Biduanita Botak
(untuk Elfriede Lohse-Wächtler)

Selamat pagi. Seraya menyesap kopi Guatemala
Kuingat, kuingat bahwa gaun hitamku tengah
Dikecilkan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Kenapa mereka alpa bahwa aku belum lagi tambun?
Bukankah hadirin nanti mesti memandang ke arah
Belahan dadaku? Seperti biasa, aku hanya akan
Berlatih murka dua-tiga jam sebelum panggung
Mulai. Bukankah semua aria sudah mengerumun
Ranum pada leherku? Hanya saja sepasang biola itu
Mesti berpisah bahkan sebelum bayang-bayangku
Mencapai ruang rias dan nada tertinggi. Tolonglah
Pertemukan dua alisku, agar tukang aba-aba itu
Tak lagi berani memandang wajahku. Bukankah
Sudah terlalu lama ia terperam di kamarku? Kenapa
Pula ia bersikeras menduga-duga dalamnya laut?

Selamat pagi. Sudahkah kau mengubah warna tirai
Penutup panggung? Sebab aku membenci merah
Sebab aku suka mendengar debar ombak Parikia
Di puncak nyanyi, di puncak nyeri. Tolonglah
Usahakan pemain kontrabas itu mengendarai
Sepedanya ke jembatan keledai sebelum ia tiba
Di ranah tergelap yang menyimpan gelombang
Suara terendah. Dan bawalah pemain timpani itu
Ke kebun raya, agar ia sadar bahwa aku bukan
Rumpun nilam, tapi pohon nim Mahabalipuram
Pemeram bahana hampa topan hujan bagi para
Perancang lagu yang tenggelam di segala jalan.

Selamat pagi, wahai kau yang pasti tahu bahwa
Ketika remaja aku sungguh nekad tergila-gila
Pada bunyi bandoneon, namun kata guruku wandu
Itu hanya bagi kaum sundal dan penyair bebal, dan
Suaraku semaut perisai dan kendi dari penggalian
Di Smyrna, anugerah untuk museum jagad raya.

Ingatlah, aku suka mengendarai sedan kap terbuka
Sebab hanya dengan begitulah mereka melihatku
Sebab mereka gandrung sekali sekadar mengikatku
Ke panggung, seraya gaya-gayaan menahan bersin
Meski sudah seminggu terserang flu. Selamat pagi!

Tanpa gaun aku mesti belajar bercermin, bercermin
Bersama piano yang cuma terbaring di sudut terlicin
Seperti lembu jantan yang tak pernah peduli
Betapa indah dan percuma buah dadaku ini.

2008
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiBiduanita Botak
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: