Maret 1999
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Berhenti di Sini

Ketika berhenti di sini ia mengerti
ada yang telah musnah. Beberapa patah kata
yang segera dijemput angin
begitu diucapkan, dan tak sampai ke siapa pun.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Ketika Berhenti di Sini
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jarak

Dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit: kosong sepi ...

1968
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Jarak
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebelum Fajar

Beberapa saat sebelum fajar,
sambil buru-buru menyalakan api,
kita suka membayangkan hari ini
dengan dua atau tiga patah kata
yang tak pernah terucapkan.

Sementara anak-anak masih lelap tidur -
di mata mereka yang tertutup
dua atau tiga patah kata itu
bersitahan sabar
menunggu matahari, bukan api.

"Puisi: Sebelum Fajar (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sebelum Fajar
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Percakapan

Lalu ke mana lagi percakapan kita (desah jam
menggigilkan ruangan, kata-kata yang sudah
dikosongkan. Semakin hijau pohonan di luar
sehabis hujan semalaman; semakin merah

bunga-bunga ros di bawah jendela; dan kabut,
dan kabut yang selalu membuat kita lupa)
sehabis hujan, sewaktu masing-masing mencoba
mengingat-ingat nama, jam semakin putih tik-toknya.

"Puisi: Percakapan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Percakapan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa

O, Kekasihku, turunkan cintamu memeluk daku.
Sudah bertahun aku menanti, sudah bertahun aku mencari.
O, Kekasihku, turunkan rahmatmu ke dalam taman hatiku.
Bunga kupelihara dalam musim berganti, bunga kupelihara dengan cinta berahi.
O, Kekasihku, buat jiwaku bersinar-sinar!
O, Keindahan, jiwaku rindu siang dan malam, hendak memandang cantik parasmu.
Datanglah tuan dari belakang pegunungan dalam ribaan pagi tersenyum.
O, beri daku tenaga, supaya aku bisa bersama tuan melayang
sebagai garuda menuju kebiruan langit nilakandi.

"Puisi: Doa (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Doa
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bercukur sebelum Tidur

Bercukur sebelum tidur,
membilang hari-hari yang hancur,
membuang mimpi-mimpi yang gugur,
memangkas semua yang ranggas dan uzur,
semoga segala rambut segala jembut
bisa lebih rimbun dan subur.
Lalu datang musim
dalam curah angin
menumpahkan air ke seluruh daratan,
ke gunung-gunung murung
dan lembah-lembah lelah
di seantero badan.
Jantungku meluap, penuh.
Sungai menggelontor, hujan menggerejai
di sektor-sektor irigasi di agrodarahku.
Malam penuh traktor, petani mencangku
di hektar-hektar dagingku.
Tubuhku hutan yang dikemas
menjadi kawasan mega industri
di mana segala cemas segala resah
diolah di sentra-sentra produksi.
Tubuhku ibu kota kesunyian yang diburu investor
dari berbagai penjuru.
Tubuhku daerah lama yang ditemukan kembali,
daerah baru yang terberkati.
Lalu tubuhku bukan siapa-siapa lagi.
Tubuhku negeri yang belum diberi nama,
dan kuberi saja nama dengan sebuah ngilu
saat bercukur sebelum tidur.

1999
"Puisi: Bercukur sebelum Tidur (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Bercukur sebelum Tidur
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tamu

Suatu malam roh musafir itu singgah,
hendak menginap di tubuhku.
Tubuh yang sudah beberapa lama terbaring sakit
menggeliat terperanjat.
“Aku tidak siap menerima tamu,” ucapnya lirih.

“Tuan, saya kemalaman,” tamu itu berkata.
“Bolehkah hamba numpang tidur dan istirah sebentar?”
“Tentu saya senang bisa mempersilakan Tuan bermalam
di tubuh hamba,” jawabku. “Tapi maaf, hamba
tak bisa kasih tempat yang nyaman. Tubuh hamba
sedang bobrok dan berantakan.”
“Jangan terlalu meninggikan hamba,” timpalnya.
“Bisa sekedar berbaring saja sudah cukup
membuat bahagia.”

