Juli 1999
Patung Liberty

Kutatap Patung Liberty
Teringat puisi tinggal di bui.

New York, 2000
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiPatung Liberty
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Biduanita Botak
(untuk Elfriede Lohse-Wächtler)

Selamat pagi. Seraya menyesap kopi Guatemala
Kuingat, kuingat bahwa gaun hitamku tengah
Dikecilkan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Kenapa mereka alpa bahwa aku belum lagi tambun?
Bukankah hadirin nanti mesti memandang ke arah
Belahan dadaku? Seperti biasa, aku hanya akan
Berlatih murka dua-tiga jam sebelum panggung
Mulai. Bukankah semua aria sudah mengerumun
Ranum pada leherku? Hanya saja sepasang biola itu
Mesti berpisah bahkan sebelum bayang-bayangku
Mencapai ruang rias dan nada tertinggi. Tolonglah
Pertemukan dua alisku, agar tukang aba-aba itu
Tak lagi berani memandang wajahku. Bukankah
Sudah terlalu lama ia terperam di kamarku? Kenapa
Pula ia bersikeras menduga-duga dalamnya laut?

Selamat pagi. Sudahkah kau mengubah warna tirai
Penutup panggung? Sebab aku membenci merah
Sebab aku suka mendengar debar ombak Parikia
Di puncak nyanyi, di puncak nyeri. Tolonglah
Usahakan pemain kontrabas itu mengendarai
Sepedanya ke jembatan keledai sebelum ia tiba
Di ranah tergelap yang menyimpan gelombang
Suara terendah. Dan bawalah pemain timpani itu
Ke kebun raya, agar ia sadar bahwa aku bukan
Rumpun nilam, tapi pohon nim Mahabalipuram
Pemeram bahana hampa topan hujan bagi para
Perancang lagu yang tenggelam di segala jalan.

Selamat pagi, wahai kau yang pasti tahu bahwa
Ketika remaja aku sungguh nekad tergila-gila
Pada bunyi bandoneon, namun kata guruku wandu
Itu hanya bagi kaum sundal dan penyair bebal, dan
Suaraku semaut perisai dan kendi dari penggalian
Di Smyrna, anugerah untuk museum jagad raya.

Ingatlah, aku suka mengendarai sedan kap terbuka
Sebab hanya dengan begitulah mereka melihatku
Sebab mereka gandrung sekali sekadar mengikatku
Ke panggung, seraya gaya-gayaan menahan bersin
Meski sudah seminggu terserang flu. Selamat pagi!

Tanpa gaun aku mesti belajar bercermin, bercermin
Bersama piano yang cuma terbaring di sudut terlicin
Seperti lembu jantan yang tak pernah peduli
Betapa indah dan percuma buah dadaku ini.

2008
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiBiduanita Botak
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Dirasa-rasa

Lahir tak membawa apa-apa
Dititipkan tahta dan harta
Sombong menggonggong
Kelak mati baru tahu rasa.

"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiDirasa-rasa
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Hakone

Adalah pendar cinta Michael Angelo kepada Monalisa
dan dansa Bach dengan walsanya
hidup adalah seni
dan seni adalah Jepang
seperti kabut di udara
serta butir salju di sungai
dan gigil dengan dingin
harmonisme alam dengan manusia
adalah Hakone yang berdendang dalam bisu
tanpa perlu menghentak
hanya gaungnya yang kekal.

1992
"Puisi Medy Loekito"
PuisiHakone
Karya: Medy Loekito

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Pinjami Aku Bibirmu Satu Malam Saja

Kalau tubuhmu kurebahkan di meja makan, aku mungkin hanya akan pilih paha dan payudaramu. Aku tak butuh perut dan kepalamu. Aku hanya ingin tidur bersama bagian-bagian dari tubuhmu itu. Tapi kalau tidak boleh, izinkan aku meminjam bibirmu saja. Aku ingin tidur bersama bibirmu barang semalam. Lihat. Negeri ini kehilangan bibir sejak lama. Orang bicara tanpa bibir. Orang mengigau tanpa bibir. Orang bermimpi tanpa bibir. Orang mencium tanpa bibir. Pinjami aku bibirmu dan aku akan menciumimu sepanjang malam.

2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiPinjami Aku Bibirmu Satu Malam Saja
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Seekor Cicak di Dinding

Seekor cicak merayap di dinding. Siapa namamu? Singa? Macan? Ah, aku hanya seekor buaya kecil yang kerjanya merayap di dinding. Aku tak bisa menari dan terbang tinggi. Kudukku selalu merinding. Tubuhku selalu menggigil. Aku selalu takut ditepok pemilik tembok.  Itu sebabnya aku selalu berjalan mengendap, merayap dengan mata mengerjap. Termenung, atau termangu, membisu atau diam. Pernah sekali bercinta dan Angling Darma mendengarnya. Karena tak mau membuka rahasia, istrinya curiga dan membakar dirinya. Aku  merasa berdosa.

Siapa namamu? Singa? Macan? Ah, aku hanya seekor  buaya kecil yang kerjanya merayap di dinding. Aku bukan kamu yang senang berpikir, memegang senapan yang bisa menyalak kapan saja dan mahir mengarang sihir.

2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiSeekor Cicak di Dinding
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||