Surat Malam untuk Paska

Masa kecil kaurayakan dengan membaca.
Kepalamu berambutkan kata-kata.
Pernah aku bertanya, “Kenapa waktumu
kausia-siakan dengan membaca?” Kaujawab ringan,
“Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata
yang memecahkan diri menjadi tetes air hujan
yang tak terhingga banyaknya.”

Kau memang suka menyimak hujan.
Bahkan dalam kepalamu ada hujan
yang meracau sepanjang malam.

Itulah sebabnya, kalau aku pergi belanja
dan bertanya minta oleh-oleh apa, kau cuma bilang,
“Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius
maupun yang ringan. Jangan bawakan saya
rencana-rencana besar masa depan.
Jangan bawakan saya kecemasan.”

Kumengerti kini: masa kanak adalah bab pertama
sebuah roman yang sering luput dan tak terkisahkan,
kosong tak terisi, tak terjamah oleh pembaca,
bahkan tak tersentuh oleh penulisnya sendiri.

Sesungguhnya aku lebih senang kau tidur
di tempat yang bersih dan tenang. Tapi kau
lebih suka tidur di antara buku-buku
dan berkas-berkas yang berantakan.
Seakan mereka mau bicara, “Bukan kau
yang membaca kami, tapi kami yang membaca kau.”

Kau pun pulas. Seperti halaman buku yang luas.
Dalam kepalamu ada air terjun, sungai deras
di tengah hutan. Aku gelisah saja
sepanjang malam, mudah terganggu suara hujan.

1999
"Puisi: Surat Malam untuk Paska (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Surat Malam untuk Paska
Karya: Joko Pinurbo

Post a Comment

loading...
 
Top