Februari 1999
Nikah Danau

Dari mata air itu kubasuh cermin di wajahmu.
kulihat wajah entah siapa: dan aku pangling gambar
sendiri. waktu cuaca terbentang bagai layar
yang terkoyak-koyak. telah kau hitung, berapa
panjang usia.

Mata air itu menciptakan danau. makin sulit kukenal
gambar-gambar asing. kerbau dan segala ternak berdebur.
melupakan matahari. melupakan kemarau yang
mengintip
ilalang kerontang di padang.

Pada buku harian aku mencatat: para petani
memeras keringat dan airmata. dengan sekujur
ibadahnya.

"Puisi: Nikah Danau (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nikah Danau
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Kematian Kepompong

Engkau ikut dalam arak-arakan itu. menuju
rumah cinta yang tak berpintu. aku yang mengusung
dan kita gali liang buat diri sendiri. doa-doa lupa
dibacakan: tiba-tiba terucapkan amin yang
berkepanjangan.

Engkau melayat: tubuhmu sendiri, tersesat, saat
bertapa. tetapi pesta memang teramat sederhana.

kita berdua minggir ke sudut-sudut, dan bercakap
entah apa. tiba-tiba kita bercinta. bersetubuh
dengan kekosongan, alangkah sia-sia. kubelit
nafasmu dengan juntaian rambut dari ludahku.
tetapi kita bercinta: melengkapkan kenikmatan
senggama. sebelum musim berziarah keburu tiba.

kita berdua minggir. sampai tepi yang paling tepi.
dan engkau tersesat saat bertapa. tiba-tiba. tapi,
sungguh, kita sempat bercinta: dalam temparatur yang gila!

1991
"Puisi: Kematian Kepompong (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Kematian Kepompong
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sajak Duka Perempuan Tua

Duka-duka hari ini duka perempuan tua
yang melekat jadi kemelut di sudut-sudut mata keriput
dan menguap bersama sebutir peluh dan sepotong harap
tentang warna yang lain
dari lembar-lembar mimpi perempuan tua
yang berjalan dari kota ke lain kota
mencari bayang remaja yang tak mungkin
kembali dalam rona merah jingga
sementara matahari semakin memijar di langit lepas
memijar di ubun-ubun berkerut keras
namun perempuan tua masih mencoba bicara
tentang masa lalu, nostalgia, dan seguci madu
oi, sambutlah tanganku yang ramping wahai penggemarku
di sini aku kan perankan lakon drama paling cantik
tentang segala kisah anak manusia
cinta kasih maupun durhaka
bibir perempuan tua pucat kehitaman
bagai sesayat buah bergetah dan alum
memekik menghantar nafas tak pernah puas
semanjak satu mahkota pernah bertengger di kepala
sebagai Primadona
tapi siapa mendengarnya
hari ini terlalu banyak bencana
yang menyita segenap rasa
dari pada sepotong drama perempuan tua.

Jakarta, 1978
"Puisi: Sajak Duka Perempuan Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Duka Perempuan Tua
Karya: Diah Hadaning
Ilusi Februari

Ilusi yang hanyut kala air menggenang kota
lalu mengendap bersama duka-duka
tentang mimpi hadirnya matahari
di situ pun sempat jatuh dan diam
butir-butir nostalgia itu
yang biru, yang kelabu, sampai pun merah jambu
keluh perempuan-perempuan yang menyeberang itu pun 
yang berdesah dan baur dalam galau kota
tak juga bisa menghapusnya
ilusi Februari
dan manakala air surut membuatnya mengeriput
katakan apa mesti frustasi
atau menertawakan diri sendiri.

Jakarta, 1979
"Puisi: Ilusi Februari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ilusi Februari
Karya: Diah Hadaning
Mimpi Rahayat Sebuah Kampung

Desah-desah angin antara dua gunung
menidurkan para lelaki tanpa padi di lumbungnya
melelapkan para perempuan tanpa kebaya
dan janur-janur pun sepi dari pura

Sesaat lupalah mereka
pada gersangnya musim kali ini
mimpi tentang negeri wangi bermatahari
tanpa dosa tanpa durhaka
dilulur mantera-mantera:
hong wilaheng
santunlah sejahtera di kaki Dewa Dewa
hong wilaheng
santunlah eka prasetya panca karsa di sumping Bathara.