Di tubuh yang sumpek dan temaram
tamu itu merapal doa sepanjang malam.
Doanya mencengkeram meremas-remas jantung
sampai darahku bergolak dan tubuhku tersentak:
“Aku takut mati!”
Tapi doanya tambah deras dan dencar
sampai tubuhku gemetar dan urat-urat darahku bergetar.
Sesudah itu tubuhku hening
hingga tiap denyut darah terdengar nyaring.

Pagi-pagi sekali tamu itu pamitan,
hendak melanjutkan perjalanan.
“Tidur hamba nikmat sekali semalam,” ia berkata.
“Terima kasih,” jawabku. “Saya harap suatu saat
Tuan berkenan singgah lagi di tubuh hamba. Hamba berjanji
akan sediakan tempat yang lapang dan nyaman.”

Lama aku menunggunya. Tapi ia tak kunjung datang.

1999
"Puisi: Tamu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tamu
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Veteran

Sehabis merumput di atas kepalaku, selalu ia tanyakan:
“Mau dicukur rambut yang lain?” “Jangan,” aku katakan,
“nanti tak ada lagi rambut yang saya banggakan.”

Ia seorang veteran, tukang cukur yang intelek dan cekatan,
yang membiarkan rambutnya tumbuh panjang tak beraturan.
“Tukang cukur sejati tak akan memangkas
rambutnya sendiri,” katanya pasti.

Ia sudah bertahun-tahun di sana, di bawah pohon beringin
yang rimbun daunnya, di sebuah sunyi di sudut kotanya.
Ia sangat berpengalaman menangani berbagai macam kepala,
hafal merek dan isinya.
“Hanya di kepala bisa tumbuh berbagai jenis rambut,” katanya,
“sebab memang hanya kepala yang punya otak dan pikiran.”
Sambil membabat rumput liar di kepalaku ia lanjutkan:
“Ada sebuah tempat nun di pusat pergolakan di mana rambut
hanya bisa semrawut. Sebab makhluk yang berdiam di sana
memang tidak punya otak dan pikiran, hanya bisa diperintah
dan melaksanakan tindakan.”

Di meja kerjanya yang antik kulihat album besar berisi koleksi
berbagai model rambut dan kepala.
Ada gambar Yesus yang mulai botak kepalanya.
Ada gambar presiden yang tampak cabul kepalanya.
Ada pula gambar penyair yang kelihatan brutal rambutnya.

Malam itu aku datang lagi hendak menertibkan si kepala,
tapi ia tak ada di tempat tugasnya. “Ke mana tukang cukur saya?”
tanya saya kepada seseorang di situ.
“Katanya pergi sebentar hendak bercukur,” jawab orang
berkepala sederhana itu yang ternyata seorang mata-mata.

Di jalan pulang kulihat tukang cukur itu sedang diangkut
mobil patroli bersama seluruh peralatan kerjanya.
“Selamat malam Veteran,” aku menghormat.
Dan sang veteran tersenyum sambil memiring-miringkan
telunjuk tangannya di atas jidatnya.

1999
"Puisi: Veteran (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Veteran
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Naik Andong Kehujanan

Andong terguncang-guncang di bawah hujan.
Hujan mengguyur, melecut kudaku yang kecapaian.
(Andong: keranda indah yang membawa kita tamasya
keliling kota. Kling klong kling klong)

Andong: kudanya kurus kering tinggal tulang-belulang,
terseok-seok mendaki jalanan licin berkelok-kelok.
"Hoya! Hoya!" teriak kusir
sambil menyebet-nyabetkan pecutnya.

Kusirnya gundul, gendut dan gendeng.
Enak-enak merokok, minum bir, makan apem.
"Hoya! Hoya!" hentaknya garang
sambil dipecutnya kudaku yang kelaparan.

