April 1997
Layang-layang

Anakku matanya batu. membawa laut membawa angin,
dengan pensil mencoret-coret sungai. anakku matanya
batu mencoret-coret maut di tangan. menulisi kebencian di
jalan-jalan

dia mencari pengubur tuhan

menyilet-nyilet kota di kakinya. memasuki daerah hidup.
mencoret-coret manusia di kertas layang-layang. anakku
memanggil kupu-kupu plastik memanggil tuhan plastik:
menyatakan cinta.

anakku layang-layang
mencari tali temali di langit.

1980
"Afrizal Malna"
Puisi: Layang-layang
Karya: Afrizal Malna
Reformasi Jam 1 Siang dan Telur Asin

Jam 4 siang nanti, Mono, Mogan, Budi, tenda-tenda perubahan, kesenian yang terbongkar mendengar teriakannya sendiri. Jam 11 siang, Andre, Lili, Bunda, Panggung untuk cinta dan kemarahan, Mualim, Labbes, Ibau, Tamba. Jam 6 sore, kemana Garin pergi, kemana Sitok pergi. 
Busro, Lulu, Indra, Romi, ada isu dari telpon, teror lima ratus perak, paranoia-paranoia yang terus membuat politik dari singkong goreng, seni, seni yang hidup di dalam bacot.

Jam 9 malam nanti, kemana Jabo pergi, Fahmi membuat Padamu Negeri di sana. De Rantau berteriak taik. Wahyu, Ikra, Gallis membuat topeng-topeng tiga ratus ribu perak, mereka kirim nasi untuk makan kita. Jam 11 malam, di kantong tinggal 1000 perak, demo terus bergerak, membuat politik dari kepalan tangan, kita buat juga cinta, bunga kertas untuk reformasi, panggung yang gugup menerima kebebasan, Anas, ini buku-buku hanya dijual di sini.

Jam 1 siang nanti, kita hidup dari sedikit humor, segelas kopi sedikit lebih manis. Zamzam, Dindon, Azuzan, ini kompor untukmu, bongkar semua tempat tidur untuk kesenian, kuburan. Jam 7 malam untuk tombol-tombol politik masa lalu, digali lagi dalam mulut-mulut yang penuh meja, foto copy, fax, rekaman mayat-mayat dibakar, arang yang terus membara pada tubuh-tubuh.

Jam 12 malam, mana nomor telponmu Jolly, bangkrut, wawancara lagi. Kamil mengirim surat untuk Tuan Presiden, dan panggung miring mengirim kapal ke dasar laut, beri aku sikat gigi dan mandi pagi, di sana ada gudang beras, pabrik duit, hutan ketakutan yang ditanam telah terbakar, apinya menyambar seperti tangan-tangan sibuk mencari pegangan, Cikini, reformasi di sini, ketika kendang mulai ditabuh, puisi dibacakan, pidato yang penuh batu, dan kucing lahir dalam kardus di Minggu pagi, aku di sini menjaga kata dalam sebuah gerobak, melihat dongeng dalam mikrofon.

Nanti jam 9 malam, hantu-hantu politik akan membuat sebuah demokrasi dari sapu tangan dan gergaji, nanti Firman, ketika burung-burung datang mengirim kesenian dalam kantong-kantong plastik, truk-truk kosong jam 12 malam nanti embun mulai turun di pipi kami.

1998
"Afrizal Malna"
Puisi: Reformasi Jam 1 Siang dan Telur Asin
Karya: Afrizal Malna
Gadis Kita

O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Jangan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun. Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu. Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu. Nanti kita semua tidak punya Tuhan, nanti kita semua dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati.

1985
"Afrizal Malna"
Puisi: Gadis Kita
Karya: Afrizal Malna
Tembang Biru

Seekor kupu-kupu menggelepar, sayang
Seekor kupu-kupu di dinding kamar
Angin menggerakkan gorden jendela
Badai kecil dalam cangkir. Kita minum bersama.