Jakarta, 1980
"Puisi: Mimpi Rahayat Sebuah Kampung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mimpi Rahayat Sebuah Kampung
Karya: Diah Hadaning
Balada Lelaki dari Tanah Laut

Angin dan bulan
bulan dan angin
kota Tanah Laut
menimpan gemerisik
2000 batang pohon cengkeh
milik lelaki tua
transmigran Jawa
dia kaya tapi sederhana
dia sederhana tapi kaya
dia kaya sederhana
batu lahan telah menjadi tulang-tulangnya
bulan lahan telah menjadi tembang-tembangnya
angin - batu - bulan
kota Tanah Laut
liat terpaut
menyatu pada setiap kerut.

1981
"Puisi: Balada Lelaki dari Tanah Laut (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Lelaki dari Tanah Laut
Karya: Diah Hadaning
Sebuah Iring-Iringan

Perjalanan panjang di celah-celah gunung
memikul keranda hari kemarin
di pucuk langit matahari
biarkan iringan lalu dalam sengatan
tak ada nyanyian lagi, Sarinah, Atun, Umi
tak ada celoteh santri-santri kecil langgar tua
di pucuk hari harapan
biarkan nurani berdialog sendiri
sementara siang membakar cakrawala
hari ini awal penyiksaan kehidupan panjang

Lalu henti di satu ufuk
mana itu tiada orang tahu
timur barat utara selatan
tiada beda dalam rasa
Tuhan mungkin di puncak cakrawala
mungkin di bentang samudra menjaring angin
nabur-nabur rizki pada anak cucu Hawa
lalu keranda makin berat-berat jua
cecep, Udin, Wayan
hari kemarin, hari ini, hari esok
menyatu dalam usungan terbungkuk
menggumpal dalam empedu tanah airku.

Jakarta
Juni, 1984
"Puisi: Sebuah Iring-Iringan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sebuah Iring-Iringan
Karya: Diah Hadaning
Di Antara Warna-warna

Aku telah menyadarinya
cukup lama sejak perjalanan pertama 
Kau beri warna-warna
Kau beri suara-suara
langkah memberi buah
hasrat memberi darah
lalu perjalanan panjang
di antara pertempuran-pertempuran
warna-warna-Mu tak pernah pudar
suara-suara-Mu tak pernah tawar
langkah terus menuju padang
orang-orang mencari, mendapat dan kehilangan
rahim perempuan alim berbuah sepanjang zaman
teknologi telah menjadi kembang plastik
hadir tanpa ruh
sambil mengayun pedang pembunuh
mimpi perempuanku telah melepuh
tapi siapa mau henti berkayuh
sementara Kau masih setia memberi warna.

Jakarta
September, 1990
"Puisi: Di Antara Warna-warna (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Antara Warna-warna
Karya: Diah Hadaning
Perempuan yang Berjalan di Arus Zaman

Aku berjalan meniti windu
memunguti luka para saudaraku
luka abadi dari era waktu
yang membusuk oleh racun
berhembus dari mulut manusia hilang cinta
mozaik luka kutata jadi apa saja
bagimu ia pertanda-pertanda
baur dalam lagu fals dan air dalam gelas
pemusik arif mengambilnya
memberi warna dan nada.

Anak-anak datanglah sebelum masa dewasa
memenjaramu dengan berbagai macam aturan dunia
pagi ini hati bocah sahabat dunia ramah
terjemahkan dengan terang
banyak lagu yang muncul dari liang kehidupan
karena orang-orang bijak kini banyak hilang kebijakan.

Aku berjalan meniti windu
menyapa anak-anak berhati bunga
tempat harapan dan mimpi masih semayam
tempat fajar dan senja masih berwarna
di mana mencium luka masih memungkinkannya
memberangus cinta masih diharamkannya
sampai arus zaman membuatnya dewasa.

Jakarta
September, 1990
"Puisi: Perempuan yang Berjalan di Arus Zaman (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perempuan yang Berjalan di Arus Zaman
Karya: Diah Hadaning
Pesan Seorang Veteran
Ketika Menjelang Ajal kepada Anak Lelakinya

Senapan lama sudah disandarkan
pinggir hutan dan ceruk lembah telah jadi sejarah
sahabat-sahabat mati muda
dengan nyanyian belati di hati
semua tak sempat kucatat
aku tak pernah berhenti perang oleh dendam berkarat
berdoalah untukku sewajarnya manakala
jiwaku telah melintasi pohon trembesi
tak perlu menyesali kepapaan hanya yang
sempat kuberikan
tak perlu mencoba mengurus belas kasihan
jalannya terlalu panjang
lebih panjang dari sejarah perjuangan
bapamu dan para sahabat
kau tak bisa bicara dekat dengan aparat
karna jiwamu burung yang merat
lebih baik kau jadi lelaki sederhana
bersahabat dengan wong suci
rembulan dan matahari.

