April 1999
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Karikatur 15 Menit

Karikatur 15 menit membawaku berpose, seperti raja-
raja telanjang dalam baskom. Lalu gadis-gadis 15 menit 
berlengketan dalam kaleng-kaleng minum. Aku bunting 
dalam percintaan ini, seperti kuda beranak dalam lemari 
es. Lalu aku potret diriku jadi karikatur 15 menit. Studio 
foto meledak, studio foto meledak, wanita-wanita cantik 
lahir setiap 15 menit. Tak ada lagi kecantikan untuk 
dipotret, karena setiap 15 menit layar diganti. Tak ada lagi 
peristiwa untuk dipotret, karena setiap 15 menit orang 
jadi karikatur.

Karikatur 15 menit mengubah diriku jadi menu 
makanan, merek sabun mandi. Lalu dunia datang 
padaku seperti kerbau goyang. Sebelum berangkat 
menguap jadi gas atau busa sabun: 15 menit aku merdeka 
sampai mati.

1987
"Afrizal Malna"
Puisi: Karikatur 15 Menit
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Asia Membaca

Matahari telah berlepasan dari dekor-dekornya. Tapi kami masih hadapi langit yang sama, tanah yang sama. Asia. Setelah dewa-dewa pergi, jadi batu dalam pesawat-pesawat TV; setelah waktu-waktu yang menghancurkan, dan cerita lama memanggili lagi dari negeri lain, setiap kata jadi berbau bensin di situ. Dan kami terurai lagi lewat baju-baju lain. Asia. Kapal-kapal membuka  pasar, mengganti naga dan lembu dengan minyak bumi. Membawa kami ke depan telpon berdering.

Di situ kami meranggas, dalam taruhan berbagai kekuatan. Mengantar pembisuan jadi jalan-jalan di malam hari. Asia. Lalu kami masuki dekor-dekor baru, bendera-bendera baru, cinta yang lain  lagi, mendapatkan hari yang melebihi waktu: Membaca yang tak boleh dibaca, menulis yang tak boleh ditulis.

Tanah berkaca-kaca di situ, mencium bau manusia, menyimpan kami dari segala jaman. Asia. Kami pahami lagi debur laut, tempat para leluhur mengirim burung-burung, mencipta kata. Asia hanya ditemui, seperti malam-malam mencari segumpal tanah yang hilang: Tempat bahasa dilahirkan.

Asia.
1985
"Afrizal Malna"
Puisi: Asia Membaca
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Terlalu Banyak

Terlalu banyak minum, terlalu banyak menelan pil tidur
Bosan bermimpi akhirnya aku tersedu:
Masihkah masjid alamatmu? Aku tak tahu. Tak tahu
Sejumlah musim telah bergulir, tahun demi tahun
Telah berakhir. Dan kembali mengalir
Memutar abad dan siklus nasib. Bergolak
Dan menyala-nyala. Sambil tersedu (mungkin tertawa)
Aku mengetuki pintu-pintu, memasuki penjara-penjara
Memecahkan etalase toko-toko
Mencarimu. Sepanjang jalan-jalan ibukota, sepanjang
Peradaban dan tumpukan sampah. Dunia

Hanya salak anjing, nyaring dalam batin
Malam seakan abadi. Aku tak tahu. Tak tahu
Terlalu banyak membaca, terlalu banyak
Bertanya. Buku demi buku merabunkan mataku
Mengirim sukmaku ke hutan-hutan, mendorong kelaminku
Ke tepi sunyi. Mendaki perut, menyeberangi paha demi paha
Melelapkan waktu. Sejarah hanya kelu
Hanya gemuruh dan gelegar mesiu. Aku tak tahu. Tak tahu
Seratus peperangan dan bencana, seribu maklumat dan fatwa
Kalimat-kalimat prosais dan berbunga. Sejuta pedang
Dan moncong senapan. Tak tahu:

Masihkah para pelayat tersedu di altarmu?


