Mei 1997
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Saruyan, Lelaki Kecil Itu

Bisa jadi ini sekedar kata
Atau puisi tanpa makna
Seperti siang malam terjadi
Begitu saja tanpa jeda
Atau iba sekedarnya saja

Lelaki kecil duduk di sengkala senja
Tertunduk menatap harapan kerdil
Pada hidup pengap jauh rasa adil
Tanpa ibu-bapak sigap memanggil

“Saruyan! Tubuhmu lunglai terjaga
Kanak-kanakmu dilibas usia
Telanjang jemari bulat kelereng
Menggenggam jaman tak enteng
Menyulam cita-cita tanpa menggeleng”

Bisa jadi ini sekedar kata
Tentang Saruyan dicincang hujan
Bocah kecil di pertigaan jalan
Sejak mungil tak kenal manja
Apalagi meja makan keluarga

“Akulah Saruyan!
Di rimba kota aku bertahan
Calon preman tak terkalahkan
Tanah Abang - Kampung Rambutan
Orang tuaku hanya ingatan
Keluargaku jalan bantaran
Karena hidup membutuhkan dendam
Di jaman kini remuk redam”

Saruyan dialah Saruyan
Lelaki kecil berparas kotor
Tapi Saruyan bukan calon koruptor
Tidak ada jidat klimis
Atau sorot mata bengis
Apalagi bibir tipis dan kata manis
Sebab Saruyan dibesarkan jalanan
Jauh dari sistem kekerabatan

Ya! Akulah Saruyan calon preman
Bisa jadi ini sekedar kata
Atau puisi tanpa makna.

Jakarta
November, 2011
"Cucuk Espe"
PuisiSaruyan, Lelaki Kecil Itu
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
ZS

Kerut peta menjepit pekarangan kecil
berserak sobekan kertas dan jejak cemas.
Dari batas daratan berpasir
kau semat bijian gulma dan tanda angkuh
menjarah sari tubuhmu
mengering di pusat kota termangu.

"Tak akan pulang sampai kota bersih
dari nama-nama besar yang gusar.
Di puncak malam, memohon doa penghangus
rambati langit bersih
menggelegar dan jatuh di alun-alun kota,"
kataku di sebuah minggu pagi yang rapuh.

Matamu pancarkan sajak tak bertidur malam
berkilat merah seperti mata hantu
kangen bidadari usiran.
Di taman kota miris menatap langit
membaca garis takdir dan firasat yang khawatir.

"Mungkin batas itu suatu isyarat arif
lembut dan mengejutkan
saat seluruh kota sedih
dan satu barisan panjang lewati sisi teluk dan tanjung
mengenang sajak-sajak lama dengan duka,"
kataku menjelang minggu terakhir.

Jakarta, 2001
"Binhad Nurrohmat"
PuisiZS
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Kemerdekaan

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit-manisnya isi dunia
Akankah kau biarkan aku duduk berduka
Memandang saudaraku, bunda pertiwiku
Dipasung orang asing itu?
Mulutnya yang kelu tak mampu lagi menyebut namamu

Berabad-abad aku terlelap
Bagai laut kehilangan ombak
Atau burung-burung
Yang semula Bebas di hutannya
Digiring ke sangkar-sangkar
Yang terkunci pintu-pintunya
Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya

Berikan suaramu, kemerdekaan
Darah dan degup jantungmu
Hanya kau yang dipilih
Di antara pahit-manisnya isi dunia

Orang asing itu berabad-abad
Memujamu di negerinya
Sementara di negeriku
Ia berikan belenggu-belenggu
Maka bangkitlah Sutomo
Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo
Bangkitlah Ki Hajar Dewantoro
Bangkitlah semua dada yang terluka
“Bergenggam tanganlah dengan saudaramu
Eratkan genggaman itu atas namaku
Kekuatanku akan memancar dari genggaman itu.”
Suaramu sayup di udara
Membangunkanku dari mimpi siang yang celaka

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit-manisnya isi dunia
Berikan degup jantungmu
Otot-otot dan derap langkahmu
Biar kuterjang pintu-pintu terkunci itu
Atau mendobraknya atas namamu
Terlalu pengap udara yang tak bertiup
Dari rahimmu, kemerdekaan

Jantungku hampir tumpas
Karena racunnya

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit manisnya isi dunia

(Matahari yang kita tunggu
Akankah bersinar juga
Di langit kita?)

Mei, 1985
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiNyanyian Kemerdekaan
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nakula-Sadewa

Dulu: pencinta ulung itu
membelah cermin: aku
dan bayanganku terpisah

Siapa yang lebih utama
antara kami? Ibu kunti
menerima kami seperti
merelakan ayah dan ibu moksa.

Pada satu saat harus dipilih:
aku atau kau - yang tinggal
di antara yang tersisa. Yudistira.

Wajah lelah di raut telaga
tak menjelaskan: siapa
yang dipilih raut gelombang?

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Nakula-Sadewa
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kronik

Simpan sperma kalian
sebelum pergi
perang ke Babilonia

Dan tentara remaja Amerika
menyelinap. Serentak
masturbasi mengumpulkan sperma

Ada yang sesuai program KB
seujung sendok teh,
yang kemaruk separuh botol bir

Lalu rebahan di bibir
fatamorgana menulis
wasiat: perang ini pasti membunuh ayah

Kenapa tidak ikut demontrasi anti-perang
berseru: jr, bila tak bisa? Residen lagi?
ngapain mesti? Nggulingkan Saddam Hussein?

Sementara Saddam Hussein
dengan kloning
menjadi berjuta - membelah diri

Menyuruk ke Palestina, mengecambah
di timur tengah, lalu menyelinap
dan memasang bom di kota-kota Amerika

masturbasi tak henti-henti
kloning agar tak mati
tahukah akan perang a la dolly yang asyik?

Make love not war - atawa
jaga kebersihan alat kelamin
dan tingkatkan produk kondom dunia.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Kronik
Karya: Beni Setia