Maret 1998
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet 9

Kaubalik-balik buku itu selembar demi selembar
sore ini. Bukankah waktu itu masih pagi,
ketika kau mencatatnya? Aku pungut buku yang kaulempar
ke lantai, telungkup, tampak lusuh, sendiri.

Kenapa mesti ada sore hari? Pejamkan mata, bayangkan
beranda yang pernah membiarkan kita mengitari
pekarangan yang begitu luas, yang kemudian ternyata bukan
bagian dari tempat yang konon disediakan untuk kita tinggali.

Matahari masih hangat ketika aku mencatatnya
di buku yang sore ini telah menggodamu untuk mencari
gambar sebuah taman yang memancarkan aroma
secangkir teh hangat di pagi hari. Ya, bukankah masih pagi
ketika kau menggambarnya? Ya, mungkin karena waktu itu
masih pagi. Lekas, berikan buku itu kembali, padaku!

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 9
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sita Sihir

Terbebas juga akhirnya aku - 
entah dari cakar Garuda
atau lengan Dasamuka
Sendiri
di menara tinggi,
kusaksikan di atas:
langit
yang tak luntur dingin birunya;
dan di bawah:
api
yang disulut Rama - 
berkobar bagai rindu abadi

"Terjunlah, Sita," bentak-Mu,
"agar udara,air, api, dan tanah,
kembali murni."

Tapi aku ingin juga terbebas 
dari sihir Rama.

1990
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sita Sihir
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lirik Untuk Improvisasi Jazz

"Sayangku yang jauh,
entah berapa kali
telah kukelilingi taman kota ini;
telah tergolek di atas rumput, sobekan-
sobekan kertas, embun, pecahan botol;
telah bermantel sinar bintang-bintang
dan angin yang panjang nafasnya; aku
tak pernah tidur, menunggumu.
Si Tua, yang suka lewat sambil meludah
dan menanyakan waktu itu, selalu mengatakan 
kau tak pernah mengingkari janjimu;
tapi anjing kampung yang matanya selalu
mengantuk itu tak pernah menyahut
siulanku!"

Ia merasa seperti menyusuri lingkaran
tak menemukan bangku panjang.

1978
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Lirik Untuk Improvisasi Jazz
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kartu Pos Bergambar: Taman Umum, New York

Di sebuah taman kausapa New York yang memutih rambutnya
duduk di bangku panjang, berkisah
dengan beberapa ekor merpati. Tapi tak disahutnya
anggukmu; tak dikenalnya sopan santun itu.

New York yang senja-kala, yang Hitam panggilannya,
membayangkan dirinya turun dari kereta
dari Selatan nun jauh. Beberapa bunga ceri jatuh
di atas koran hari ini. Lonceng menggoreskan akhir musim semi.

1971
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Kartu Pos Bergambar: Taman Umum, New York
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pertemuan

Perempuan mengirim air matanya
ke tanah-tanah cahaya, ke kutub-kutub bulan
ke landasan cakrawala; kepalanya di atas bantal
lembut bagai bianglala

Lelaki tak pernah menoleh
dan di setiap jejaknya; melebat hutan-hutan,
hibuk pelabuhan-pelabuhan; di pelupuknya sepasang matahari
keras dan fana

dan serbuk-serbuk hujan
tiba dari arah mana saja (cadar
bagi rahim yang terbuka, udara yang jenuh)
ketika mereka berjumpa. Di ranjang ini.

1968
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Pertemuan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bunga-Bunga Di Halaman

Mawar dan bunga rumput

di halaman: gadis yang kecil
(dunia kecil, jari begitu kecil)
menudingnya...

Mengapakah perempuan suka menangis
bagai kelopak mawar; sedang
rumput liar semakin hijau suaranya
di bawah sepatu-sepatu...

Mengapakah pelupuk mawar selalu
berkaca-kaca; sementara tangan-tangan lembut
hampir mencapainya (wahai, meriap rumput di tubuh kita)

1968
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Bunga-Bunga Di Halaman
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Setangan Kenangan

Siapakah gerangan yang sengaja menjatuhkan setangan di lorong yang berlumpur itu. Soalnya, tengah malam ketika seluruh kota kena sihir menjelma hutan kembali, ia seperti menggelepar-gelepar ingin terbang menyampaikan pesan kepada Rama tentang rencana ....

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Setangan Kenangan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pesta

Pesta berlangsung sederhana. Sedikit tangis, basa-basi itu; tinggal bau bunga gemetar pada tik-tok jam, ingin mengantarmu sampai ke tanah-tanah sana yang sesekali muncul dalam mimpi-mimpinya.