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Terlalu Banyak
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Buaya

Jika diteliti rupanya, miriplah dia dengan cecak
Cuma buaya jauh lebih besar badannya
Jika cecak melekat di dinding dia bergerak-gerak
Buaya hidup di sungai dan berenang dengan tangkasnya

Ekor buaya kuat dan juga panjang
Itulah yang digunakannya untuk berenang-renang
Giginya banyak dan pula runcing-runcing ujungnya
Yang dipakainya untuk menyambar dan memakan mangsanya

Dia sering sembunyi di  bawah permukaan sungai
Cuma mata dan hidungnya muncul di atas air
Matanya tajam mengawasi mangsa yang lalai
Sangat cepat dia berenang mengejar ke mudik atau ke hilir

Buaya bertelur dan anaknya menetas dari telur itu
Makanannya cuma daging, sebab dia itu tergolong binatang buas
Dia berbahaya bagi manusia karena galaknya itu
Karenanya di tepi sungai dekat laut, kita harus awas-awas

Pernahkah engkau mendengar tentang peternakan buaya?
Ah masa, betul ada peternakan macam begitu?
Memang ada, untuk tujuan mengambil kulitnya
Kulitnya keras dan berguna dibuat tas dan sepatu.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Buaya
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kuda Nil

“Paman Kuda Nil, itu rahang paman bengkak ya?
Apa paman sedang sakit gigi sekarang?”

“Nak, kamu rupanya suka bercanda
Ini rahang paman memang aslinya begini
Perihal gigi paman keadaannya sehat-sehat saja
Rahang paman memang melebarnya ke setiap sisi”

“Paman Kuda Nil, cobalah paman bercerita
Tentang diri paman dan keluarga paman”

“Nak, Kuda Sungai sebenarnya nama asli paman
Di siang terik paman, bibik dan anak-anak berendam di air tawar
Di malam hari kami naik ke darat cari makanan
Yaitu rumput dan daunan yang segar-segar
Paman biasa berendam di sungai sampai tenggelam
Air tidak masuk karena lubang hidungku menutup sendirinya
Dan sering paman berjalan-jalan di dasarnya yang dalam
Enak dan dingin rasanya di bawah sana”

“Paman Kuda Nil, badan paman besar sekali
Berapa berat badan paman yang sebenarnya?”

“Kira-kira tiga ribu kilogram jika ditimbang
Tinggi paman satu setengah meter jika berdiri
Panjang paman tiga meterlah, lebih kurang
Tapi ekorku ini pendek sekali.”

“Paman, paman, coba ceritakan pada saya
Paman Kuda Nil berasal dari mana, sebenarnya?”

“Asal usulku dari Afrika secara asli
Dan kau dari mana ‘nak, yang banyak tanya ini?”

“Saya dari Indonesia, paman Kuda Nil yang baik hati,
Saya sedang belajar ilmu hayat yang saya gemari
Kalau paman Kuda Nil datang ke Indonesia
Silakan mampir kerumah saya.”

“Terima kasih ‘nak, terima kasih setulus hati
Memang ingin saya ke Indonesia itu, sekali-sekali.”


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kuda Nil
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jamaah Baytl-Maqdis

Kuda itu telah ditambatkan
di luar
Masjid Paling Jauh Ke Utara
malam pun terselubung
di atas terjal
Dinding Al-Buraq
di atas Bethlehem
yang pulas

para nabi dan rasul
dalam waktu yang lebur
mengelukan
lelaki berkuda itu
mereka berpandangan rindu
dan erat berjabat tangan
dengan nostalgia
mengulurkan titipan tarikhi
insan yang semesta

Ibrahim menyilakan lelaki itu
memimpin ibadat shalat
dua rakaat
seluruh nabi dan rasul
bersaf-saf dalam jamaat Rohianiat
meluluh abad demi abad

dan
berangkatlah
Muhammad
diapit Jibril
dan Mikail.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Jamaah Baytl-Maqdis
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Unggas Lagu Ikan

Katak rawa-rawa
Menyanyi sendiri

Pii
Wii

Serangga pepohonan
Daun bermerahan

Angsa menggelepar
Dan berbunyi

Pii
Wii

Ikan danau jauh
Jerami yang luruh

Langit mengental
Paya-paya kristal
Unggas sembunyi
Hutan pun mati
Bunyi yang sunyi

Pii
Wii.

1971
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Lagu Unggas Lagu Ikan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
22 Tahun Kemudian

Ya anakku. Saya telah menuliskannya untukmu
22 tahun yang lalu saya tuliskan ini untuk kalian
Ayahmu, waktu itu, pada suatu musim hujan
Ketika itu tanpa kerja-tetap dan gelandangan
Di sebuah kamar yang pengap di ibukota
Duduk dan mencoba mencatat sajak ini

Ayah harus menuliskan ini. Harus
Walaupun saya belum tahu, apakah saya
Kelak akan mempunyai seorang Dayat
Dan seorang Ina yang bermata-jeli
Atau tidak punya anak sama sekali
Tapi saya harus menuliskan ini. Harus.

