Januari 1999
Kesaksian Akhir Abad


Ratap tangis menerpa pintu kalbuku.
Bau anyir darah mengganggu tidur malamku.

O, tikar tafakur!
O, bau sungai tohor yang kotor!
Bagaimana aku akan bisa
membaca keadaan ini?

Di atas atap kesepian nalar pikiran
yang digalaukan oleh lampu-lampu kota
yang bertengkar dengan malam,
aku menyerukan namamu;
wahai, para leluhur Nusantara!

O, Sanjaya!
Leluhur dari kebudayaan tanah!
O, Purnawarman!
Leluhur dari kebudayaan air!
Kedua wangsamu telah mampu
mempersatukan tanah air!

O, Resi Kutaran! O, Resi Nirarta!
Empu-empu tampan yang penuh kedamaian!
Telah kamu ajarkan tatanan hidup
yang aneka dan sejahtera,
yang dijaga dewan hukum adat.
O, bagaimana mesti aku mengerti
bahasa bising dari bangsaku kini?

O, lihatlah wajah-wajah berdarah
dan rahim yang diperkosa
muncul dari puing-puing tatanan hidup
yang porak-poranda.
Kejahatan kasat mata
tertawa tanpa pengadilan.
Kekuasaan kekerasan
berak dan berdahak
di atas bendera kebangsaan

O, anak cucuku di jaman cybernetic!
Bagaimana akan kalian baca
Prasasti dari jaman kami?
Apakah kami akan mampu
menjadi ilham kesimpulan
ataukah kami justru
menjadi sumber masalah
di dalam kehidupan?

Dengan puisi ini aku bersaksi
bahwa rakyat indonesia belum merdeka.
Rakyat yang tanpa hak hukum
bukanlah rakyat yang merdeka.
Hak hukum yang tidak dilindungi
oleh lembaga pengadilan yang mandiri
adalah hukum yang ditulis di atas air

Bagaimana rakyat bisa merdeka
bila polisi menjadi abdi pemerintah
yang melindungi hak warga negara?

Bagaimana rakyat bisa disebut merdeka
bila birokrasi negara
tidak mengabdi kepada rakyat,
melainkan mengabdi
kepada pemerintah yang berkuasa?

Bagaimana rakyat bisa merdeka
bila provinsi-provinsi
sekedar menjadi tanah jajahan pemerintah?
Tidak boleh mengatur ekonominya sendiri,
tatanan hidup masyarakatnya sendiri,
dan juga keamanannya sendiri.

Ayam, serigala, macan atau pun gajah
Setiap orang juga ingin berdaulat
di dalam rumah tangganya
Setiap penduduk ingin berdaulat
di dalam kampungnya
Dan kehidupan berbangsa
tidak perlu merusak daulat kedaerahan.

Hasrat berbangsa
adalah naluri rakyat
untuk menjalin  ikatan daya cipta antar suku,
yang penuh keanekaan kehidupan,
dan memaklumkan
wilayah pergaulan yang lebih luas
untuk merdeka bersama.

Dengan puisi ini aku bersaksi
bahwa sampai saat puisi ini aku tandatangani,
para elit politik yang berkedudukan
atau pun yang masih di jalan, 
tidak pernah memperjuangkan
sarana-sarana kemerdekaan rakyat.
Mereka hanya rusuh dan gaduh
memperjuangkan kedaulatan
golongannya sendiri!
Mereka hanya bergulat
untuk posisi sendiri.
Mereka tidak peduli kepada fungsi hukum,
fungsi polisi, atau pun fungsi birokrasi.
Dengan picik
mereka akan mendaur ulang
malapetaka negara yang telah terjadi.

O, Indonesia! Ah, Indonesia!
Negara yang kehilangan makna!
Dengan rakyat yang kehilangan kemanusiaan
maka negara tinggal menjadi peta.
Itupun peta yang lusuh
dan hampir robek pula.

