April 1998
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Sapi Betina

Jiwa mendesir menanami tubuh. Ada burung mencari 
kelepaknya sendiri di antara jendela-jendela losmen.

Di tanahmu, di mana kakiku. Di mana kakiku, di mana kaki
ku, langit semakin dingin saja. Bermimpi seribu anjing mau 
menjadi Tuhan. Jarum waktu membongkar dadaku di sini. N
ama-nama sunyi. Dunia tak lagi berlangit.

Matahari berputar sendiri. Mobil berjalan sendiri. Telpon 
berdering sendiri. Burung terbang sendiri. Pohon mati 
sendiri sehabis tanah.

Leher sendiri 
habis di tanah-tanah terbuka.

1981
"Afrizal Malna"
Puisi: Doa Sapi Betina
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Batu dalam Sepatu

Selamat pagi Kamsudi, selamat pagi Busro, selamat pagi Remy dan Aidil yang marah. Kami masih di sini, di warung sop buntut kemarin, gelas kopi kemarin, asbak dan kursi plastik kemarin. Kami masih menjaga sebuah batu yang kami simpan dalam sepatu kami. Kami memotret tubuh kami sendiri di depan warung kopi, di samping tong sampah. Rambut putih yang putus dari kepala kami, setelah tertawa tertahan, dan hari kemarin masih di sini.

Selamat pagi, waktu. Selamat pagi semua yang telah menggantikan malam kami dengan cerita-cerita kecil. Waktu yang melapukkan atap kamar tidur kami, sebelum kami sempat terpulas, mengintip mimpi dari tembok-tembok berjamur. Hampir 50 tahun kami menunggu hingga sepatu kami kembali berubah menjadi kulit sapi. Waktu, seperti makhluk-makhluk asing yang beranak-pinak dalam tubuh kami. Puisi yang sampai sekarang tidak tahu bagaimana cara menuliskannya: 12 selimut untuk teman-teman dari Makassar. 12 selimut untuk teman-teman dari Padang dan Lampung.

Dan besok, besok kami akan datang lagi ke warung kemarin, ke Jalan Cikini kemarin yang telah menjadikan tubuh kami sebagai percobaan waktu untuk menunggu, percobaan menunggu untuk bisa melihat, percobaan melihat untuk mengenal kedatanganmu tak terduga. Percobaan untuk tetap berada di hari kemarin. Para gubernur datang dan berganti di kota ini, seperti permainan dalam kota-kota kolonial. Membuat peti telur untuk puisi dan teater.

Kemarin. Kami - kami tidak pernah tahu tentang hari ini dan hari esok. Dan batu lebih dalam lagi, lebih keras lagi, antara sepatu dan kulit sapi. Batu - untuk semua negeri yang terlalu curiga pada kebebasan, pada kemiskinan dan orang-orang yang masih tetap berjalan dengan kakinya.

"Afrizal Malna"
Puisi: Batu dalam Sepatu
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Guru dan Murid Dilarang Masuk ke Dalam Sekolah yang Terbakar

Sebuah truk mengangkut bayangan, lebih banyak lagi bayangan dari sebuah jalan dari sebuah truk. Bayangan itu seperti mengenalmu dan berusaha mengenalmu, seperti ada tulisan yang tak bisa dihapus pada keningmu yang demam.

Manusia dilarang masuk dilarang berdiri di situ, dilarang memberi rantai di leher anjing dan memasang perangkap tikus. Dan kau mulai mengerti kenapa harus mengucapkan assalamualaikum untuk masuk ke negeri ini. Sebuah truk seperti anakmu masuk sebagai pegawai Bank Dunia, dan seorang tentara keningnya seperti stempel pada punggung sapi yang memasuki ruang jagal.

Aku tak percaya pada tanganku sendiri yang pagi ini telah membakar ratusan sekolah di kotaku sendiri, sekolah untuk anak-anakku sendiri. Aku tak percaya pada tanganku yang telah menyalakan api, aku tak percaya pada api yang telah membakar sekolah itu, aku tak percaya pada sekolah yang terbakar itu, aku tak percaya pada peristiwa yang telah membakar pikiranku, pergi dan tak mau melihatmu lagi yang penuh dengan kawat berduri di wajahmu. Aku tak percaya berita yang datang dari botol-botol kecap di warung soto dekat rumahmu.

Guru dan murid-murid dilarang masuk ke dalam sekolah yang terbakar. Membiarkan lidah sendiri menjadi ular di depan cermin. Aku tak percaya pada negeri di mana kata-kata telah dibakar. Tetapi guru dan murid-murid tetap memasuki sekolah yang terbakar itu sambil membawa segenggam tanah untuk menyelamatkan kapur tulis, dan tetap menulis bayangan sebuah kebebasan, punggung dan kakinya dan lehernya. Dan papan tulis dari punggung api. Dan api ingin melihat wajahmu, ingin melihat air mukamu, ingin melihat tatapan matamu.

Dan api ingin membuat sebuah kampung, seperti kampung yang telah melahirkanmu. Dan api menuliskan kembali semua kalimat-kalimat ini dalam rahim ibumu, sebelum anak-anak pergi ke jalan, melihat bayangan truk melintas pergi dan bekas air mata di telapak tangan.
"Afrizal Malna"
Puisi: Guru dan Murid Dilarang Masuk ke Dalam Sekolah yang Terbakar
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mari Aku Sisir Alis di Matamu

Tadi sudah aku beli ketimun, lima buah. Warnanya hijau pucat. Mari aku lihat alismu, aku sisir. Masa kanak-kanak memeluk punggungmu lagi dari belakang. Ada tawa bayi yang membuat waktu di pintu kota. Masa kanak-kanak berlari lagi, bercerita lagi padaku. Ah, tembok-tembok itu seharusnya tidak berdiri, seharusnya biarkan sawah-sawah datang padaku setiap hari, angin datang padaku setiap hari, dan tetangga-tetangga juga datang meminjam minyak goreng atau mengambil buah mangga. Seharusnya tanah ini tidak dipenuhi lagi oleh rumah-rumah. Seharusnya aku sudah mencintaimu sejak 100 tahun lalu.

Aku sudah mandi, sudah sikat gigi. Tubuhku kini berbau buah sawo. Dan tubuhmu pagi yang abadi, yang membuat rencana-rencana. Besok aku akan mengajakmu naik perahu, seperti sungai Musi yang membuat kota Palembang. Besok aku akan mengajakmu membuat manisan belimbing. Kamu berjalan berjingkat, menggambarkan politik seperti kesibukan mencuci piring di dapur. Besok kita buat rujak dari jambu yang aku petik di kebun. Mana madunya, mana bunga mawarnya, lalu puisi-puisi Rumi tentang cinta. Aku memelukmu dengan langit yang tumbuh di telapak tanganku.

Biarkan langit ada di situ. Biarkan orang memandangnya, memberikan warna biru pada mimpi-mimpinya. Dan masa kanak-kanak yang berlari lagi memelukmu dari belakang. Menelponmu saat-saat kesepian. Biarkan hujan sendiri yang membawa payung. Aku tidak mengubahnya. Kita berjalan berjingkat, melihat dunia di luar bergerak seperti masa kanak-kanak kita. Lalu ini langit untukmu, langit Oktober, aku baru memetiknya dari kebun. Hingga pagi menjelang dari tubuhmu.

1999
"Afrizal Malna"
Puisi: Mari Aku Sisir Alis di Matamu
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Buku Harian dari Gurindam Duabelas

Kau telah ambil lenganku dari sungai Siak, sebelum Raja Ali Haji berkata: 
Bismillah permulaan kalam.”  Dan kapal-kapal bergerak membawa Islam, membawa para nabi, sutra, barang-barang elektronik juga. Tetapi seseorang mencarimu hingga Piz Gloria, kubah-kubah putih yang mengirimku hingga Senggigi. 150 tahun kematian Friedrich Holderlin, jadi penyair lagi di situ, hanya untuk menjaga cinta. Gerimis membawa kota-kota lain lagi, tanaman palma dan kenangan di jendela: Siti berlari-lari, menyapu halaman jadi buah mangga, apel, dan kecapi juga.

