Maret 1997
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Telor

Ada sebutir telor tepat di tengah tempat tidurmu yang putih rapih,
Kau, tentu saja, terkejut ketika pulang malam-malam dan
melihatnya di situ. Barangkali itulah telor yang kadang hilang
kadang nampak di tangan tukang sulap yang kautonton sore
tadi.

Barangkali telor itu sengaja ditaruh di situ oleh anak gadismu atau
isterimu atau ibumu agar bisa tenteram tidurmu di dalamnya.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Telor
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Meja Makan

Ada empat kursi di sekeliling meja ini;
kita bertiga, berusaha berbicara.
Siapa yang bertamu kemarin malam
bicara tentang perarakan itu?

Tidak ada yang menggunakan pisau kali ini.
Juga garpu.
Ada yang menjentik gelas agar sunyi retak.
Siapa yang berjanji datang untuk mengucapkan amin?

Masih tersisa satu kursi di tepi meja ini, bukan?

"Puisi: Di Meja Makan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Di Meja Makan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat Kabar

Ayah saya seorang loper koran
yang sama gigihnya dengan wartawan.
Deadline nasibnya lebih keras dari deadline tulisan.

Ibu suka memungut huruf-huruf di koran
dan membubuhkannya ke dalam kopiku.
“Minumlah, anakku. Kau akan jadi jurnalis jempolan.”

Saya sering mati kata di hadapan peristiwa
ketika di antara baris-baris tulisan
muncul bayangan ayah sedang mengedarkan koran.

Dari koran saya belajar paham
bahwa headline hidup sering muncul
di saat-saat akhir yang rawan.
Entah mengapa selalu ada tangan tak kelihatan
yang menyelamatkan saya
dari ancaman deadline yang kejam.

Ada camar berkelebat di cakrawala halaman koran,
mengantar rindu dari dia yang sabar menunggu.

Beri saya kemewahan membaca koran
sambil minum kopi di pagi hari,
sambil tercenung-cenung membaca tulisan sendiri.

Bulan menemani saya menyiapkan rubrik koran.
Cahayanya menembus mata saya yang kesepian.

Saya letih diburu-buru peristiwa.
Di sebuah gang saya ditangkap oleh sebuah kejadian:
seorang loper koran tercebur ke selokan.

Ibu membuka surat wasiat ayah di hadapan saya.
Ayah berpesan: jika beliau meninggal,
harap jenazahnya dibungkus koran.

2012/2013
"Puisi: Surat Kabar (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Surat Kabar
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dongeng Kucing

Lengking klakson dan rem mobil itu
meninggalkan jejak asap knalpot, debu,
dan seekor kucing yang sekarat.

Di dalam rumah: tangis seorang gadis kecil,
lalu suara menghibur seorang ibu
menyelundupkan ajal ke negeri dongeng.

Jalan memang dibangun untuk mobil,
manusia, dan juga - tentu saja - kucing;
tak boleh kita mencurigai campur-tangan-Mu, bukan?

"Puisi: Dongeng Kucing (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Dongeng Kucing
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Masa Kecil, 1

Ia menjenguk ke dalam sumur mati itu dan tampak
garis-garis patah dan berkas-berkas warna perak dan
kristal-kristal hitam yang pernah disaksikannya ketika ia
sakit dan mengigau dan memanggil-manggil ibunya. Mereka
bilang ada ular menjaga di dasarnya. Ia melemparkan batu
ke dalam sumur mati itu dan mendengar suara yang pernah
dikenalnya lama sebelum ia mendengar tangisnya sendiri
yang pertama kali. Mereka bilang sumur mati itu tak pernah
keluar airnya.

Ia mencoba menerka kenapa ibunya tidak pernah
mempercayai mereka.

1971
"Puisi: Catatan Masa Kecil, 1 (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Catatan Masa Kecil, 1
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Penyanyi

Pujangga, kalau ajal sudahlah sampai,
Engkau menutup mata di dalam damai,
Sebab mengetahui terang rahasia alam,
Engkau, yang bermahkota susunan ilham.

O, Pujangga, kalau dunia gundah gulana,
Engkau bersila, jiwa tersenyum jua,
Sebab merasa kegemetaran nyawa dunia,
Engkau, Penyanyi lagu mulia.


"Puisi: Penyanyi (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Penyanyi
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Februari yang Ungu

Februari yang ungu berderai pelan sepanjang malam,
menyirami daun-daun kalender yang mulai kering.

Aku melangkah ke dinding, membetulkan penanggalan
yang tampak miring. “Jangan gemetar. Aku baik-baik saja.
Tua cuma perasaan,” kata kalenderku yang pendiam.

Kuhitung berapa tanggal telah tanggal, berapa pula
tinggal tangkai. Sambil menggigil kalenderku berpesan, 
“Jangan mau dipermainkan angka. Tua cuma pikiran.”

Kalenderku suka tertawa membaca catatan yang kutulis
dengan tinta merah jingga: Ah, bulan terlambat datang.
Ah, bulan datang terlambat. Oh, datang bulan terlambat.

Februari yang ungu kuncup mekar sepanjang malam
pada tangkai-tangkai kalender yang mulai gersang.

2004
"Puisi: Februari yang Ungu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Februari yang Ungu
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Senandung Becak

Ada becak melenggang sendirian di sebuah gang.
Pemiliknya, katanya, telah mati di tiang gantungan.

Ada becak hanyut di sungai.
Sungainya keruh, mengalir ke laut yang jauh.

Orang-orang berkumpul di atas jembatan,
mengira si pemiliknya telah mati tenggelam.
Tapi ada yang berbisik kepada saya:
“Akulah yang menghanyutkannya
dan ternyata kalian amat suka menontonnya.”

Ada juga yang berkata:
“Sesampainya di laut, becak itu akan menjelma
menjadi sebuah perahu yang harus bertarung
sendirian melawan badai, ombak dan malam.”

1990
"Puisi: Senandung Becak (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Senandung Becak
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gadis Malam di Tembok Kota
untuk Ahmad Syubannuddin Alwy

Tubuhnya kuyup diguyur hujan.
Rambutnya awut-awutan dijarah angin malam.
Tapi enak saja ia nongkrong, mengangkang,
seperti ingin memamerkan kecantikan:
wajah ranum yang merahasiakan derita dunia;
leher langsat yang menyimpan beribu jeritan;
dada montok yang mengentalkan darah dan nanah;
dan lubang sunyi, di bawah pusar,
yang dirimbuni semak berduri.

Dan malam itu datang seorang pangeran
dengan celana komprang, baju kedodoran, rambut
acak-acakan. Datang menemui gadisnya yang lagi kasmaran.

“Aku rindu Mas Alwy yang tahan meracau seharian,
yang tawanya ngakak membikin ranjang reyot
bergoyang-goyang, yang jalannya sedikit goyah
tapi gagah juga. Selamat malam, Alwy.”

“Selamat malam, Kitty. Aku datang membawa puisi.
Datang sebagai pasien rumah sakit jiwa dari negeri
yang penuh pekik dan basa-basi.”

Ini musim birahi. Kupu-kupu berhamburan liar
mencecar bunga-bunga layu yang bersolek di bawah
cahaya merkuri. Dan bila situasi politik memungkinkan,
tentu akan semakin banyak yang gencar bercinta
tanpa merasa waswas akan ditahan dan diamankan.

“Merapatlah ke gigil tubuhku, penyairku.
Ledakkan puisimu di nyeri dadaku.”
“Tapi aku ini bukan binatang jalang, Kitty.
Aku tak pandai meradang, menerjang.”

Sesaat ada juga keabadian. Diusapnya pipi muda,
leher hangat, dan bibir lezat yang terancam kelu.
Dan dengan cinta yang agak berangasan diterkamnya
dada yang beku, pinggang yang ngilu, seperti luka
yang menyerahkan diri kepada sembilu.
“Aku sayang Mas Alwy yang matanya beringas
tapi ada teduhnya. Yang cintanya ganas tapi ada lembutnya.
Yang jidatnya licin dan luas, tempat segala kelakar
dan kesakitan begadang semalaman.

Tapi malam cepat habis juga ya. Apa boleh buat,
mesti kuakhiri kisah kecil ini saat engkau terkapar
di puncak risau. Maaf, aku tak punya banyak waktu
buat bercinta. Aku mesti lebih jauh lagi mengembara
di papan-papan iklan. Tragis bukan, jauh-jauh datang
dari Amerika cuma untuk jadi penghibur
di negeri orang-orang kesepian?”

“Terima kasih, gadisku.”
“Peduli amat, penyairku.”

