Januari 1997
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Mendengar Suara


Aku mendengar suara
Jerit hewan yang terluka.

Ada orang memanah rembulan.
Ada anak burung terjatuh dari sarangnya.

Orang-orang harus dibangunkan.
Kesaksian harus diberikan.

Agar kehidupan bisa terjaga.


Yogya, 1974
Puisi ini sebenarnya tak punya judul dan tidak termuat di daftar isi. Puisi ini adalah puisi pembuka dan diletakkan di bagian awal buku Potret Pembangunan dalam Puisi.
"Puisi: Aku Mendengar Suara (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Aku Mendengar Suara
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Paman Doblang
Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap.
Tanpa lampu. Tanpa lubang cahaya. Pengap.
Ada hawa. Tak ada angkasa.
Terkucil. Temanmu beratus-ratus nyamuk semata.
Terkunci. Tak tahu di mana berada.

Paman Doblang! Paman Doblang!
Apa katamu?

Ketika haus aku minum dari kaleng karatan.
Sambil bersila aku mengharungi waktu
lepas dari jam, hari dan bulan
Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk
tidak berupa, tidak bernama.
Aku istirah di sini.
Tenaga ghaib memupuk jiwaku.

Paman Doblang! Paman Doblang!
Di setiap jalan mengadang mastodon dan serigala.
Kamu terkurung dalam lingkaran.
Para pangeran meludahi kamu dari kereta kencana.
Kaki kamu dirantai ke batang karang.
Kamu dikutuk dan disalahkan.
Tanpa pengadilan.

Paman Doblang! Paman Doblang!
Bubur di piring timah
didorong dengan kaki ke depanmu
Paman Doblang, apa katamu?

Kesadaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakerawala.
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata.

Depok, 22 April 1984
"Puisi: Paman Doblang (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Paman Doblang
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Doa Di Jakarta
Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang berarti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan -
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sehat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

Ibumu mempunyai hak yang sekiranya kamu mengetahui tentu itu besar sekali
Kebaikanmu yang banyak ini
Sungguh di sisi-Nya masih sedikit
Berapa banyak malam yang ia gunakan mengaduh karena menanggung bebanmu
Dalam pelayanannya ia menanggung rintih dan nafas panjang
Ketika melahirkan andai kamu mengetahui keletihan yang ditanggungnya
Dari balik sumbatan kerongkongannya hatinya terbang
Berapa banyak ia membasuh sakitmu dengan tangannya
Pangkuannya bagimu adalah sebuah ranjang
Sesuatu yang kamu keluhkan selalu ditebusnya dengan dirinya
Dari susunya keluarlah minuman yang sangat enak buatmu
Berapa kali ia lapar dan ia memberikan makanannya kepadamu
Dengan belas kasih dan kasih sayang saat kamu masih kecil
Aneh orang yang berakal tapi masih mengikuti hawa nafsunya
Aneh orang yang buta mata hatinya sementara matanya melihat
Wujudkan cintaimu dengan memberikan doamu yang setulusnya pada ibumu
Karena kamu sangat membutuhkan doanya padamu.


"Puisi: Sajak Doa Di Jakarta (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Doa Di Jakarta
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam


Di kota itu, kata orang, gerimis telah jadi logam. Di bawah cahaya
hari pun bercadar, tapi aku tahu kita akan sampai ke sana.

Dan kita bercinta tanpa batuk yang tersimpan, membiarkan
gumpal darah di gelas itu menghijau. Dan engkau bertanya
mengapa udara berserbuk di antara kita?

Lalu, pagi selesai, burung lerai dan sisa bulan tertinggal di
luar, di atas cakrawala aspal.

Jika samsu pun berdebu, kekasihku, juga pelupukmu.
Tapi tutupkan matamu, dan bayangkan aku menjemputmu,
mautmu.
 
1971
"Puisi: Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ranjang Pengantin, Kopenhagen


Di luar salju terus. Hampir pagi
tubuhmu terbit dari birahi.
  
Angin menembus. Hilang lagi
napasmu membayang dalam dingin. Mencari
  
Panas khatulistiwa itu
gamelan perkawinan itu
tak ada kini padaku.
Adakah kau tahu?
  
Hanya ingin, hanya senyap, hanya rusuk
dari mana engkau ada.
Hanya dingin. Lindap. Lalu kantuk.
Dari mana engkau tiada.
 
