Juli 1996
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat Bunga dari Ubud

Tak ada perangko buat mengirim
kutempel bunga di pojok amplop

Yang terhormat Dunia
aku tumbuh warna-warni
dari darah pelukis yang dibantai
harumku seharum namanya.

Ubud
13 Oktober 2004
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiSurat Bunga dari Ubud
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Anjing Kidal

Berapa lama sudah aku tak melihatmu, sayangku? Tapi aku masih 
juga berkata, pergilah, pergilah. Rumah ini milikku sekarang. 
Akan kurawat semua kitabmu, jam tanganmu, pisau cukurmu, 
album potretmu, segenap gerabahmu. Pergilah. Nun di sana mere
ka telah lama menunggumu. Para penyair, pegawai kotapraja, 
perawat bayi, penjaga pintu kereta, penyigi gardu listrik, pemilik 
restoran. Mereka mendengar lolongmu ketika seluruh kota hampir 
saja terhapus oleh hujan berbilang malam. Bukankah kau pembuat 
segala payung, perahu, dan perumpamaan? Ulurkan tanganmu 
sebelum mereka seperti lenyap, sebelum kemarau datang menyer
gap. Aku yakin kaubawa bubuk kopi dan sobekan gaunku agar 
kelak kau mampu kembali. Dan mengasihiku lagi.

Sungguh kau tak akan percaya, cintaku. Tangan kananku ter
tindih petunjuk jalan ataukah peti mati, aku tak tahu pasti. Aku 
tetap berada di halaman yang itu-itu juga. Masih tercium olehku 
bau rambutmu dan celah susumu sehingga aku tetap saja jatuh 
birahi. Sambil menggambar wajahmu di hamparan pasir, tak 
henti-henti aku minum dari bayang-bayangmu. Masih terpam
pangkah hujan di dalam sana? (Ah, tamsil apa lagi yang kaubuat 
untukku?) Itulah bayangan hujan yang membuatmu alpa bahwa 
tahun sudah berganti. Dan kaucitrakan air bah nun di kota agar 
rumahmu selalu terpacak jelita di puncak bukit karang di utara 
pelabuhan udara seperti sekarang ini. Pakaianku melapuk dan 
gugur pelan-pelan, kini aku bisa hidup seperti pokok tusam atau 
kembang sepatu yang telah lama kautanam. Jika kaudengar bel 
tukang pos di pagar, itu berarti aku tengah menulis puisi rahasia 
untukmu.

Betapa jejakmu di sini kian kentara saja ketika aku tak menemu
kan beritamu di koran pagi atau televisi. Percayalah, sayangku, 
aku rajin belajar menari sebab aku tak mampu menghapus tilasmu. 
Namun masih saja kucakari ranjang atau meja makan jika aku 
gamang menirukan untaian gaya yang termaktub dalam aneka 
kitabmu. Pun lidahku terjulur-julur jika aku memandang potret 
dirimu di dinding merah padam itu. Terkadang rumah ini bergetar
hampir pecah oleh pesawat terbang yang merendah ke atap, tapi 
dengan gemuruh itulah aku bisa sejenak percaya bahwa aku, seperti 
juga kau, bisa juga dekat dengan maut dan kalibut.

Aneka kabilah yang lewat di depanku ganti-berganti berseru, 
“Lihat, betapa mahir tangan kirinya. Bahkan wajah kekasih yang 
dilukisnya adalah wajah kita juga.” Ada juga yang terkadang 
memindahkan pal si mati yang telah mengimpitku, tapi aku tak 
juga terguling ke bawah sana, ke kota yang hampir bahagia itu. 
Tapi bila aku menggambar dengan kedua tanganku, mereka kira 
aku menggali-gali ke dalam sana. “Ternyata ia paham juga arkeo
logi. Lihat, ia mencari sisa hujan asam yang membawa kita ke 
mari. Atau menyigi pecahan palu dan sabit yang telah memus
nahkan moyang kita.” Mereka sungguh tak tahu, sayangku. 
Kaukira mereka tertarik padaku? Tidak, tidak sama sekali. Hanya 
kubuat mereka terpesona pada tanganku, lidahku, bayang-
bayangku, lukisanku. Agar mereka tak melihatmu. Dan kuberi 
mereka cermin pasir sehingga mereka lupa memasuki rumahmu. 
Sekali-sekala bentang kainmu menghalangi mereka memandang 
ke arah jurang. “Sayang sekali tabir abu-abu sesempurna ini tak 
bisa kami bawa ke kampung halaman,” seorang penyair-musafir 
berkata.

