2 X 2 Meter

Di sini ada pohon keramat, memancarkan air.
Satu-satunya sumber air bersih di kampung ini.
Anak-anak menangkap ikan ... dalam lumpur.

Besok, jam 8 malam, kami akan membuat pertunjukan. 
Tentang kota dan kampung yang padat. Inem, Yana dan 
Kunah, bekerja sebagai buruh jahit. Cacuk menjual 
bakmi. Jangan lupa selametan nanti malam. Edy baru 
lulus sarjana. Dedy tidak tinggal lagi bersama orang tua. 
Kuro tidak lagi mencari perempuan dari desa. Besok, jam 
8 malam, kami akan membuat pertunjukan. Tentang 
puskesmas di antara kubangan lumpur. Sumbangan mesjid 
dan setoran keamanan toko-toko. Ke manakah Wardah 
mereka bawa? Mulut kami seperti massa di loteng-loteng 
berhimpit. Langit dari seng dan plastik bekas. Iwan dan 
Firman sakit perut. Ada golok tumpul di bawah bantal.

Besok, jam 8 malam, kami akan membuat pertunjukan. 
Tentang hati kami yang tak bisa dibakar. Ketakutan telah 
berhimpitan di setiap tikungan gang. Orang-orang dari 
desa terus datang ke rumah kami. Tangga kecil dari kayu, 
tempat memasuki kota. Besok, jam 8 malam, kami akan 
membuat pertunjukan. Tentang keputusan lurah. Di 
kamar mandi masih ada sisa banjir, dan iuran sampah. 
Sepatu dan sandal berserak di pintu. Bersama ibu-
ibu menggendong anak, sambil mencuci baju-baju kotor, 
sambil memasak sayur, sambil memikirkan nasib suami, 
sambil ke pasar membeli ikan asin.

Besok, jam 8 malam, kami akan membuat pertunjukan. 
Tentang hati kami yang tak bisa digusur. Bau telur 
digoreng dan bunyi kipas angin. Kota terus melangkah, 
ingin merebut kamar kami dan sisa udara pengap. Nama-
nama kampung telah berubah dari Tanah Sereal, Roxi, 
Jelambar, dengan taksi ke Bintaro, Pondok Indah dan 
kondominium. Kisah kami tinggal 2 X 2 meter.

Jangan lupa, Sumi, Cacuk. Besok kami akan membuat 
pertunjukan, jam 8 malam. Tentang Tini yang hatinya 
terbuat dari 2 X 2 meter. Menunggu pohon keramat. 
Menunggu sumber air bersih. Kota telah berjalan. Jauh. 
Tak pernah puas. Tak pernah memberi pemandangan lagi 
untuk hatinya. Besok, jam 8 malam, kami akan membuat 
pertunjukan. Jangan lupa.

1997
"Afrizal Malna"
Puisi: 2 X 2 Meter
Karya: Afrizal Malna

Post A Comment:

0 comments: