Juli 1997
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Zhouzhuang Cinta Membelit Kota

Di sini sungai membelit kota
seperti cinta membelitku
tapi begitu jauh, jauh...

Tukang sampan mengayuh dayung
menghanyutkanku yang sedang mencari
mencari, di sini aku mencari, di tanah air aku mencari.

Aku ingin berguru jadi sungai
berabad-abad mengalirkan cintanya
memeluk kota, menghanyutkan kesendirian
air kelabu, langit menyatu warna
lampiun di tepi kali mulai berbinar-binar
memberi arah denyut manusia.

Jika aku pulang, dimana tempat berlabuh?

Zhouzhuang
29 November 2004
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiZhouzhuang Cinta Membelit Kota
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tiga Biola Juan Gris

(1)
Terbaring di atas talam, ia cembung masih
dengan dawai menegang oleh putih-mutih
lembar lagu yang ditindihnya. Dan sebatang pipa
harum tembakau dan mungkin setandan anggur layu
rajin mengapitnya ketika ia begitu ragu pada ungu
dan coklat yang mestilah miliknya. Di pucuk lehernya
hanya lengkung serupa arabeska hitam sehingga
ia tak akan lagi membusung seperti telur kasuari
tapi membubung seperti udara Magribi di ujung jari.

(2)
Sebagian punggungnya perlahan memipih selagi
dawainya menghilang di antara lipatan linen putih
dan kuning yang memiara dua selongsong semu
sampai papan halma di depannya biru seperti pagi
seperti cerminnya yang baka. Ternyatalah ia berdua
kembar Siam yang gemar menyalin latar muka
dengan belakang sampai hijau tubuhnya hanya
seratus pecahan lingkaran dan segitiga pengabdi
coklat mahoni kertas dinding dan urat kayu meja
saat mata sekadar bermain matra dan permata
saat Partita Bach mesti menyela jingga dan jelaga.

(3)
Tenang seperti kertas Jepang, seakan ia membentang
dari tepi ke tengah. Dawainya sekadar gegaris
pengganda celah antara langit menjelang subuh
dan sebotol tinta yang menunggu tangan pelukis
yang telanjur menyuramkan dua pita merah darah.
Sewarna udara, mestinya ia bisa melerai bebongkah
coklat meja dan kelabu pintu yang berebut putih
tapi terhalang sekeping pilar Korintia yang melayang
di antara biru dan hitam yang ingin bergegas pulang.
Sungguh ia terlalu sabar, sehingga semua celah itu
mengubur si pelukis yang telah menjadikannya
segantang, seperti asap dan kalibut. Tak sadar ia
menyerahkan diri kepada tinta Cina seluas laut
yang kini terkunci leher botol yang seperti lehernya.

2007
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiTiga Biola Juan Gris
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
A Commemoration

Betapa indah awal sebuah petaka
tatkala cinta dan berahi tak lagi punya batas
dan segumpal nilai seketika hilang makna
tidaklah menolong airmata terburai
atau merutuk gemawan yang terhentak seribu kaki kuda
hingga senja taklah lebih dari layar koyak
dendam perjalananmu membuatku terpana
namun pada akhirnya adalah tiada
dan tiba-tiba kutakut rindu.

1992
"Puisi Medy Loekito"
PuisiA Commemoration
Karya: Medy Loekito

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nostalgia

Merasa dingin
Masuki rumah lama
kenangan beku 

Ban dan perahu.
Di tepi pantai
Ingin menulis syair.

"Kurniawan Junaedhie"
PuisiNostalgia
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebatang Pohon Yang Rindang
(Ulang tahun Ayah ke-85 tahun)

Bagiku ayah adalah sebatang pohon tua yang rindang. Daunnya rimbun. Kalau aku melihat ke atas, yang kulihat hanya susunan daun bertrap-trap. Begitu banyak daun tersusun. Di kelopak daun itu aku lihat kutu, semut, juga kadang buliran embun. Beberapa daun terkulai, lalu jatuh rebah. Karena gemas, pada suatu hari aku masuk ke dalam tanah, berkomplot dengan remah-remah. Aku lihat ayah dari bawah. Ayah adalah sebatang pohon tua yang rindang. Akarnya kuat, mencengkeram ke bumi erat-erat. Aku merasa terlindung dalam himpitan daun dan cengkeraman cacing tanah.
2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiSebatang Pohon Yang Rindang
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||