Februari 1997
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Dalam Taman

Aku menunggu, tapi tak tahu siapa
Akasia dan Gladiol tak menyapa
Bangku-bangku taman enggan bercerita.

Aku menunggu. Usia merambat dalam jarak
tak terduga.

Lalu yang tinggal, diam dalam semestaku
Suara-suara serangga 
Serak daun-daun dan semak
Semua serba abadi.

Semua serba abadi
Pot-pot bunga: yang mekar
Hanyalah luka
Impian-impian entah apa.

Aku menunggu. Usia merambat dalam jarak
tak terbaca.

1987
"Puisi: Di Dalam Taman (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Di Dalam Taman
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Memo: Rumah-Rumah Batu

Beratus tahun lagi, mungkin rumahku akan tetap
sebuah batu, lantai lantai lumpur membenamkan
kaki-kaki kami yang telanang dan sakit.
mulut-mulut kami diganjal meja-meja tulis yang
mengatur tangan-tangan diborgol.
pikiran dibuka buat ladang bunga: keindahan
sebagai frangiala!
sungai diseberangkan lewat pintu-pintu
matahari digantungkan pada atap-atap: kepongahan
tak akan lumer. dengan lumpur sebagai lantai
yang disimpannya.
orang-orang pintar mencatat huruf-huruf
dalam batin kita.
orang-orang pintar mencatat syair-syair sakit
dalam otak kita
orang-orang pintar mengetiknya
pada melembung angin, menempelnya pada
perut kenyang mereka.
rumahku: akan tetap sebuah batu.

"Memo: Rumah-Rumah Batu (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Memo: Rumah-Rumah Batu
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ibadah Separoh Usia

Kalimat-kalimat yang kau ucapkan
berguguran dalam shadatku. inilah
kidung yang digumamkan!

Berapa putaran dalam sembahyang langit.
tengadah di bawah hujan yang menaburkan
ayat-ayat tak pernah dibaca.

Aku tak menemu akhir sembahyangku
yang gagap. lilin-lilin tak menyala
dalam ruangan tanpa cahaya. gema mazmur
yang disenandungkan dari ruang mimpimu
beterbangan dalam tidur gelisahku. dan
khotbah yang sayup, bertebaran dari
mulut-mulut kesunyian.

Telah kautabuh loncengmu? Sembahyangku
tak juga menemu akhir.

1992
"Puisi: Ibadah Separoh Usia (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Ibadah Separoh Usia
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Drama Tanah Tercinta

Seribu matahari membakar tanah ini
duka-duka menguap jadi pelangi
nyawa-nyawa tersisa jadi arang dupa
asap 'nembus langit cari Tuhan-nya
suara-suara genta lagu merdeka
sentuhi derita-derita
lama terkandung dalam rahim bumi tua
adakah wangi masih di dalamnya
'tuk memanggil-Mu Tuhan hapus ini durhaka
lama meraja di tanah tercinta.

Biarlah guruh dan petir jadi musik di hati
hantar rinduku yang sangat
hancurnya durhaka di rumah sendiri
lama cemari bumi Ibuku
kidung dan doa tuntas malam ini, Tuhanku
pijarkan dendamku pada sang durhaka
yang membuat Ibu terbelenggu kebebasannya
yang membuat Ibu sandang mala saat merdeka
pacukan kekuatan di tangan ini, Tuhanku
kukuhkan cinta dan harapan
karena dengan tangan ini jua
ingin kuangkat sendiri
Ibuku 'nerobos pintu durhaka.

Yogya, 1976
"Puisi: Drama Tanah Tercinta (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Drama Tanah Tercinta
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tentang Matahari

Ketika matahari berubah jadi sepotong sajak
menggeliat di celah-celah awan padat
kutangkap sinar hangatnya
yang telah sempat singgah
di rambutmu-di matamu-di tanganmu
matahari yang mewartakan pula
seribu cerita tentang duka masa muda
seribu cita-cita tentang hari lusa
seribu titik koma tentang kuliah dosen tua
dan segala tentang Yogya
lalu pada satu garis sikap
semua pun merunduk dan menyatu
sepanjang langkahmu-sepanjang langkahku.

