Januari 2000
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bahwa Kita Ditantang Seratus Dewa
Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi surga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai nafas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.
1972
"Puisi: Bahwa Kita Ditantang Seratus Dewa (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Bahwa Kita Ditantang Seratus Dewa
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Kebun Jepun


Di kebun Jepun itu sepasang orang asing
berbicara tentang daun-daun.

"Alangkah sedihnya," kata yang perempuan,
"kita tak tahu nama daun dan pohon."
"Aku pun tak tahu siapa namamu," jawab yang laki-laki,
"kau tak tahu siapa namaku, tapi kita tak sedih."
"Tapi aku tahu siapa namamu, kau tahu siapa namaku."
"Hanya sebagian."
"Hanya sebagian. Tapi kau telah membedakanku dari yang lain,
sementara kita tak bisa membedakan daun-daun ini
dari yang lain, untuk saat yang lain."
"Tapi kau bukan daun. Aku tak bisa melupakanmu."

Memang manis kedengarannya. Mungkin romantis.
Mungkin lucu. Dan terlambat.
Mereka bukan anak-anak muda dari sebuah novel.
Mereka bayang-bayang, menghitam oleh usia, mencari nyali
dalam keramat matahari, dan akan hilang sendiri-sendiri
bila tiba gelap.

Dan gelap juga akan tiba di kebun Jepun itu.

Maka pada rumput tanpa nama, di teduh pohon tanpa nama,
mereka duduk. Mereka ingin saling membujuk, mungkin
memeluk. Tapi kemudian, cuma bersintuhan.
Hanya bersintuhan! Mereka takut. Kenangan bisa
hanya beban, cinta tak ada jalan keluar, matahari
hanya sebentar.

"Matahari hanya sebentar. Besok kita masing-masing pergi."

Dan perempuan itu, 37 tahun, teringat suaminya.
Dan laki-laki itu, 42 tahun, teringat isteri dan anak-anaknya.

"Lalu?"
"Jangan tanyakan itu."
"Perasaan kita ternyata sialan dan sia-sia,
tak ada gunanya."

Sungguh benar! Laki-laki itu ingin bersiul, mengelakkan putus asa. Laki-laki itu ingin berkata:
"Sunyi juga sialan dan sia-sia, tak ada gunanya."
"Juga nama pohon," perempuan itu menyambung.

Dan mereka saling tersenyum, sakit, senyum, pahit
sementara ikan-ikan emas yang malas tak mengacuhkan
pucuk daun (mungkin kecubung) jatuh terapung pada palung.

"Lalu, apa yang berguna?"
"Semut-semut," sembur yang laki-laki. Mereka tertawa,
memandangi sebaris semut mendaki tanah, menghindari basah.
"Atau," sambungnya, "yang berguna adalah gangsa."
"Tapi di kebun ini tak ada gangsa."

Laki-laki itu mengangguk. Tak ada, tapi itulah yang
mereka cari: seekor unggas yang putih + seekor lagi
unggas yang putih, berdiri di kejauhan dalam kebun itu,
membersihkan bulu, menjemur diri di sebuah pagi.
Kita butuh fantasi, pasangan itu ingin berbisik.
Tapi mereka tak berbisik. Hanya bersentuhan, sekali lagi.
 

1973
"Puisi: Di Kebun Jepun (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Kebun Jepun
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Rasulullah Saw


Ya Allah ya Tuhanku
Ampunan-Mu lebih kuharapkan
daripada amalku
Rahmat-Mu lebih luas
daripada dosaku.

Ya Allah ya Tuhanku
Bila aku tak pantas
mencapai rahmat-Mu
Rahmat-Mu pantas mencapaiku
Karena rahmat-Mu mencapai apa saja
Dan aku termasuk apa saja
Ya Arhamarrahimin!
 
  
1415 H
"Puisi: Doa Rasulullah Saw (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Doa Rasulullah Saw
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Identitas atawa Aku Dalam Angka


Namaku Mustofa bin Bisri Mustofa
Lahir sebelum masa anak cukup 2
Sebagai anak ke 2 dari 9 bersaudara
Rumah kami nomer 3 jalan mulia
Termasuk 1 dari 17 erte di desa
Leteh namanya
1 dari 34 desa di kecamatan kota
1 dari 14 kecamatan di kabupaten
Rembang namanya
1 dari 5 kabupaten
di Karesidenan Pati
1 dari 6 Karesidenan di Propinsi Jawa Tengah
1 dari 27 propinsi di Indonesia
1 dari 6 Negara-Negara Asean di Asia
1 dari 5 benua di dunia
1 dari sekian "kacang hijau" di semesta.
Cukup jelaskah aku?
 
  
1987
"Puisi: Identitas Atawa Aku Dalam Angka (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Identitas atawa Aku Dalam Angka
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Midah
Malam tebal sekali Midah
Ya, terlalu tebal memagut hatiku gundah.