... di sumur itu, si Pembunuh membasuh muka, tangan, dan kakinya.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Pesta
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kita Membuat Sangkar Meskipun Tak Ada Seekor Burung Pun yang Berjanji Ikhlas Kita Pelihara

Dalam sangkar yang hati-hati kita anyam ini
tak ada apa –
kecuali sesayap bunyi
yang putih geleparnya

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Kita Membuat Sangkar Meskipun Tak Ada Seekor Burung Pun yang Berjanji Ikhlas Kita Pelihara
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nuh

Nuh berpesan, kita harus membuat perahu.
Kita muntah: banjir besar itu
apa sudah direncanakan sejak lama?
Ambil beberapa huruf yang cekung
agar semua bisa tertampung.
Siapkan juga beberapa yang tegak
dan miring, jangan lupa sebuah titik.
Ke mana kita terbawa muntahan ini?
Susun dalam sebuah kalimat yang kedap air
agar kita bisa sampai ke sebuah bukit.
Mimpikah sebenarnya muntahan ini?
Agar kita bisa menelan masa lalu.

"Puisi: Nuh (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Nuh
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Setiap Diri Kita

Dalam setiap diri kita, berjaga-jaga
segerombolan serigala.
Di ujung kampung, lewat pengeras suara,
para kyai menanyai setiap selokan,
setiap lubang di tengah jalan,
dan setiap tikungan;
para pendeta menghardik setiap pagar,
setiap pintu yang terbuka,
dan setiap pekarangan.
Gamelan jadi langka. Di keramaian kota
kita mencari burung-burung
yang diusir dari perbukitan
dan suka bertengger sepanjang kabel listrik,
yang mendadak lenyap begitu saja
sejak sering terdengar
suara senapan angin orang-orang berseragam itu.
Entah kena sawan apa, rombongan sulap itu
membakar kota sebagai permainannya.

"Puisi: Dalam Setiap Diri Kita (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Dalam Setiap Diri Kita
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Garis

Menyanyat garis-garis hitam
atas warna keemasan; di musim apa
Kita mesti berpisah tanpa
membungkukkan selamat jalan?

Sewaktu cahaya tertoreh
ruang hening oleh bisik pisau; Dikau-kah
debu, bianglala itu,
kabut diriku?

Dan garis-garis tajam (berulang
kembali, berulang
ditolakkan) atas latar keemasan
pertanda aku pun hamil. Kau-tinggalkan

"Puisi: Garis (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Garis
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lautan Waktu

Jiwaku telah lama merenang lautan waktu dan aku berhenti,
membiarkan diriku dipermainkan gelombang.
Aku bermimpi dibawa arus ke darat sejahtera di bawah langit bertabur bintang.
Mata kubuka: awan mengandung guruh berkumpul di langit.
Badai turun dan setinggi gunung gelombang naik,
mengempas-empaskan daku seperti tempurung.
Tangan kukembangkan dan mulai lagi mengharung laut,
sebatang kara dalam 'alam tidak berwatas.

"Puisi: Lautan Waktu (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Lautan Waktu
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Satu Celana Berdua
(untuk Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto)

Dua anak jalanan bertemu di bawah jembatan
di malam hujan. Setelah berkenalan, berbagi dingin
dan lapar, mereka tidur berdua dalam satu celana.

Suatu hari mereka berpisah juga, mencari jalan hidup
sendiri-sendiri. Siapa sangka mereka akan jadi bintang.
Mereka berjumpa kembali di atas panggung,
sekian tahun kemudian. Yang satu pandai menirukan
suara bermacam-macam orang, yang lain pintar
memainkan beragam bunyi dan bunyi-bunyian.

Sejak itu kami sering berburu bunyi dan berburu suara
bersama. Bila kami bertemu pengamen kecil di bawah
jembatan, kami suka bersitegang. "Dia mirip kamu,"
kata saya. Dia balik menuding: "Kamu yang mirip dia."

Kami sendiri masih merasa seperti gelandangan kecil
yang berkeliaran di jalanan, mengamen siang malam,
untuk mencari tahu siapa ibu-bunyi dan ibu-suara 
yang telah mempertemukan kami di sebuah celana.

2004
"Puisi: Satu Celana Berdua (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Satu Celana Berdua
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Goyang

Ranjang bergoyang sepanjang malam.
Mungkin sepasang nyawa, sepasang singa, sedang tempur.
Atau sepasang maut sedang perang.