Jakarta, 1978
"Puisi: Tentang Matahari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tentang Matahari
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Baur

Baur dalam nenek belantara kota hari ini
segala duka, dusta, dan derita anak manusia
baru dalam pupur dan keringatku pula
polusi yang mengaburkan cakrawala
lalu menyatu dalam cerita yang sama
bukan nyanyi tentang kejora
tapi sebuah tanya tentang hari lusa
baur dalam caci kuli yang kehilangan langganan
segala tawa, bisik, rindu istri di rumah
baur dalam gelisahku yang hanya bisa menatap tanpa berbuat
harap yang luruh menghitami batu jalan
lalu menyatu dalam nyeri yang sama
hari ini hilang indahnya
hari ini sisa letihnya
ternyata aku bukan pahlawan 
pembebas derita mereka itu
penghapus polusi kehidupan ini
ketika ku baur dalam senyummu yang lentik.

Jakarta, 1978
"Puisi: Sajak Baur (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Baur
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak tentang Seorang Perempuan

Adalah aku yang tergelincir di batu-batu hitam
dari sungai-sungai-Mu yang bening namun licin
adalah aku yang tenggelam lalu menyatu
dalam sepi-Mu yang mengubur waktu.

Adalah aku juga yang masih mencari mahkota
ketika sungai-Mu meluap
membongkar diriku dari lumpur yang pekat.

terima kasih atas hitam yang pernah Kau berikan
dari hitam kulihat jelasnya bayang
pada warna batu intan dan bulan
satu darinya pasti mahkota.

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak tentang Seorang Perempuan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Seorang Perempuan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Buat Indira

Saat dunia menatap dan bicara tentangmu
dan para pengagum setia menunggu di bawah mimbarmu
Indira, saatnya kau tampil menyingsing sari
karena masa depan bukanlah
mega-mega yang terpintal di langit
pernah ditatap Rabindranat dalam renungnya
tapi butir-butir peluh yang senantiasa menetes
dari balik helai rambutmu
dan buih-buih cinta yang tegas senantiasa bersabung
pada luasnya samodra jiwa.

Seribu kejatuhan tak menodai namamu
seribu lawan tak melukai perisai jiwamu
sumber segala kasih bagi mereka yang tersisih
mereka yang selalu damba akan welas asih
dari ibu pada siapa mereka berseru dan mengadu
buktinya, kau bangkit dan memacu langkah
bunga-bunga yang berangkaian di mana pun kau datang 
pasti bicara tentang semua itu
tapi tatap mata yang tulus dari
bocah-bocah kecil kurus di bagian paling dalam dari India
pasti lebih menarik untuk kau cium dan kau sapa
mereka adalah rumput-rumput yang terbakar kering
mereka adalah sapi-sapi kecil yang rindu induknya
hanya keanggunan citra dan karismamu
Indira kekasih segala kasta yang ada
sanggup membasahi ladang dan dusun
sanggup bicara tentang perlawanan, kemerdekaan, setia kawan
dan bila angin tenggara bertiup dari arah samudra Indonesia
tangkaplah juga pesan wanita-wanita sederhana.

Jakarta, 1980
"Puisi: Balada Buat Indira (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Buat Indira
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak tentang Sebuah Misteri

Pada saat kepongahan bertahta
dan bumi pun kehilangan damai
pada hutan, bukit, laut, bahkan gema doa-doa
kita masih mencoba menebak misteri malam
romantika cinta berbulan
sementara musim-musim di tanah ini
membuat kita tak bisa bikin kecambah selain bakteri
kita lambaikan guman-gumam kekanakan
pada ronta hidup menggelincir di bebukitan
yang tak lagi berikan warna kehijauan
dan, adalah misteri dalam kontradiksi kehidupan ini.

Kita biarkan
santri-santri makin tekun di tikar sembahyang
pendeta-pendeta tambah setia mengagungkan dewa-dewa
lantas cuma berseru-seru saja:
Gusti Allah, Tuhan, Bathara, dan Yehowa
adakah aku dan saudara-saudaraku yang setia
pilar-pilar, granit-granit, tonggak-tonggak milik-Mu
atau buih-buih, debu-debu, batu-batu, milik diri sendiri
soalnya kepongahan telah membuat kami
menjadi misteri tersendiri.

Jakarta, 1980
"Puisi: Sajak tentang Sebuah Misteri (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Sebuah Misteri
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di antara Tali-Tali Penyeberangan
Sepanjang Muara Angke

Rumah-rumah panggung manusia air
masalah yang telah jadi rutin
harapan yang telah jadi canda
melambai terapung-apung
enceng gondok bunga ungu
palem air yang menyemak
hutan lindung yang dikemas
pada selembar papan bertanda
semua melintas nampak bebas
di wilayah habitatnya
perahu meluncur susuri Muara Angke.

