Februari 1998
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Anak-anak Bermain

Dari sumur yang sama kutimba darah dan
keringat semua orang. kusaring kebekuan, lalu
kutiup: menjadi bulan.

Cahaya menyelinap antara rindang peradaban.
masihkah kau butuh bayang-bayang?

Kuikat purnama dengan lidahku, setelah letih
memeras darah dan keringat sendiri. kukembalikan
bagi langit suwung.

Tiba-tiba mendung. bulan kehilangan bayang.
kupanggil anak-anak. biar menadah airmata
sendiri.

1992
"Puisi: Nyanyian Anak-anak Bermain (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nyanyian Anak-anak Bermain
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Misa Sepanjang Hari

Setelah letih merentang perjalanan, kita sampai
di perempatan sejarah. menghitung masa silam
dan mereka-reka masa datang. segala yang telah
kita lakukan sebagai dosa, berhimpit-himpitan
dalam album. berebut di antara mazmur-mazmur dan
doa. dan kita pun belum putuskan perjalanan atau
kembali pulang.

Kata-kata gugur jadi rintihan. percakapan berdesis
dalam isakan. keringat anyir dan darah bersatu
menawar dahagamu yang terlampau kental. engkau imani
taubatku yang mengering di antara dengkur dan igauan.
tubuh beku di antara altar-altar dan bangku panjang.
di antara mazmur dan suara anggur dituangkan.
di seberang mimpi, pancuran dan sungai mati dengan
sendirinya. tiba-tiba kaupadamkan cahaya itu. 

Ruang ini gelap. aku raba dan kucari-cari tongkat
si buta. kutemukan cahaya dalam pikiranku sendiri.
pejalan beriringan di antara gang dan musim yang
tersesat. kunyalakan cahaya dalam hatiku. biarlah
jika akhirnya membakar seluruh ayat dan syair yang
lupa kukemasi.

1992
"Puisi: Misa Sepanjang Hari (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Misa Sepanjang Hari
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Patriot Muda

Matahari khatulistiwa
masih semayam di jantungnya
masih bakar pembuluh darah dan sendi
karena
masa muda gelanggang pacuan cita
bukan sebuah kolam di taman kota
ketika pagi di tanah ini tenggelam
dalam cerita-cerita hitam
atau tertimbun bukit merjan
pijar api masih nyala di mata
tegar hati masih tugu di jiwa
matahari masih nyala di dada
cita-cita masih utuh dalam sukma.

Masa muda hakekatnya
pertempuran lawan segala kenistaan
bukan sebuah meja perjamuan
masa muda hakekatnya
pintalan nyali bentuk cemeti
ketika angkara di tanah Ibu meraja
disaksikan bumi dan langit
inilah hakekat pertempuran itu.

Yogya, 1975
"Puisi: Balada Patriot Muda (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Patriot Muda
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak tentang Putu dan Sayu

Kembara tegar
yang selalu berjalan bersama angin Tabanan
yang tak pernah letih dan henti
yang selalu bernafsu tundukkan matahari
di kepalanya bertimbun segala rencana dan cita-cita
meskipun mulutnya tak lepas mengunyah duka-duka
namun dia sempat ketawa dan bilang begini:
"saudaraku, hidup ini puisi"
aku ketawa, pasti dia sedang jatuh cinta.

Dewa-dewa lalu turun ke pura
kemboja-kemboja dalam bejana
gadis Sayu mengantar puisi tadi
kemudian diam tiada berita, lama
ku kira bencana-bencana membuat
mereka menggulung cakrawala
dan membikin benteng sendiri
tapi aha, Putu dan Sayu, menggulung mega-mega
bayi-bayi pun meramaikan benteng mereka
ketika kemudian dia berkata:
"saudaraku, hidup ini palu godam"
aku tak lagi ketawa, begitu memang adanya
kita bukankah logam-logam yang harus ditempa?

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak tentang Putu dan Sayu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Putu dan Sayu
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Yang Tak Pernah Sendiri

Yang berjalan tak pernah sendiri
yang bernyanyi tak pernah sendiri
wajah-wajah menata rajah di dadanya
tentang harapan-harapan yang sembunyi
tentang masa lalu yang tak semanis buah ceri
bahkan tentang sepiring nasi.