Kini dia bukan lagi kisah batu-batu, pelarian tempo dulu, atau  seorang biu mengajar menyapu. Kini setiap tubuhnya membaca Gurindam Duabelas, mengirim buku harian, untuk masa silam  seluruh unggas. Kita saling mencari, di antara pikiran yang dicurigai, lebih dari letusan, menumbangkan sebuah bahasa di malam hari. “Puan-puan dan Tuan-tuan,” kata Siti, 
aku melayu dari Pejanggi.” ... Dan sungai Siak jadi sepi, jadi lebih dalam lagi dari Gurindam Duabelas.

Lenganmu, membuat bahasa lain lagi di situ; untuk orang-orang di pelabuhan, menjual beras, sayuran, radio, ikan-ikan juga. Dan aku berlari-lari. Ada rumah di situ, setelah jalan berkelok. Ini untukmu, bahasa dari letusan itu, penuh suaramu melulu.

1993
"Afrizal Malna"
Puisi: Buku Harian dari Gurindam Duabelas
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sungai Seine

Waktu yang ditoreh ujung belati
Tepat pada lambungnya yang sunyi.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sungai Seine
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sujudmu Kuikuti
(Buat Inne Ratu Shabarini)

Air sungai masih mengalirkan air matamu
Dan bumi menyimpan sujudmu. Berapa lama
Kaucuci kalbu dalam kemurnian? Tanganmu melambai
Tapi suaramu sembunyi di balik perumpamaan batu-batu

Di udara tarianmu masih tersisa dan burung-burung
Mengikuti setiap langkahmu. Ke muara
Kususuri doa-doamu yang merdu
Lalu aku berenang di laut kemabukanmu

Perahu hanyalah bagian dari rahasia alis matamu
Yang indah. Pencarianku berujung di sudut-sudut kelam
Semenjak kautinggalkan pantai pada subuh terakhir
Kesedihanku mengambang sepanjang sungai

Biarlah kuurai rambut dan air mataku sendiri
Menjadi kasidah sunyi. Sampai kapan kaukubur rindu
Dalam keheningan? Sujudmu kuikuti
Tapi hutan-hutan mengekalkan gelapnya ungkapanmu abadi.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sujudmu Kuikuti
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Melancholia

Sebuah gang membelah kegelapan malam yang pekat
Ke sanalah kau akan berjalan sendirian
Menjumpai nasibmu. Sebuah lentera nyaris padam
Cahayanya yang lelah hanya sesekali mengerjap
Menerangi anggukan bayang-bayang pohonan liar
Yang tumbuh sekitar makam. Ke sanalah
Kau akan mencumbu nasibmu dengan gemetar
Mengawini kesunyianmu yang kekal

Sebuah jalan setapak yang menembus belantara
Tempat hari-harimu lewat dan kemudian membeku
Ke sanalah aku akan berjalan sendirian
Tanpa senyuman dan kata-kata. Sebuah tongkat kayu
Yang ternyata tak banyak membantumu lagi
Telah kaulempar ke jeram. Tapi kau harus berjalan sendirian
Meskipun tanpa tongkat dan lentera
Kau harus tetap berjalan sekalipun dalam kesangsian.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Melancholia
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Le Nausee
(Buat Wing Kardjo)

Jejak bulan telah hapus
Bumi tinggal rawa peradaban
Kata-kata menjadi belantara nilai
Tak terbaca. Bencana demi bencana
Bahkan pertikaian antar sesama
Telah membunuh bahasa. Sungai-sungai
Yang mengalirkan lumpur dan lahar
Sumbernya berasal dari kemarahan

Tahun-tahun lindap, abad-abad gelap
Mengekalkan kesumat. Langit merendah
Berkaca pada lembaran sejarah
Yang penuh darah. Harimau dan ular
Mengaum dan menjalar
Tak tertahan. Naik-turun gunung
Keluar-masuk hutan
Merambah dunia tanpa peta.