Dengar bapa - mereka masih tertawa
mereka terus melambai
mereka terus berseru: potret kami!
bakteri merubung di mana-mana
ini kehidupan seadanya
lihat, kami masih begini jua!
tak laik hidup tapi tak mati
seringainya gembira
ah, pemikiran terkemas di program itu
ah, penjabaran di transparan itu
rumitnya, seperti ada tapi tiada.

Jakarta
Desember, 1991
"Puisi: Di antara Tali-Tali Penyeberangan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Tali-Tali Penyeberangan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan dari Rajabasa

Anak manusia pejalan malam
memanggul kapak besar
ingin mendekap luas dunia
adakah kau
yang tersesat sendiri
di palung malam Rajabasa
ketika mereka berada jauh dari raihan
kebersamaan menjadi proposal mahal
sederet angka tak pernah menjadi nyata
lantaran hidup telah penuh amuba
dan keangkuhan jadi berhala
adakah kau
yang masih menjanjikan ronce melati
kepada orang-orang jauh
dengan langkahmu yang sendiri
Rajabasa sebuah sudut peta sederhana
di palungmu
kutemukan aksara-aksara
untuk dunia.

Rajabasa, 1993
"Puisi: Catatan dari Rajabasa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan dari Rajabasa
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gumam Doa Lembah Utara
(Cucu Peladang Tua yang menatap kehijauan lembah Muria)

Matahari merah dan langit semburat menyatu
mengantar hadirnya Gunung Muria meniti pagi
antara kabut meriap di seluas padang hijau temaram
dan embun-embun siap mengusap dari rerumputan
hijau begitu sayup dan lembut
telah dipandanginya selama masa kanaknya
setiap pagi menjelang turun ke ladang
inikah kedamaian itu, -tanyanya sederhana
pada udara lembut menyegari peparunya.

Aki canggah dan aki buyutnya juga ada di sini
lelah damai menyatu dalam lembut bumi
ia tak pernah merasa kehilangan mereka
seperti setiap orang di lembah ini tak pernah
merasa ditinggalkan kehadiran gaib para leluhur
mereka mendengarkan doa-doa keturunan
sementara Gusti Allah menurunkan rahmat sederhana
setiap pagi dini terasa menjadi berkah tak kunjung habis
berkah abadi kepada lembah lestari
damainya beranak pinak
tanpa hiruk pikuk cemar dunia kota
berladang dan bekerja berguyub dan bermitra
mengidungkan alam jika turun malam
lembah Muria damai tentram 
sebagian alam murni yang tersisa
rahmat Allah tiada tara.

Bogor
Januari, 1994
"Puisi: Gumam Doa Lembah Utara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Gumam Doa Lembah Utara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jala-Jala yang Tergantung

Kampung nelayan masih mengirim bau laut di antara
kesiur anginnya semilir rendah di pohon bunga merak
dan bougenvile menyalami angan-angan yang mencoba
menangkapnya kembali dalam kemasan yang kau
dan aku memahami karena kita ikan-ikan kecil
oleh nasib perkabungan terjaring jala yang sama.

Lelah mencari jejak langkah ayah
terburai angin sepanjang musim
mencoba mengubah diri menjadi ikan-ikan kecil kembali
yang merindukan terjaring jala
tapi jala-jala telah tergantung lama di teritisan.

Nelayan tua saksi zaman
tapi jala-jala telah tergantung lama di kelopak mata
menjadi serat imajinasi bagi mereka yang tak punya lagi masa kini.

Kampung nelayan masih mengirim bau laut di antara
kesiur anginnya semilir rendah di semak hati kita
jala-jala pun tergantung lama
jala-jala pun menjaring umur kita.

Bogor
Mei, 1994
"Puisi: Jala-Jala yang Tergantung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jala-Jala yang Tergantung
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pohon-pohon Sisa Peradaban

Pohon-pohon sisa peradaban
berebut lahan di hatimu
tumbuh dan tumbang
tanpa sentuhan angin
ranggas dan semi
tanpa suara burung pagi
pohon-pohon sisa peradaban
sebuah tangis sepi setiap subuh bangkit
rantingnya menerpa-nerpa dada
yang kerap alpa menyapa Tuhannya
seorang pelukis tanpa nama kaulah itu
mengabadikannya atas kanvasmu
setelah mengeluarkannya dari dadamu
pada hembusan nafas terakhir
pohon-pohon sisa peradaban
tumbuh dalam dada dan kemungkinan.