Matahari yang pijar melekat di dahinya
bulan merah mengeram di pusarnya
sepanjang kasih sayang pada yang lain
yang membuat hidupnya bukan lagi satu hal yang asing
tak sendiri telah ditambah belantaranya
tak sendiri telah bergumul dengan angin dan debunya
seribu langkah hari ini
dua ribu langkah hari esok
beribu langkah hari lusa
berjalan dengan setia
antara subuh - lohor - dan isya
tatapan batinnya bergelimang cinta.

Tak sendiri disyairkannya irekornakortu
dalam lagu kembaranya 
la-la-la-ra-ra-ra
fa-fa-fa-na-na-na.

Jakarta, 1979
"Puisi: Yang Tak Pernah Sendiri (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yang Tak Pernah Sendiri
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dari Sebuah Perjalanan

Ketika kau tinggalkan padang di kaki bukit
membawa segala warna yang telah melekat
membuat tubuh menjadi arang rapuh
pada rasamu perjalanan menjadi semakin panjang
terlalu meletihkan
tetapi tidak, ketika ada yang datang
membawa untukmu pohon-pohon cemara
lalu menanami sepanjang jalan dengan setia
tanpa mengumbar kata
itulah sebuah kesungguhan
dan janji yang tak pernah mati.

Adalah awalnya sebuah perjalanan
yang tak pernah kau sesali
kau harapkan di depanmu terjadi
serigala bersahabat dengan biri-biri
gelatik dan elang terbang beriringan
angin musim bersatu menyongsong awan
tidak terlalu lama bayi-bati meramaikan pagiku
berisik dusun berisik kota yang kan lewati
sudah berapa, jangan tambah lagi
terlalu ramai perjalanan ini tak bisa kau nikmati.

Jakarta, 1979
"Puisi: Dari Sebuah Perjalanan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Dari Sebuah Perjalanan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berita dari Ladang

angin-angin bercerita tentang damai di ladang-ladang
tentang jagung dan rumput yang tumbuh berdampingan
tentang kecapi dan gerit pedati pagi-pagi
yang mengabarkan lahirnya bayi-bayi
tapi tidak terlalu lama
belum sampai anak-anak berangkat dewasa
mereka telah kehilangan rumputnya
mereka telah kehilangan hijaunya
mereka bahkan kehilangan burung hutan berlintasan
mereka telah kehilangan tembang

derek-derek perkasa telah merambah sampai ke sini
melumat rumput-jagung-dan lintas burung
bocah-bocah bertanya dalam kebodohan sendiri :
"adakah semua untuk kami nanti"
dia masih juga telanjang
dengan pusar mencuat dari perutnya
emaknya masih juga cuma berkutang
dengan cendawan-cendawan edan di punggungnya
bocah yang tak tahu tentang nasibnya
perempuan yang tak tahu makna hidupnya
selain menatap dengan ujung mata

Gila!
akhirnya pada pusing dan rame-rame pergi ke kota
menyerbu kehijauan di taman-taman
membikin nasi di bawah pohon sambil blingsatan
toh masih bisa bilang : "nyamaaaannnn!"
dan angin pun telah enggan berkabar
angin kota telah kejangkitan penyakit manusia
tak peduli, datang pergi dan datang pergi
ladang yang tertinggal sepi dan mati
dalam ramai yang lain lagi.

Jakarta, 1979
"Puisi: Berita dari Ladang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Berita dari Ladang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Satu Matahariku Mataharimu

Satu matahariku mataharimu
yang paling awal dari yang tersembunyi
yang dinanti dalam baurnya suara-suara
yang tak jelas, yang mengambang, yang meninggi
satu! satu! Matahariku mataharimu.

Manakala berkas demi berkas cahaya putihnya
membangunkan daun-daun di ladang kecil
membangunkan rumput-rumput di pinggir 
kandang sapi malang
membangunkan keletihan kuli-kuli pelabuhan agar segera
bergulat kembali dengan hari, dengan debu, dengan angin
masuklah intro dan segera 
'nyanyikan matahariku mataharimu
jangan tersendat dan jangan terhenti aku berdiri di sisi
tetap cakrawala lantunkan suaramu sampai jauh di baliknya
angin-angin membantu nafasmu
elang, pipit, dan belalang saling terbang
melintasi bukit, ladang, mengejar jatuhnya suaramu
yang ternyata terus mengambang menuju matahari
satu matahariku mataharimu.

