Sindang Laut


Bulan ngambang di laut dan pecah di pucuk ombak
Bulan mengaca di nafas malam, redup lampu kapal
Deru yang menderu berkejaran di kesepian pantai
Deru dari diri lebih dalam irama mimpi. Diajaknya
Kita datang dan membikin mimpi atas mimpi.

Kita diam dan mimpi makin dalam merasuk malam. Tak ada
lelaki yang cukup setia pada satu rumah saja
Karena bulan indah berdarah merah, ombak yang menderu
Karena malam penuh mimpi, laut penuh gairah nafsu
Tak ada satu lelaki yang cukup setia pada satu perempuan saja.

Bulan ngambang di laut dan pecah di pucuk ombak
Laut di hadapan. Dia menggenggamkan tangan ke dadanya
Redup batas laut. Redup mimpi dan kehendak setia.
Ia bertaut pada leher, memanjang nafas meniup panas
Kita diam dan mimpi kian dalam merasuk malam.

Laut. Mendenturkah ombak menayang bulan di wajahnya ke pantai miring pada malamku?
Malam. Gigihkah kesetiaan mencengkeram hati sangsi selalu?
Ku lepas nafas. Laut mendentur masih
Yang garang mendarat, pecah darah bulan putih
Di tanganku ia mengempas, atas dadanya yang gemetar
Kumimpikan damai rumah dan istri setia.

Perempuan ini bicara tentang harapan yang tersia
Kita telah sama kehilangan pegangan dalam galau ini kota
Kita telah kehilangan apa yang kita genggam karena semuanya
tak berakar pada tangan. Semua telah lepas
Kita bersandar pada pusat malam dan cahaya bulan putih
Kita tenggelam dalam irama lambat memecah pantai.

Kususuri malam dengan jemariku. Nafasnya
sepi angin laut. Kutumbanbangkan ia. Tak ada
satu lelaki cukup setia pada satu perempuan saja
Angin bangkit mengusap kita yang hidup dalam mimpi
Karena ini kota menuntut kepercayaan, sedang
semua telah lepas seperti harapannya yang tersisa.
 
  
1955
"Puisi: Sindang Laut (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Sindang Laut
Karya: Ajip Rosidi

Post a Comment

loading...
 
Top