1983
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Le Nausee
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Tubuh-tubuh Tak Kukenal

Di tubuh-tubuh tak kukenal
Kutanam benihku. Di ladang-ladang kering
Bukit-bukit gersang, padang-padang kerontang
Jalan panjang keterluntaan. Telah kutanam kesepianku

Kutabur di rumah-rumah bordil, gang-gang becek
Gerbong-gerbong tak bertuan, masjid, gereja dan candi
Juga lembaran kitab-kitab suci:
Aku mencium bau anyir, mendengar tangis bayi

Kelaparan. Kesepian di mana-mana

Di tubuh-tubuh tak bernama
Kualirkan darahku. Di rahim-rahim benua
Perut-perut samudera, gelombang pasang, badai dan topan
Kegelisahan yang membentang. Kukekalkan

Aku jadi buta, Anne, jadi batu
Hatimu tanpa alamat. Masjid hanya untuk para pelayat.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Di Tubuh-tubuh Tak Kukenal
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bison

Di dataran luas Amerika bagian utara
Terdapat hewan seperti banteng rupanya
Badannya besar dan kukuh, kecil saja tanduknya
Kakinya berkuku dua, bison namanya

Bison jantan bukan buatan besar tubuhnya
Hampir dua meter tingginya pada bahu
Dapatkah engkau menerka berapa berat badannya?
Kira-kira seribu kilo, waduh, beratnya terlalu

Seratus tahun yang lalu bison banyak sekali di Amerika
Enam puluh juta ekor besar jumlahnya nian
Orang-orang Indian suka memakan dagingnya
Kulitnya untuk kemah, tanduk dan tulangnya barang hiasan

Kemudian datanglah pemburu orang-orang kulit putih
Mereka membawa senapan dan menembak sesukanya
Yang dikorbankan tidak lagi dipilih-pilih
Sehingga bison itu hampir habis semuanya

Sayang sekali hewan bison banyak benar yang diburu
Bila tak dicegah, hampir saja semuanya musnah
Janganlah kita berbuat seperti begitu
Menjadi kejam pada hewan karena terlalu serakah


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Bison
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jagoan Pembangunan

Wah maaf kawan, sekarang sudah jam penerbangan
Saya harus take-off bersama Jagoan Pembangunan
Kopor sudah rapi badan dijaga tiga suntikan
Setumpuk cek perjalanan, serta segenggam obat kesehatan

Jagoan Pembangunan itu kelompok cerdas serta mulia
Pemikiran kami dalam, pandangan kami menjagat raya
Walau kami bergaul dengan kelas paling ningrat
Pikiran kami selalu lekat dengan rakyat yang melarat

Di ruang sidang Hotel Sheraton berbagai negara
Kami menyumpahi semua maskapai multinasional
Tidak sukarlah mengacungkan tinju pada kezaliman
Di kamar yang sejuk dari jarak kejauhan

Kami diskusi kurang-gizi sambil mengunyah daging sapi
Kami analisa sebab kelaparan seraya minum susu berkopi
Apakah problemnya banjir di Asia atau kemarau di Afrika
Kami hadapi setiap isu itu dengan mulut terbuka

Kami mengimpor konsultan bijak serta bestari
Yang memecahkan soal dengan kesulitan terperinci
Yang selalu usul supaya seminar lalu seminar lagi
Sehingga makan lezat terjamin setiap hari

Kata orang konsultan itu tahu persis jam berapa sekarang
Dengan meminjam arloji anda, lalu membacakannya
Tapi gajinya yang mahal itu masuk kita punya akal
Karena obyekan belakangan, bisalah jadi garapan

Struktur kalimat dalam bahasa Jagoan Pembangunan
Lentur dan tegang, gemerincing dan berdandan
Seperti mantra kami bacalah kata epigenetic
Sedikit genit seperti micro, macro dan logarithmetic

Bagi kami istilah tinggi itu untuk bernikmat-nikmat
Supaya nampak cendekia, cerdas dan maut
Dan walaupun yang serba mapan itu tidak akan teringsut
Namun kosakata kami jelas makin meningkat

Jika diskusi makin mendalam dan anda merasa bingung
Inilah resepnya supaya malu anda jadi minimum
Tunjukkan tegas, anda juga cendekiawan
Bertanyalah seram, “Inikah yang namanya pembangunan?”