1994
"Puisi: Pohon-pohon Sisa Peradaban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pohon-pohon Sisa Peradaban
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Kota Seorang Pengembara

Seorang kembara akhirnya pulang
ketika musim tak mampu menidurkan
rasa rindu kota kelahiran lama ditinggalkan
satu pencarian tak kunjung ia temukan
perubahan dan perbaikan
diam-diam membuat catatan
tentang lorong, kali dan jembatan
tentang pohon randu dan pohon waru
tiba-tiba semua telah berubah jadi sejarah
tiba-tiba semua hanya sepotong mimpi
saat kemarau memberi malam dengan suara galau.

Seorang kembara termangu di pinggir kota
dilihatnya kota tua telah penuh taman
kali bening telah keruh hitam limbah tahu
anak-anak sekolah berseliweran melewatinya
tak bicara tentang catatan guru
tapi iklan busana pemancing birahi
lastas sederet nama bintang Barat yang canggih
dalam baku tembak dan baku cinta
lalu mereka ketawa riang
mengingat lakon semalam
inikah bayi-bayi dahulu kucium dahi
saat awal keberangkatan
kembara terus termangu.

Seorang kembara duduk terdiam
bisiknya terenyuh perlahan
Ibu Bumi aku pulang
adakah Kau kenali anakmu
lalu sesenggukan mendekap rumputan
anak-anak sekolah menengok selintasan
mengiranya orang malang korban zaman
lelaki kembara masih sesenggukan
mendekap bumi tanah leluhur keringat bercucuran
waktu mengubahnya jadi cendawan.

Bogor
September, 1994
"Puisi: Catatan Kota Seorang Pengembara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Kota Seorang Pengembara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tembang Risau Semak Bakau

I
Kenangan panjang
tujuh musim lampau
sempat kau apungkan
di celah akar bakau.

Teluk hijau kemilau
tumbuhan bunga hasrat
kini kau tatap risau
terhapus angkara niat

Ada yang cepat berubah
semak bakau punah sudah
senja menjauh kian luruh
semak bakau jadi megatruh

II
Semak bakau tinggal kenangan
sejak itu kau kehilangan
kau untai merjan jadi impian
teluk hijau dulu harapan

Lelaki muda pantai Utara
jiwanya kini angin kembara
sejak itu matanya bara
musim pun enggan bicara

Langit senja kian buram
semak bakau jadi epigram
dendam hangus di persimpangan
hati sepi jadi tembangan.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Tembang Risau Semak Bakau (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tembang Risau Semak Bakau
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Monolog Seorang Anak Indonesia

Bendera masih berkibar di udara
peluru di dadamu ikut menebusnya
kuzikirkan doa-doa sederhana
mendesirkan Karisma-Nya
kemerdekaan bagai pohon tumbuh
kemerdekaan bagai plaza bermozaik
ada gerak, ada keindahan
meski musim jadi dataran berkabut
aku terus bersaksi tanpa ratap
akarku tak tercerabut
sesekali jika aku tak mengerti
pada kenanganmu jawab kucari
lalu menyusuri jalan setapak
hijaukan lahan-lahan dalam ingatan
birukan langit pada mata menyipit
utihkan kembang randu tanda kemarau
sambil mengeja makna kemerdekaan
sambil tengarai tahun-tahun perjuangan.

Dan aku terus bersaksi
dan aku terus berdoa
kurasakan angin berhembus
bendera melambai menyapa
orang-orang selesaikan upacara.

Bogor, 1995
"Puisi: Monolog Seorang Anak Indonesia (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Monolog Seorang Anak Indonesia
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perjalanan Titik Api

I
Setitik api berproses
memerah rahwana merasuk jiwa
orang-orang yang temaha
hutan-hutan terbakar
bumi menggelepar
terlambat sadar
hidup terkapar.

Hutan hijau
korban kerakusan
hutan hijau
tinggal impian
pohon-pohon abad
tempat angin bersarang
tinggal lukisan gugus arang.

Sesiapa menangisi
sesiapa menembangkan
sesiapa menyairkan.

II
Ada yang terlambat selalu
saat segala telah mengabu
orang-orang sederhana
memeras air mata
rasa kasih
ditepis angka-angka
berlompatan dalam program
berlompatan dalam sumpah tipuan.

O, semut hitam
gigit jiwa hitam
karena kehilangan
lembab hutan
O, asap tebal
semakin menyeruak
O, peparu malang
semakin terkoyak
siapa itu
lari sembunyi
karena malu
rasa yang tersisa
ditolong oleh tetangga.