Ranjang bergoyang sepanjang malam.
Padahal cuma ada sepasang celana
teronggok putih di bantal hitam.

1998
"Puisi: Goyang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Goyang
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pasar Sentir

Pasar sentir. Tampatnya di bawah pohon beringin
di alun-alun kota kami yang kecil dan tenang.
Saya suka iseng main ke sana
mengamati tingkah seorang lelaki yang sering datang
menemui perempuan gembrot yang tawanya ngakak
dan mata-kucingnya selalu tampak membelalak
di antara kerumunan nyala lampu, jerit radio
dan gemeremang suara orang-orang kesurupan

Ia lelaki misterius. Kadang mengaku para-normal.
Kadang menyebut dirinya pelukis besar.
Tapi banyak yang bilang ia penyair gagal.
Ia suka minum, meracau, dan kalau mabuk
tubuhnya yang tambun terhuyung-huyung
kemudian ambruk di pangkuan perempuan gembrot
yang selalu sabar mendengarkan
bualan-bualannya yang gombal.

Malam itu ia bawa uang lima ribu buat beli jas merah
sebab ia akan pesiar ke tempat yang indah.
“Jas ini memang pas untukmu.
Cocok buat mbajul atau cari gandengan,”
kata perempuan antik itu setengah menggoda
tetapi lelaki nyentrik itu pura-pura tak tergoda.

Terang bulan. Dengan jas bekas dan celana kolor hitam
Ia bersiap pergi jalan-jalan cari hiburan.
“Malam sangat dingin, Pangeran. Mau melancong ke mana?”
“Aku mau cari jangkrik di kuburan.”

Sampai keesokan paginya lelaki itu masih tertidur pulas
di antara batu-batu nisan, dengan bibir di tangan
sambil mendengarkan bunyi jangkrik yang krakkrik-krakkrik
dalam celananya yang kedodoran.
Di lain tempat perempuan itu masih terbaring nyenyak
di atas tumpukan barang-barang dagangannya
sementara lampu sentir-nya masih menyala.

Malamnya ia sudah mangkal lagi di sana
dan perempuan bawel yang sangat kemayu itu
menyambutnya dengan senyum rahasia.
“Bunyi jangkrikmu terdengar juga dalam tidurku,” katanya.

Pasar sentir. Saya selalu kangen untuk mampir.
Saya anak jadah, calon penyair.
Saya tidak bilang bahwa lelaki tambun itu mungkin ayahku
dan perempuan gembrot itu mungkin ibuku.

1998
"Puisi: Pasar Sentir (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pasar Sentir
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Pulang

Ketika pulang, yang kutemu di dalam rumah hanyalah
ranjang bobrok, onggokan popok, bau ompol, jerit tangis
berkepanjangan dan tumpukan mainan yang tinggal rongsokan.
Di sudut kamar kulihat Ibu masih suntuk berjaga
menjahit sarung dan selimut yang makin meruyak koyaknya
oleh gesekan-gesekan cinta dan usia.

“Di mana Ayah?” aku menyapa dalam hening suara,
“Biasanya Ayah khusyuk membaca di bawah jendela.”
“Ayah pergi mencari kamu,” sahutnya,
“Sudah tiga puluh tahun ia meninggalkan Ibu.”
“Baiklah, akan saya cari Ayah sampai ketemu.
Selamat menjahit ya Bu.”

Di depan pintu aku berjumpa lelaki tua
dengan baju usang, celana congklang.
“Kok tergesa,” ia menyapa,
“Kita mabuk-mabuk dululah.”
“Kok baru pulang,” aku berkata,
“Dari mana saja. Main judi ya?”
“Saya habis berjuang mencari anak saya, tiga puluh tahun
lamanya. Sampeyan sendiri hendak ngeluyur ke mana?”
“Saya hendak berjuang mencari ayah saya. Sudah tiga puluh
tahun saya tak mendengar dengkurnya.”

Ia menatapku, aku menatapnya.
“Selamat minggat,” ujarnya sambil mencubit pipiku.
“Selamat ngorok,” ujarku sambil kucubit janggutnya.

Ia siap melangkah ke dalam rumah, aku siap berangkat
meninggalkan rumah.
Dan dari dalam rumah Ibu berseru,”Duel sajalah!”

1998
"Puisi: Ketika Pulang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Ketika Pulang
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Desember

Ingin kumimpikan banyak hal
dan pergi ke malam yang jauh
sambil membayangkan semuanya bakal kekal.
Di musim yang rusuh ini, di musim yang resah ini
hangatkan hari yang sebentar lagi tanggal.