Atau bilang: “Dalam praktek itu memang baik
Tapi dalam teori itu tidak jalan!”
Beberapa orang akan heran mendengar logika begini
Tapi mayoritas kagum pada renungan sedalam ini

Rumah kelompok Jagoan Pembangunan indah dan mewah
Sesak dan mahal, bertumpuk serta gemerlapan
Di sana-sini ada pula karya seni pedalaman
Sebagai bukti sikap hidup yang kerakyatan

Wah cukuplah sudah bersajak-sajak, tugas kini menghimbau
Kewajiban kami suci benar serta beratnya terlampau
Kami perlu bahu kuat memikul beban yang berat
Seperti juga kami perlukan selalu rakyat yang hidup melarat.


1979

Judul asli puisi ini adalah "The Development Set". Dari penyair tak dikenal namanya. Diterjemahkan atas permintaan redaktur Prisma, dan dimuat di majalah itu, nomor Mei 1979.
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Jagoan Pembangunan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bangku Tunggu Stasiun Bis Antar Kota

Rupanya aku harus pergi lagi. Sendiri
Kembali duduk di bangku-tunggu malam ini
Sehelai koran sore dan bis penghabisan belum berangkat
Lampu pijar sekian ribu wat, sisa-sisa lagu 
Desafinado
Lalu-lintas mulai surut, malam pun berangkat larut
Kami sama menunggu ini, duduk di bangku kayu jati
Mengenang beberapa nama dan sekian peristiwa
Yang telah dipadatkan dan diberi selaput sunyi...
Tetanggaku gelisah, portir gelisah, siapa lagi resah
Sehelai karcis peron, tadi sore sobek di tengah
Denyut lalu lintas malam menyerap di nadiku
Panas, namun mulai sunyi serta ada yang tak terjawab
Pada bintik-bintik air di pelataran aspal hitam,
rata dan dingin
Stasiun bis ini, terbuka rongga dan dipukul angin
Menganga, tanpa kata, lagu itu pun telah berhenti
Dimanakah jawaban terhadap sunyi? Kubaca langit
Di antara temaram daun-daun asam. Hanya sedikit
Tapi adakah? Benarkah? Dinding kaca loket berkilau
Portir itu mengenakan jaketnya
Pegawai Kota-praja memasang pipa. Mereka tak bicara
Padaku lagi. Mereka memasangkan sekrup-sekrup sunyi
Pada sistem mesin yang kelam ini
Sedangkan sunyi juga tidak lagi
Bicara padaku dengan bahasa itu
Aku tidak peka lagi? Mengapa kesunyian tidak...
Terlalu terlibat diri. Aku harus kini
Mengejar itu sunyi
Sendiri

Apakah ini tiket terakhir untuk tiba besok pagi?
Bukan soal lagi. Perjalanan adalah perjalanan
Dan sebuah sinyal atau pengumuman pengeras suara
Memanggil nama kita
Membacakan baris-baris cuaca
Satu demi satu. Kita berangkat sendiri
Mungkinkah menoleh sempat lagi sekali
Mungkinkah ini tiket terakhir

Untuk tiba
Besok pagi
Bumi gemuruh yang sepi
Langit guruh yang sunyi.

1968
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Bangku Tunggu Stasiun Bis Antar Kota
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bola Berguling di Bawah Panas Matahari

Di antara orang-orang baik hati
duduk pencopet 
dalam kendaraan ini
Agama telah dijadikan bus tua
Yang mencari penumpang sebanyak-banyaknya

Bus berjalan. Debu berkibar
Pada suatu sore orang melempar senjata ke tengah jalan
Dan ada lagu mars Pemadam Kebakaran

Bola berguling di bawah panas matahari.

Percintaan adalah nasib yang aneh
Hutan jati ketika rontok daun
Dekat pantai lagi surut
Kanak-kanak main berkejaran

Bola berguling di bawah panas matahari.