Malam tebal sekali Midah
Ya, terlalu tebal memisah hariku cerah.

Malam tebal sekali Midah
Ya, tapi tiada waktu bagiku untuk istirah.

Malam tebal sekali Midah
Ya, siapa rela datang padaku menyerah.

Malam tebal sekali Midah
Ya, bergayut aku di senyumnya gairah.

Malam tebal sekali Midah
Ya, berharap aku cepat fajar merekah.
  
1958
"Puisi: Midah (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Midah
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mirat Muda, Chairil Muda
di pegunungan 1943

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.
Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: "Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?"
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.
Dia rapatkan...
Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati.

1949
"Puisi: Mirat Muda, Chairil Muda (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Mirat Muda, Chairil Muda
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Di Muka Jendela


Di sini
cemara pun gugur daun. Dan kembali
ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
ketika kedamaian pun datang memanggil
ketika angin terputus-putus di hatimu menggigil
dan sebuah kata merekah
diucapkan ke ruang yang jauh: - Datanglah!

Ada sepasang bukit, meruncing merah
dari padang-padang yang tengadah
rumah padang-padang tekukur
di mana tangan-hatimu terulur. Pula
ada menggasing kincir yang sunyi
ketika senja mengerdip, dan di ujung benua
mencecah pelangi:
Tidakkah siapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,
sajak bisu abadi,
dalam kristal kata,
dalam pesona?


1961
"Puisi: Di Muka Jendela (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Muka Jendela
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Pulau Bali
Sebab percaya akan keampuhan industri
dan yakin bisa memupuk modal nasional
dari kesenian dan keindahan alam,
maka Bali menjadi obyek pariwisata.

Betapa pun:
tanpa basa-basi keyakinan seperti itu,
Bali harus dibuka untuk pariwisata.
Sebab:
pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin,
dan maskapai penerbangan harus berjalan.
Harus ada orang-orang untuk diangkut.
Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.

Dan waktu senggang manusia,
serta masa berlibur untuk keluarga,
harus bisa direbut oleh maskapai
untuk diindustrikan.
Dan Bali,
dengan segenap kesenian,
kebudayaan, dan alamnya,
harus bisa diringkaskan,
untuk dibungkus dalam kertas kado,
dan disuguhkan pada pelancong.

Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia,
di muka perkemahan kaum Badui,
di sini mana pun yang tak terduga,
lebih mendadak dari mimpi,
merupakan kejutan kebudayaan.

Inilah satu kekuasaan baru.
Begitu cepat hingga kita terkesiap.
Begitu lihai sehingga kita terkesima.

Dan sementara kita bengong,
pesawat terbang jet yang muncul dari mimpi,
membawa bentuk kekuatan modalnya:
lapangan terbang."Hotel - bistik - dan - coca cola",
jalan raya, dan para pelancong.

"Oh, look, honey - dear!
Lihat orang-orang pribumi itu!
Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera.
Fantastic! Kita harus memotretnya!
…………………………
Awas! Jangan dijabat tangannya!
senyum saja and say hello.
You see, tangannya kotor
Siapa tahu ada telor cacing di situ.
………………………….
My God, alangkah murninya mereka.
Ia tidak menutupi teteknya!
Look. John, ini benar-benar tetek.
Lihat yang ini! O, sempurna!
Mereka bebas dan spontan.
Aku ingin seperti mereka....
Eh, maksudku...
Okey! Okey! Ini hanya pengandaian saja.
Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha.
Look, now, John, jangan cemberut!
Berdirilah di sampingnya,
aku potret dari sini.
Ah! Fabulous!"

Dan Bank Dunia
selalu tertarik membantu negara miskin
untuk membuat proyek raksasa.
Artinya: yang 90 % dari bahannya harus diimpor.

Dan kemajuan kita
adalah kemajuan budak
atau kemajuan penyalur dan pemakai.

Maka di Bali
hotel-hotel pribumi bangkrut
digencet oleh packaged tour.

Kebudayaan rakyat ternoda
digencet standar dagang internasional.
Tarian-tarian bukan lagi suatu mantra,
tetapi hanya sekedar tontonan hiburan.
Pahatan dan ukiran bukan lagi ungkapan jiwa,
tetapi hanyan sekedar kerajinan tangan.

Hidup dikuasai kehendak manusia,
tanpa menyimak jalannya alam.
Kekuasaan kemauan manusia,
yang dilembagakan dengan kuat,
tidak mengacuhkan naluri ginjal,
hati, empedu, sungai, dan hutan.
Di Bali:
pantai, gunung, tempat tidur dan pura,
telah dicemarkan.
Pejambon, 23 Juni 1977
"Puisi: Sajak Pulau Bali (Karya W.S. Rendra)"
Sajak Pulau Bali
Karya: W.S. Rendra