(Di luar jam malam telah jatuh
Ada catatan-catatan kecil di atas meja
Derai-derai gerimis mulai meluruh
Di antara deru patroli kota)

Apakah yang pertama harus dituliskan
Bila begitu banyak yang tiada terucapkan?
Di atas meja, catatan-catatan kecil kawanku yang setia
Menggapai-gapai dalam angin dari jendela

Dari tingkap, menjulur piramid dan tugu-tugu
Kota slogan dan menara, kotamu dulu
Tanah gunung-api dan hama, tanahmu dulu
Pedesaan yang malang, kuli-kuli pelabuhan yang tersemu

Dalam pidato-pidato seribu jam dari seribu mimbar
Dalam pawai-pawai genderang dan slogan berkibar-kibar
Bertuliskan sepatah kata: Tirani

Ya anakku. Tirani dengan t besar
Kenistaan dengan panjinya tinggi
22 tahun yang lalu. Sungguh tak terpikirkan
Bagi kalian saat ini
Terbayangkan, apa pula
Nyeri perjuangan yang dinistakan

(Di luar jam malam telah jauh
Saya lanjutkan catatan-catatan ini buat kalian
Ketika tetesan embun mulai jatuh
Tanpa suara, perlahan-lahan)

Berpikir ganda. Apa yang diucapkan
Berlawan dengan suara hati
Rencana-rencana besar, kemewahan dan perempuan
Dipersanjungkan dalam pesta-pesta ingkar insani
Pengejaran, penahanan tanpa pengadilan
Penindasan dan perang saudara
Berbunuh-bunuhan
(Hadirin diminta berdiri, karena akan masuk ruangan:
Penjilat-penjilat dan pelayan-pelayan besar)
Keangkuhan disebar bagai api hutan terbakar
Diatas tanah yang dibelah-belah dan diadu sesamanya!
(Arwah lelaki itu tersenyum, Machiavelli namanya)
Berjuta-juta kami berdiri. Lesu dan lunglai
Sehabis rapat besar dan pawai-pawai
Yang tidak memikirkan pemborosan dan wabah penyakit
Tidak membicarakan harga-harga dan nestapa kemiskinan

Pemborosan? Siapa peduli itu
Harga? Harga apa? Apa harga diri kau?
Hafalkan singkatan-singkatan ini. Berteriaklah
Dengan dengki dan acungkan tangan terkepal
Tengadahlah. Pandang panji-panji ini “Hormati!”
Bertuliskan sepatah kata: Tirani

Ya anakku. Tirani dengan t besar
Bagi kalian saat ini, sungguh tak terpikirkan
Tapi apa yang kau nikmati hari ini
Kebebasan. Kebebasan dengan k besar
Nikmatilah, nikmatilah.

Dan Ia
Bukanlah jatuh dari awan gemawan
Tapi ia lahir dari duka perjuangan
Ia lahir melalui cercaan nista
Melalui kertas-kertas stensil dari tangan ke tangan
Melalui tembok-tembok kota yang sabar
Dilumuri seribu kaleng cat
Rapat-rapat serta seribu isyarat
Di bawah ancaman laras kekuasaan
Yang dibidikkan ke tengkukmu
Ia lahir dari teriakan-teriakan mahasiswa
Dalam pawai-pawai perkasa
Sungguh tak terpikirkan
Bila kita tidak bersama Tuhan
Bagi kalian sungguh tak terpikirkan kini
Juga bagi ayah (22 tahun yang lalu), ketika
Menuliskan sajak ini
Di kamar yang sepi
Sendiri

(Di luar jam malam hampir berakhir
Sementara ayah sudahi catatan-catatan ini
Ketika subuh dan fajar di langit mengalir
Dan harus berkemas untuk berjalan lagi)

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: 22 Tahun Kemudian
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Horison

Kami tidak bisa dibubarkan
Apalagi dicoba dihalaukan
Dari gelanggang ini

Karena ke kemah kami
Sejarah sedang singgah
Dan mengulurkan tangannya yang ramah

Tidak ada lagi sekarang waktu
Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu
Karena jalan masih jauh
Karena Arif telah gugur
Dan luka-luka duapuluh-satu.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Horison
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Persetujuan

Momentum telah dicapai. Kita
Dalam estafet amat panjang
Menyebar benih ini di bumi
Telah sama berteguh hati

Adikku Kappi, engkau sangat muda
Mari kita berpacu dengan sejarah
Dan kini engkau di muka.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Persetujuan
Karya: Taufiq Ismail