Jakarta
September, 1997
"Puisi: Perjalanan Titik Api (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perjalanan Titik Api
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Kucing Hitam si Tombo Minta Jakarta

Hei Tombo hei Tombo
siapa kakek moyangmu
biang kearifan
apa bilang kemajenunan.

Hei Tombo hei Tombo
matamu kucing hitam
simpan gejolak dunia
apa birahi tak bertuan.

Hei Tombo hei Tombo
minta apa minta apa
engkau si kucing hitam
Tombo hanya pandang awan.

Kukira si Tombo ya Tombo
kukira minta rembulan
ternyata si Tombo ya Tombo
ternyata minta Jakarta Tuan.

Jakarta
September, 1997
"Puisi: Balada Kucing Hitam si Tombo Minta Jakarta (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Kucing Hitam si Tombo Minta Jakarta
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Percakapan Bulan Juli

I
Layar kaca masih nyala
suaranya berdentang-dentang
orang-orang mendekat
orang-orang menyimak.

Apa kata berita?
Aktualita!
Hari ini apa?
Kasusnya Trisakti!
Belum juga tuntas?
Ada laporan yang dikebiri!
Lalu apa lagi?
Kasus orang hilang!
Mungkin ada yang tewas?
Begitu tutur Lustrilanang!
Kasus apa lagi kata orang?
Padang golf dan Tapos
Apa jadi keropos?
Ah, jadi histeria massa!
Karena lama puasa?
Sudah puasa terlalu lama!
Yang Senen Kemis bagaimana?
Sudah praktek lama!
Lalu 'njarah saja?
Asal adil!
Lho, mana biasa?
Asal yang dijarah itu predator!

II
Ada siang berawan
di trotoar kota ia henti
menyimak spanduk mati
seseorang mendekati
Hai, apa yang kau lihat?
Misteri dalam kalimat!
Kenapa nampak sedih?
Coba redam titik didih!
Ada yang salah dalih?
Ada yang suka jadi kambing terpilih!
Ini benar zaman edan?
Ada yang suka jadi kambing terpilih!
Ini benar zaman edan?
Ini zaman berbiaknya setan!
Kemana cari selamat?
Mati dulu baru ketemu malaikat!
Kenapa sarkastis?
Cinta pertamaku korban si sadis!
Kenapa tuturmu amis?
Cinta terakhirku diterjang mimis
Oooh, cerita itu lagi?
Heeem, bias lain dari Trisakti!

Juli, 1998
"Puisi: Percakapan Bulan Juli (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Percakapan Bulan Juli
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ada Getar dalam Tujuh

Getar jiwa di tujuh nuansa
getar harap di tujuh marka
getar suara di tujuh titik kota.

Orang-orang berada dalam deru
orang-orang berada dalam waktu
orang-orang berada dalam seru.

Ada geram dalam getar
ada peram dalam pijar
ada sekam dalam sasar.

Siapa menimpuk matahari
siapa menimpuk rembulan
siapa menimpuk gemintang
siapa menimpuk janji lumutan.

Orang yang aku rindu perubahan
orang yang kamu rindu kenyataan
orang yang dia rindu kehidupan
orang yang kita rindu mozaik HAM.

Desember, 1998
"Puisi: Ada Getar dalam Tujuh (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ada Getar dalam Tujuh
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Pengembaraan

I
Kembara di padang tak bertuan
tersenyum pada gerimis
tertawa pada topan
sesekali langit mengaguminya
sesekali pelangi mengejeknya
kembara terus berjalan
menghitung bintang-bintang
menyimak pepohon runduk diam
dan rumput santun tanpa tembang
ketika bintang-bintang luruh berjatuhan
dan malam semakin sunyi
di padang tak bertuan
kembara menarikan kehidupan
dalam kegelapan 
tersenyum dan tertawa
getarnya sentuh batas rahasia.

II
Rambut tergerai oleh angin pancaroba
bunga-bunga ditebarkan tanpa suara
batinnya penuh kidung doa
mengapung antara fatamorgana dan realita
kembara kurun menyongsong hari-hari
menghela mimpi berjatuhan di pusara terlupakan
alam semesta betapa mendebarkan
sampai akhirnya ia terlontar 
di padang harapan tak bertepi
mencoba bayangkan keindahan
mengapung di udara bernuansa
dalam dekapan ada bunga rahasia.