Jakarta, 1980
"Puisi: Satu Matahariku Mataharimu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Satu Matahariku Mataharimu
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak di antara Doa Novena

Cinta kasih mekar kala usia senja
bukan kepada Primadona bumi semesta, bunda
adalah putik lili paling suci
kulabuhkan dharma sederhana
lewat getar karisma tiada tara
dalam selaksa musim tergenggam
bunganya di tangan-tangan keangkuhan
dalam galau sisa peradaban
akulah hewan terluka itu
yang jeritnya pernah didengar
penyair tercinta tanah airku
dia berdoa sepanjang usia.

Jakarta
Maret, 1989
"Puisi: Sajak di antara Doa Novena (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak di antara Doa Novena
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Seorang Perempuan Menatap
Reruntuhan Kota Terbakar

Eufrate dan Tigris yang legendaris
mengalir di kerut wajah
menjadi bayang-bayang sejarah
terbayang Karbala syahdu kota Syuhada
terbayang taman Babilonia
terbayang wajah Nebuchadnnezzar Sang kaisar
di langit Irak penuh bintang
pada suatu malam peringatan
hari jadi negeri hari kemerdekaan
betapa buram hari dan langit sekarang
badai-badai mengoyak usai
burung nazar berdawai-dawai
rindunya kepada ibu segala kemukjizatan
rindunya pada bunga segala prima
obsesiku membangun kembali kota ini
lewat tangan anak-anakku
jika kelak mereka telah jadi lelaki
dan asap terus mengepul
dan api terus berkobar
dan kota terus terbakar
dan doa terus mekar
pada-Mu yang Akbar.

Jakarta
Februari, 1991
"Puisi: Seorang Perempuan Menatap (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Seorang Perempuan Menatap
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Angin Kembara Antara Kota
Jepara-Kudus-Pati Juwana

Disapa hatimu yang tak lagi
kenal warna hijau alami
karena siang malam pandangmu
terpancang pada layar gelas
taburkan geriap warna-warni
muncul dari kabel-kabel elektronika
angin kembara menyentuhi dedaunan
sepanjang jalan luar kota
kau tak lagi mengerti maknanya
anganmu tak lagi sentuh keluh
kota tua siang malam memacu doa
agar terhindar dari bencana
yang siap kau bawa
siapa masih dengar desir semilir
antara pepohon tua pinggir sungai
sejarah masa bocah setiap mereka
yang kini jadi pemikir negeri
angin bersiul sepi sendiri
batuan dalam kali tak mampu menyahuti
karena menanggung beban zaman
hanya terekam tembang
hitam sungai jawa dalam diamnya
angin kembara terus menyapa
dari musim ke musim usiamu.

Jakarta
Mei, 1991
"Puisi: Angin Kembara Antara Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Angin Kembara Antara Kota
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Salam Bunga Kopi dari Puncak Rahtawu

Langit merah
matahari merah
Rahtawu senyum diam
kirim salam hijau alam
desir angin hutan kopi
untai parijatha merah kesumba
adalah dongeng tersisa
salami hatimu yang kini alpa
mega-mega pagi semarak
lembut menyaput Rahtawu
murninya bagai nafas ibu
pada proses kelahiranmu
tembangkanlah puncak Rahtawu
dengan hati harum bunga kopi
tanpa keangkuhan teknologi
yang senantiasa menghantui
petik parijatha ranum
berikan pada istri terkasih
maka janin dalam rahim
kelak jadi insan terpilih.

Jakarta
Mei, 1991
"Puisi: Salam Bunga Kopi dari Puncak Rahtawu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Salam Bunga Kopi dari Puncak Rahtawu
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Metro, Sebuah Impian Raya di Musim Hujan

Pertemuan-pertemuan menjadi merjan
dikalungkan pada siapa, tanyamu
pada leher dunia
dan kau nampak tak percaya.

Kaulah dunia itu
semesta penuh impian raya
melubuk di jantung Metro
selamat malam hujan.

Setiap kudengar orang berbincang
serasa musim-musim luruh di dada
lalu kembang-kembang tanah datar
dan pegunungan mekar bersama di relungnya
tak ada tanya tentang asal dan orang tua.

Karena kita adalah dunia itu sendiri
di dalamnya tersimpan segala
sungai laut bukit dataran sama memeluk awan 
cacing naga kelinci singa sama meminum air telaga
Metro, jauhkan gaung salvo
Metro, jauhkan tali algojo
Metro, sawah muda ijo royo.