1996
"Puisi: Gadis Malam di Tembok Kota (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Gadis Malam di Tembok Kota
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jauh

Jauh nian perjalanan di atas ranjang
padahal resah cuma berkisar
dalam pusaran arus gelombang.

Kaudaki puncak risau dalam galau malam
namun selalu kandas dihadang
konspirasi kecemasan.
Memang harus sabar dan tawakal
meniti birokrasi kematian.

Lantas laut mencampakkan kau ke pelabuhan.
Kauseret bangkai kapal yang terbakar
ke pantai gersang.

Kau terhempas kembali ke dataran lengang,
menyusuri rute panjang kelahiran.

Kau mengambang, melayang

seperti bayi terlelap
dalam ayunan ranjang.

1996
"Puisi: Jauh (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Jauh
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tuhan Datang Malam ini
untuk GM

Tuhan datang malam ini
di gudang gulita yang cuma dihuni cericit tikus
dan celoteh sepi.
Ia datang dengan sebuah headline yang megah:
"Telah kubredel ketakutan dan kegemetaranmu.
Kini bisa kaurayakan kesepian dan kesendirianmu
dengan lebih meriah."
Dengar, Tuhan melangkah lewat dengan sangat gemulai
di atas halaman-halaman yang hilang
dan rubrik-rubrik terbengkelai.

Malam menebar debar.
Di sebuah kolom yang rindang, kolom yang teduh
ia kumpulkan huruf-huruf yang cerai-berai
dan merangkainya menjadi sebuah komposisi kedamaian.
Namun masih juga ia cabar:
"Kenapa ya aku masih kesepian.
Seakan tak bisa damai tanpa suara-suara riuh
dan kata-kata gaduh."
"Mungkin karena kau terlampau terikat
pada makna yang berkelebat sesaat,"
demikian seperti telah ia temukan jawaban.

Begitulah, ia hikmati malam yang cerau
dan mencoba menghalau galau dan risau.
Dibetulkannya rambut ranggas yang menjuntai
di atas dahi nan pasai.
Dibelainya kumis kusut dan cambang capai
yang menjalar di selingkar sangsai.
Sementara di luar hujan dan angin berkejaran
menggelar konvoi kemurungan.

Lalu diambilnya pena, dicelupkannya pada luka
dan ditulisnya:
Saya ini apalah Tuhan.
Saya ini cuma jejak-jejak kaki musafir
pada serial catatan pinggir;
sisa aroma pada seonggok beha;
dan bau kecut pada sisa cinta.
Saya ini cuma cuwilan cemas kok Tuhan.
Saya ini cuma seratus hektar halaman suratkabar
yang habis terbakar;
sekeping puisi yang terpental
dilabrak batalion iklan.

Dan Tuhan datang malam ini
di gudang gelap, di bawah tanah, yang cuma dihuni
cericit tikus dan celoteh sepi.
Ia datang bersama empat ribu pasukan,
lengkap dengan borgol dan senapan.
Dengar, mereka menggedor-gedor pintu dan berseru:
"Jangan halangi kami. Jangan lari dan sembunyi.
Kami cuma orang-orang kesepian.
Kami ingin bergabung bersama Anda
di sebuah kolom yang teduh, kolom yang rindang.
Kami akan kumpulkan senjata
dan menyusunnya jadi sebuah komposisi kebimbangan.
Sesudah itu perkenankan kami sita dan kami bawa
semua yang Anda punya, sungguhpun cuma
berkas-berkas tua dan halaman-halaman kosong semata."

Tuhan, mereka sangat ketakutan.
Antarkan mereka ke sebuah rubrik yang tenang.

1997
"Puisi: Tuhan Datang Malam ini (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tuhan Datang Malam ini
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem
untuk Linus Suryadi AG

Raden Ajeng Kartini terbatuk-batuk
di bawah cahaya lampu remang-remang.
Demam mulai merambat ke leher,
encok menyayat-nyayat punggung dan pinggang.
Dan angin pantai Jepara yang kering
berjingkat pelan di alis yang tenang;
di pelupuknya anak-anak kesunyian
ingin lelap berbaring, ingin teduh dan tenteram.

"Terimalah salam damaiku
lewat angin laut yang kencang, dinda.
Resah tengah kucoba.
Sepi kuasah dengan pena.
Kaudengarkah suara gamelan
tak putus-putusnya dilantunkan
di pendapa agung yang dijaga
tiang-tiang perkasa
hanya untuk mengalunkan
tembang-tembang lara?
Kaudengarkah juga
derap kereta di jauhan
datang melaju ke arah jantungku."