Seekor kupu-kupu terkapar, sayang
Seekor kupu-kupu di atas bantal
Daun-daun nyiur di kedua lenganmu
Laut biru di tubuhmu. Kita berenang bersama.

Buka gaunmu, sayang, kuliti tubuhmu
Copot jantungmu, lepas paru-parumu
Kita telanjang bagai kupu-kupu
Mengitari waktu. Mati bersama.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Tembang Biru
Karya: Acep Zamzam Noor
Londa

Menapaki tangga berliku
Tiba di paras tebing yang curam
Menitipkan sekian nama
Pada pohon eboni. Ada yang meluap
Seperti kata-kata bijak
Ketika kutebar harum tuak
Dengan ketajamannya
Bayi-bayi lahir di sela batu
Angin terbit
Dari ketiak waktu. Bunga-bunga logam
Kerbau-kerbau hitam
Tulang-belulang:
Salib di semua pintu

Menebar harum tuak
Pada senja-senja berikutnya
Seperti menegakkan tangga ke langit
Kulihat hujan manik-manik
Dengan anyamannya yang meriah
Arak-arakan mega
Rombongan babi hutan
Di udara. Asap daging bakar
Menyeruak dari balik upacara
Seakan ribuan tombak
Yang mengantarkan ribuan jiwa
Ke singgasana. Gerbang kecil
Senjata-senjata ganjil
Kotak-kotak kayu
Isyarat maya:
Dalam sunyi yang tak terelakan
Keindahan menyerupai kegelapan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Londa
Karya: Acep Zamzam Noor
Di Ruang Tunggu Changi
(Buat Lala Z. Hamid)

Waktu adalah cahaya yang gemanya panjang
Memukul-mukul lantai dan dinding
Di antara kecemasan dan kepedihan jam
Aroma bangkai dan maut hitam seakan mengintaiku.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Di Ruang Tunggu Changi
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepanjang Braga

(I)
Lalat-lalat masih berterbangan
Mengitari restoran dan onggokan sampah
Tulisan-tulisan di dinding, papan-papan iklan
Derum kendaraan dan keloneng becak yang lewat
Menggulirkan waktu. Siapakah yang mabuk dan tersedu
Di ujung lagu? Tiang-tiang listrik
Kebisuan yang risik. Dipukul detik demi detik

(II)
“Selamat tinggal,” seorang lelaki berkaca-mata hitam
Mengumpat pada malam. Dari jemarinya yang kasar
Terdengar denting gitar, sedang dari mulutnya yang bau
Meluncur berbagai pesan perdamaian bagi dunia
Kisah menjadi lengkap, cuaca matang dan sunyi dewasa
“Sampai bertemu di lain kesempatan,” lelaki itu mengerang
Mungkin pada perempuan yang terbunuh tadi siang

(III)
Perhatikan lampu neon yang redup itu
Ia mengundang nyamuk dari berbagai warna kulit
Untuk kebersamaan. Ia semacam bendera, semacam tanda
Yang disetujui bersama. Semacam monumen bagi cinta
Tapi adakah makna di balik lambaian? Seorang pelacur tua
Seperti lampu neon yang redup itu, diam-diam memanggil kita
Juga untuk kebersamaan. Sekarang berapa harga karcis
Bandung-Jakarta?


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sepanjang Braga
Karya: Acep Zamzam Noor
Sapi

Marilah kita berjalan-jalan ke tempat peternakan sapi
Di lereng gunung yang udaranya sejuk dan sepi
Pemandangan indah, awan menghias pucuk pohon cemara
Suara sapi terdengar melenguh karena enak makanannya

Ternak sapi besar gunanya
Sapi betina itu besar manfaatnya
Sapi betina dapat diperah susunya
Sapi jantan dapat dipakai tenaganya
Daging mereka digemari dan mahal harganya

Hampir tak ada yang terbuang pada ternak sapi
Kulitnya jadi sepatu, jaket dan tas sekolah
Tulangnya jadi lem, tanduknya perhiasan macam-macam
Kotorannya bahkan jadi pupuk menyuburkan tanah