Andong tertatih-tatih di bawah hujan,
membawa sepasang pengantin ke sebuah kondangan.
Kudanya kurus kering tinggal tulang-belulang,
terengah-engah mendaki jalanan gelap dan basah.
"Hoya! Hoya!" teriak penumpang
membentak kusir yang ketiduran.

Penumpangnya pakai topeng, banyak tingkah, pecicilan.
Yang satu mabuk, yang lain kesurupan.
"Nikmatnya juga euy naik andong kehujanan,"
kata penumpang edan sambil enak-enak minum bir,
makan lemper, dan dangdutan.

Andong berhenti di kuburan. Pesta kawinan
sudah disiapkan. Dan sudah ada pertunjukan jaran kepang.
"Selamat datang pengantin," sambut seorang arwah
penjaga gerbang. Kudaku ketakutan. Melesat minggat sendirian.
Kusir dan penumpangnya ditinggalkan.
(Andong: kerenda kosong yang melaju kencang
mencari penumpang. Kling klong kling klong.)

Andong meluncur di bawah hujan. Hujan mengguyur malam,
melecut kudaku yang kesakitan. "Hoya! Hoya!" gertak kudaku
kesetanan, ngebut menembus malam.

1999
"Puisi: Naik Andong Kehujanan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Naik Andong Kehujanan
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Selimut

Selimut telah dilipat.
Dongeng perlu juga tamat.
Cepatlah berangkat
walau nafasmu masih tersengal
tersendat.
Musim panas telah datang
mengepak-ngepakkan sayapnya yang lunglai.

Datang pula gagak
mencabik-cabik sprei
mencari-cari sumber air
di balik bongkahan guling
dan hanya menemukan ular
yang meringkuk melingkar
di bawah bangkai bantal yang terlantar terbengkalai.
Terdengar juga lengking rusa yang terkapar terbantai.

Pemburu liar mondar-mandir mengitari ranjang
mencari suara di balik belukar.
Dan ketika angin berhembus kencang
semak-semak itu pun terbakar.

1999
"Puisi: Selimut (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Selimut
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perburuan

Api unggun masih marak di atas ranjang.
Dua pengelana saling merapat menghangatkan badan.
"Berapa jauh lagikah kita berjalan?"
"Berapa lama lagikah sampai tujuan?"

Langit makin malam. Malam makin mendung.
"Tampaknya kita tersesat." Lidah api menjilat-jilat.
Mereka kemudian memasang tenda, melanjutkan perburuan.
"Sudah kutempuh perjalanan panjang di rimba ranjang
dan hanya gigil yang kudapatkan."
"Sudah kurambah seluruh kilometer tubuhmu
sampai ke gua-guanya yang paling dalam
dan tebing-tebingnya yang paling curam
dan hanya labirin yang kutemukan."

Ketika bangun, tenda sudah rubuh,
unggun sudah padam.
"Kapan hujan turun?"
"Kapan kita pulang?"
Waktu mengkerut di seonggok pakaian.

1999
"Puisi: Perburuan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Perburuan
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perahu
: Y.B.M.

Air danau makin meninggi.
Entah sudah berapa desa tenggelam di sini.

Setelah sembahyang dan menghitung cahaya lampu
di kejauhan, pada tengah malam ia memutuskan pergi
ke seberang. Di sana anak-anak sudah tak sabar menunggu
dan ingin segera mendapat oleh-olehnya: buku tulis, pensil
dan kisah-kisah petualangan yang biasa ia dongengkan
dengan jenaka dan di gedung sekolah darurat yang tentu
tidak tertib kurikulumnya.
“Hati-hati Pak Guru, hujan tampaknya segera turun,”
kata orang-orang kampung yang membantu
mendorong perahunya.
“Tenanglah,” timpalnya sambil tersenyum,
“saya sudah terlatih untuk kalah.”
Meskipun agak gentar sebenarnya, ia meluncur juga
bersama sarung dan capingnya.

Air danau makin meninggi.
Entah sudah berapa rumah tenggelam di sini.