1993
"Puisi: Pesan Seorang Veteran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pesan Seorang Veteran
Karya: Diah Hadaning
Salam Pagi dari Semenanjung Muria
(Catatan duka bagi tanah kelahiranku)

Rahimnya yang wangi dan menghijau
lahirkan aku dan saudara-saudaraku
kami tumbuh dewasa
telah mengerti duka dunia
telah mengerti makna merdeka
sambil mensyukuri karunia-Nya
menyusu dari sungai-sungai kecilnya
dari hampar kebun tebunya
dari harum kopi dan parijatha
mentari menyiram luas pantai utara
menyiram ladang dan kebun kelaapa
menyiram hari-hari sederhana
angin dari gunung dan laut menyatu
dari aromanya udara berbeda
dari geraknya jiwa berfatwa
tapi isu peradaban baru
selalu mencari dan meniru
kucemari hari ke hari
di tabir pagi kubayangkan
terejam rahim hijau ibu bumiku
tercemar biru dahi bapa angkasaku
tersayat semenanjungku
luka karat menggeliat.

Bogor, 1994
"Puisi: Salam Pagi dari Semenanjung Muria (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Salam Pagi dari Semenanjung Muria
Karya: Diah Hadaning
Sajak Bandung

I
Sebuah ruang dalam ruang
seruas waktu dalam waktu
serumpun kenang dalam kenang
semburat pada wajah-wajah
tanpa simpan lelah
yang kita tak perlu tahu namanya
selain menandai
detak-detak jantungnya.

II
Adalah:
hiruk pikuk terminal kebon kelapa
hasrat kandas di cihampelas
tegur sapa kampus mahasiswa
ide-ide di kepala.

Dan:
langkah-langkah bergegas
di jalanan di angan-angan
ketika semua merasa berguru
ketika semua merasa berburu.

Lalu:
sejalur evaluasi
tercecar di serambi
ketika kutinggalkan hari
tatap mata tanpa dosa
menyangkut di mega-mega.

Bandung, 1994
"Puisi: Sajak Bandung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Bandung
Karya: Diah Hadaning
Gumam Lelaki Berkafieh

Telah dibakarnya pohon-pohon penuh ulat
telah disapunya padang-padang penuh granat
sejarah panjang mimpi perdamaian
sementara perang sporadis masih sesekali.

Seharusnya tak lagi layar kaca yang bicara
mengabarkan segala tentang kita-alam yang dijanjikan
dengan perempuan-perempuan berahim suci
yang siap melahirkan anak-anak kami
seharusnya semua sudah sempurna
air mata dan darah luka telah terlalu lama
seharusnya hari ini damai sudah di sini.

Bogor, 1994
"Puisi: Gumam Lelaki Berkafieh (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Gumam Lelaki Berkafieh
Karya: Diah Hadaning
Catatan Pagi

I
Jalan setapak
dan rumput basah
selalu sabar
nunggu langkahmu
di antara gerimis pagi
kau tangkah isyarat itu
gerimis terus memanggilmu
dengan bahasanya sendiri
langit simpan mendung
semak simpan perdu dan daun
kau biarkan alam murung
sepi bincang
sepi senyum
Bogor, Oktober 1995

II
siapa melambaimu
dari seberang
di antara gerimis pagi
ada yang hantar pembicaraan
kau dengarlah 
kau simaklah
sebentar lagi kita tiada hutan
katanya sendu
terus berlalu
kau masih tertegun di pintu
sementara gemuruh mesin
mulai mengoyak pagi
mulai mendera hati.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Catatan Pagi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Pagi
Karya: Diah Hadaning
Errata Sebuah Malam

Anak-anak tumbuh di antara semak malam
diramaikan cahaya bertebaran pada mata
dinihari suara-suara terus mencuri hening
anak-anak berubah jadi boneka dungu
tiba-tiba malam hilang bentuk.

Bulan hilang warna
bintang hilang cahaya
angin hilang desir.

Malam-malam tumbuh di antara kutuk zaman
diramaikan doa bertebaran tanpa makna
udara bertuba para demagog racuni amicitia
orang-orang berubah jadi ganggang
tiba-tiba
kuda cari ringkiknya
malam cari kidungnya
keris cari lekuknya
hasrat cari bangkitnya.