Bus jalan. Lewat jaringan lalu lintas
Pada suatu pagi aku memejam
Teluk San Francisco, Laut Jawa dan Mediterania
Kemudian sebuah lepau nasi
Orang tua baru selesai dengan mangkuk kahwanya
Di jalan, pergi, hari masih agak pagi
Di atas ada hutan pina
Sawah biasa, ladang lobak dan kebun tebu
Tempat berburu babi

Bola berguling di bawah panas matahari

Medan magnit sepanjang rek kereta api
Bintang terhampar di tempayan langit
Bagai sulaman bintik-bintik cahaya
Atas Padang Giring Giring, atas St. Peterburg lena
Bus jalan. Seorang kanak bercelana pendek
Membawa album hitam
Di tepi jalan kota kecil
Ke muara pelabuhan

Bola berguling di bawah panas matahari

Bus jalan. Banyak debu di warung orang Vietnam
Dan Bur mengangkat gelasnya
Pada sore Savannakhet yang sedikit aneh
Kejutan tangis, dan kauacungkan tinju
Pada matahari
Yang pijar
Hidupku serasa bergolek di atas sutera Siam
Seraya menulis sajak-sajak percuma
Bila mengingatmu

Bola berguling di bawah panas matahari

Alabama, Alabama
Bunyikan lagu biru yang agak ngilu
Duka yang terpental-pental
Alabama
Bus jalan. Chicago muntah
Dan menyiarkan lumpur salju yang hitam
Sebuah kuburan mobil memanggil-manggil
Mengembuskan asam karbon tanpa warna
Dan Malcolm X menudingkan telunjuknya
Bola berguling di bawah panas matahari

Adalah percuma
Menjahit padang pasir
Dengan menara-menara tambang minyak

Bola berguling di bawah panas matahari

Dan kepala Joseph Richard Smith
Maharesi 14 tahun itu berkata:
‘Teruskanlah kalimat ini, Joe
Jiwamu termaktub dalam iklan-iklan
Lalu ...
Dan berkatalah Joe Smith:
‘Jiwaku termaktub dalam iklan-iklan
Dan iklan-iklanku tanpa jiwa’

Bola berguling di bawah panas matahari

Alabama, Alabama
Bunyikan lagu biru yang ngilu
Duka hitam terpental-pental
Alabama

Bola berguling di bawah panas matahari

Bus jalan. Debu berkibar
Dekat pangkalan pedati
Anak itu menendang sedikit keras
Dan bola berguling
Di bawah panas
Matahari.

1972
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Bola Berguling di Bawah Panas Matahari
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Terang Bulan di Midwest

Sebuah bulan sempurna
Bersinar agak merah
Lingkarannya di sana
Awan menggaris bawah

Sungai Mississippi
Lebar dan keruh
Bunyi-bunyi sepi
Amat gemuruh

Ladang-ladang jagung
Rawa-rawa dukana
Serangga mendengung
Sampaikah suara

Cuaca musim gugur
Bukit membisu
Asap yang hancur
Biru abu-abu

Danau yang di sana
Seribu burung belibis
Lereng pohon pina
Angin pun gerimis.

1971
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Terang Bulan di Midwest
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rijswijk 17

Malam itu kami duduk di beranda, bulan pun ada
Lalu lintas terasa hingar, deru-deram sebentar-sebentar
Memanjang kawat telepon di antara tiang yang merentang

Redup temaram dalam garis-garis coretan hitam
Dengung karet becak, lewat lubang selokan tua
Tiba-tiba di langit membusur titik cahaya
Di celah deretan pohon, menyusur cemara hospital
Kami sama berdiri. “Bulan auronetika-kah kini?’
Benda-angkasa itu meluncur pelahan
Dalam busur lengkung di langit barat
Lewat atas atap, lewat pucuk cemara hospital
Seraya ke bumi ini memberi cahaya sinyal
Kami sama terdiam, sama menatap cahaya yang main
Sebuah transistor menyanyikan tema jazz
Summertime Busur cahaya itu makin melengkung
Di atas gedung, menyentuh bayang bangunan
Melintas sebuah majelis yang tengah bersidang
Yang masih bergumul bagi kebebasan
Dan masalah-masalah kelaparan serta kemiskinan
Sementara benda-angkasa ini menunjuk ke bulan
Dan menjelujuri rimba-belantara teknologi
Majelis ini mencoba lagi mengeja kata demokrasi
Mulai menuliskan lengkung huruf ‘d’ dari demokrasi itu