Bogor
April, 2000
"Puisi: Dalam Pengembaraan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Dalam Pengembaraan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebuah Impian dari Timur

Membawa serangkap nyawa 'nuju arah timur
mencari dataran di tengah pulau
hasrat berbiak menjadi semak
embun bulir merjan dalam angan
siapa tahu bisa bersahabat dengan zaman.

Langkah berat 
angin tenggara melesat
mengusung sebuah menara air
dan kincir angin dalam mimpi muda
seorang lelaki muda nampak betapa kuat
sementara di mimbar-mimbar kota
para petinggi tak henti pantaskan
fragmen-fragmen tentang angin
bertemperasan tak miliki musim.

Sampai kapan mimpi masih harus diusung
jiwa tak pernah bertanya laga
hasrat terus tumbuh menyemak 
bulir embun terus memerjan
tanah air mirip pasar tiban.

Bogor
Juli, 2000
"Puisi: Sebuah Impian dari Timur (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sebuah Impian dari Timur
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lelaki Muda di Titik Nol

Bencana-bencana adalah bahasa alam 
isyarat wingit harus diurai
hanya hati tak mencaci
bisa memaknai
di titik nol lelaki muda tak peduli
kesalahan tetap milik yang lain
bencana silih berganti
tembus sampai di jaga diri.

Terus menuju tenggara bumi tanpa tepi
tapi angan menapak di bayang malam yang jauh
antara Baranang siang dan Kebun Kelapa
antara Rumentangsiang dan Kosambi lama
bibit mimpi anak manusia
sembunyi di antara ayat-ayat
antara segala atas nama
bisa sonata bisa rubayat.

Lima waktu sudah
shalat dhuha sudah
meditasi sudah
bumi geliat lelah
di mana salah.

Bayang mengerang
di tanah gersang alam menghadang.


Bogor
Desember, 2002
"Puisi: Lelaki Muda di Titik Nol (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lelaki Muda di Titik Nol
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Merapi, Membaca Dusun Tutup I

Lereng Merapi jam delapan pagi:
mega putih kapas saput rasa getas
kidung mengapung sibak kabut
menyapa ruh gaibnya gunung
di gumpal mega terbaca pesan Sang Resi.

Saat ditanya dua dari lima
tugas insan dalam gelar kehidupan
pejalan sunyi mengeja hati:
menghidupkan yang hidup
dan memberi makna kehidupan
Sang Resi menoreh mega
senyum bias surya
menyibak misteri kembali menyapa:
carilah yang harus dicari, ya perempuanku
hitunglah yang harus dihitung, ya muridku
bagai air mengalir seni untuk kehidupan
pagari nanti dimangsa banaspati.

Mega menebar busana berkibar
senyum arif terurai
pejalan sunyi masih menatap lama
bayang yang hilang
seiring suara ricik kali bening.


Lereng Merapi
Purnama, Maret 2004
"Puisi: Membaca Merapi, Membaca Dusun Tutup I (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Merapi, Membaca Dusun Tutup I
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Pergulatan

Bulan meleleh di langit
menebar warna-warna
adakah mimpimu itu bocah?
bulan meleleh atas kilau
sepatu di pangkuan
ramuan coklat hitam
adakah nyanyianmu itu bocah?

Bulan meleleh dalam saku
basah uang recehan
tembus ke dada tembus ke rasa
meresap dalam gema di udara malam
dari nyanyiannya sederhana.

Jangan kata perjalanan ini menjemukan
bunga kanak penuh warna
bumi kanak penuh merjan
langit kanak penuh bulan
saku kanak penuh jajan
punggung kanak penuh keringat pergulatan.

Jangan kata perjalanan ini memuakkan
semua selalu kunyanyikan
aku bertutur aku pun berlalu
langkahku menyeret malam
bulan meleleh terhempas-hempas di jalan.

Jakarta
Februari, 1987
"Puisi: Nyanyian Pergulatan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nyanyian Pergulatan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebuah Tafsir
Eza Thabry Husano

Tafsir puisi senjamu
tertera dalam perjalanan musim
dan getar ilalang di hampir padang
tafsir sebuah kota yang rindu hujan
di senyap waktu
ketika cairan embun pelan kubasahi serat rambutmu
kau mulai menyusun tafsir-tafsir baru
sambil bertutur:
kuziarahi
kenikmatan cahaya lampu-lampu.