Errata sebuah malam
ubah mimpi peradaban
saat terjaga kita ada di pelataran
tubuh berlumut urat bersemut
errata sebuah malam.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Errata Sebuah Malam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Errata Sebuah Malam
Karya: Diah Hadaning
Ekspresi Ladang Garam
Bagi D. Zawawi Imron

Siapa menghitung denting beliung
menggali-gali jantung Madura
manakala kata-kata hilang mahkota
dan Nipah ibarat perempuan terjarah
engkaukah menghitung desir celurit
manakala ilalang tak henti menusuki bulan
hidup penuh gempa
hidup jadi rumah roboh
hidup sihir kopi bergula darah
dan garam menggunung meleleh mencair
mengubur sepotong hari kian anyir
tak ada kelana menari tetembangan
tak ada gemerincing gelang di kaki perawan
ketika Nipah mengaduh
ketika Nipah menghantar jelaga hati
ketika Nipah lukamu lukaku.

Bogor, 1996
"Puisi: Ekspresi Ladang Garam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ekspresi Ladang Garam
Karya: Diah Hadaning
Di Antara Pilar Jakarta

Siapa berkejaran
di antara bayang jembatan
sambil mengejek kota
tak lagi ramah pada manusia.

Siapa menembang
di antara galau pasar malam
sembari meneriaki rembulan
tak lagi bening menawan.

Siapa nyalakan unggun
di antara puing sisa kebakaran
sementara doa mengapung
di arusnya Ciliwung.

Siapa memanggili namaku
di antara angina dan debu
sementara kata-kata 'nuju muara
Jakarta gemetar di antara pilar.

Kaukah itu kaukah itu
saudaraku yang tersesat di arus
perubahan gerak waktu
kaukah itu kaukah itu.

Jakarta
Mei, 1997
"Puisi: Di Antara Pilar Jakarta (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Antara Pilar Jakarta
Karya: Diah Hadaning
Anak-Anak Kota Raya

Anak-Anak Kota Raya
telah kehilangan orang tua
yang melekat di kursi-kursi
terjerat jarring emas laba-laba
anak-anak lari dari diri sendiri
terbang ke bintang-bintang
pilih jadi anak rasi.

Anak-Anak Kota Raya
tak pernah punya sahabat sejati
kasih sayang telah lama berimigrasi
dari ruang nurani ke ruang duniawi
jika sesekali pulang dkembali
mengendap-endap di malam sunyi
mereka hanya mencari kembang
aromanya membuat langkah tenang
aromanya membuat hari terang.

Anak-Anak Kota Raya
tak kenali lagi orang tua
manusia-manusia alumunium
penghuni abad millennium
hidup mati menjadi angka
hari umur dan musim
juga angka
cinta telah lama jadi sejarah.

Mei, 1998
"Puisi: Anak-Anak Kota Raya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Anak-Anak Kota Raya
Karya: Diah Hadaning
Desember Hari ke-4

Langkah-langkah terhentilah
Harmoni bersaksilah
orang-orang jiwa kesumba bicara
nafas menyatu dalam angin
suara menyatu dalam udara 
tekad menyatu dalam jiwa.

Langkah selalu kembali
menuju titik arah
arus sungai Ciliwung pun
menuju ke muara selalu
satunya bahasa alam
satunya bahasa jiwa.

Harmoni simpan getar hari ini
Desember muram
mengental dalam seru dalam gumam
siapa mencari genggam
di antara tameng-tameng
siapa mencari salam
di antara senapan
meski di Harmoni tak lagi
keris melati tembang Leo Kristi
selain gelora jiwa dalam orasi.

Desember, 1998
"Puisi: Desember Hari ke-4 (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Desember Hari ke-4
Karya: Diah Hadaning
Abstraksi Bunderan HI

Orang-orang berbincang
kesadaran dibangkitkan
dari satu kehilangan
teramat panjang
waktu melupakan
orang-orang saling pandang
mencari miliknya
yang hilang
kami bukan yang terasing
serunya berdesing.

Di plaza merah
penari-penari gunung panas
menarikan zaman
yang kian beringas
ada yang sedang dikemas
dari kertas-kertas
meski tak pernah tuntas
dengar suara perempuan dusun
sesaat menjadi anggun
perempuan nusantara.