Kau menungguku di sebuah pintu
dan aku datang melalui pintu yang tak kaulihat.
Aku duduk di sudut yang gelap.
Di pesta itu aku cuma pelancong tersesat.

Tak usah menyesal, aku pulang
lebih awal dari jadwal. Aku ingin pergi
menghabiskan mimpi sebelum kabut datang
memenuhi ruangan dan bara api
di atas ranjang mendadak padam.

Di musim yang rusuh ini, di musim yang resah ini
hangatkan hari yang sebentar lagi tanggal,
hangatkan hati yang tetap tinggal.

1991
"Puisi: Desember (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Desember
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Patroli

Iring-iringan panser mondar-mandir
di jalur-jalur rawan di seantero sajakku.
Di sebuah sudut yang agak gelap komandan melihat
kelebat seorang demonstran yang gerak-geriknya
dianggap mencurigakan. Pasukan disiagakan
dan diperintahkan untuk memblokir setiap jalan.
Semua mendadak panik. Kata-kata kocar-kacir
dan tiarap seketika. Komandan berteriak,
“Kalian sembunyikan di mana penyair kurus
yang tubuhnya seperti jerangkong itu? Pena
yang baru diasahnya sangat tajam dan berbahaya.”
Seorang peronda memberanikan diri angkat bicara,
“Dia sakit perut, Komandan, lantas terbirit-birit
ke dalam kakus. Mungkin dia lagi bikin aksi di sana.”
“Sialan!” umpat komandan geram sekali, lalu
memerintahkan pasukan melanjutkan patroli.
Di huruf terakhir sajakku si jerangkong itu
tiba-tiba muncul dari dalam kakus sambil
menepuk-nepuk perutnya. “Lega,” katanya.
Maka kata-kata yang tadi gemetaran serempak
bersorak dan merapatkan diri ke posisi semula.
Di kejauhan terdengar letusan, api sedang melahap
dan menghanguskan mayat-mayat korban.

1998
"Puisi: Patroli (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Patroli
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Daerah Terlarang

Tiba di ranjang, setelah lama menggelandang
ia memasuki daerah terlarang.
Ranjang telah dikelilingi pagar kawat berduri
dan ada anjing galak siap menghalau pencuri.
“Kawasan Bebas Seks,”
bunyi sebuah papan peringatan.

Tak terdengar lagi cinta. Tak terdengar lagi
ajal yang meronta pada tubuh
yang digelinjang nafsu dalam nafas
yang mendesah ah, mengeluh uh.

Memang ada yang masih bermukim
di ranjang: merawat ketiak, mengurus lemak,
dan dengan membelalak ia membentak,
“Pergi! Tak ada seks di sini.”

“Kau kalah,” katanya. “Dulu kautinggalkan
ranjang, sekarang hendak kaurampas
sisa cinta yang kuawetkan.”
“Tunggu pembalasanku,” timpalnya,
“suatu saat aku akan datang lagi.”
“Kutunggu kau di sini,” ia menantang,
“akan kukubur jasadmu di bawah ranjang.”

Ia pun pergi meninggalkan daerah terlarang
dengan langkah seorang pecundang.
“Tunggu!” teriak seseorang dari dalam ranjang.
Tapi ia hanya menoleh dan mengepalkan tangan.

1998
"Puisi: Daerah Terlarang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Daerah Terlarang
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kisah Semalam

Yang ditunggu belum juga datang. Tapi masih digenggamnya
surat terakhir yang sudah dibaca berulang. “Aku pasti pulang
pada suatu akhir petang. Tentu dengan bunga plastik
yang kauberikan saat kau mengusirku sambil menggebrak pintu:
‘Minggat saja kau, bajingan. Aku akan selamanya di sini,
di rumah yang terpencil di sudut kenangan.’”

Belum sudah ia bereskan resahnya. Tapi malam buru-buru
mengingatkan: “Kau sudah telanjang, kok belum juga mandi
dan berdandan.” Maka ia pun lekas berdiri dan dengan berani
melangkah ke kamar mandi. “Aku mau bersih-bersih dulu.
Aku mau berendam semalaman, menyingkirkan segala
yang berantakan dan berdebu di molek tubuhku.”

Dan suntuklah ia bekerja, membangun kembali keindahan
yang dikira bakal cepat sirna:
kota tua yang porak poranda pada wajah
yang mulai kumal dan kusam;
langit kusut pada mata yang memancarkan
cahaya redup kunang-kunang;
hutan pinus yang meranggas pada rambut
yang mulai pudar hitamnya;
padang rumput kering pada ketiak
yang kacau baunya;
bukit-bukit keriput pada payudara yang sedang
susut kenyalnya;
pegunungan tandus pada pinggul dan pantat
yang mulai lunglai goyangnya;
dan lembah duka yang menganga antara perut dan paha.