Metro-Lampung, 1993
"Puisi: Metro, Sebuah Impian Raya di Musim Hujan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Metro, Sebuah Impian Raya di Musim Hujan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Pertobatan

Orang-orang pendosa bergerombol
di halaman bangunan tua bersejarah
yang siap dirobohkan parak siang.

Kami telah lakukan
yang tak mungkin dilakukan

Kami telah mengubah
yang tak mungkin diubah

Kami telah melangkah
melewati langkah-Mu

Kami telah bermaha
melewati kemahaan-Mu

Maka ampuni kami
atau hancurkan kami
Amien!

Bogor
April, 1994
"Puisi: Doa Pertobatan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Doa Pertobatan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malioboro Sebuah Catatan

Menyusuri trotoar sepanjang siang
ketika Malioboro diwarnai lalu lalang
lebih baik melepas beban sementara
membiarkan hati terbuka
dan matahari mei menyiram cahaya
menikmati genggaman lelaki berwajah wayang
bicara tentang suka duka perjalanan diri
hidup padang terbuka dengan angin kembara
hidup etalase dengan lampu berwarna
hidup sajak pendek di piring hias
ketika sebuah ulang tahun napak tilas
Malioboro sukmaku yang uro-uro
Malioboro selembar mei asmorodono

Matahari makin meninggi
kudengar tanyanya berulang kali
apa lagi yang kau cari
kereta kuda melintas
bis kota bergegas.

Yogyakarta
Mei, 1994
"Puisi: Malioboro Sebuah Catatan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Malioboro Sebuah Catatan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jakarta Tiga Belas

Mengalir dari mana-mana
mengusung beban kota
tembangkan keluh anak manusia
'nuju muara, cing.

Mengalir dari mana-mana
sembunyikan seringai centeng
tembangkan Condet tersilet
'nuju muara, cing.

Mengalir dari mana-mana
endapan dikeruk dan dikembalikan
ikan-ikan kegelapan
'nuju muara, cing.

Tiga belas sungai Jakarta
membasuh mimpi lusuh
sembunyikan tangis urban.

Tiga belas sungai Jakarta
mengusung dosa-dosa
yang liar yang cemar sama-sama.

Tiga belas sungai Jakarta
baladamu gaungnya sampai cakrawala
luapanmu kemana-mana.

Jakarta
Nopember, 1994
"Puisi: Jakarta Tiga Belas (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta Tiga Belas
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan tentang Rumah Tua

Di terasnya tak seorang merasa terjajah
atau menjajah karena seni tak untuk saling jajah
di terasnya tak hati beringas atau telengas
karena seni tak untuk saling kepras
ketika kemarau pun atau tengah hujan badai
rumpun anggrek sedang tak berbunga dan
kembang bakung hanya umbinya sementara rumput
halus mengering oleh panas Agustus
tapi kutemukan anggrek dan bakung bermekaran
di kebun hati penghuninya
kutemukan hijau rumputnya di wajah-wajah mitra
sementara tangan-tangan mengulurkan jabat hati
bincang siang meneduhkan matahari
bincang malam sembuhkan radang oleh sikap tualang
kita tak harus kehilangan harum mawar dan melati
hanya karena manjakan ujung seringai mata belati
kita tak harus kehilangan harum mangga dan tanjung
hanya karena gugatan-gugatan yang manjakan tuntutan
tak sadar akan homo homoni lupus
ketika pedang menusuki punggung desa Muara Tua
dan darahnya tembus ke dada
rambatan panjang persaudaraan teranyam dari serat
ilalang yang dibawa Din Rayes
dari padang sabana tanah Sumbawa
sesungguhnya tak buat kita jera kerja dan
saling menyapa- primakah kau saudara
kita biarkan Tuhan tersenyum di Puncak Tangga
sementara pohon terus tumbuh dan berbunga
musim terus berganti hantarkan nyanyi di hati.