Sebelum sampai di seberang, ia memutuskan mundur
ke tengah. Seluruh kawasan telah dijaga aparat
Dan cukup sulit mendapatkan tempat mendarat.
Sambil menunggu situasi ia tiduran saja di atas perahu
dan, kalau bisa, bermimpi. Menjelang subuh,
perahu mendarat di tujuan. Mereka menyambut girang:
“Pak Guru sudah datang!”
Pak Guru memang sudah datang. Sayang ia tak juga bangun
dan tak akan bangun lagi.
Tapi anak-anak, yang ingin segera mendapat oleh-olehnya,
tak akan mengerti batas antara tidur dan mati.

Beberapa aparat memeriksa tubuhnya yang masih hangat
dan menemukan sesobek surat: “Pak Petugas, tolong sampaikan pensil dan buku tulis ini kepada anak-anakku
yang pintar dan lucu. Saya mungkin tak sempat lagi bertemu.”
Ada di antara mereka yang berkata:
“Kandas juga ia akhirnya.”

Memang ia kandas, dan tenggelam, ke lembah maria.
Seperti hidup yang karam ke dalam doa.

Barangkali ia sendiri sebuah perahu. Yang dimainkan
anak-anak piatu. Yang berani mengarungi mimpi
dan menyusup ke belantara waktu.

1999
"Puisi: Perahu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Perahu
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Taman

Pada suatu petang ia datang ke taman
yang terhampar hijau di atas ranjang.

Ia mencopot baju, menyalakan lampu
kemudian membaca buku di atas makam.

"Ini tempat suci. Dilarang membaca buku porno
di sini," kata seseorang dari balik nisan.

Ia lari tunggang-langgang sebelum sempat
mengenakan kembali pakaian.

Ia perempuan gila, dulu pernah memperkosa Adam
dan menghabisinya di atas ranjang.

1998
"Puisi: Taman (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Taman
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Uban

Pasukan uban telah datang memasuki wilayah hitam.
Hitam merasa terancam dan segera merapatkan barisan.
"Putih lambang kematangan, hitam harus kita lumpuhkan."
"Hitam lambang kesuburan, putih harus kita enyahkan."

Tiap malam pasukan putih dan pasukan hitam bertempur
memperebutkan daerah kekuasaan sampai akhirnya
seluruh dataran kepala berhasil dikuasai masyarakat uban.
"Hore, kita menang. Kita penguasa masa depan."

Tapi uban jelek di lubang hidungmu memperingatkan:
"Jangan salah paham. Putih adalah hitam yang telah luluh
dalam derita dan lebur dalam pertobatan."

"Demikian sabda uban," sindir uban-uban pengecut
yang tiap hari minta didandani dengan semir hitam.

1999
"Puisi: Uban (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Uban
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Naik Bus di Jakarta
(untuk Clink)

Sopirnya sepuluh,
kernetnya sepuluh,
kondekturnya sepuluh,
pengawalnya sepuluh,
perampoknya sepuluh.
Penumpangnya satu, kurus,
dari tadi tidur melulu;
kusut matanya, kerut keningnya
seperti gambar peta yang ruwet sekali.
Sampai di terminal kondektur minta ongkos:
“Sialah, belum bayar sudah mati!”

1999
"Puisi: Naik Bus di Jakarta (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Naik Bus di Jakarta
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tahanan Ranjang

Akhirnya ia lari meninggalkan ranjang.
Lari sebelum tangan-tangan malam
merampas tubuhnya dan menjebloskannya
ke nganga waktu yang lebih dalam.

“Selamat tinggal, negara. Aku tak ingin
lebih lama lagi terpenjara. Mungkin di luar ranjang
waktu bisa lebih luas dan lapang.”

Ranjang memang sering rusuh dan rawan.
Penuh horor dan teror. Di sana ada psikopat
gentayangan sambil mengacung-acungkan pistol
dan teriak, “Tiarap. Kau akan kutembak.”
Kemudian ada yang balik mengancam
sambil membentak, “Angkat tangan.
Pistolmu tak bisa lagi meledak.”

