Mei 1996
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bermain Sajak

Bermainlah dengan sajakku
Seperti kupu-kupu membelah daun jambu
Menari-nari hingga malam membeku
Menghitung jemari hingga pagi tersipu
Bermainlah dengan sajakku
-; Karena hidup butuh makna baru

Lihat!
Sungai kecil mengalir risau
Butiran air pekat menggigil
Untaian pasir lekat memanggil
Damai seperti mata pisau
Damai sedalam kelam danau
-; Karena hidup bukan mengingau

Bermainlah dengan sajakku
Seperti anak-anak lugu tanpa malu
Sejatinya hidup tidak untuk peragu.

April, 2012
"Cucuk Espe"
PuisiBermain Sajak
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sharapova

Rambutmu yang pirang menyihir kata-kataku seketika girang
dan sekujurku yang telentang malas di ranjang terbangkitkan.
Bukan lantaran ancaman runcing anggar dan bidikan senapan
tiada cintaku bagimu sekasmaran Pushkin kepada istri orang.
Dalam tiap aroma vodka dan kaviar segar yang mendebarkan
kupancangkan pal tapal batas perasaan yang membahayakan.
Hasratku padamu terlunaskan lewat puisi pujangga negerimu
dan kau jadi jantung mimpi yang memompa darah kenyataan.
Atas nama cinta dan untuk penindasan di pengasingan Siberia
kukirim pendar sajakku dari bara Selatan yang hangat tropika.

“Ingin kuteriakkan padamu gairahku terbakar bukan untukmu
supaya aku jadi musuhmu yang menyala sepanjang hidupmu.”

Peluh membasahi bugar bahumu yang terbakar kobar matahari
membangunkan mimpi yang lama tidur dalam ketiak umurku.
Aku terkesima tanpa ingin mengingat asin keringat percintaan
selain membaca lagi roman perang dari desa Yasnaya Polyana.
Aroma tubuhmu lembut menyelusup ke relung angin kemarau
membujuk sekujur angan-angan yang tergeletak mati di Gulag.
Binatang hasrat merontakan pendaman impian dalam aortaku
dan liar menerkam tiupan gusar musim dingin di luar Kremlin.
Aku bukan jelmaan Rasputin dari pedalaman negeri kepulauan
atau bedil tentara Bolshevik yang mengakhiri Nikolai Gumilev.

“Ingin kucakar pundakku dengan kukumu yang merah jambu
supaya aku tak mengerti kau tak rela menerima ketakutanku.”

Sekujur lenganmu yang hangat dan kukuh menyambut dunia
menciptakan kejadian yang tak terduga dan memerangahkan.
Kau sungguh mengerti atau sama sekali tak pernah menduga
peristiwa cuma tiruan cinta yang lahir di luar pagar wasangka.
Jelaga Chernobyl tak mencemarkan kemurnianmu yang sahaja
menghisap siuran waktu ke lekuk sekujurmu yang segar susu.
Kutatap masa depan mengalir di lorong ototmu yang kebiruan
di balik kulitmu yang tak pernah bisa berdusta pada gairahmu.
Aku sering bercermin di situ serta kepayang menatap wajahku
yang begitu brengsek dan sakral dalam selimut kata-kata binal.

“Kauusap keberanianku yang gentar pada sorot mata kenyataan
seteguh kibasan lenganmu menyongsong takdir di depanmu.”

Senyumanmu yang riang menerima kemenangan dan kekalahan
membuatmu selalu hadir menjadi tubuh dan gelora yang hidup.
Kau tak ingin ragu pada peristiwa yang pergi serta menemuimu
setiap waktu dan mengendap dalam tubuhmu yang tanpa pintu.
Sepatumu berkejaran di atas bumi renta yang panas bersamamu
memburu dan menghadang nasib yang berlesatan dalam angin.
Kaulihat tubuhmu sesudah bercinta dan menemukan mata sajak
menguntit binar kebajikan yang tak henti dinistakan kepalsuan.
Di Gorky Park nafasmu menghangatkan udara Rusia yang beku
dan mencibir kelebat hantu Lenin dan Trotsky yang mengerikan.

