suara mereka adalah
Ilustrasi padang-padang jagung
Tanah yang landai
lumpur yang subur
Bau sirup yang manis
Debu tepung jagung
Inilah pabrik daging yang hidup
Inilah sebuah sistem
Matahari musim rontok bersinar
Di atap kandang-kandang
Peternakan sapi daging
Kepunyaan Brenton.

1971
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Sapi Daging Peternakan Brenton
Karya: Taufiq Ismail
Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada hari ini pulang ke Almamaternya

(I)
Dia mahasiswa tingkat terakhir
ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang
15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa
memintanya pulang.
IPB memanggilnya
untuk merampungkan studinya,
tapi semua
sia-sia.

(II)
Dia di Waimital jadi petani
Dia menyemai benih padi
Orang-orang menyemai benih padi
Dia membenamkan pupuk di bumi
Orang-orang membenamkan pupuk di bumi
Dia menggariskan strategi irigasi
Dia menakar klimatologi hujan
Orang-orang menampung curah hujan
Dia membesarkan anak cengkeh
Orang kampung panen raya kebun cengkeh
Dia mengukur cuaca musim kemarau
Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau
Dia meransum gizi sapi Bali
Orang-orang menggemukkan sapi Bali
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah
Orang-orang memasang dinding dan atapnya
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka
Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital
Jadi petani.

(III)
Dia berkaus oblong
Dia bersandal jepit
Dia berjalan kaki
20 kilometer sehari
Sesudah meriksa padi
Dan tata palawija
Sawah dan ladang
Orang-orang desa
Dia melintas hutan
Dia menyeberang sungai
Terasa kelepak elang
Bunyi serangga siang
Sengangar tengah hari
Cericit tikus bumi
Teduh pohonan rimba
Siang makan sagu
Air sungai jernih
Minum dan wudhukmu
Bayang-bayang miring
Siul burung tekukur
Bunga alang-alang
Luka-luka kaki
Angin sore-sore
Mandi gebyar-gebyur
Simak suara azan
Jamaah menggesek bumi
Anak petani diajarnya
Logika dan matematika
Lampu petromaks bergoyang
Angin malam menggoyang
Kasim merebah badan
Di pelupuh bambu
Tidur tidak berkasur.

(IV)
Dia berdiri memandang ladang-ladang
Yang ditebas dari hutan rimba
Di kakinya terjepit sepasang sandal
Yang dipakainya sepanjang Waimital
Ada bukit-bukit yang dulu lama kering
Awan tergantung di atasnya
Mengacungkan tinju kemarau yang panjang
Ada bukit-bukit yang kini basah
Dengan wana sapuan yang indah
Sepanjang mata memandang
Dan perladangan yang sangat panjang
Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu
Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya
Bersama puluhan transmigran
Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang
Dan air pun berpacu-pacu
Delapan kilometer panjangnya
Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja
Mengairi tanah 300 hektar luasnya
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ
Muhammad Kasim Arifin, di sana,
Berdiri memandang ladang-ladang
Yang telah dikupasnya dari hutan rimba
Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor
Di padang rumput itu
Rumput gajah yang gemuk-gemuk
Sayur-sayuran yang subur-subur
Awan tergantung di atas pulau Seram
Dikepung lautan biru yang amat cantiknya
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.

1979
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada hari ini pulang ke Almamaternya
Karya: Taufiq Ismail
Jun Takami, Berkatalah dengan Jelas

Kau. seorang penyair, baru sejurus bicara padaku
Pada pertemuan jarak jauh, mungkin tak berarti
Tapi mengapa justru, di saat ada bagian dunia tersedu
Ketika bayang terlantun pada mimpi demi mimpi

Layar kabut yang ungu pada kata-katamu
Tatkala pedang tiran mengilat dalam barisan
Dan seluruh penguasa menyeru
Nyanyi kaum puritan

Apa yang kau tuliskan, apa
Kita simpankah pena lalu baca sajak-sajak tua
Atau kita tulis puisi atas pesanan
Dalam bahasa yang disamun slogan demi slogan

Slogan-slogan peperangan dengan nyanyi keangkuhan
Dalam ancaman suara yang mendustai diri
Semboyan-semboyan penguasa atas nama pemerintahan
Adakah kekhianatan lebih dari ini

Karena keranda nestapa telah diusung ke luar pertempuran
Diiringi nyanyi duka bukitmu, pohon-pohon kastanye
Akhir para tiran dalam upacara bunuh diri
Seraya menuliskan nama mereka dalam naskah sejarah

Takami. Bahwa puisi telah memanggil kita dari pagi
Dalam suara-suara surgawi
Panggilan yang tak bisa didiamkan
Ke mana pun kita akan pergi.

1963
Jun Takami adalah seorang penyair Jepang anti-perang di waktu Perang Dunia II
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Jun Takami, Berkatalah dengan Jelas
Karya: Taufiq Ismail
Benteng

Sesudah siang panas yang meletihkan
Sehabis tembakan-tembakan yang tak bisa kita balas
Dan kita kembali ke kampus ini berlindung
Bersandar dan berbaring, ada yang merenung

Di lantai bungkus nasi bertebaran
Dari para dermawan tidak dikenal
Kulit duku dan pecahan kulit rambutan
Lewatlah di samping Kontingen Bandung
Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana
Semuanya kumal, semuanya tak bicara
Tapi kita tidak akan terpatahkan
Oleh seribu senjata dari seribu tiran

Tak sempat lagi kita pikirkan
Keperluan-keperluan kecil seharian
Studi, kamar-tumpangan dan percintaan
Kita tak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam
Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Benteng
Karya: Taufiq Ismail