Maret, 1999
"Puisi: Abstraksi Bunderan HI (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Bunderan HI
Karya: Diah Hadaning
Catatan Nopember 1999

Daun mahomi berguguran di trotoar
angin menerpa pagar
hiruk-pikuk di kota-kota
menghela waktu
impian para urban
yang selalu ditinggalkan jaman.

Menyimak ragam pengkhianatan
yang akhirnya jadi catatan
aku pejalan hitung jejak sendiri
dalam kabut misteri
kalabendu tebar api
kalabendu koyak negri.

Masih aku 'nembang tiap petang
'manggil ruh kalasuba
jangan biarkan bunga mengering
di celah batu
tempat sandar bayangku
tempat gigil panggilku.

Bogor
November, 1999
"Puisi: Catatan Nopember 1999 (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Nopember 1999
Karya: Diah Hadaning
Kepada Bung Karno Bunga Sejarah

Bung Karno
dalam getar udara terbakar api berhala
dalam debut ombak samudra
dalam desir nadi anak negeri ya Bapa
kami tangkap isyarat semesta Aku-mu
kami tangkap pesan gaibmu.

Bung Karno
guntur dalam suaramu yang suara Bima
gerak dalam juangmu yang gerak Hanoman
karisma dalam sosokmu yang karisma Krishna
adalah karunia sejarah
daya hidup bagi anak bangsa kenyang derita.

Bung Karno
di antara barisan panjang
mengiring siang lewati depan istana
masih setia para cucu Marhaen
masih setia anak-anak Ki Suto Kluthuk
angkat bendera warna sakti
dan kepal tangan ke udara
adalah kami yang selalu seru namamu.

Bung Karno, kami ada Bung!
Bung Karno, kami tak 'henti Bung!
Zaman telah berubah
mekar kembali bunga sejarah.

Bogor, 2000
"Puisi: Kepada Bung Karno Bunga Sejarah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kepada Bung Karno Bunga Sejarah
Karya: Diah Hadaning
Pesan dari Kota

I
Orang-orang menembang
di aula siang itu
lirik lagunya sajak-sajakmu
ada bocah lelap dalam dekap ibunya
ia bernama Fajar Merah
tumbuh subur setiap musim
ia ilalang tanah terbakar
semi menghitung batu jajar
dalam mimpi siangnya
ia melihat kau datang
bawa segala yang ingin dimilikinya
sepatu, buku dan biola.

Kau dengarkah
pesannya dalam mimpi siang
di antara desir nafasnya
: berapa musim menanti lagi.

II
Dua perempuan ibu dan anak
berpeluk dan bernyanyi
liriknya tentu kau mengerti
ada kata diulang-diulang
mata mulai buram
lagu masih diteruskan
menyimpan panggilan panjang
di luar, mengalir galau Jakarta
dibawa anginnya tinggalkan asap
dan kerinduan dua perempuan
dianyam di lima kota.

Sudah kupesan kau harus berani
dan tabah, kata sang ibu
yang ditegur tunduk tepekur
kirim sedu sedan padamu.

Jakarta, TIM
Juli, 2000
"Puisi: Pesan dari Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pesan dari Kota
Karya: Diah Hadaning
Upacara di Pendapa


I
Telah ditata upacara di pendapa
untuk harapan di pangkuan berbunga
daun kelapa hijau dan ilalang
daun sirih penepis perih
daun mengkudu penepis bendu
air kendi penawar hati.

Mulai terdengar suara malam
para danyang memberi salam
doa dan kidung awali langkah
anak pawang menyapu arah
suara tanah Utara lingkari pendapa
diiring suara siter sentuh Ujungpara
mencari benang merah Nusantara.

II
Menyimak pesan-pesan wingit
menguak ruas-ruas anggit
Sang Ratu Melati Bunga dalam jiwa
berpesan wanti-wanti
Menarilah nini,menarikan kehidupan
Menembanglah nini,menembangkan kehidupan
Berdoalah nini,mendoakan kehidupan
tersentak jiwa menggigil raga
tak ada kata menanti
menyapa rembulan purnama raya
menata nafas menata langkah :
Bapa kuminta kau bersaksi
aku penuhi pesan suci Ibu Sejati
aku jalani laku prihatin malam sunyi

Berbungalah gandasuli dalam jiwa saat purnama
berbuahlah pohon adi dalam doa amanat suci
gandasuli buah adi rembulan matahari
saling menyapa di dalam diri.


Jepara
25 Agustus 2002
"Puisi: Upacara di Pendapa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Upacara di Pendapa
Karya: Diah Hadaning
Kidung Ranu Kumbolo

Kidung Ranu Kumbolo simak wahai:

Telaga itu masih ada
simpan angin dan warna pelangi
dan kisah sang panji
mana-kala mimpi hadir
saat luruh malam
Andika Nampak meraga
periksa suasana
tak lupa beri pertanda
kias elok dalam aksara.

Jadilah kidung, ya kidung
penyembuh jiwa kering alum
jadilah aroma, ya aroma
harum kemuning taman agung
Ranu Kumbolo telaga jiwa.


Bogor, Februari 2004

Catatan:
Ranu = Telaga
Kumbolo = Danau kuno di kawasan Tengger, Jawa Timur
Alum = Layu
"Puisi: Kidung Ranu Kumbolo (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kidung Ranu Kumbolo
Karya: Diah Hadaning
Balada Anak Perempuan Suto Kluthuk

Anak perempuan Suta Kluthuk
anak musim yang tak minta dilahirkan
saat malam mengapung
dalam suara hantu wajah burung
pisau bambu kunyit empu
sayat plasenta ari-ari ya saudaranya
tangisnya menderu
keluh ibu tenggelam di pepau
dia anak zaman kembara jiwa
pembawa amanat penunggu gunung Utara.

Anak perempuan Suta Kluthuk
lama simpan luka dendam derita perang
timang ibu tak obati jiwa lapar
ibu bicara sendiri dengan bahasa tak dimengerti
genduk buatlah horizon runduk
dari suntingan priyayi berkuluk
ia meronta sembunyi di hutan obsesi
cintanya panduan tembang dan tari
siang malam digubahnya geguritan
angina utranya nafasku
air utara ya darahku
tanah utara ya dagingku
batu utara ya tulangku
bumi dan langit ibu bapakku 
jangan coba membunuhku
kutuk pada ujung lidahku.

Bogor
November, 1996
"Puisi: Balada Anak Perempuan Suto Kluthuk (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Anak Perempuan Suto Kluthuk
Karya: Diah Hadaning
Losari Tengah Malam
Dengan Putera-puteri Arsal

Malam begini dingin pun diantar kecipak selat
Langit yang putih oleh keramahan
Masih juga dipertahankan bulan
Untuk menangkap kata-kata
Yang berkecimpung bersama ikan-ikan
Zaman memang telah bertukar
Yang dulu peluru
Sekarang pisang panggang, O, sejarah!
Kubiarkan diriku hanyut
Ke laut lain tempat bintang-bintang berlayar
Kami ingin bercakap sampai parau
Bukan karena risau
Pada sang waktu yang bagaikan lautan tenang 
Kami harus menyalakan gelombang.

"Puisi: Losari Tengah Malam (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Losari Tengah Malam
Karya: D. Zawawi Imron
Semerbak Mayang

Saat kau datang dalam hatiku
bumi berbisik selembut lagu,

di pangkuanku sejalur jalan
ke puncak gunung biru
restuku semerbak mayang
bila engkau dan dia
mau datang ke sana.

Kucintai engkau
gadis manis sedap garam
lantaran engkau
kasur busa yang lembut lunak
tempat jiwaku tertidur nyenyak
engkau tanah yang paling baik buat 'ku bajak
tempatku menampung benih-benih anak

Aduhai, aduhai!
restuku semerbak mayang.

Bermimpilah!
Tentang anakku tentang anakmu
anak kita berdua
ketika kau pangku dia
aku menciumnya
aduhai!

Wajahmu yang menyimpan milikku
kasih keibuanmu yang biru
memanggilku selalu,

teruskan, teruskan
restuku semerbak mayang.

1966
"Puisi: Semerbak Mayang (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Semerbak Mayang
Karya: D. Zawawi Imron
Sebuah Syal
Pada syal yang baru kubeli
kutitipkan leherku
Bayangkan, kalau tiba-tiba
syal itu menjelma ular
Ah, musim dingin! Musim yang dingin,
Bukan sekadar rindu di hati pohon poplar
Pada ujung jarum yang bisik
tersimpan segumpal gelegar.

"Puisi: Sebuah Syal (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Sebuah Syal
Karya: D. Zawawi Imron
Buat Album D.S.

Seorang gadis lagi menyanyi
Lagu derita di pantai yang jauh,
Kelasi bersendiri di laut biru, dari
Mereka yang sudah lupa bersuka.

Suaranya pergi terus meninggi,
Kami yang mendengar melihat senja
Mencium belai si gadis dari pipi
Dan gaun putihnya sebagian dari mimpi.

Kami rasa bahagia tentu ‘kan tiba,
Kelasi mendapat dekapan di pelabuhan
Dan di negeri kelabu yang berhiba
Penduduknya bersinar lagi, dapat tujuan.

Lagu merdu! apa mengertikah adikku kecil
yang menangis mengiris hati
Bahwa pelarian akan terus tinggal terpencil,
Juga di negeri jauh itu surya tidak kembali?

1946
"Puisi: Buat Album D.S. (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Buat Album D.S.
Karya: Chairil Anwar
Senyum Hatiku, Senyum
Senyum hatiku, senyum
gelak hatiku, gelak
dukamu tuan, aduhai kulum
walaupun hatimu, rasakan retak.

Benar mawar kembang
melur mengirai kelopak
anak dara duduk berdendang
tetapi engkau, aduhai fakir, dikenang orang
sekalipun tidak.

Kuketahui, terkukursulang menyulang
murai berkicau melagukan cinta
tetapi engkau aduhai dagang
umpamakan pungguk merayukan purnama.

Sungguh matahari dirangkum segara
purnama raya di lingkung bintang
tetapi engkau, aduhai kelana
siapa mengusap hatimu bimbang?

Diam hatiku, diam
cubakan ria, hatiku ria
sedih tuan, cubalah pendam
umpama disekam, api menyala.

Mengapakah rama-rama boleh bersenda
alun boleh mencium pantai
tetapi beta makhluk utama
duka dan cinta menjadi selampai?

Senyap, hatiku senyap
adakah boleh engkau merana
sudahlah ini nasib yang tetap
engkau terima di pangkuan bonda.

"Puisi: Senyum Hatiku, Senyum (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Senyum Hatiku, Senyum
Karya: Amir Hamzah
Di dalam Kelam
Kembali lagi marak-semarak
jilat melonjak api penyuci
dalam hatiku tumbuh jahanam
terbuka neraka di lapangan swarga.

Api melambai melengkung lurus
merunta ria melidah belah
menghangus debu mengitam belam
buah tenaga bunga suwarga.

Hati firdausi segera sentosa
Murtad merentak melaut topan
Naik kabut mengarang awan
menghalang cuaca nokta utama.

Berjalan aku di dalam kelam
terus lurus moal berhenti
jantung dilebur dalam jahanam
kerongkong hangus kering peteri.

Meminta aku kekasihku sayang;
turunkan hujan embun rahmatmu
biar padam api membelam
semoga pulih pokok percayaku.


"Puisi: Di dalam Kelam (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Di dalam Kelam
Karya: Amir Hamzah
Astana Rela
Tiada bersua dalam dunia
tiada mengapa hatiku sayang
tiada dunia tempat selama
layangkan angan meninggi awan.

Jangan percaya hembusan cedera
berkata tiada hanya dunia
tilikkan tajam mata kepala
sungkumkan sujud hati sanubari.

Mula segala tiada ada
pertengahan masa kita bersua
ketika tiga bercerai ramai
di waktu tertentu berpandang terang.

Kalau kekasihmu hasratkan dikau
restu sempana memangku daku
tiba masa kita berdua
berkaca bahagia di air mengalir.

Bersama kita mematah buah
sempana kerja di muka dunia
bunga cerca melayu lipu
hanya bahagia tersenyum harum.

Di situ baru kita berdua
sama merasa, sama membaca
tulisan cuaca rangkaian mutiara
di mahkota gapura astana rela.

"Puisi: Astana Rela (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Astana Rela
Karya: Amir Hamzah
Jaka dan gadis


Jaka menunggu di pintu
Gadis Cuma lalu

Jaka selalu rindu
Dan gadis bukannya tak tahu

Jaka hitung jerajak
Sang gadis enggan diajak

Jaka melupakan khayal-khayal begini
Gadis pura-pura merindukan mati

Jaka kini berhati pilu
Pada gadis yang tak mau tahu
 
   
"Puisi: Jaka dan gadis (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Jaka dan gadis
Karya: Ajip Rosidi
Ilalang Bergelombang


Ilalang bergelombang dihembus angin tenggara
Ilalang bergelombang ditingkah suara serangga
Ilalang bergelombang di bawah terik matahari
Ilalang bergelombang, bergelombang tak henti, di dalam hati.
 
