Januari 1998
Syair Mata Bayi


Aku merindukan mata bayi
setelah aku dikhianati mata durjana.
Aku merindukan matahari
karena aku dikerumuni mata gelap.
Aku merindukan mata angin
karena aku disekap oleh mata merah saga.

Wahai, mata pisau!
Mata pisau di mana-mana.
Mata batin! Mata batin!
Hadirlah kamu!
Hadirlah kamu di saat yang rawan ini.
Wahai, mata batin!
Kedalaman yang tak terkira.
Keluasan yang tak terduga.
Harapan di tengah gebalau ancaman.
 

Cipayung Jaya
6 November 1998
"Puisi: Syair Mata Bayi (Karya: W.S. Rendra)"
Puisi: Syair Mata Bayi
Karya: W.S. Rendra
Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja.
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.
Amarah merajalela tanpa alamat.
Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.
Pikiran kusut membentuk simpul-simpul sejarah.
O, jaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!

Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.
Kitab undang-undang tergeletak di selokan.
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.
O, tata warna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!

Dari sejak jaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara.
O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!

Berhentilah mencari ratu adil!
Ratu adil itu tidak ada. Ratu adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil.

Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara.
Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa,
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan,
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya.

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran gelap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Air mata mengalir dari sajakku ini.
Jakarta, 17 Mei 1998
"Puisi: Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia
Karya: W.S. Rendra
Makna Sebuah Titipan

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:

Sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
bahwa hartaku hanya titipan-Nya,
bahwa putraku hanya titipan-Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan 'ku tolak sakit,
'ku tolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
'Ku perlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari 'ku ucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

"Puisi: Makna Sebuah Titipan (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Makna Sebuah Titipan
Karya: W.S. Rendra
Sajak Anak-Anak Mati


Tiga anak menari
tentang tiga burung gereja.
Kemudian senyap
disebabkan senja.

Tiga lilin kuncup
pada marmer meja
Tiga tik-tik hujan tertabur
Seperti tak sengaja.

"Bapak, jangan menangis"

1973
"Puisi: Sajak Anak-Anak Mati (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Sajak Anak-Anak Mati
Karya: Goenawan Mohamad
Pencuri


Ada yang dicuri dari diriku
Sesuatu yang membuatku
Kemudian pun jadi pencuri
Diam-diam dan terus-menerus dicuri
Dariku apa yang bisa dicuri
Diam-diam dan terus-menerus kucuri

Apa yang bisa kucuri
Malam pun menjadi sahabat
Malu menjadi laknat
Rasa ragu menjadi pengganggu
Rasa rindu menjadi penunggu
Aku dicuri setiap saat
Aku mencuri setiap sempat
Setiap kali
Dicuri diriku
Kucuri diriku
Sendiri.
 
  
1998
"Puisi: Pencuri (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Pencuri
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sujud


Bagaimana kau hendak bersujud pasrah
sedang wajahmu yang bersih sumringah
keningmu yang mulia
dan indah begitu pongah
minta sajadah
agar tak menyentuh tanah.

Apakah kau melihatnya
seperti iblis saat menolak menyembah bapakmu
dengan congkak,
tanah hanya patut diinjak,
tempat kencing dan berak
membuang ludah dan dahak
atau paling jauh hanya jadi lahan
pemanjaan nafsu
serakah dan tamak.

Apakah kau lupa
bahwa tanah adalah bapak
dari mana ibumu dilahirkan,
tanah adalah ibu yang menyusuimu
dan memberi makan
tanah adalah kawan yang memelukmu
dalam kesendirian
dalam perjalanan panjang
menuju keabadian.

Singkirkan saja
sajadah mahalmu
ratakan keningmu,
ratakan heningmu,
tanahkan wajahmu,
pasrahkan jiwamu,
biarlah rahmat agung
Allah membelai
dan terbanglah kekasih.
 
  
"Puisi: Sujud (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Sujud
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Bagi-Mu


Bagi-Mu kutancapkan
kening kebanggaanku pada
rendah tanah,
telah kuamankan sedapat mungkin
maniku,
Kuselamat-selamatkan Islamku.
Kini dengan
segala milik-Mu Allah
terimalah.

