Mei 1998
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Burung Gagak di Negeri Batu

/1/
Ini kisah selaksa burung gagak yang terbang menyelinap di antara kabut. Paruhnya tajam selalu bergerak dan sorot mata nanar menatap matahari tak lagi bersinar. Sementara dedaun tak lagi disapa embun meski sekejap, terhuyung disapu angin timur. Terhempas dan nyaris hancur. Pesta gagak bukan pesta penggali kubur. Bukan! Lincah melompat di sela kelopak ranting, tergeletak di tanah hitam. Di sebelah kubangan lumpur, seekor gagak riuh menggelegak. Nafsunya kepalang memuncak membuat tidur tak nyenyak.

“Kawan, pesta sebenarnya baru mulai. Jangan ada yang ketinggalan lagi. Kibarkan sayap dan paruh tanda hidup makin liar. Hari ini tidak untuk nanti. Selama matahari enggan melukar hati, tancapkan kuku kalian. Dan buktikan bahwa kuku kaki kita lebih tajam dari kuku para manusia. Bahwa dendam nafsu kita lebih binatang dari keturunan Adam. Hari pembalasan hanya cerita kiasan yang membuat lemah impian. Mari berpesta”

Ribuan burung gagak tersentak. Datang mengorak dari sela langit menukik ke lereng bumi yang sempit. Itu tubuh tak lagi utuh. Kisruh semalam telah membakar api dendam. Manusia saling rajam. Tak bisa diam dan terus beradu kejam. Tombak, batu, panah berlompatan seperti perayaan penuh kembang nyala api. Nyawa harganya tak terlalu tinggi apalagi hukum penuh nurani. Membantai kawan sendiri adalah perilaku asasi demi harga diri.

/2/
Kini, tubuh itu runtuh! Tanpa peluh sebelum fajar menyentuh, telungkup di pucuk rembulan sabit. Setangkai melati mekar malu-malu diterjang layu dan beku. Karena manusia kehilangan peradaban kalbu. Karena manusia kehilangan kesantunan seperti di Negeri Batu. Negeri tanpa hati dan keadilan terkubur di jantung bumi. Tadi pagi, sebutir peluru menembus anak kecil berwajah lugu. Tadi malam, tombak bambu menghujam lelaki sedingin pualam. Besoknya, puluhan bayi mati karena aborsi. Gunung-gunung menggugurkan jurangnya, puting beliung menyobek wajah-wajah berkabung.

“Di Negeri Batu, para gagak bersatu. Kelepak cakar menjalar di setiap sudut jalan. Hujan menumpuk dendam di kubangan, kebencian meringkuk diam di tikungan. Dimana rasa sedih itu? Dimana nurani lirih itu? Dimana putih kebaikan itu? Dimana! Seekor gagak terbang rendah hinggap di tubuh lunglai-luluh. Menjelma menjadi siapa saja di keramaian nestapa. Gagak itu duduk di meja makan. Gagak itu beringas di jalanan. Gagak itu menikam kerabat sehati. Mati. Gagak itu berdiri tegak di puncak menara api. Gagak itu merampas tangan dan kaki kita.”

Lihatlah burung gagak di Negeri Batu, berpesta tanpa ragu. Menuang minuman di meja kalbu. Kita hanya diam membeku. Hingga gagak liar itu bertengger di sudut kelopak hati. Berhembus angin timur menyobek kemanusiaan kita.

Jombang
Januari, 2011
"Cucuk Espe"
PuisiBurung Gagak di Negeri Batu
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pengakuan Gayatri

Di lantai kuil rahasia Tantri
Singasari serta ayahku mati
sebelum Tartar menyeringai
melalap tubuh laskar Kediri.

Betapa nanti takdirku dikawini
pangeran yang dulu mengungsi
dan aku jadi rajapatni Tanah Jawi
meraih lagi tahta yang terbantai.

Di ragaku darah berbau api
mengobarkan hening bumi
mengabu belukar kelam diri
di bawah rindang kosambi.

Kupeluk tahta gemilang lelaki
di jantungnya berdetak dinasti
dan serbuk waktu merah gontai
berjatuhan dari mahkota nyeri.

Dari raja ke raja aku melerai
kecamuk singgasana terburai
dalam relung panjang semadi
dan mencakar sepi kulit pipi.

Aku tahu takhta datang-pergi
bersama hikayat dan prasasti
hingga tercium berabad nanti
wangi cinta serta aib dan keji.

Kutepis istana dan jadi biksuni
bersendiri bersama senyap suci
dan terasa debar seluruh bumi
mengasah pedang tanpa henti.

Mengerti sungguh aku nanti
bukan hanya menjadi bangkai
diberkati para penghuni negeri
dan trah akan berjalan dan mati.


"Binhad Nurrohmat"
Puisi: Pengakuan Gayatri
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Urat Leher

Karena cinta Tuhan meletakkan
dua malaikat di pundakmu
- inilah pengasuh-pengasuhmu
kata Tuhan. Sayap-sayapnya
bisa membawamu terbang ke langit
sekaligus berpijak di bumi lagi.

Engkau tak perlu takut
malaikat bukan polisi atau satpam
bersih dari amplop dan uang sogok
tak suka dijilat maupun menjilat
malaikat bersih dari nafsu-nafsu burukmu.