   
"Puisi: Ilalang Bergelombang (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Ilalang Bergelombang
Karya: Ajip Rosidi
Pada Suatu Saat di Dunia
mengikuti sebuah sajak R.M. Rilke


Di suatu tempat, entah di mana, di dunia
seseorang menunggumu, berdoa
seperti doa yang biasa kau ucapkan sehabis salat.

Pada suatu saat, entah 'pabila, di dunia
seseorang merindukanmu, berjaga-jaga
seperti malam-malammu yang berlalu sangat lambat.

Seseorang menunggu, merindu, berjaga dan berdoa
di suatu tempat, pada setiap saat
seperti engkau, selalu.
  
1972
"Puisi: Pada Suatu Saat di Dunia (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Pada Suatu Saat di Dunia
Karya: Ajip Rosidi
Tanah Sunda

Kemana pun berjalan, terpandang
daerah ramah di sana
Kemana pun ngembara, kujumpa
manusia hati terbuka
mesra menerima.
'Pabila pun berseru menggetar nyanyi
suara rindu bersenandung duka
'Pabila pun bertemu, menggetar hati
sawang lepas terhampar luas
dunia hijau muda.
Riak sungai pagi-pagi
Angin keras menyibak rambut di dahi
Dan kulihat tanah penuh darah
tubuh beku terbaring kuyu
berseru pun sia-sia.
Ah, di mana pun 'kau bukakan rangkuman
'ku kan menetap di sana
Kapan pun kau lambaikan tangan
'ku kan datang
menekankan jantung ke tanah hitam.
 
  
1956
"Puisi: Tanah Sunda (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Tanah Sunda
Karya: Ajip Rosidi
Tamu Malam


I
Jingga membayang
Dan langit lembayung
Tenteram dan lengang
Seluruh kampung.

Kian gelap dan sunyi
Bintang-bintang bekerdipan sama sendiri
Nafas malam berat dan sesak
Menekan dada, menindih pundak.

Angin semilir, lidah api
Pelita meliuk ngeri
Terbekam seluruh udara
Oleh ketakutan mati.

II
Sebelum terhanyut dalam mimpi
Sebelum terlayap dalam tidur
Selagi masih diamuk bimbang
Hati yang selalu sangsi
Tersadar oleh derap yang berat
Gegap dan mendekat.

Sebelum hanyut hati dalam mimpi
Sebelum hanyut hati ...
Terjaga dari takut-ketakutan
Oleh bayangan bencana
Kan tiba.

III
Lihat! Betapa terang malam
Seluruh kampung benderang
Karena kobaran api
Menjulang atap
Seperti Banaspati
Menelan rumah.

Dengar! Betapa pikuk suara
Tangis perempuan dan bayi
Teriakan dan ratapan
Antara hardik dan maki.

Dengar! Letusan-letusan menuli kuping
Dan teriak putus asa
Meratapi Tuhan dan suami
Menangisi anak dan rumah
Karena renggutan
Tangan jahanam.

IV
Cepat! Hindarkan diri
Dari mati dan api
Cepat! Tinggalkan pesta
Atas hasil kerja selama ini.

Lari! Lari turuni bukit
Lari! Seberangi jurang.

Dan tegalan penuh duri
Selamatkan jiwa, peras nafas
Laporan ke markas!

Terus! Terus lari
Meski enam pal lagi
Terus! Terus lari
Meski habis nafas.

Lari! Agar desa tertolong
Dan para manusia tak berhati
Kan ditumpas.

V
Terngah-ngah, lesu-lelah
Menghadap komandan jaga
Yang memandang bertanya
"Habis, habis ...
Tandas kampung
Ditelan api..."

"Berapa yang datang semuanya?
Berapa mereka bawa senjata?
Jam berapa mereka tiba?"

Terngah-ngah, lesu-lelah
Mana sempat menghitung menelaah
Karena mesti menyelamatkan nyawa.

"Mesti cepat sekarang juga
Bayar dendamku biar punah
Hajar dan kejar
Agar tentram desa"

"Tak bisa, karena jauh terlalu
Sedang truk tak ada..."

Terngah-ngah, lesu-lelah
Hapus-lampus segala harap
Karena truk tak sedia.

Terngah-ngah, lesu-lelah
Namun sia-sia kepercayaan
Terbakar sebuah desa.

Terngah-ngah, lesu dan lelah
Namun pengejaran besok saja
Siang benderang sinar mentari.
 
  
1958
"Puisi: Tamu Malam (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Tamu Malam
Karya: Ajip Rosidi