Juli 1998
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Stockholm
(buat Sofyan Waluyo dan Z. Afif)

Jelas ini bukan di pendopo taman siswa
orang-orangnya bermantel tebal berbahasa jawa
di sebuah gedung di Huddingen Swedia
tapak kaki di langit hujan bertanya.

Ada dosenku, ada kawanku, ada wajah haru
yang mana pilihan
yang mana tempat buangan
yang mana tanah air
kangen embun meneteskan air.

Anak-anak kehilangan kampung
internasionale mengapung
rinduku rindumu
penjelajah demam dalam bertemu.

Huddingen-Amsterdam
November, 2000
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiStockholm
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ampak-ampak

Ampak-ampak putih kelabu
dari puncah lawu
lewat cemana mendesir
turun ke telaga pasir

Ampak-ampak singgah di cemarasewu
merayapi sepi dan lengang
pencar menelan waktu
menebar menerkam ruang

Ampak-ampak mengejar kupu gajah
hinggap di kembang menyadap madu
tengadah ternganga alga dumilah
berlompatan burung keramat si jalak penyu

Ampak-ampak menjelma air mengaca
memantul caya menyalut pakis
sampai senja
takkan habis

Ampak-ampak mendekap
meneruskan ke dalam hati
desah selalu meruap
tiap waktu dalam sepi

Ampak-ampak lewat cemana mendesir
selalu turun ke telaga pasir
bawa berita sepanjang hari
di cemarasewu waktu bergulat dengan sepi.

1987
"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiAmpak-ampak
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Telur Chicago
(kepada Anish Kapoor)

Telur adalah nama yang keliru
Bagi bentuk yang lebih menyerupai
Bulir air raksa atau kacang kedelai
Penghisap Michigan Avenue.

Cermin mungkin tak boleh berlaku
Bagi lengkung baja yang memantulkan
Wujudku sebagai petinju kelas bulu -
Mestinya sepatung Brancusi, bukan?

Punggungnya membubung tinggi -
Makin nisbi, seperti menyangkal
Rangkanya sendiri, palangan
Yang makin mahir unjuk gigi.

Kilau cangkangnya ialah musuh pertama
Bagi kau yang nekad membedakan
Pipi dari kakinya, perut dari dahinya
Setelah badai salju Februari.

Tapi telur ini pastilah akan berakar
Jika kita rajin sungguh menetaskan
Mata di tengah lendir Chicago -
Telinga di ujung tanduk Chicago.

2010
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiTelur Chicago
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pengantin Remaja

Aku tak bisa menangis, sebab kulitmu coklat manggis. Kau tak lagi mampu melompat, sebab parasku hampir berkarat. Sesungguhnya sejak kanak aku hanya mengenal bayang- bayangmu: sebab aku penjinak binatang, kau peniti tali. (Ingatlah. Ketika aku mengaum tak henti-henti, kau justru tak hendak kembali. Kau penikmat jurang di bawah sana, aku pemuja langit tinggi.) Sampai para peziarah yang tak tahu malu itu menarik kita ke sepucuk jembatan mawar dan berujar, “Lihat, alangkah sepadan dua kembaran ini." Seutas tali akar padi liar mereka ikatkan ke kakimu dan kakiku. Di bawah tudung Bimasakti aku menghapus mereka satu demi satu, namun menyisakan sesosok belaka dan mengusirnya ke seberang sungai dan menyebutnya Bapa. Kemudian aku berusaha merindukanmu, meski kau berada di pangkuanku seperti telur yang menggeliat dalam sarangnya sendiri. Kau berkata, “Adam, lekaslah menyusu padaku agar kita segera dewasa." Dadamu berkilatan tapi hanya berisi angin, aku tahu. Mulailah aku memintal linen atau kain lain (aku tak yakin) agar esok kita berani bercermin. Dan pada lidahmu kulekatkan lidahku supaya kita tak lagi dahaga. “Hawa, jangan berjanji mengasihiku," aku berseru, sambil mengancam Bapa yang terkelebat di pelupuk matamu.

2007
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiPengantin Remaja
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Benar

Sebenarnya tidak ada yang salah
karena kebenaran sudah mati
jika sudah begini tinggal uji nyali
siapa yang punya nyali besar
dialah yang bisa menembus
lubang-lubang kenikmatan.

"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiBenar
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Aku Pengembala Matahari

Mengalun ombak ditelan angin
di sana daku menanti hari
merumput kala sengatan waktu.

1979
"Puisi Medy Loekito"
PuisiAku Pengembala Matahari
Karya: Medy Loekito

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sembilu

Anjing mengantuk.
Wanita idaman lain.
Istri pasrah.