Kepala bergengsi terhormat ini
dengan kedua
mata yang mampu menangkap
gerak-gerik dunia,
kedua telinga
yang dapat menyadap kersik-kersik
berita,
hidung yang bisa mencium wangi parfum
hingga borok manusia,
mulut yang sanggup menyulap
kebohongan jadi kebenaran
seperti yang lain hanyalah
sepersekian percik tetes anugerah-Mu.

Alangkah amat
mudahnya Engkau
melumat Allah,
sekali Engkau
lumat terbanglah cerdikku,
terbanglah gengsiku,
terbanglah kehormatanku,
terbanglah kegagahanku,
terbanglah kebanggaanku,
terbanglah mimpiku,
terbanglah hidupku.

Allah,
jika terbang - terbanglah.
Sekarang aku pasrah,
asal menuju haribaan Rahmat-Mu.
 
"Puisi: Bagi-Mu (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Bagi-Mu
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Kita Semua Asmuni atawa Asmuni Cuma Satu?


Kita semua Asmuni
Kita satu sama lain
Tidak lain
Asmuni semua.

Anak-anak Asmuni
Orang-orang Asmuni
Tuan Asmuni
Raden Asmuni
Bapak Asmuni
Kiai Asmuni
Politikus Asmuni
Pemikir Asmuni
Pembaru Asmuni.

Kita semua Asmuni
Kita satu sama lain
Tidak lain
Asmuni.

Sayang
Asmuni yang jujur cuma satu
Asmuni yang menghibur
Cuma satu.

 
  
1988
Dengan permohonan maaf dari Asmuni Andiweky dari Group Lawak Srimulat
"Puisi: Kita Semua Asmuni atawa Asmuni Cuma Satu? (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Kita Semua Asmuni atawa Asmuni Cuma Satu?
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Teka-Teki

Binatang apa kira-kira
yang hendak membangun istana
untuk kita semua?
  
1998
"Puisi: Teka-Teki (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Teka-Teki
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Selama Ini di Negerimu
Selama ini di negerimu
manusia tak punya tempat
kecuali di pinggir-pinggir sejarah yang mampat.

Inilah negeri paling aneh
dimana keserakahan dimapankan
kekuasaan dikerucutkan
kemunafikan dibudayakan
telinga-telinga disumbat harta dan martabat
mulut-mulut dibungkam iming-iming dan ancaman.

Orang-orang penting yang berpesta setiap hari
membiarkan leher-leher mereka dijerat dasi
agar hanya bisa mengangguk dengan tegas
berpose dengan gagah
di depan kamera otomatis yang gagu.

Inilah negeri paling aneh
negeri adiluhung yang mengimpor
majikan asing dan sampah
negeri berbudaya yang mengekspor
babu-babu dan asap
negeri yang sangat sukses
menernakkan kambing hitam dan tikus-tikus
negeri yang angkuh dengan utang-utang
yang tak terbayar
negeri teka-teki penuh misteri.

Selama ini di negerimu
kebenaran ditaklukkan
oleh rasa takut dan ambisi
keadilan ditundukkan
oleh kekuasaan dan kepentingan
nurani dilumpuhkan
oleh nafsu dan angkara.

Selama ini di negerimu
manusia hanya bisa
mengintip masalahnya dibicarakan
menghabiskan anggaran
oleh entah siapa
yang hanya berkepentingan
terhadap anggaran
dan dirinya sendiri.

Selama ini di negerimu
angin pun menjadi badai
matahari bersembunyi
bulan dan bintang tenggelam
burung-burung mati
bunga-bunga layu sebelum berkembang
dan tembang menjadi sumbang
puisi menjadi tak indah lagi.

Yang tersisa tinggal doa
dalam rintihan
mereka yang tersia-sia
dan teraniaya
untunglah Allah Yang Maha Tahu
masih berkenan memberi waktu
kepadamu untuk memperbaiki negerimu
dari kampus-kampusmu yang terkucil
Ia mengirim burung-burung ababil
menghujani segala yang batil
dengan batu-batu membakar dari sijjil
dan pasukan bergajah abradah kerdil
bagai daun-daun dimakan ulat
beruntuhan menggigil.

Di negerimu
kini telah menyingsing fajar peradaban baru
jangan tunggu, ambil posisimu
proklamasikan kembali
kemerdekaan negerimu.
  