Sementara di bukit seberang
aku masih berdiri saat senja diam-diam lari
siapa tahu purnama enam belas
ombak Laut Jawa mengusung aksaramu
penuh tafsir kebijakan Banjar
ada aroma dan pendar cahaya
membuat langit Selatan hilang jelaga
dan semangat jiwa kembali getar
seiring terbitnya bintang Barat
pendarnya pulihkan penat.

Bogor
Juli, 2003
"Puisi: Sebuah Tafsir (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sebuah Tafsir
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hutan

Lagumu gemuruh
Menampilkan berpuluh elang berpuluh banteng
Di hutan-hutan sangsiku
Angin yang runtuh dari pohon-pohon
Menjelma permadani di lembah timur
Kuhitung tahun-tahun
Yang berjalan menghancurkan mega dan mega
Dan hujan yang menyerbu dari perut gua
Mengekalkan diamku di ketiak batu
Gemuruh itu ternyata miliku juga
Mengurai bulu-bulu mataku di pelupuk rimba
Dalam begini engkau sebagai seorang pertapa
Tempat sembunyi burung dan kupu-kupu
Tombak pun jadi tersenyum di dalam batu.

"Puisi: Hutan (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Hutan
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Celurit Emas

Roh-roh bunga yang layu sebelum semerbak itu
Mengadu ke hadapan celurit yang ditempa dari jiwa,
Celurit itu hanya mampu berdiam, tapi ketika tercium bau tangan.

Yang
pura-pura mati dalam terang
dan
bergila dalam gelap
Ia jadi mengerti: wangi yang menunggunya di seberang
Meski ia menyesal namun gelombang masih ditolak
Singgah ke dalam dirinya.

Nisan-nisan tak bernama tersenyum karena celurit itu
Akan menjadi taring langit, dan matahari
Akan mengasahnya pada halaman-halaman kitab suci.

Celurit itu punya siapa?
Amin!

"Puisi: Celurit Emas (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Celurit Emas
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Laporan

Redup paras Pangeran Lor, awan pun
melesi pamor bala sentana
Alangkah dalam lautan.

Mayang yang mengeram dalam seludang
tak terduga, dan
sepi adalah pendapa tanpa suara
Segenap telinga pun pada dipasang.

Semalam singgah padaku
sebuah impian, aku dan kalian
mandi di laut darah.

Makna belum terjawab
tergopoh datang Syahbandar Lapa
menghadap tanpa tatakrama,

Paduka!
Unjuk periksa
Datang musuh dari seberang
Memantai di pinggir siring
Sepanjang Jurangan ke Gersikputih
Bertingkah persasat orang gila
Rakyat kecil pada dibunuh,
Gadis-gadis pada diboyong

Letakkan telur mentah di dada raja
akan masak sekejap mata
Gemertak gigi akan melumat kerikil batu,

Hai patih Wangsadumitra!
Bunyikanlah bende perang
bende pusaka nenek moyang
Biar hatiku bertambah mekar
menyongsong musuh dari seberang.

"Puisi: Laporan (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Laporan
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Bukit Wahyu

Tengah hari di bukit wahyu kubaca Puisi-Mu.
Aku tak tahu manakah yang lebih biru,
langitkah atau hatiku?

"Kun!" perintah-Mu.
Maka terjadilah alam,
rahmat dan sorga.
Bahkan di hidung anjing
Kau bedakan sejuta bau.

Dalam jiwaku kini hinggap sehelai daun yang gugur.
Selanjutnya senandung,
lalu matahari mundur ke ufuk timur,
waktu pun kembali pagi.

Di mata embun membias rentetan riwayat,
mengeja-ngeja desir darahku.
Ada selubung lepas dariku,
angin pun bangkit dari paruh kepodang di pucuk pohon kenanga.
1979
"Puisi: Di Bukit Wahyu (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Di Bukit Wahyu
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perhitungan


Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya.

Langit bersih-cerah dan purnama raya ...
Sudah itu tempatku tak tentu di mana

Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran.

Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi ...!?

Kini aku meringkih dalam malam sunyi.


16 Maret 1943
"Puisi: Perhitungan (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Perhitungan
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Naik-Naik
Membubung badanku, melambung, mengawan
naik, naik, tipis-rampis, kudus halus
melayang-terbang, mengembang-kembang
menyerupa-rupa merona-warni langit-lazwardi.

Bertiup badai merentak topan
larikan daku hembuskan badan
tepukkan daku ke puncak tinggi
ranggitkan daku kelengkung pelangi ...