Benar-benar pemberani. Tak gentar ia pada sepi
dan gerombolannya yang mengancam lewat lolong anjing
di bawah hujan. Ada suara memanggil pelan.
Ada cermin besar hendak merebut sisa-sisa kecantikan.
Ada juga yang mengintip diam-diam sambil terkagum-kagum:
“Wow, gadisku yang rupawan tambah montok dan menawan.
Aku ingin mengajaknya lelap dalam hangat pertemuan.”

“Ah, dasar bajingan. Kau cuma ingin mencuri kecantikanku.
Kau memang selalu datang dan pergi tanpa setahuku.
Masuklah kalau berani. Pintunya sengaja tak aku kunci.”

Tak ada sahutan. Cuma ada yang cekikikan
dan terbirit-birit pergi seperti takut segera ketahuan.

“Baiklah, kalau begitu, permisi. Permisi cermin.
Permisi kamar mandi. Permisi gunting, sisir, bedak, lipstik,
minyak wangi dan kawan-kawan. Aku sekarang mau tidur, ngorok.
Aku mau terbang tinggi, menggelepar, dalam jaring melankoli.”

Sesudah itu ia sering mangkal di kuburan,
menunggu kekasihnya datang. Tentu dengan setangkai
kembang plastik yang dulu ia berikan.

1996
"Puisi: Kisah Semalam (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kisah Semalam
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di sebuah Entah
untuk ND

Sudah sekian tahun mayatku hilang.
Ngelayap ke mana saja dia ya, kok belum juga pulang.
"Tenang saja. Aku cuma mau iseng cari hiburan,
nonton komedi manusia di kebun binatang."
Begitu ia dulu pamitan.

Pernah kutanyakan pada petugas jawatan penculikan:
"Di manakah mayat saya disimpan?"
Jawabnya: "Mayatmu masih kami sekap
dalam sebuah dokumen rahasia negara."
"Bolehkah saya bicara dengannya sebentar?"
"Tidak bisa. Dia tak akan kami lepas sebelum melengkapi
berkas-berkas identitas: surat, kartu, dan asal-usul yang jelas."

Ada juga yang bilang: "Lho, 'kan mayatmu sedang jalan-jalan.
Mondar-mandir mencari jejakmu. Mengapa kau selalu
menghindar dan menjauh dari kenangan?"

Demikianlah, ceritanya, kami saling kehilangan.
Selalu bersilang langkah, berselisih jalan
di simpang ingatan di sebuah entah
yang senisbi waktu dan selindap ruang.

Sampai suatu malam seseorang datang dalam kuyup hujan,
membuka pintu, menyibak bayang.
"Mayatmu kutemukan di sudut halaman koran yang teronggok
di bak sampah di depan kantor departemen pembredelan."
"Siapakah engkau, perempuan?" aku bertanya.
"Aku seseorang atau sesuatu dari masa silam."

Setelah menyerahkan mayatku ke dalam pelukan,
ia pun menghilang ke balik halusi.
Tapak-tapak kakinya, jejak-jejak darahnya
seakan adalah sakramen: perjalanan panjang sonyaruri
ke sebuah getsemani.

"Coba ceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.
Siapa sesungguhnya perempuan yang mengantarmu ke sini?"
"Jangan. Jangan sekarang. Aku masih dalam intaian mata-mata
yang bersembunyi di sini, di bekas luka ini."

Kudekap ia, kubaringkan dalam album keluarga.
"Jangan nakal. Tidurlah dengan sopan
sampai tiba saatnya nanti kaukisahkan semua ini."

1997
"Puisi: Di sebuah Entah (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Di sebuah Entah
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perjamuan Mutakhir

Ia duduk di depan meja yang dikelilingi
dua belas piring lapar. Ia membuka kitab
dan menemukan menu baru
di antara ayat-ayat makanan.
"Maaf, menu yang tuan pesan
sedang habis," cetus imam rumah makan.
Ia menutup kitab, lalu berkata,
"Biarlah piring-piring ini berlalu
dari hadapanku. Sesungguhnya
tubuhku pun kian habis dimakan makanan."

2015
"Puisi: Perjamuan Mutakhir (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Perjamuan Mutakhir
Karya: Joko Pinurbo