Tegal
Agustus, 1994
"Puisi: Catatan tentang Rumah Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan tentang Rumah Tua
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Kereta Malam Tegal-Jakarta

Mozaik-mozaik kuusung dalam gerbong kereta malam
'nuju Jakarta diam-diam tanpa luapan
terbawa serta penggalan sapa sempat hangatkan
udara malam di aula dan trotoar
segalanya mengalir bersama deru semakin barat
mozaik tercabik ingin kutisik dalam gerbong yang berisik
pal-pal tertinggal di ingatan ada yang tanggal
angin dari jendela membuat nafas tersenggal
seperti kudengar suara, apa yang kau cari Diha
harus tak harus menjawabnya karena setiap mengusapi
hati yang rindu segala serba tertata sesuai aturannya

terlalu banyak harus ditata sementara kaki terus
ditekukkan dan kereta terus dilajukan
tetap tak kan jadi sempurna karena seperti roda-roda kereta
hidup dan peristiwa menggelinding berputar dan tak henti
obsesi menjadi mimpi dan senyum mitra jadi pelangi
segalanya menjadi lebih dan rasa seakan tak pernah
tergusur waktu meski di sekitar kita gusur-menggusur
telah menjadi cerita lucu
sementara air mata ditelan kembali
dan ujung kebaya diremas sendiri
aku berpikir sampai di mana - tiba-tiba kereta berhenti
di stasiun yang aku tak merasa perlu tahu atau mengerti
aku tak ingin kehilangan segala tengah berseliweran
wajah-wajah yang tertinggal menit-menit yang terpenggal
seakan mengunci segala pintu dan jendela
kereta berangkat mengejar arah memburu pagi
di antara deru tiba-tiba aku mengerti.

Tegal-Jakarta
Agustus, 1994
"Puisi: Catatan Kereta Malam Tegal-Jakarta (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Kereta Malam Tegal-Jakarta
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Macapatan Lemah Abang
Teratak Agung dalam Bayang

I
Sebuah nama
seruas sejarah
sekuntum kebenaran
jadi luka dan darah seorang Syeh
tersembunyi dan teramat dalam
di semenanjung dan Utara
bersaksi gunung
dan ladang jagung.

Lemah Abang teratak tua
sebentuk titik merah
di antara kehijauan
menyeruak berupa impian besar
tanpa hati nurani demi teknologi
ruh moyang bangkit dari gelap wingit
satu saat gunung ambyar langit pijar
jika ada hasrat yang ingkar.

II
Lemah Abang
teratak agung dalam bayang
kutuk purba sepanjang abad
sama-samar terdengar
suara Sang Guru
"sembahyanglah dengan hatimu
jangan sembahyang dengan lidahmu
lihat lembah dengan batinmu
jangan lihat dengan matamu
hitung bijak dengan nuranimu
jangan hitung dengan mesinmu"

Suara-suara terus merayap
lewati gigir gunung ke langit suwung
tanah Utara hijau alami bersenandung
meronce musim
membuahkan kehidupan
saudara-saudaraku
meraciknya dalam macapatan.

Bogor
April, 1995
"Puisi: Macapatan Lemah Abang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Macapatan Lemah Abang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lemah Abang Teratak Agung

I
Lemah Abang:
teratak agung
luka sejarah
Syeh Siti Jenar
antara kebenaran
antara keraguan
antara kesaksian.

Lemah Abang:
nama tua anggun
hapus dari ubun-ubun
lama lumbutan
lama ambyar
merjan dan kemuliaan
terbawa Syeh di keabadian.

Lemah Abang:
di umur-umurku
menjelma kisah baru
galau risau galau haru
Syeh di sini anak cucu
Syeh di sini ruh itu
Jawa dan mahkota bencana.

II
Orang hanya mencatat pembaruan
orang hanya menghitung angka jantan
rela merejam rahim ibu bumi
bapa angkasa 'natap diam di cakrawala.

Terpana aku
ya moyangku
dalam otakku
muncul naga kepala tujuh
siap menghordah
sisa sejarah
ya moyangku
terpana aku.

Kini ramai dalam bincang para bijak
roh moyangku bangkit hilang hening
wahai Wong Suci penyimpan warna gadung
jangan batukan Lemah Abang di Ujung.

Bogor
April, 1995
"Puisi: Lemah Abang Teratak Agung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lemah Abang Teratak Agung
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Lapar

Aku lapar
tapi tak bisa rakus
karena laparku sopan bagai hutan pinus

Aku lapar
tapi tak bisa beringas
karena laparku lembut bagai daun adas

Aku lapar
tapi tak bisa temaha
karena laparku anggun bagai mahkota

Aku lapar
tapi langit jiwa terang
karena laparku bijak bagai pawang

Aku lapar
tapi bumi hati wangi
karena laparku sederhana bagai melati

Aku lapar
tapi ikhlas tahan lapar
karena laparku lurus bagai pendekar

Aku lapar
tapi lapar dunia kembara
karena laparku embun lembah utara.