Tenang-tenang anginku sayang
tinggalkan badan di lengkung benang
reda-reda badaiku dalam
ulikkan sepoi sunyikan dendam.

Biarkan daku tinggal di sini
sentosa diriku di sunyi sepi
tiada berharap tiada meminta
jauh dunia di sisi dewa.

"Puisi: Naik-Naik (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Naik-Naik
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
setelah menghalaukan panas terik.

Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung
rasa menayang pikir, membawa angan kebawah kursimu.

Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap-malam menyirak kelopak.

Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan
cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu!
"Puisi: Doa (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Doa
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Percakapan


Akankah ini suatu permainan
Sedang wajah jadi layu, ayip.

Malam terlalu tebal di matamu
Hidup menjanjikan tantangan kepadaku.

Dekapkan wajahmu ke wajahku
Biar malam tebal menebal bergelayutan
Di dinding trem lari kepadaku.

Akankah ini cuma permainan
Sedang umur dan wajah runtuh ke bumi
Ayip?

Kulihat kota yang agung terkaca di matamu
Kusaksikan kau ada di sana
Sedang kita berangkat tua.
 
  
"Puisi: Percakapan (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Percakapan
Karya: Ajip Rosidi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sementara Tawaf


Kukitari rumah-Mu
Kukitari rumah-Mu bersama jutaan umat
Ketika Kauturunkan rahmat
meresap ke dalam hati, memercik di sudut mata:
Tuhanku, Tuhanku, ampuni segala dosa kami
Ulurkan tangan-Mu, bimbing kami
ke jalan lurus yang Kauridoi.
Di bumi ini
dan di akhirat nanti.

Kukitari rumah-Mu
Berdesakan kukitari rumah-Mu
yang memberi kedamaian dalam diri
menyadari betapa busuk dan hina
segala pikiran keji
yang selalu tumbuh menggoda hati:
Tuhanku, Tuhanku, selamatkan kami
dari segala godaan setani
Percikkan hidayah-Mu, hindarkan kami
dari jalan yang mengarah ke api abadi.
Di bumi ini
dan di akhirat nanti.

Kukitari rumah-Mu
Kukitari rumah-Mu, ketika Engkau menurunkan
sayap-sayap ketenteraman
ke dalam jutaan hati umat
yang berdatangan dari segala penjuru
memenuhi panggilan-Mu
Labbaika, Allahumma labbaika
Labbaika, la syarikalaka.

Allahuma
berilah kami kekuatan
untuk menjauhi larangan-Mu
untuk mematuhi suruhan-Mu.

Beri kami kebaikan
Di bumi ini
dan di akhirat nanti

Dan jauhkan kami
dari api abadi.

Amin.
 
 
"Puisi: Sementara Tawaf (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Sementara Tawaf
Karya: Ajip Rosidi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Wasil


I
Api merah malam terang karenanya
menjilat habis rumah dan suaminya saluki
Wasil ingat anaknya lelap di kamar
tinggal abu dan puing-puing api.

Wasil kehilangan semua
berangkat - kapan kembali dan ke mana.

II
Kota! Hidupnya melingkar-lingkar di satu pusaran
ada teman karib tetangga sedesa Sinah dan Wasti
Wasil duduk-duduk di warung datang lelaki padanya
'orang baru matanya begitu bening
dan tubuh segar dadanya keras dan besar'
Wasil dilandanya dan ia mengalah saja.

O, saluki suami pertama cintanya
dia telah berangkat mati dia lelaki kecintaan
kenangan Wasil rumah kebun sawah mereka
dan anaknya seorang terbakar di kamar.

III
Kota! Banyak lelaki dan begitu ganas
mereka pergi mengucap 'haram jadah!'
dengan rel dingin di pantatnya Wasil menunggu
buram malam dan gerimis pun turun.

Masih dingin rel dan besi kereta api.
Masih dingin dadanya belum dibuka.

Habislah hidupnya dan ke mana ia menyuruk
tubuh reot dan lelaki tak mau lagi padanya.
Habislah hidupnya dan akan ke mana ia terlempar
Wasil kehilangan pasaran dan ia mengalah saja.

-----------

Ia bertengger pada dahan
alam lepas burung terbang.

Ia tersenyum pada bulan
langit biru mengerdip bintang.

Segala mendengar pada nyanyinya
segala senyap segala tenang.

Ia pun dahan ia pun burung
merpati mengepak dalam sarang.
 
   
"Puisi: Wasil (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Wasil
Karya: Ajip Rosidi