Rembang, 1998
"Puisi: Selama Ini di Negerimu (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Selama Ini di Negerimu
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Reformasi Terus Melaju
Api terus melalap kota dan hutan.
Bayi-bayi terus dikabarkan dibuang sembarangan.
Demam berdarah terus meminta korban.
Aktivis-aktivis terus dikabarkan hilang.
Perusahaan-perusahaan besar terus dibingungkan utang.
Menteri-menteri terus bernegosiasi dengan para pemilik piutang.
Bank-bank terus deg-degan.
Petinggi-petinggi negeri terus berusaha meyakinkan.
Negara-negara donor terus mempertimbangkan bantuan.
Ibu-ibu rumah tangga terus mengeluhkan harga bahan-bahan.
Toko-toko yang pintunya tak pro reformasi
terus jadi sasaran penjarahan.
Korupsi, kolusi dan nepotisme terus menjadi pembicaraan.
Pengamat terus mengkritik dan mempertanyakan
pakar-pakar, terus berteori.
Mahasiswa terus berdemonstrasi
Abri terus berjaga-jaga.
Politisi-politisi terus memasang kuda-kuda.
Ulama dan umara terus beristighatsah dan berdoa.
Modal dan moral terus terkikis.
Sembako dan kepercayaan terus menipis.
Harga-harga terus naik.
Rupiah yang dicintai terus melemah
Orsospol-orsospol terus bengong.
Wakil-wakil rakyat terus tampak bloon.
Padahal Pak Harto sudah lengser keprabon.
Reformasi terus melaju.
  
Rembang - 1998
"Puisi: Reformasi Terus Melaju (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Reformasi Terus Melaju
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Rasanya Baru Kemarin (Versi VI)
Rasanya
baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta
atas nama kita menyiarkan dengan seksama
kemerdekaan kita di hadapan dunia.

Rasanya
gaung pekik merdeka kita
masih memantul-mantul,
tidak hanya dari mulut-mulut Jurkam PDI saja.

Rasanya
baru kemarin,
padahal sudah lima puluh tiga tahun lamanya.

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan yang mulia
sudah banyak yang tiada.
Penerus-penerusnya sudah banyak yang berkuasa
atau berusaha.
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa,
taruna-taruna sudah banyak yang jadi
petinggi negeri.
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
sudah banyak yang jadi menteri.

Rasanya
baru kemarin,
padahal sudah lebih setengah abad lamanya.
Negara sudah semakin kuat,
rakyat sudah semakin terdaulat.

Pembangunan ekonomi kita sudah sedemikian laju
semakin jauh meninggalkan pembangunan akhlak
yang tak kunjung maju.
Anak-anak kita sudah semakin mekar tubuhnya,
bapak-bapak kita sudah semakin besar perutnya.

Rasanya baru kemarin,
padahal sudah lima puluh tiga tahun kita merdeka.
Kemajuan sudah menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka.
Kemakmuran duniawi sudah menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya

Daging sudah lebih tinggi harganya
dibanding ruh dan jiwa.
Tanda gambar sudah lebih besar pengaruhnya
dari bendera merah putih dan lambang garuda.
Pejuang Marsinah sudah berkali-kali
kuburnya digali tanpa perkaranya terbongkar.
Preman-preman sejati sudah berkali-kali
diselidiki dan berkas-berkasnya selalu terbakar.

Rasanya
baru kemarin,
padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.
Pahlawan-pahlawan idola bangsa
seperti Diponegoro,
Imam Bonjol dan Sisingamangaraja,
sudah dikalahkan oleh Ksatria Baja Hitam,
dan Kura-kura Ninja.

Banyak orang pandai sudah semakin linglung.
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung.
Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan.
Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan.

Rasanya
baru kemarin.

Banyak ulama sudah semakin dekat kepada pejabat.
Banyak pejabat sudah semakin erat dengan konglomerat.
Banyak wakil rakyat sudah semakin jauh dari umat.
Banyak nurani dan akal budi sudah semakin sekarat.

(Hari ini ingin rasanya
aku bertanya kepada mereka semua
sudahkah kalian
benar-benar merdeka?)

Rasanya
baru kemarin.

Tokoh-tokoh angkatan 45 sudah banyak yang koma.
Tokoh-tokoh angkatan 66 sudah banyak yang terbenam.

Rasanya
baru kemarin.

Negeri zamrud katulistiwaku yang manis
sudah terbakar habis
dilalap krisis demi krisis.
Mereka yang kemarin menikmati pembangunan
sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban.
Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri.