Jadi kalau kau ingin memelihara ternak sapi
Haruslah sediakan rumput segar, dedak dan makanan penguat
Obat-obatan yang cukup dan kandang yang bersih rapi
Tapi paling penting adalah kesayanganmu pada mereka

Seorang peternak adalah penyayang hewan yang sejati
Hewan itu memang tidak bisa bicara tapi punya perasaan juga
Jika kamu menyayanginya dia pasti membalas budi
Belailah pipinya dan dia akan menggosokkan kepala dengan manja.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Sapi
Karya: Taufiq Ismail
Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung

Puisi punya kepentingan besar terhadap bertrilyun daunan yang terpasang
tepat dan rimbun pada pepohonan
pada bermilyar pepohonan yang terpancang rapi
di permukaan bukit, pegunungan, lembah dan dataran pantai
Yang dialiri beratus juta kilometer kubik
air berbentuk padat,cair dan gas
dalam gerakan dinamik yang kau tak habis kagumi ruwetnya:
tegak lurus dari atas ke bawah, tegak lurus dari bawah ke atas
miring terjal miring landai,
beringsut dari kiri ke kanan, bergulir dari kanan ke kiri
menembus permukaan daun, meluncuri serat-serat kayu
mendaki akar, menaiki elevator serambut
yang tersusun rapi dalam batang kayu
menguap gaib lewat noktah-noktah jendela mikroskopis
lalu bergabung dalam substansi gas-gas yang tak dapat
kau sentuh, kau cium, kau tatap, beribu-ribu klasifikasinya
semua tersusun dalam komposisi yang begitu rumit
tapi demikian teraturnya, yang memungkinkan kau
menengadah ke atas sana, dan tersiuk berkata
waduh
biru
bersih
betul
langit itu
dan tengoklah serpihan-serpihan bulu domba berserak di angkasa
dengarlah angin telah berganti baju jadi musik gesek instrumental
yang melatarbelakangi semua ini, dan kulihat kau menitikkan
dua
tetes
cairan
dari kedua sudut kelopak mata kau itu.

Puisi punya kepentingan besar terhadap air yang tersedia
dalam berbagai ukuran bejana bumi
mengalir melalui bermacam format saluran tanah
dihuni oleh perenang-perenang sejati yang berukuran
mulai dari
sejarum peniti sampai sepunggung gunung
dengan warna-warni panorama bawah laut
yang luar biasa menakjubkan
bayangan dan penafsiran dari angkasa penuh cahaya
yang menaunginya
yang di atasnya mengapung dan mengepak
berjuta penerbang bersayap dengan gerakan matematis
bercumbu dengan angin dan bercakap-cakap dengan cuaca.

Puisi punya kepentingan besar terhadap unggas-unggas itu
yang ketika mengapung di atas sana
hinggap di dahan atau mengais tanah
berdialog dengan seluruh makhluk penghuni bumi
melata dia merangkak dia berjalan dua kaki dia
menyusupi rumput dia menyelami tanah dia
dan paru-paru mereka berdenyut, jantung mereka berdetak
susunan syaraf mereka memberi sinyal-sinyal cendekia
dalam sirkulasi zat asam yang siklusnya ruwet
tapi dapat dijelaskan lewat bahasa apa pun
dan susunan angka-angka apa pun
sehingga dapat kita raba
peradaban
dan budaya.

Puisi mencatatnya semua, menyampaikannya kembali
dengan sentuhan yang indah dan penuh keterharuan
mengulangi ini lewat daurnya sendiri-sendiri
berabad lamanya beriringan
denyut zikir tiada putusnya tegak lurus ke arah
Asal
Ini
Semua.
Puisi dengan penuh rasa khawatir, curiga dan cemburu
menyaksikan dedaunan, pepohonan, unggas, ikan,
cuaca, zat asam, susunan syaraf, sungai, danau, lautan
bercakap serak dan gagu dengan sesamanya
bagi kawanan makhluk yang telah dilucuti kesempurnaannya
dalam harmoni yang dulu tiada tertandingi.
Huruf-huruf kapital telah mengeja keserakahan,
mengejek kemiskinan, mencetak kekerasan, melestarikan penindasan,
menyebarkan kejahilan, semua dalam bentuk baru
yang tanpa bandingan sepanjang umur sejarah,
menerjemahkannya ke setiap bahasa
lengkap dengan petunjuk pelaksanaannya
secara kolektif melakukan penghancuran peradaban
mula-mula dalam kecepatan perlahan, dan kini
dalam percepatan yang seperti tiada dapat tertahankan.