Kereta api hitam berderap membelah malam,
melintasi hamparan kelabu perkebunan tebu.
Kesedihan diangkut ke pabrik-pabrik gula,
di belakangnya perempuan-perempuan pemberani
berduyun-duyun mengusung matahari.

"Perahu-perahu kembara, dinda,
telah kulepas dari pantai Jepara.
Berlayarlah tahun-tahunku, mimpi-mimpiku
ke gugusan hijau pulau-pulau Nusantara.
Berlayarlah ke negeri-negeri jauh,
ke Nederland sana.
Seperti kukatakan pada Ny. Abendanon
dan Stella: ingin rasanya aku
menembus gerbang cakrawala."

Raden Ajeng Kartini terbatuk-batuk
di bawah cahaya lampu remang-remang.
Tangan masih menyurat di atas kertas.
Hati melemas pada berkas-berkas cemas.
Angin merambat lewat kain dan kebaya.
Dingin merayap hingga sanggulnya.
Dan anak-anak kesunyian bergelayutan
pada bulu matanya yang sayup,
yang mengungkai cahaya redup.

"Sering kubayangkan, dinda,
perempuan-perempuan perkasa
berbondong-bondong menyunggi matahari,
menggendong bukit-bukit tandus
di gugusan pegunungan seribu
menuju hingar-bingar pasar palawija
di keheningan langit Jogja.
Kubayangkan pula
ladang-ladang karang
dirambah, disiangi
kaki-kaki telanjang
dengan darah sepanjang zaman."

Kereta api hitam berderap membelah malam,
membangunkan si lelap dari tidur panjang.
Jari masih menulis bersama gerimis,
bersama angin dan kenangan.
Di telapak tangannya perahu-perahu dilayarkan
ke daratan-daratan hijau, negeri-negeri jauh
tak terjangkau.

"Badai, dinda,
badai menyerbu ke atas ranjang.
Kaudengarkah kini biduk mimpiku
sebentar lagi karam
di laut Rembang?"

Raden Ajeng Kartini terkantuk-kantuk
di bawah cahaya lampu remang-remang.
Demam membara, encok meruyak pula.
Dan sepasang alap-alap melesat
dari ujung pena yang luka.

1997
"Puisi: Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Anak Pencuri

Pada hari ulang tahunnya saya datang
ke rumahnya dan hanya ditemui oleh anaknya.
"Selamat malam. Saya mencari bapakmu."
"Maaf, ayah sedang sibuk mencuri."
Ia suguhkan secangkir kopi. Harum kopinya
mengandung bau keringat bapaknya.
"Apakah ini kopi curian bapakmu?"
"Justru kopi yang suka mencuri jam tidur ayah."
Lama saya tunggu, bapaknya tak kunjung datang.
"Jam berapa bapakmu pulang mencuri?"
"Jadwal mencuri ayah tidak pasti.
Kalau sedang mencuri, ayah sulit dicari."
Jangan-jangan ia sedang gentayangan di kamar:
mencuri kesedihanmu, kesedihan kita
dan menyerahkannya kepada kata-kata.
"Maaf, saya lapar. Saya pamit pulang.
Sampaikan selamat ulang tahun untuk bapakmu.
Semoga bapakmu tidak hilang dicuri hujan."
Ketika saya bergegas menuju pulang,
anak pencuri itu sudah menjadi derai hujan.

2015
"Puisi: Anak Pencuri (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Anak Pencuri
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Meja Makan

Tubuhmu yang pulang
terbujur di atas meja makan.
Tubuh kenangan yang telah
mengarungi laut,
merambah hutan.
Aku bersama dua temanku:
piring yang lapar,
gelas yang dahaga.
"Berilah kami susu
(suara sunyi) malam ini
dan kobarkanlah kopi kami."
Gelas ternganga
mendengar kecipak ombak
dalam dadamu.
Piring terpana
mendengar gemercik sungai
dalam perutmu.
Dan bulan lahir kembar
di biru matamu.
Saya sajak tengah malam
yang diutus untuk melahap
tiga potong kata aduh
yang menggigil di bibirmu.

2014/2015
"Puisi: Meja Makan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Meja Makan
Karya: Joko Pinurbo