Rasanya baru kemarin,
padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.

Mahasiswa-mahasiswa penjaga nurani
sudah kembali mendobrak tirani.
Para oportunis pun mulai bertampilan
berebut menjadi pahlawan.
Politisi-politisi pensiunan
sudah bangkit kembali.
Partai-partai politik sudah bermunculan
dalam reinkarnasi.

Rasanya
baru kemarin.

Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma.
Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru.

Rasanya
baru kemarin.

Pak Harto sudah tidak menjadi tuhan lagi
bayang-bayangnya sudah berani persi sendiri
Mester Habibie sudah memberanikan diri
menjadi presiden transisi.
Bung Harmoko sudah tak lagi
mengikuti petunjuk dan mendominasi televisi.
Gus Dur mulai siap madeg pandhita
Ustadz Amin Rais sudah siap jadi sang nata
Mbak Mega sudah mulai agak lega
Mas Surjadi sudah mulai jaga-jaga.

(Hari ini rasanya
aku bertanya kepada mereka semua
bagaimana rasanya merdeka?)

Rasanya baru kemarin,
padahal sudah lima puluh tiga tahun kita merdeka.

Para jendral dan pejabat sudah saling mengadili.
Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali.

Mereka kemarin yang dijarah
sudah mulai pandai meniru menjarah.
Mereka yang perlu direformasi
sudah mulai fasih meneriakkan reformasi.
Mereka yang kemarin dipaksa-paksa
sudah mulai berani mencoba memaksa,
Mereka yang kemarin dipojokkan
sudah mulai belajar memojokkan.

Rasanya baru kemarin,
orang tuaku sudah lama pergi bertapa.
Anak-anakku sudah pergi berkelana.
Kakakku sudah menjadi politikus.
Aku sendiri sudah menjadi tikus.

(Hari ini
setelah lima puluh tiga tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang 'ku cinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama)

Rasanya baru kemarin
ternyata sudah lima puluh tiga tahun kita merdeka.

(Ingin rasanya
aku sekali lagi menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa:
Merdeka!)
  
8 Agustus 1998
Kumpulan puisi "Gelap Berlapis - Lapis"
"Puisi: Rasanya Baru Kemarin (Versi VI) Karya Mustofa Bisri"
Puisi: Rasanya Baru Kemarin (Versi VI)
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Kinilah Saatnya Berterus Terang
Setelah sekian lama
kita dihimpit gelap kabut
ditindih rasa takut
setelah sekian lama
kita digoncang deru angin
setelah semua kata-kata
hanya menggumpal dalam dada
setelah semua merasa lara
kinilah saatnya berterus terang
jangan tutupi kebenaran
agar dunia tetap terang
jangan tutupi kesalahan
biar dada tetap lapang
kinilah saatnya berterus terang.
 
Jangan biarkan rasa takut
membuatmu menjadi munafik dan pengecut
cahaya kebenaran telah datang
kinilah saatnya berterus terang.
 
Marilah kita bicara laiknya saudara
jangan lagi kita biarkan
kepentingan merekayasa kita
menyumbat makna
tumpukan kata menyuburkan dendam
tumpukan keluhan meledakkan dada
dan akhirnya dendam membakar segalanya.
 
Kinilah saatnya berterus terang
setelah sekian lama
kita saling terkam bagai serigala
masihkah tersisa kemanusiaan kita?
Setelah sekian lama
kebencian antara kita membara
masihkah kita bersaudara?
  
1998
"Puisi: Kinilah Saatnya Berterus Terang (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Kinilah Saatnya Berterus Terang
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Kembalikan Makna Pancasila
Selama ini di depan kami
terus kalian singkat-singkat Pancasila
karena kalian takut ketahuan
sila-sila yang kalian maksud
sila-sila yang kalian anut
tidak sebagaimana yang kalian tatarkan
kepentingan-kepentingan sempit sesaat
telah terlalu jauh menyeret kalian
maka Pancasila kalian pun selama ini adalah:

KESETANAN YANG MAHA PERKASA
KEBINATANGAN YANG DEGIL DAN BIADAB
PERSETERUAN INDONESIA
KEKUASAAN YANG DIPIMPIN OLEH MIKMAT KEPENTINGAN
DALAM KEKERABATAN/PERKAWANAN
KELALIMAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

Dan sorga kami pun menjadi neraka
di depan dunia
ibu pertiwi menangis memilukan
merah putihnya di cabik-cabik
anak-anaknya sendiri bagai serigala
menjarah dan memperkosanya.

