loading...

Sajak tentang Putu dan Sayu

Kembara tegar
yang selalu berjalan bersama angin Tabanan
yang tak pernah letih dan henti
yang selalu bernafsu tundukkan matahari
di kepalanya bertimbun segala rencana dan cita-cita
meskipun mulutnya tak lepas mengunyah duka-duka
namun dia sempat ketawa dan bilang begini:
"saudaraku, hidup ini puisi"
aku ketawa, pasti dia sedang jatuh cinta.

Dewa-dewa lalu turun ke pura
kemboja-kemboja dalam bejana
gadis Sayu mengantar puisi tadi
kemudian diam tiada berita, lama
ku kira bencana-bencana membuat
mereka menggulung cakrawala
dan membikin benteng sendiri
tapi aha, Putu dan Sayu, menggulung mega-mega
bayi-bayi pun meramaikan benteng mereka
ketika kemudian dia berkata:
"saudaraku, hidup ini palu godam"
aku tak lagi ketawa, begitu memang adanya
kita bukankah logam-logam yang harus ditempa?

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak tentang Putu dan Sayu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Putu dan Sayu
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top