"Puisi: Ranjang Pengantin, Kopenhagen (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Ranjang Pengantin, Kopenhagen
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Zaman Kemajuan

Inilah zaman kemajuan
ada syrup rasa jeruk dan durian
ada kripik rasa keju dan ikan
ada republik rasa kerajaan.
  
Zaman kemajuan - 1997
"Puisi: Zaman Kemajuan (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Zaman Kemajuan
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Atas Nama
Ada yang atas nama Tuhan melecehkan Tuhan.
Ada yang atas nama negara merampok negara.
Ada yang atas nama rakyat menindas rakyat.
Ada yang atas nama kemanusiaan memangsa manusia.

Ada yang atas nama keadilan meruntuhkan keadilan.
Ada yang atas nama persatuan merusak persatuan.
Ada yang atas nama perdamaian mengusik kedamaian.
Ada yang atas nama kemerdekaan memasung kemerdekaan.

Maka atas nama apa saja atau siapa saja
kirimkanlah laknat kalian
atau atas nama-Ku
perangilah mereka dengan kasih sayang!
  
Rembang - Agustus 1997
"Puisi: Sajak Atas Nama (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Sajak Atas Nama
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Negeri Teka-Teki

Jangan tanya, tebak saja
 
Jangan tanya apa
jangan tanya siapa
jangan tanya mengapa
tebak saja.
 
Jangan tanya apa yang terjadi
apalagi apa yang ada di balik kejadian
karena di sini yang ada memang
hanya kotak-kotak teka-teki silang
dan daftar pertanyaan-pertanyaan.
 
Jangan tanya mengapa
yang di sana dimanjakan
yang di sini dihinakan,
tebak saja.

Jangan tanya siapa
membunuh buruh dan wartawan
siapa merenggut nyawa
 yang dimuliakan Tuhan
jangan tanya mengapa,
tebak saja.
 
Jangan tanya mengapa
yang di sini selalu dibenarkan
yang di sana selalu disalahkan
tebak saja.

Jangan tanya siapa
membakar hutan dan emosi rakyat
siapa melindungi penjahat keparat
jangan tanya mengapa,
tebak saja.

Jangan tanya mengapa
setiap kali terjadi kekeliruan
pertanggungjawabannya tak karuan
tebak saja.

Jangan tanya siapa
beternak kambing hitam
untuk setiap kali dikorbankan
tebak saja.

Jangan tanya siapa
membungkam kebenaran
dan menyembunyikan fakta
siapa menyuburkan kemunafikan dan dusta
jangan tanya mengapa
tebak saja.
 
Jangan tanya siapa
jangan tanya mengapa
jangan tanya apa-apa
tebak saja.
  
Rembang - Oktober 1997
"Puisi: Negeri Teka-Teki (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Negeri Teka-Teki
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Negeri Kekeluargaan
Meski kalian tidak bersaksi
sejarah pasti akan mencatat dengan huruf-huruf besar
bukan karena inilah
negeri bagai zamrud yang amat indah
bukan karena inilah
negeri dengan kekayaan yang melimpah
dan rakyat paling ramah
tapi karena kalian telah membuatnya
menjadi negeri paling unik di dunia.

Kalian buat norma-norma sendiri yang unik
aturan-aturan sendiri yang unik
perilaku-perilaku sosial sendiri yang unik
budaya yang lain dari yang lain.

Kalian buat bangsa negeri ini
tampil beda dari bangsa-bangsa lain di muka bumi
kehidupan penuh makna kekeluargaan
yang harmonis, seragam dan serasi
dengan demokrasi keluarga
yang manis, rukun dan damai.

Dalam sistem negeri kekeluargaan
bapak sebagai kepala rumahtangga
memimpin dan mengatur segalanya
sampai akhir hayatnya
bagi kepentingan keluarganya
kepentingan keluarga adalah kepentingan semua
kepentingan keluarga adalah kepentingan bangsa dan negara
keluarga harus sejahtera
dan semua harus mensejahterakan keluarga.

Demi kesejahteraan dan kemakmuran keluarga
kepala keluarga berhak menentukan
siapa-siapa termasuk keluarga
berhak memutuskan dan membatalkan keputusan
berhak mengatasnamakan siapa saja
berhak mengumumkan dan menyembunyikan apa saja.

Kepala keluarga demi keluarga
berhak atas laut dan dan udara
berhak atas air dan tanah
berhak atas sawah dan ladang
berhak atas hutan dan padang
berhak atas manusia dan binatang.