Ada yang lari meninggalkan ranjang.
Ada yang ingin berumah kembali di ranjang.
Pada kelambu merah ia baca tulisan:
Ini penjara masih menerima tahanan.
Dijamin puas dan jinak. Selamat malam.

1999
"Puisi: Tahanan Ranjang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tahanan Ranjang
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Topeng Bayi untuk Zela

Melihat kau tersenyum dalam tidurmu,
aku ingin kasih topeng bayi yang cantik untukmu.
Kau pernah bertanya, “Cantikkah saya
waktu bayi?” Sayang, aku tak sempat
membuat foto bayimu. Padahal kau sangat lucu
dan tak mungkin aku melukisnya.

Di sebuah desa kerajinan aku bertemu
seorang pembuat topeng yang sangat aneh
tingkahnya. Ia suka menjerit-jerit
saat mengerjakan topeng-topengnya.
“Anda masih waras, kan?” aku bertanya.
“Masih. Jangan khawatir,” jawabnya.
“Saya hanya tak tahan menahan sakit dan perih
setiap memahat dan mengukir wajah saya sendiri.”

Aku sangat kesepian setiap melihat kau asyik
bercanda dengan topeng bayimu. Kok wajahku
cepat tua dan makin mengerikan saja. Tapi kau
berkata, “Jangan sedih, Pak Penyair. Bukankah
wajah kita pun cuma topeng yang tak pernah
sempurna mengungkapkan kehendak penciptanya?”

1999
"Puisi: Topeng Bayi untuk Zela (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Topeng Bayi untuk Zela
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tubuh Pinjaman

Tubuh
yang mulai akrab
dengan saya ini
sebenarnya mayat
yang saya pinjam
dari seorang korban tak dikenal
yang tergeletak di pinggir jalan.
Pada mulanya ia curiga
dan saya juga kurang berselera
karena ukuran dan modelnya
kurang pas untuk saya.
Tapi lama-lama kami bisa saling
menyesuaikan diri dan dapat memahami
kekurangan serta kelebihan kami.
Sampai sekarang belum ada
yang mencari-cari dan memintanya
kecuali seorang petugas yang menanyakan status,
ideologi, agama, dan harta kekayaannya.

Tubuh yang mulai manja
dengan saya ini
saya pinjam dari seorang bayi
yang dibuang di sebuah halte
oleh perempuan yang melahirkannya
dan tidak jelas siapa ayahnya.
Saya berusaha merawat dan membesarkan
anak ini dengan kasih sayang dan kemiskinan
yang berlimpah-limpah sampai ia
tumbuh dewasa dan mulai berani
menentukan sendiri jalan hidupnya.
Sampai sekarang belum ada yang mengaku
sebagai ibu dan bapaknya kecuali seorang petugas
yang menanyakan asal-usul dan silsilah keluarganya.

Tubuh
yang kadang saya banggakan
dan sering saya lecehkan ini
memang cuma pinjaman yang sewaktu-waktu
harus saya kembalikan tanpa merasa rugi
dan kehilangan. Pada saatnya saya harus ikhlas
menyerahkannya kepada seseorang yang mengaku
sebagai keluarga atau kerabatnya atau yang merasa
telah melahirkannya tanpa minta balas jasa
atas segala jerih payah dan pengorbanan.

Tubuh,
pergilah dengan damai
kalau kau tak tenteram lagi
tinggal di aku. Pergilah dengan santai
saat aku sedang sangat mencintaimu.

1999
"Puisi: Tubuh Pinjaman (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tubuh Pinjaman
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat Malam untuk Paska

Masa kecil kaurayakan dengan membaca.
Kepalamu berambutkan kata-kata.
Pernah aku bertanya, “Kenapa waktumu
kausia-siakan dengan membaca?” Kaujawab ringan,
“Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata
yang memecahkan diri menjadi tetes air hujan
yang tak terhingga banyaknya.”

Kau memang suka menyimak hujan.
Bahkan dalam kepalamu ada hujan
yang meracau sepanjang malam.