O, gusti kebiadaban apa ini?
o, azab apa ini?
gusti,
sampai memohon ampun kepada-Mu pun
kami tak berani lagi.
  
1998
"Puisi: Kembalikan Makna Pancasila (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Kembalikan Makna Pancasila
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Kaum Beragama Negeri Ini
Tuhan, lihatlah betapa kaum beragama negeri ini
mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain
di negeri-negeri lain,
demi mendapatkan ridha-Mu
mereka rela mengorbankan saudara-saudara mereka
untuk berebut tempat terdekat di sisi-Mu
mereka bahkan tega menyodok dan menikam
hamba-hamba-Mu sendiri
demi memperoleh rahmat-Mu
mereka memaafkan kesalahan
dan mendiamkan kemungkaran
bahkan mendukung kelaliman
untuk membuktikan keluhuran budi mereka
terhadap setan pun mereka tak pernah berburuk sangka.
 
Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini
mereka terus membuatkan-Mu rumah-rumah mewah
di antara gedung-gedung kota
hingga tengah-tengah sawah
dengan kubah-kubah megah dan menara-menara menjulang
untuk meneriakkan nama-Mu
menambah segan dan keder hamba-hamba kecil-Mu
yang ingin sowan kepada-Mu
nama-Mu mereka nyanyikan dalam acara hiburan
hingga pesta agung kenegaraan
mereka merasa begitu dekat dengan-Mu
hingga masing-masing merasa berhak mewakili-Mu
yang memiliki kelebihan harta membuktikan
kedekatannya dengan harta yang Engkau berikan
yang memiliki kelebihan kekuasaan membuktikan
kedekatannya dengan kekuasaan yang Engkau limpahkan
yang memiliki kelebihan ilmu membuktikan
kedekatannya dengan ilmu yang Engkau karuniakan
mereka yang Engkau anugerahi kekuatan
seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri
mereka bukan saja ikut menentukan ibadah
tapi juga menetapkan siapa ke sorga siapa ke neraka
mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan
hingga takbir dan ikrar mereka
yang kosong bagai perut beduk.
 
Allahu Akbar Walillahil Hamd.
  
Rembang - menjelang Idul Adha 1418/1998
"Puisi: Kaum Beragama Negeri Ini (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Kaum Beragama Negeri Ini
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Jadi Apa Lagi

Jadi apa lagi
yang bisa kita lakukan
bila mata sengaja dipejamkan
telinga sengaja ditulikan
nurani mati rasa?
 
Apalagi
yang bisa kita lakukan
bila kepentingan lepas dari kendali
hak lepas dari tanggung jawab
perilaku lepas dari rasa malu
pergaulan lepas dari persaudaraan
akal lepas dari budi?

Apalagi
yang bisa kita lakukan
bila pernyataan lepas dari kenyataan
janji lepas dari bukti
hukum lepas dari keadilan
kebijakan lepas dari kebijaksanaan
kekuasaan lepas dari koreksi?

Apalagi
yang bisa kita lakukan
bila kata kehilangan makna
kehidupan kehilangan sukma
manusia kehilangan kemanusiaannya
agama kehilangan Tuhan-nya?

Apalagi, saudara
yang bisa
kita lakukan?
 
Allah,
kalau saja itu semua
bukan kemurkaan dari-Mu terhadap kami
kami tak peduli.
  
Rembang, 1998
"Puisi: Jadi Apa Lagi (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Jadi Apa Lagi
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Gelombang Gelap
Gelombang gelap menyapu negeriku
memedihkan mata dan hatiku.

Siapa kalian menggiring gelap
atas panorama bumiku yang elok gemerlap?

Kenikmatan apa yang kalian cari
maka segala milik kami
kalian curi
hingga secercah harapan yang tersisa
pada kami?

Kalian bakar hutan dan dendam
hingga kobarannya sampai kini
tak kunjung padam
gelombang gelap menyapu negeriku
mengacaukan akal sehat
orang-orang waras
menghentikan kesibukan kerja para pekerja
merusuhkan belaian kasih sayang para penyayang
menjauhkan keakraban saudara dengan saudara
mengganggu keasyikan bermain bocah-bocah
mengusik kekhusukan para mukmin beribadah.