Bogor
Mei, 1995
"Puisi: Sajak Lapar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Lapar
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Vibrasi Terumbu Karang

Siapa masih menjaga malam
sendiri dan kedinginan
kaukah itu ya nelayan
menjala langit tanpa bulan.

Kau coba memantik api
rindu hangat punya negeri
namun hanya bintang sepi
memahami gemuruh hati.

Rimba beton tercipta sudah
terumbu karang menyusul punah
kau gelisah dalam gelepar
di antara kepak kelelawar.

Terumbu karang terumbu karang
di kaki ombak masih kau cari
terumbu karang terumbu karang
di palung hati kau tangisi.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Vibrasi Terumbu Karang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Vibrasi Terumbu Karang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perjalanan

I
Ada apa di lekuk jejak langkahmu, nang
kulihat orang-orang anak kurun
berjalan tanpa tinggalkan jejaknya
kau terhuyung lupa bahasakan arah
'natap tanah warna perunggu
debu lekat di tumit
padang kembara selebar lampit.


Ada apa pada suaramu, nang
kulihat orang-orang anak kurun
susupkan pekik pada bisikmu
kau gelisah raba urat di lehermu
sementara orang-orang cendekia
cemaskan gelombang tanpa nama
lalu cipta bilik-bilik
amsal-amsal hilang dari ejaan
perjalanan itu sendiri.

IIDunia terayun di ujung bunga, nang
impian rapuh terayun di mega-mega
orang-orang kubur kata perang di padang-padang
anak-anak menggambar merpati terbang
di dada telanjang, sementara angin berdesing
dan bencana mendera
kau terus melangkah
laut dan langit satu epigram
perjalanan tembangkan
harapan jangan sandarkan
dendam sukma redakan
murka jiwa baringkan.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Perjalanan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perjalanan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Abstraksi Hujan Indonesia Merdeka

Seorang anak Indonesia
berdiri menyimpan ombak samodra
ada pesan di antara gemulungnya
'lupakan segala kutukan
jika hati putih engkau Kekasih Tuhan
urat nadimu arus bengawan
apungkan harapan-harapan
simak langit simpan janji wingit
lingkar hijau abstraksi cinta
tanah merdeka
menghidupkan gunung suwung
menghidupkan harapan mendung
menghidupkan semangat terkurung
hitung upacara-upacara telah digelar
jadi merjan-merjan kehidupan
tapi jangan hitung nisan-nisan di makam
karena ia ujud kesetiaan
kau diberkahi untuk moyang
jantungmu penuh kidung kaya irama
hutanmu kan semi di mana-mana
mesin gergaji henti bekerja
sungaimu bening di mana-mana
limbah hitam kugulung sirna
dalam abstraksi hijau Indonesia merdeka.'

Bogor, 1995
"Puisi: Dalam Abstraksi Hujan Indonesia Merdeka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Dalam Abstraksi Hujan Indonesia Merdeka
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Veteran Tua dan Bendera

Di langit telah berkibar bendera 
tapi orang-orang masih bertanya
tentang kemerdekaan lain
yang tetap menjadi impian
: masalahnya sederhana
(kata seorang veteran tua)
: itu bukan untuk dijawab tapi dihayati
sepenuh jiwa raga sampai mati
kenapa orang-orang mesti gusar
membiarkan hati 'ngembara
dan jauh tersasar.

Sebenarnya kita telah salah mengeja
dan makin salah memberi makna
: kembalilah ke dalam lubuk nurani
temukan butir-butir sifat Ilahi
(orang-orang tertawa)
: kalian tak percaya
(tanya veteran tua)
: di sini ada
ditikamnya dada
ditampungnya darah disiramnya bendera
warna merah mulai pudar itu
kembali nyata
veteran tua memeluk bumi
bendera memeluk angkasa.

Bogor, 1995
"Puisi: Veteran Tua dan Bendera (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Veteran Tua dan Bendera
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Sumini
Perempuan Muda Hilang Mahkota

Bocah cilik dari Sragen itu
tumbuh sederhana di kawasan pemukiman transmigrasi
angin sepanjang musim dusun Mulyasari
mengasuhnya setia jadi memanisnya Lingga
Sumini namanya sederhana obsesinya
bisa dapat pekerjaan
terentas dari kemiskinan
dijelangnya Tanjungpinang penuh angan
bekerja di rumah bupati betapa nyeni
pedih perih tentunya sirna ganti pelangi.