Pendangkalan kehidupan bangsa
telah terjadi.
Tata nilai rancu.
Dusta dan kekerasan halal.
Manusia sekedar semak belukar
yang dikacau dan dibakar.
Paket-paket pikiran marah dijajakan.
Penalaran yang salah
mendorong rakyat terpecah belah.

Negara tak mungkin kembali di-utuh-kan
tanpa rakyatnya di-manusia-kan.
Dan manusia tak mungkin menjadi manusia
tanpa dihidupkan hati nuraninya.

Hati nurani adalah hakim adil
untuk diri kita sendiri.
Hati nurani adalah sendi
dari kesadaran
akan kemerdekaan pribadi.

Dengan puisi ini aku bersaksi
bahwa hati nurani itu meski dibakar
tidak bisa menjadi abu.
Hati nurani senantiasa bersemi
meski sudah ditebang putus di batang.
Begitulah fitrah manusia
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.


Candi Cetho
31 Desember 1999
"Puisi: Kesaksian Akhir Abad (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Kesaksian Akhir Abad
Karya: W.S. Rendra
Kelelawar
Silau oleh sinar lampu lalulintas
Aku menunduk memandang sepatuku.
Aku gentayangan bagai kelelawar.
Tidak gembira, tidak sedih.
Terapung dalam waktu.
Ma, aku melihatmu di setiap ujung jalan.
Sungguh tidak menyangka
Begitu penuh kamu mengisi buku alamat batinku.
Sekarang aku kembali berjalan.

Apakah aku akan menelefon teman?
Apakah aku akan makan udang gapit di restoran?
Aku sebel terhadap cendikiawan yang menolak menjadi saksi.
Masalah sosial dipoles gincu menjadi fizika.
Sikap jiwa dianggap maya dibanding mobil berlapis baja.
Hanya kamu yang enak diajak bicara.

Kakiku melangkah melewati sampah-sampah.

Akan menulis sajak-sajak lagi.
Rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja.
Ke sini, Ma, masuklah ke dalam saku bajuku.
Daya hidup menjadi kamu, menjadi harapan.

"Puisi: Kelelawar (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Kelelawar
Karya: W.S. Rendra
Seporsi Cinta
(Diilhami oleh kekasih yang lapar)

Seporsi cinta
tak habis dimakan
berdua, sayang.

Seporsi cinta
bila tak habis dimakan
dibuang sayang.
 
  
1999
"Puisi: Seporsi Cinta (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Seporsi Cinta
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sajak Cinta

Cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta Romeo kepada Juliet, si Majnun Qais kepada Laila
belum apa-apa
temu-pisah kita lebih bermakna
dibanding temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu dendam Adam Hawa

Aku adalah ombak samuderamu
yang lari-datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu.

Aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir sampai badai anginmu.

Aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu.

Aku adalah titik-titik hurufmu
huruf-huruf katamu
kata-kata maknamu.

Aku adalah sinar silau panas
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu.

Aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu
aku adalah a-k-u
k-a-u
mu.
 
  
Rembang,
30/9/1995
"Puisi: Sajak Cinta (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Sajak Cinta
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Mula-mula


Mula-mula mereka beri aku nama
Lalu dengan nama itu
Mereka belenggu tangan dan kakiku.
 
  
1987
"Puisi: Mula-mula (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Mula-mula
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Dendam
Perhitungan-perhitungan yang salah
menyayat hatiku luka parah.

'Ku hela nafas dalam-dalam
rinduku tambah dalam membenam.

Jalan berliku, ujungnya menanjak
hatiku sendu, hasratku ditolak.

Bertahan atas kelabu, luka kian meruyak
pada kertas 'ku suratkan dendam yang bergejolak.
  
1958
"Puisi: Dendam (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Dendam
Karya: Aldian Aripin
Malam

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
- Thermopylae? -
- jagal tidak dikenal? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang.

1945
"Puisi: Malam (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Malam
Karya: Chairil Anwar