Perempuan yang Berjalan di Arus Zaman

Aku berjalan meniti windu
memunguti luka para saudaraku
luka abadi dari era waktu
yang membusuk oleh racun
berhembus dari mulut manusia hilang cinta
mozaik luka kutata jadi apa saja
bagimu ia pertanda-pertanda
baur dalam lagu fals dan air dalam gelas
pemusik arif mengambilnya
memberi warna dan nada.

Anak-anak datanglah sebelum masa dewasa
memenjaramu dengan berbagai macam aturan dunia
pagi ini hati bocah sahabat dunia ramah
terjemahkan dengan terang
banyak lagu yang muncul dari liang kehidupan
karena orang-orang bijak kini banyak hilang kebijakan.

Aku berjalan meniti windu
menyapa anak-anak berhati bunga
tempat harapan dan mimpi masih semayam
tempat fajar dan senja masih berwarna
di mana mencium luka masih memungkinkannya
memberangus cinta masih diharamkannya
sampai arus zaman membuatnya dewasa.

Jakarta
September, 1990
"Puisi: Perempuan yang Berjalan di Arus Zaman (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perempuan yang Berjalan di Arus Zaman
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top