Sumini senyumnya bunga mohon berkah Ilahi
ketika ruas waktu berubah jadi pedang berkarat
petang legam dan November berkhianat
seorang anak manusia lumpuh terjerat
dalam jaring sang bupati seharusnya penyelamat
sesalilah ya Sumini
kenapa penguasa tak berhati malaikat
kenalilah ya Sumini
seharusnya dirimu pintar bersilat
lelaki laknat mampu kaubabat.

Sumini merenung panjang
hilangnya kembang cabiknya sinjang
terus lukai hati gamang
racun membusuk dalam bayang hari depan terparang
Sumini perempuan kecil sederhana
hanya bisa menangis
hidup terkais dan tubuh amis
seandainya ia tegas kokoh semangat bagai feminis
siapa berani melecehkannya
siapa berani melukainya
karena ia badai lautan
yang siap menerjang setiap penghalang
yang siap menumpas hati telengas
yang siap merajang hasrat terjerang.

Sumini terus berpikir
jalan seperti tanpa akhir
Sumini terus mengigau
dulu Riau anggun memukau
Lancang Kuning sarat menghimbau
kenalilah para datuk dan para tun sri
kini tinggal dalam lembar legenda
di sekitarmu tersebar mozaik kenyataan
dan simpang siur pemberitaan
mengalir dari setiap kotak kaca
gemerisik dari aneka media massa.

Lalu aku harus bagaimana
tanyamu ngungun hatimu getun
tapi kuda maskulin telah terlanjur lepas kendali
menagih madu sekian hari sekali.

Sumini kenapa tak mampu kau pasang kuda-kuda
lalu pilih lapar ketimbang serahkan dada
Sumini kenapa tak mampu berkelit
lalu mengirim musuh ke negeri wingit.

Sumini meratap ulang berulang
di tahun emas negeri tersayang
siap menyongsong hari depan
yang kelabu adalah bayangan masa lalu
yang terang adalah lukisan masa datang
Sumini mengerang panjang
Riau, Riau, hidup siapa yang kemilau
Riau, Riau, hidup siapa yang jadi brayo
Riau, Riau, hidup Sumini nyata terlaso
ketuk hati segenap putri pertiwi ya Sumini
cari bara semangat jiwa
jika kata telah diubah dan nanah dikata fitnah
catatan agung tertutup bagi munafik
dari sang lidah yang meluncur batu akik
mari kubasuh lukamu ya Sumini
meski air leri terperas dari puisi.


Bogor, Desember 1995

Catatan:
Brayo adalah sejenis kacang polong yang rasanya sangat pahit.
"Puisi: Balada Sumini, Perempuan Muda Hilang Mahkota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Sumini, Perempuan Muda Hilang Mahkota
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Agustus: Dialog Perempuan dan Alam

Bulan bening kuning emas
menyinari alam sunyi
menyinari alam hati
tetabuhan terus bergaung
di udara berembun
orang-orang pondok pucung
hatinya berkidung.

Bulan bening dini hari
selendang di arena menari
pohonan mulai membayang
samar-samar menuju terang
langit pagi menyapa
perempuan adakah duka tersisa
o, sedang kuhayati makna merdeka.

Embun-embun bening
hati-hati bening
suara-suara bening
sesaat lagi semua kutinggalkan
sebutir embun dalam sukma bersarang
langit pagi kembali menyapa
perempuan menunjuk dada.

Bogor
Agustus, 1997
"Puisi: Catatan Agustus: Dialog Perempuan dan Alam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Agustus: Dialog Perempuan dan Alam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menghalau Angkara Murka

Irama semesta irama kehidupan
tiba-tiba hilang tatanan
lumat jentera waktu 
angka hilang makna
bilangan windu jadi lipatan
pelangi jadi satu warna
manakala tarian porak poranda
iringi langkah sang angkara murka.

Hitam berubah putih
dalam percik dalih-dalih
luka pun pedih
telah menyeru sang ibu kehidupan
memberi peringatan
doa dilantunkan ke udara
ditabur beras kuning dan bunga
tembang-tembang mengiringi
sang angkara murka hilang peduli.