Di bawah sana mereka kian mahir baris-berbaris. Sudahkah kau 
selesai, sayangku? Dari gema yang jauh itu aku tahu mereka telah 
menghapal namamu. Mereka ternyata tak tenggelam, bahkan kini 
merekalah yang hendak mengaramkanmu. Meninggilah, mening
gilah, sayangku. Aku tahu kini puisi ditulis dengan ludah, daftar 
menu dengan darah, dan kitab undang-undang dengan ter murah. 
Tolong bawakan daku gaung ting-ting palang pintu kereta api dan 
sisa harum santan dari tong es puter supaya rumahku tak menjel
ma museum. Lalu aku seperti mendengar lelangkah kaki mendekat 
ke pintu. Seperti apakah rupamu jika kau sampai lagi ke mari? 
Kini aku menjadi seperti bocah lagi: aku harus mengendus pa
kaianmu dan membubuhkan lumut ke potret dirimu agar mampu 
mengenalimu lagi, menangkapmu lagi.

Benar, mulai kuhancurkan sosok para peziarah itu dalam 
lukisanku. Bukankah peti mati, kembang sepatu, dan bubuk kopi 
harfiah belaka bagi mereka? Sungguh mereka tak tahu bahwa 
semua jalan menuju rumahmu. Alas pasir ini terasa basah 
sekarang (mungkin oleh air mataku, mungkin oleh hujan yang 
tak dapat kukenal lagi). Nun di ujung sana kausebut berbilang-
bilang namaku sampai kau telanjang sepenuhnya. Di pintu 
rumahmu masih terpacak payung, perahu, puing pesawat ter
bang, dan kitab puisi, yang membuat maut takut mendekat 
padamu. Percayalah, aku selalu menujumu, meski kau tak 
kunjung melihatku. Menarilah selalu, cintaku, menarilah bahkan 
di ranah yang tak kunjung ke mari, selama lolong panjangku 
meningkahimu seperti bunyi jantung hati.

2007
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiAnjing Kidal
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berkatilah Jakarta, Tuhan

Siapa yang tak menangis melihat Jakarta
ia seperti penderita kusta yang tak boleh mati.

"Puisi Medy Loekito"
PuisiBerkatilah Jakarta, Tuhan
Karya: Medy Loekito

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gelap

Berhari-hari lampu padam di rumahmu. Huruf dan  gambar tenggelam tertelan oleh dinding. Hidup jadi kelam. Kebahagiaan karam. Kamu resah. Bergulingan di jalanan. Merasa ventilasi dalam rongga dadamu mampat, seperti got yang dipenuhi sampah berjejalan. Karena aku takut pada gelap, katamu. Gelap itu sepi, seperti kematian. Kematian itu sepi seperti malam. Apakah  kamu takut pada malam yang sementara? Bukan, aku tidak takut pada malam yang didesak oleh sore dan petang hari meski kemudian digantikan subuh dan pagi hari. Tapi aku takut pada saat malam itu. Atau saat lampu padam. Karena kita tidak bisa berbuat apa-apa. Itu mengingatkanku  bahwa suatu hari nanti hidup juga akan memadamkan lampunya. Entah kapan. Saat siang atau malam. Saat ada penerangan atau saat matahari tenggelam.


2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiGelap
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Biji Mata
(Untuk si dia si penggoda)

Di rumah Wayan: hujan turun warna kelabu
Di urat nadiku: darah mengalir, ke ceruk hatimu
Dengan sebilah jarum dan benang, 
kucari.

Kucari terus:
biji mata-Mu!

Ubud, 2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiBiji Mata
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||