Itulah sebabnya, kalau aku pergi belanja
dan bertanya minta oleh-oleh apa, kau cuma bilang,
“Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius
maupun yang ringan. Jangan bawakan saya
rencana-rencana besar masa depan.
Jangan bawakan saya kecemasan.”

Kumengerti kini: masa kanak adalah bab pertama
sebuah roman yang sering luput dan tak terkisahkan,
kosong tak terisi, tak terjamah oleh pembaca,
bahkan tak tersentuh oleh penulisnya sendiri.

Sesungguhnya aku lebih senang kau tidur
di tempat yang bersih dan tenang. Tapi kau
lebih suka tidur di antara buku-buku
dan berkas-berkas yang berantakan.
Seakan mereka mau bicara, “Bukan kau
yang membaca kami, tapi kami yang membaca kau.”

Kau pun pulas. Seperti halaman buku yang luas.
Dalam kepalamu ada air terjun, sungai deras
di tengah hutan. Aku gelisah saja
sepanjang malam, mudah terganggu suara hujan.

1999
"Puisi: Surat Malam untuk Paska (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Surat Malam untuk Paska
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Layang-layang

Dulu pernah kau belikan aku sebuah layang-layang
pada hari ulang tahun.
Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak
tapi hanya sejenak.

Sebab layang-layang itu kemudian hilang,
entah ke mana ia terbang.
Seperti aku pun tak pernah tahu kapan kau hilang
dan kembali 'ku temu.
Lehermu masih hangat meskipun selalu dikikis waktu.

Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan
selain dibasah-kuyupkan di bawah hujan.
Tapi kutemukan juga layang-layang itu di sebuah dahan
meskipun tanpa benang dan tinggal robekan.
Aku ingin berteduh di bawah pohon yang rindang.

1980
"Puisi: Layang-layang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Layang-layang
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Anak Seorang Perempuan

Hingga dewasa saya tak pernah tahu saya ini
sebenarnya anak siapa. Sejak lahir saya diasuh
dan dibesarkan Ibu tanpa kehadiran seorang ayah.
Ibu pernah mengaku bahwa dulu ia
memang suka kencan dengan para lelaki,
tapi tak bisa memastikan benih lelaki mana
yang tercetak di rahimnya, lalu terbit menjadi saya.

Ibu tak pernah menyebut dirinya perempuan jalang
dan bagi anak seperti saya yang mengalami
kelembutan cinta seorang ibu soal itu toh
tidak penting-penting amat. Ketika seorang penyair
iseng bertanya apakah saya ini buah cinta sejati
atau cinta birahi, hasil hubungan terang atau gelap,
saya menganggap dia bukan penyair cerdas.
Justru Ibu yang bukan penyair pernah bertanya,
"Kau, penyairku, apakah kau tahu pasti asal-usul
benih yang tumbuh dalam kata-katamu?"

Sudah ada beberapa lelaki misterius
yang mengaku-aku sebagai ayah saya.
Masing-masing menyatakan cintanya yang tulus
kepada wanita yang melahirkan saya dan mereka
juga merasa bangga terhadap saya.
Sayang, saya tak butuh pahlawan kesiangan.
Lagi pula, saya lebih suka membiarkan diri saya
tetap menjadi milik rahasia.

Kini ibu saya yang cerdas terbaring sakit.
Tubuhnya makin hari makin lemah.
Dalam sakitnya ia sering minta dibacakan
sajak-sajak saya dan kadang ia mendengarkannya
dengan mata berkaca-kaca. Beberapa saat
sebelum beliau wafat, saya sempat lancang
bertanya, "Bu, saya ini sebenarnya anak siapa?"
Saya bayangkan Ibu yang penyayang itu akan
hancur hatinya. Tapi sambil mengusap kepala saya,
ia menjawab hangat, "Anak seorang perempuan."

2002
"Puisi: Anak Seorang Perempuan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Anak Seorang Perempuan
Karya: Joko Pinurbo