Ketika waktu di puncak saat
ketika langkah di puncak batas
puncaknya panggung kehidupan
hokum karma berlakulah
pahala dan dosa dihitunglah
sang ibu kehidupan menghajarlah
menyingkirklah sang angkara murka!
segera kulahirkan sang jiwa merdeka!

Juni, 1998
"Puisi: Menghalau Angkara Murka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menghalau Angkara Murka
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kemerdekaan itu

Kemerdekaan itu
saat lipatan lepas dari lidahmu
kata-kata jadi ombak
mengguncang kelu sekian waktu.

Kemerdekaan itu
saat belenggu lepas dari tanganmu
kepal bebas tinju udara bertuba
mengguncang langit buram lalu.

Kemerdekaan itu
saat rantai lepas dari kakimu
langkah bebas lompati segara
mengguncang cadas penghalang.

Kemerdekaan itu
bukan sebuah pemberian
dengan setumpuk pernyataan
tapi perilaku perjuangan.

Juni, 1998
"Puisi: Kemerdekaan itu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kemerdekaan itu
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mozaik Bulan Juni

Orang-orang masih berkumpul
suara-suara penuhi udara
spanduk-spanduk masih digelar
menghantar jiwa yang mekar.

Gelar seni di sanggar-sanggar
orang menari dan berikrar
instalasi di halaman
dibingkai suara tetabuhan
bulan semakin tinggi
bincang mengiring dini hari.

Getar sukma di kampus-kampus
indahnya nuansa merdeka
matahari menjadi bunga
anak muda berambut panjang
sesekali berlari dan melenggang
di jantungnya debar juang.

Orang-orang masih mencari
di antara hangar-binger reformasi
seniman bermozaik di Semanggi
orang-orang merasa terwakili.

Jakarta tak pernah tidur
Jakarta warna-warna yang melebur.

Juli, 1998
"Puisi: Mozaik Bulan Juni (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mozaik Bulan Juni
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Desember dan Pembuktian

Seorang muda mata binar
dada simpan getar
jiwa tak kenal ingkar
menatap kuat matahari Desember
hari kedua.

Kali ini pesan ibu dilompati
untuk sebuah harga diri
dan obsesi hari nanti
di mana-mana masih marak
raungan jiwa yang terkoyak
jangan larang aku, bapak.

Ada bendera dan poster
udara harum oliander
hari ini Desember pembuktian
orang muda milik zaman
istana, buka pintumu
sudah lama saat kutunggu.

Kepala penuh rencana
dada penuh kata-kata
tangan genggam semangat
istana, bukakan niat
kami bukan pengkhianat.

Desember, 1998
"Puisi: Desember dan Pembuktian (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Desember dan Pembuktian
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nuansa Wingit

I
Bulan sabit di langit Timur
bersaksi pada fajar
anak manusia berkidung
doa mengapung 
tanah jauh terasa sunyi
yang ada
hanya diri
dan Sang Pengasih Sejati
senantiasa mendengar
doa semakin mekar

II
Bulan mati di langit di langit Barat
jiwa mengusung doa sarat
sementara bunga dan sesaji
telah ditata rapi
malam mengalir nuju nadir
ada yang berkenan hadir
sama-sama bersaksi
pada tanah air ini
tentang luka dan air mata.

Mari hanyutkan segala duka
mari sembuhkan segala luka
mari sambut prasetiaku, bapa
ujung rambut telah digunting
di air bunga makna tersungging
seribu hari lusa tak 'kan garing.

Jakarta
April, 2000
"Puisi: Nuansa Wingit (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nuansa Wingit
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Yang Tak Pernah Hilang

Galau musim tak redam suaranya
hujan dan gempa tak hentikan langkahnya
ada orang-orang terkasih masih menanti
antara cemas dan mengerti
di putaran rembulan dan matahari.

Kota-kota terbakar
kota-kota dibangun kembali
pasrah pada sang pemberi hidup
bukan berarti ingkari janji
pada jiwa yang bersaksi
sementara musim semakin galau
ada yang selalu menatap ujung lorong
anjing-anjing melolong
lorong masih berujung kosong
tak tahu kapan diri menjadi 'wong'.

Kota semakin tua
musim semakin gaduh
ada yang tak pernah hilang
menjadi laras kata malam-malam
menjadi peluru windu-windu
dibalut cinta orang-orang sederhana.

Bogor
Juli, 2000
"Puisi: Yang Tak Pernah Hilang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yang Tak Pernah Hilang
Karya: Diah Hadaning