Di langit pun membusur garis cahaya
Menerangi bumi ini, mulanya temaram, lalu makin terang

Anak-anak belasan tahun berlarian riang
Di atas runtuhan slogan, menginjak potret-potret pemujaan

Berkejaran dalam main bandit-dan-lakon
Menyusur trotoar, tembok-tembok kota dan jalan raya
Menggeledahi gedung-gedung birokrasi dan mengiringi mereka

Keluar. Berjalanlah mereka. Kawanan serigala
Yang khianat, dan kini dipisahkan dari pimpinannya
Sesekali dia meraung pendek. Meratapi langitnya makin senja

Meratapi bulan merah, pohon-pohon pinus lama
Dari dulu daerah perburuannya. Meraungi betina-betinanya

Dari lantai pualam menengadahlah dia ke angkasa
Angkasa yang kini, lebih dari masalah “saya terharu”
Lebih dari masalah bintang-bintang astrologi
Angka-angka komputer, eksperimen dan presisi teknologi!

Dan di sini, orang bergulat melawan anti-logika masih
Masalah empat-kebebasan, masalah kurangnya protein
Elektrifikasi dan cetak biru yang sia-sia
Seseorang berjalan, lalu puluhan berjalan, ribuan
Di bawah langit terik lagi, kecemasan lagi
Di antara lontaran cakram-cakram api
Seperti sebagian gelombang lama, pelahan meninggi
Membentur seberang sana. Berhenti
Dan berteriak: Hei kau-kau yang di sana! Kalian!
Hei… kau
Ya: kau!

Dan tiba-tiba semua terdiam. Terdiam. Hanya terdiam
Di Jakarta yang tua, Jakarta yang Betawi
Jakarta yang Ciliwung
Ketika dari Buitenzorg bergerak kereta-kencana ke utara
Dengan dua belas kuda putih sang Gubernur
Dalam derap-dua di jalan tanah
Tanah dijarah, bumi yang dijajah
Sekian kali, sekian lama, oleh sekian orang
Orang asing dan beberapa pribumi
Di Jakarta sini, ya, Jakarta yang Betawi
Jakarta yang Rijswijk, yang Meester, yang asli Betawi
Jakarta yang Empat Serangkai, yang Saiko Sikikan Kakka

Jakarta yang tugu, yang syauvinis, yang maksiat
Tapi semuanya
Tapi semuanya Jakarta yang Ciliwung
Jakarta yang Ciliwung
Mengalirlah kau Ciliwung, mengalirlah tenang
Mengalirlah lamban dengan kepekaan dan kecoklatanmu
Bersama lempung, bersama ampas, bersama sampah
Bersama sejarah

Dan malam ini kau surut, malu pada bulan di atas
Gusar pada benda angkasa yang membusur pelahan
Menyusur hasil-akhir perhitungan kosmografi
Sementara kau belum sempat-sempat membersihkan diri
Masalah smelter, perencanaan kota dan semacamnya
Dan di atas kau jembatan, lintas kawat dan flamboyan
Gugus-gugus bunga merah yang semakin rendah
Gugur ke sungai, gugur, hanyut dalam spiral
Bayang-bayang yang coklat
Bayang-bayang yang bergoyang
Perempuan mencuci
Anak telanjang yang mandi
Burung layang-layang melayang
Dalam senja hilang bayang-bayang
Di belakang barikade yang panjang
Kawat duri bersilang
Dinding sungai yang curam
Rumah-jaga terdiam
Karaben bersangkur terhunjam.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Rijswijk 17
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rendez-Vous

Sejarah telah singgah
Ke kemah kami
Ia menegur sangat ramah
Dan mengajak kami pergi

“Saya sudah mengetuk-ngetuk
Pintu yang lain,”
Katanya
Tapi amat heran
Mereka berkali-kali menolakku
Di ambang pintu.”

Kini kami beratus-ribu
Mengiringkan langkah Sejarah
Dalam langkah yang seru
Dan semakin cepat
Semakin dahsyat
Menderu-deru
Dalam angin berputar
Badai peluru
Topan bukit batu!

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Rendez-Vous
Karya: Taufiq Ismail