Puisi menangisinya, mencatatnya
dengan huruf-huruf sedih, sesak nafas, geram dan naik darah.

Puisi menepuk bahu dan mencoba mengingatkan.

1990
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung
Karya: Taufiq Ismail
Kata itu, Suara itu

Tiga buah panser kavaleri
Membayang hitam malam ini
Kami sama berjaga. Semua hening
Seorang anak empat belas tahun
Bertukar api rokok dengan kopral ini
Gugus api berlompatan
Cocktail Molotov di sudut berjajaran
Sebagian tidur, sebagian berkawal
Mungkin sebentar lagi mereka dibangunkan
Atau pagi-pagi sekali bergerak
Menyandang AK, prajurit ini berpapasan
Dengan yang berjaket kuning, dalam gelap

Tanpa kata, tanpa suara
Ruangan yang suram
Langit yang hitam
Tiada kata, tiada suara
Tapi satu sama lain tahu kata itu
Tahu suara itu
Suara bumi ini
Suara berjuta
Mereka berempat berjagalah malam ini
Tanpa kata, tiada suara
Tapi satu sama lain
Tahu kata itu
Paham suara itu.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kata itu, Suara itu
Karya: Taufiq Ismail
Kemis Pagi

Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan
Yang selama ini mengenakan seragam kebesaran
Dan menaiki kereta-kereta kencana
Dan menggunakan meterai kerajaan
Dengan suara lantang memperatas-namakan
Kawula dukana yang berpuluh-juta

Hari ini kita serahkan mereka
Untuk digantung di tiang Keadilan
Penyebar bisa fitnah dan dusta durjana
Bertahun-tahun lamanya

Mereka yang merencanakan seratus mahligai raksasa
Membeli benda-benda tanpa-harga di mancanegara
Dan memperoleh uang emas beratus-juta
Bagi diri sendiri, di bank-bank luar negeri
Merekalah penganjur zina secara terbuka
Dan menistakan kehormatan wanita, kaum dari ibu kita

Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan
Kebanyakan anak-anak muda berumur baru belasan
Yang berangkat dari rumah, pagi tanpa sarapan
Telah kita naiki gedung-gedung itu
Mereka semua pucat, tiada lagi berdaya
Seorang ketika digiring, tersedu
Membuka sendiri tanda kebesaran di pundaknya
Dan berjalan perlahan dengan lemahnya.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kemis Pagi
Karya: Taufiq Ismail
Pengkhianatan Itu Terjadi Pada Tanggal 9 Maret

Pengkhianatan itu telah terjadi
Pengkhianatan itu terjadi pada tanggal 9 Maret
Ada manager-manager politik
Ada despot yang lalim
Ada ruang sidang dalam istana
Ada hulubalang
Serta senjata-senjata

Senjata imajiner telah dibidikkan ke kepala mereka tapi la la la
di sana tak ada kepala
tapi hu hu hu
tak ada kepala di atas bahu
Adalah tempolong ludah
Sipoa kantor dagang
Keranjang sampah
Melayang layang

Ada pernyataan otomatik
Ada penjara dan maut imajiner
Generasi yang kocak
Usahawan-usahawan politik yang kocak...
Ruang sidang dalam istana
La la la
tempolong ludah tak berkepala
Hu hu hu
keranjang sampah di atas bahu
Angin menerbangkan kertas-kertas statemen. Terbang
Melayang layang.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pengkhianatan Itu Terjadi Pada Tanggal 9 Maret
Karya: Taufiq Ismail