“Kau menampikku menipu waktu yang terlumur kegamangan
seperti tubuh manusia terselangkupi maknanya dalam dusta.”

Pinggangmu begitu sempurna merahasiakan rengkuhan mesra
yang dulu penuh debar menjamahkan cinta dan menguasaimu.
Ingin kupelukkan sajakku di situ dan aku tahu itu tak bijaksana
karena kehangatanmu bakal menerima tanpa lagi melepasnya.
Kebebasan ingin kuberikan dan kudapatkan tanpa menyentuh
apapun yang akan membuatku tak pernah bisa melupakannya.
Aku tak kuasa perkasa menghadapimu dengan keseluruhanku
maka ada yang kutelanjangi serta kusimpan dalam sekujurku.
Aku bukan Karl Marx yang hendak membakar impian proletar
dan berterus-terang memijarkan kembali harapan yang pudar.

“Ingin selalu kubilang padamu perasaanku menjadi mata belati
yang kusemayamkan dalam sarungnya dan kusimpan di saku.”

Deburan jantungmu menggetarkan tembok perbatasan hayalan
mendesakku merasakan teduh matamu menyala dan berkobar.
Telinga kata-kataku mendengar hamburan kemarahan cintamu
melabrak sajak yang bergejolak menahanmu di sebentang jarak.
Di Lapangan Merah ada jejak revolusi yang berisik di masa lalu
yang hiruknya tak tersingkir oleh kesibukanku memikirkanmu.
Tapi aku cuma sebatas mengingat ingatan yang kuingin darimu
dan telah kucukupkan semua itu dengan seluruh keteguhanku.
Aku tak ingin ragu saat bangkit keraguanku akan kupadamkan
serta kukaramkan bersama bangkai kapal selam di Laut Hitam.

“Aku telah bersalah padamu demi keyakinan yang kuhunuskan
dan kutujahkan ke dadaku bila tatapanmu menggoyahkanku.” 

"Binhad Nurrohmat"
Puisi: Sharapova
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fragmen Tak Bernama

Seperti semula, kaunyanyikan lagu purba
menyatu dalam tarian pohon-pohon akasia
ketika adam meninggalkan tanah asalnya
mencari hawa di belantara luka
dalam kicau burung dan risik serangga
angin bersetubuh dengan musimnya.

Tiap senja tiba daun pun rontok
mawar mekar merah senyumnya
ketika layu kau tak menjamahnya
kaubiarkan burung meninggalkan kicaunya
kaubiarkan kupu meninggalkan kepompongnya.

Semesta berproses dalam genggaman kodrat
kehidupan kauciptakan lantas kauremas
pelan-pelan, mengucur darah kefanaan.

1980
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiFragmen Tak Bernama
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bima

Hari kamis: aku menyelam
ke dasar samudra. Mencari
awal yang membangkitkan
alun, ombak dan badai lautan.

Mencari penggerak diri
mencari pengukuh aku
- sumber dari segala ada

Hari jumat: hati pergi
sendiri, nuh berjingkat
menjauhi hiruk-pikuk semesta ada.

Mengejar awal garis
: sirotol mustaqim.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Bima
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Yudistira

Aku akan mendaki gunung
ini, aku mencari puncak
itu. Karena pengembaraan
mengekalkan rindu dalam kalbu

Yang kekal itu tak di lurah,
tak di lembah, tak muncul
dari tunggul sebagai tunas. Itu
ada di penghujung undakan awan.

Diam-diam meninggalkan
istana, menjauhi rakyat,
kerabat, musuh dan saudara
- yang mengekal batu di setapak

: ada yang memayungi segala
meski tak tampak dimana-mana.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Yudistira
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Orgasmoland

Aku mengenang Soreang
seperti mencintai
Surabaya, di mana
istri lahir dan kami merayakan kawin

Aku mencintai Surabaya
seperti aku memuja
Caruban, di mana anak
digejalakan di dalam rahim dan lahir

Aku memuja Caruban
seperti mengenang
seorang di mana ibu
membuka pintu rahim dan aku hadir
dari kota ke kota
merentang cinta
sebelum aku telentang dalam
lahat kepayang mabuk kenangan.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Orgasmoland
Karya: Beni Setia