loading...

Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung

Puisi punya kepentingan besar terhadap bertrilyun daunan yang terpasang
tepat dan rimbun pada pepohonan
pada bermilyar pepohonan yang terpancang rapi
di permukaan bukit, pegunungan, lembah dan dataran pantai
Yang dialiri beratus juta kilometer kubik
air berbentuk padat,cair dan gas
dalam gerakan dinamik yang kau tak habis kagumi ruwetnya:
tegak lurus dari atas ke bawah, tegak lurus dari bawah ke atas
miring terjal miring landai,
beringsut dari kiri ke kanan, bergulir dari kanan ke kiri
menembus permukaan daun, meluncuri serat-serat kayu
mendaki akar, menaiki elevator serambut
yang tersusun rapi dalam batang kayu
menguap gaib lewat noktah-noktah jendela mikroskopis
lalu bergabung dalam substansi gas-gas yang tak dapat
kau sentuh, kau cium, kau tatap, beribu-ribu klasifikasinya
semua tersusun dalam komposisi yang begitu rumit
tapi demikian teraturnya, yang memungkinkan kau
menengadah ke atas sana, dan tersiuk berkata
waduh
biru
bersih
betul
langit itu
dan tengoklah serpihan-serpihan bulu domba berserak di angkasa
dengarlah angin telah berganti baju jadi musik gesek instrumental
yang melatarbelakangi semua ini, dan kulihat kau menitikkan
dua
tetes
cairan
dari kedua sudut kelopak mata kau itu.

Puisi punya kepentingan besar terhadap air yang tersedia
dalam berbagai ukuran bejana bumi
mengalir melalui bermacam format saluran tanah
dihuni oleh perenang-perenang sejati yang berukuran
mulai dari
sejarum peniti sampai sepunggung gunung
dengan warna-warni panorama bawah laut
yang luar biasa menakjubkan
bayangan dan penafsiran dari angkasa penuh cahaya
yang menaunginya
yang di atasnya mengapung dan mengepak
berjuta penerbang bersayap dengan gerakan matematis
bercumbu dengan angin dan bercakap-cakap dengan cuaca.

Puisi punya kepentingan besar terhadap unggas-unggas itu
yang ketika mengapung di atas sana
hinggap di dahan atau mengais tanah
berdialog dengan seluruh makhluk penghuni bumi
melata dia merangkak dia berjalan dua kaki dia
menyusupi rumput dia menyelami tanah dia
dan paru-paru mereka berdenyut, jantung mereka berdetak
susunan syaraf mereka memberi sinyal-sinyal cendekia
dalam sirkulasi zat asam yang siklusnya ruwet
tapi dapat dijelaskan lewat bahasa apa pun
dan susunan angka-angka apa pun
sehingga dapat kita raba
peradaban
dan budaya.

Puisi mencatatnya semua, menyampaikannya kembali
dengan sentuhan yang indah dan penuh keterharuan
mengulangi ini lewat daurnya sendiri-sendiri
berabad lamanya beriringan
denyut zikir tiada putusnya tegak lurus ke arah
Asal
Ini
Semua.
Puisi dengan penuh rasa khawatir, curiga dan cemburu
menyaksikan dedaunan, pepohonan, unggas, ikan,
cuaca, zat asam, susunan syaraf, sungai, danau, lautan
bercakap serak dan gagu dengan sesamanya
bagi kawanan makhluk yang telah dilucuti kesempurnaannya
dalam harmoni yang dulu tiada tertandingi.
Huruf-huruf kapital telah mengeja keserakahan,
mengejek kemiskinan, mencetak kekerasan, melestarikan penindasan,
menyebarkan kejahilan, semua dalam bentuk baru
yang tanpa bandingan sepanjang umur sejarah,
menerjemahkannya ke setiap bahasa
lengkap dengan petunjuk pelaksanaannya
secara kolektif melakukan penghancuran peradaban
mula-mula dalam kecepatan perlahan, dan kini
dalam percepatan yang seperti tiada dapat tertahankan.

Puisi menangisinya, mencatatnya
dengan huruf-huruf sedih, sesak nafas, geram dan naik darah.

Puisi menepuk bahu dan mencoba mengingatkan.

1990
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung
Karya: Taufiq Ismail

Post a Comment

loading...
 
Top