Karena cinta Tuhan meletakkan
dua malaikat di pundakmu
karena cinta Tuhan lebih dekat
dari urat lehermu.

1990
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiSajak Urat Leher
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Zikir Seekor Cacing

Dalam duniamu aku cacing tak bermakna
yang melata dari lumpur ke lumpur
peradaban tanpa jiwa, yang menggeliat
di selokan-selokan kumuh kota, yang
bahagia ketika pohon-pohon berbunga.

Cobalah kaudengar zikirku, menetes
jadi madu di pucuk-pucuk akar pohon itu
kucangkul tanah keras jadi gembur
kurabuk ladang tanpa hara jadi subur
kubimbing akar-akar pohonan
menyusup sela-sela batu dan belukar
menghisap sari madu kehidupan
sedang aku cukup tumbuh
dari daun-daun gugur.

Di kota-kota padat beton dan baja
aku jadi penghuni tak berharga
tapi dengarlah kecipak ikan-ikan
bernyanyi atas kehadiranku
ketika tubuhku kurelakan
lumat jadi santapan.

Akulah si paling buruk rupa
di antara para kekasih dunia
namun syukurku tak tertahankan
ketika dapat ikut menyuburkan
taman bunga di beranda.

1990
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiZikir Seekor Cacing
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mengapa Hanya Malaikat

Satu dua antara belantara (rambut
putih kehilangan hitam), satu dua
kelokan lengang menjelang malam. Di ujung
menunggu pedang dengan rajam + rajam.

“Bila mulut banyak mengunyah, bila lambung
banyak memamah, bila darah hanya berlemak:
apa tak terbaca plakat orang-orang lapar
pada setiap kerut lipat kulit perut?”

Megap-megap bagai ikan, merayap bagai ketam
: tangan si miskin terkunyah larut di darah
O, mengapa hanya malaikat yang tahu, senyum
melihat jantung diremas-gemas dendam si lapar

Jalan lengang, jalan panjang, jalan bimbang
bulan ramadhan; mengapa hanya malaikat yang
tahu? Mengapa?
Mengapa hanya malaikat.

1979/1983/1987
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Mengapa Hanya Malaikat
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Memorabilia

(1)
: Perlahan-lahan, pada kertas merang,
yang nanti pelan-pelan dipilin: waktu
nyelipkan bubuk mesiu. sulur panjang
memanjang dari jam ke jam, dari hari
ke hari. Sampai pada pagi itu, sehabis
mandi, saat mabuk aroma kopi
meledak
- siapa yang bisa menduga waktu itu.

(2)
Kuburkan penyair itu di tempat jauh
- teduh atau tak teduh -: di mana
tak seorang yang mengenalinya. Selain
"sore itu ia datang terpincang-pincang ..."

"Tanpa KTP," kata koran. Dan si penyair itu
tersenyum. Tenang melepas lelah. Terbebas
dari apa-apa yang telah ditulisnya di buku-buku
[- kuburan penyair tanpa nama itu tak bertanda]


2008
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Memorabilia
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Wardeilaand

Di sunyi malam, apa yang mesti kulakukan
kukenang kembali malam-malam riuh
berkabut di negeriku yang besar
dan tak putus-putus mengusir orang
dari rumah-rumah mereka yang kecil
seperti ingin memaksa seluruh warga
abadi sebagai pengembara,
hingga sebagian mereka
menghambur menjadi hamba
di berbagai negara, sebagian lainnya melata
di sekujur tanah air luka yang menganga
hanya penguasa dengan dasi berwarna-warni
menjulang tinggi di atas sana

sambil menyembunyikan air mata
akupun belajar berpuasa dari erang luka
negeriku. Biarlah kucoba melukis matahari putih
yang berpendar pada putih reranting pohonan
maka hatiku yang putih memanen kembali
butir-butir cinta dari tubuhmu.

"Agus R. Sarjono"
Puisi: Wardeilaand
Karya: Agus R. Sarjono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Palsu

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu mereka pun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakat pun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.

1998
"Agus R. Sarjono"
Puisi: Sajak Palsu
Karya: Agus R. Sarjono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Demokrasi Dunia Ketiga

Kalian harus demokratis. Baik, tapi jauhkan
tinju yang kau kepalkan itu dari pelipisku
bukankah engkau… Tutup mulut! Soal tinjuku
mau kukepalkan, kusimpan di saku
atau kutonjokkan ke hidungmu,
tentu sepenuhnya terserah padaku.
Pokoknya kamu harus demokratis. Lagi pula
kita tidak sedang bicara soal aku, tapi soal kamu
yaitu kamu harus demokratis!

Tentu saja saya setuju, bukankah selama ini
saya telah mencoba… Sudahlah! Kami tak mau dengar
apa alasanmu. Tak perlu berkilah
dan buang waktu. Aku perintahkan kamu
untuk demokratis, habis perkara! Ingat
gerombolan demokrasi yang kami galang
akan melindasmu habis. Jadi jangan macam-macam
Yang penting kamu harus demokratis.
Awas kalau tidak!

1998
"Agus R. Sarjono"
Puisi: Demokrasi Dunia Ketiga
Karya: Agus R. Sarjono