Gelombang gelap menyapu negeriku
Tuhan, ampunilah kami
yang tanpa sadar ikut memperpekat gelap
yang mereka giring kemari
dan datanglah kembali
dengan Maha Cahya-Mu
  
1998
"Puisi: Gelombang Gelap (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Gelombang Gelap
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Akhirnya
Akhirnya api keserakahan kalian
membakar hutan belukar dan dendam
asapnya menyesakkan napas
berjuta-juta manusia
memedihkan mata mereka.
Akhirnya kalian harus memetik hasil
dari apa yang kalian ajarkan
ribuan orang kini telah pandai
meniru kalian menjarah apa saja
yang tersisa dari sehabis jarahan kalian
beberapa tokoh sudah pandai meniru kalian
menyembunyikan gombal kepentingan
dalam retorika yang dimanis-maniskan.
Akhirnya kalian harus membayar
kemerdekaan dan kedamaian
yang selama ini kalian curi dari kami
kepercayaan yang selama ini
kalian lecehkan.
  
1998
"Puisi: Akhirnya (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Akhirnya
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Abandoned Ship

Sebuah kapal layar
tertambat pada sauh
ditinggalkan.

terangguk-angguk
digoyang
gelombang.

Suatu senja
hal itu
kusaksikan.
  
Tanjung Balai Karimun
1977
"Puisi: Abandoned Ship (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Abandoned Ship
Karya: Aldian Aripin
Maju
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang.


1943
"Puisi: Maju (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Maju
Karya: Chairil Anwar
Nuh


Pada hari Ahad kedua, kota tua itu tumpas. Curah hujan
tak lagi deras, meskipun angkasa masih ungu, dan hari gusar.
Rumah-rumah runtuh, seluruh permukaan rumpang, dan
tamasya mati bunyi, kecuali gemuruh air. Memang ada jerit
terakhir, yakni teriak seorang anak.

"Ia jatuh," kata laporan yang disampaikan kepada Nakhoda.
"Dari sebuah atap yang bongkah. Air bah menyeretnya
Kakinya memang lumpuh sebelah. Dengan cepat ia pun
tenggelam, seperti yang lain-lain: neneknya, ibu-bapaknya,
saudara-saudaranya sekandung. Ia tenggelam, seraya memekik,
begitu juga seluruh kota."

Nakhoda itu tersenyum. Segera diberitakannya kabar terakhir itu
kepada Nuh yang sedang berdoa di kamarnya dalam bahtera.
Orang alim itu terdiam sebentar, lalu bangun dan berjalan ke
buritan. Ia ingin menyaksikan sendiri benarkah gelombang telah
selesai membunuh.

Memang: banjir itu tak lagi ganas, seakan-akan naga yang
kenyang bangkai.

Dan di sisa kota itu ia lihat mayat, terapung, menggelembung,
hampir hitam, beribu-ribu, seperti menantikan sesuatu.
Ia lihat gagak dan burung-burung marabou, bertengger di atas
perempuan-perempuan tua yang terserak busuk. Di permukaan
air itu bahkan hutan-hutan takluk dan senja seakan terbalik,
seperti pagi. Nuh pun berbisik, "Kaum yang musyrik, yang tak
dikehendaki ..."

Ia menghela napas, lalu kembali ke anjungan. Bau bacin
menyusup dari cuaca, bahkan sampai ke ruang doa, dan ia
merasa kota itu akan segara jadi payau. Maka tatkala langit
teduh, Nuh segera meminta agar bahtera diarahkan ke sebuah
dataran tinggi yang masih utuh, di utara. Ia berkata, "Keadilan,
perkara besar itu, telah dibereskan Tuhan." Dan ia mendarat.

Lepas dari air, ia merunduk di tepian itu dan diucapkannya
syukur. Lalu segera disuruhnya persiapkan korban hewan di
kaki bukit. Harum daging bakar pun sampai ke langit, dan
membuat surga berbahagia. "Ya, Maha Dasar, tak ada lagi yang
bisa keluar," begitulah sembah yang diucapkannya, ketika hari jadi
terang dan jemaat berdoa untuk kota-kota yang akan datang,
yang kukuh, patuh. Kota-kota Nuh.

1998
"Puisi: Nuh (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Nuh
Karya: Goenawan Mohamad