Di bawah langit
Memacu kuda liar
Hidup bergolak

Tikungan hidup
Memaksa segala bisa
Sampai tujuan

Kilat menyambar
Masuk ke dalam kamar.
Ranjang bergetar.

Gelap yang bodoh.
Mengapa diam
Ketika aku lapar.

Cuma lima botol
Pemandangan nanar
Wajahmu dua

"Kurniawan Junaedhie"
PuisiSembilu
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Merasa Tua

Siapa pun akan mati
Tak hanya cacing
Juga kita

Seorang penakut pun
Akan berani
Menyambut ajal

Buah merekah.
Tumbuh menjadi tua
Takkan terelak

Masa yang lalu
Kini menjadi lucu
Betapa konyol

Saat tua tiba
Cinta dan kekasih
Tak berarti

Terlihat aneh
Gugusan masa lalu
Makin mengabur.

"Kurniawan Junaedhie"
PuisiMerasa Tua
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Es Krim di dalam Poci

Hari itu kedai kopi sibuk. Aku duduk di kedai yang sibuk itu. Kaki kuangkat ke bangku. 
Seseorang menyorongkan poci berisi teh  dan cangkir ke dekat asbakku.  Ketika poci kuangkat, dan hendak menuang air panas, tiba-tiba ada suara gemeratak di dalam mulut poci yang melengkung. Ajib. Kamu -yang dulu  meringkuk di dalam cangkir kopiku- kini sedang meringkuk di situ. Rupanya kamu telah dikirim oleh buliran tanah, masuk ke dalam pociku yang lucu.  “Halo. Aku menunggumu,” bisikmu bercampur dengan dengung.

Ada es krim di tanganmu. Wah ajib. Es krim masuk ke dalam lubang teko, dan menyelinap bersama tanganmu yang mungil. Tanah liat, enamel, es krim dan daun teh kulihat menjilati bibirmu. Tanah liat, enamel,  daun teh, es krim, kata-kata, dan kamu kulihat saling bergesekan di landasan ceruk poci yang liat. Tanganku seperti ditarik ke langit. Aku tak jadi menuangkan air panas ke dalam mulut poci. Aku tak mau melelehkan es krim dalam poci, kataku pada pemilik kedai.

2012
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiEs Krim di dalam Poci
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sketsa 1977

Badanku demam. Aku masuk hotel melalui kakus. Ulat-ulat dalam darahku bergolak seperti penyair dan kritikus. Mataku berontak, tapi mulutku memekik. Aku mengunyah geraham dengan hidung dan alis mata. Pipiku menyimpan kenangan lama ketika mulut dibungkam, dan tubuhku diciduk aparat dan dilempar ke truk. Betapa indahnya bisa melihat darah sendiri menetes-netes di jalanan di antara bayonet dan senapan.

Aku masuk hotel melalui kakus. Aku masuk kakus dari gorong-gorong. Matahari lalu bersirobok masuk ke dalam gorong-gorong. Sunyi pun menyesap ke pori kulitku yang telanjang. Badanku demam. Alun-alun, taman kota, dan pedestrian menjelma jadi lahan jualan. Ada Leher sapi digantung dan anak-anak main yoyo. Badanku makin demam. Aku hanya ingin bertemu wastafel untuk membasuh muka. Kuimpikan, hotel, kakus dan gorong-gorong rubuh dan air laut pasang, menenggelamkan jalanan.

2011-2012
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiSketsa 1977
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Seorang Lelaki Yang Tidak Tidur
(Cerita untuk Ahita)

Sudah lama dia tidak tidur. Matanya terbeliak tapi pikirannya melancong ke negeri jauh di antara kemerlip bintang. Ia merasa dirinya seperti kepompong. Tapi kenapa hidup begitu bengis? Ia kawini seorang perempuan cantik tetapi dia malah serong dengan lelaki lain.  Ia sayangi anak satu-satunya tapi anaknya malah memacu motornya dengan kencang di jalanan sampai sebuah truk menghentikannya. Dunia pun jungkir balik di kepala. Membuat matanya terus terbeliak sampai sekarang. Dia diam dan tidak bisa tidur. Tapi pikirannya melancong ke negeri jauh. Ke sebuah dusun yang tenang, di antara kemerlip bintang. Di mana keluarganya tinggal, dalam kenangan. Sambil tetap membuka matanya, ia pun mulai mereka-reka untuk berkumpul di sana. Tapi dengan apa? Menenggak racun tikus? Minum obat di luar dosis? Atau menyelipkan moncong pistol ke dalam mulutnya sampai nafasnya mendesis? Sampai sekarang ia tetap mereka-mereka dengan 1000 cara sambil terus membuka matanya. Untuk sekian lamanya.

2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiSeorang Lelaki Yang Tidak Tidur
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||