Sejarah pasti akan menulis dengan huruf-huruf besar
bahwa di suatu kurun waktu yang lama
pernah ada negeri kekeluargaan
yang sukses membina dan mempertahankan
kemakmuran dan kebahagiaan keluarga.
  
1997
"Puisi: Negeri Kekeluargaan (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Negeri Kekeluargaan
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Luar Hening Langit
Di luar hening langit meredam
ronta tangisku atas kehidupan penuh dendam
ketika nurani menagih janji
ketika kemerdekaan menuntut tanggung jawab
pada kekuasaan yang membantai kemanusiaan
pada kepemimpinan yang menyia-nyiakan kesetiaan
pada kekuatan yang memanfaatkan kesabaran
pada keserakahan yang menghina keadilan
ternyata angkara masih saja ikut bicara
o, hening langit
beri kami keindahan bulanmu
untuk menghias batin kami
beri kami cerah mentarimu
untuk mengusir awan gelap pikiran kami
beri kami hening bintang-bintangmu
untuk menerbitkan kearifan diri kami
o, hening langit
ajarilah kami meredam dendam
agar keadilan dan kebenaran sendiri tegak
bagai takdir yang tak tertolak
amin.

  
1997
"Puisi: Di Luar Hening Langit (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Di Luar Hening Langit
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ada
Adakanlah dirimu
maka
engkau pun adalah.

Dan tetap ada
hingga
segalanya punah.
  
1970
"Puisi: Ada (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Ada
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kesabaran

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu.
Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli.
Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi
Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba.


Maret, 1943
"Puisi: Kesabaran (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Kesabaran
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Karawang Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami.

Menjaga Bung Karno.

Menjaga Bung Hatta.

Menjaga Bung Syahrir.

Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi.
1948
"Puisi: Karawang Bekasi (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Karawang Bekasi
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Permintaan Seorang yang Tersekap di Nanking, Selama Lima Tahun Itu
- buat Agam Wispi


Tuhanku, komandanku, Engkau, siapapun Engkau, pergilah
dari Nanking

di luar kamar
malam hanya menghafal
lolong langit anjing -

pergilah dari kamp, dari kamp,
pergilah dari harap yang tersisa
seperti sekam,

berangkatlah dari kawat duri yang sabar,
dari Revolusi,
dari percobaan sebesar ini

Tuhanku, siapapun Engkau, pergilah
dari Nanking,
tinggalkan stasiun
ke salju dan danau, cantumkan cahaya Baikal
di malam yang sebentar,
dan sematkan sekilas bulan yang runcing
seperti leontin

Sampai pada lanskap ini tak ada lagi yang baka,
tak ada yang beku
sebeku titah-Mu, mungkin
sebeku nama-Mu.

Tuhanku, siapapun Engkau, pergilah
dari Nanking.

1996-1997
"Puisi: Permintaan Seorang yang Tersekap di Nanking, Selama Lima Tahun Itu"
Puisi: Permintaan Seorang yang Tersekap di Nanking, Selama Lima Tahun Itu
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Malioboro
Kepada seseorang yang mengingatkan saya akan Iramani, yang dibunuh di tahun 1965

Saya menemukanmu, tersenyum, acuh tak acuh
di sisi Benteng Vriedenburg.

Siapa namamu, kataku, dan kau bilang:
Kenapa kau tanyakan itu.

Malam mulai diabaikan waktu.
Di luar, trotoar tertinggal.

Deret gedung bergadang
dan lampu tugur sepanjang malam.

Seperti jaga untuk seorang baginda
yang sebentar lagi akan mati.

Mataram, katamu, Mataram...

Ingatan-ingatan pun bepercikan
- sekilas terang kemudian hilang - seakan pijar
di kedai tukang las.

Saya coba pertautkan kembali
potongan-potongan waktu
yang terputus dari landas.

Tapi tak ada yang akan bisa diterangkan, rasanya.

Di atas bintang-bintang mabuk
oleh belerang,

kepundan seperti sebuah radang,

dan bulan dihirup hilang
kembali oleh Merapi

Trauma, kau bilang
(mungkin juga, "trakhoma?")
membutakan kita.

Dan esok los-los pasar
akan menyebarkan lagi warna permainan kanak
dari kayu: boneka-boneka pengantin
merah-kuning dan rumah-rumah harapan
dalam lilin.

Siapa namamu, tanyaku.
Aku tak punya ingatan untuk itu, sahutmu.


1997
"Puisi: Di Malioboro (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Malioboro
Karya: Goenawan Mohamad