Februari 2000
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Karena Angin

Daun-daun meratap karena angin
dan gerit pintu musim yang dibuka 
-perjalanan yang tertatih
sepanjang lorong yang diatapi matahari.

rupanya rumput-rumput pun bergegas 
pergi ke luar cuaca. tinggal kita berdua 
terbata waktu tuhan ketuk daun jendela.

"menyingkirkan karena perangkap cuaca!"

siapa itu yang melepaskan igauan?
-seperti jerit, sebab luka pada jantungnya.

1987
"Puisi: Karena Angin (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Karena Angin
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Orkestra di Stasiun Kota

Bangku-bangku kosong, tanpa jejak-jejak penonton
-kau yang menempuruk di sampingku
mengapa tiba-tiba bergegas ke seberang waktu?
(datang pergi irama nafas kereta
mengusung bayanganmu)

Lokomotif hitam, irama-irama yang hitam
dan aku yang terkurung dinding gelap
tanpa jendela terbuka
sendiri, hingga ketakutan mengental, - duka!

1987
"Puisi: Orkestra di Stasiun Kota II (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Orkestra di Stasiun Kota II
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perempuan dan Matahari

Namanya perempuan
lengkap sempurna dengan tanda-tanda alam
perempuan airmata batu akik
keluh kesiur angina sepanjang gisik
menembang dari musim ke musim
namanya perempuan
pandang 'nerawang 'ngantar mentari senja
saat langit merah jingga
berjanji tak pernah henti
menimang matahari
sampai hutan ranggas hijau kembali
sampai orang agung tuntaskan doa Semanggi
lalu matahari merah simpan kidungnya
dalam lembayung senja silhuet cinta
matahari bertanya
benarkah dalam kenangan ada segala
bahkan saat jiwa dalam gaib penjara.

Namanya perempuan
senja mulai sembunyikan bayangnya
semakin hitam menyatu tanah merdeka
semakin gelap diam-diam meditasi cinta
akhirnya mentari bersarang di dada.

2006
"Puisi: Perempuan dan Matahari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perempuan dan Matahari
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tapak-Tapak

Yang memijak dan berdetak
yang melonjak dan mendesak
ketipak-ketipak di malam retak
diceritakannya pada pejalan kaki yang kesepian
letih dan rindu pada sebuah terminal Tuhan
dibisikannya pada pemimpi yang kehilangan dini hari
nostalgia sehari-hari
ketipak-ketipak beriring sedak
malam kehilangan doa tersumbat dahak
siapa siapa malam itu mendengarnya
katakanlah
mati-cinta-duka Tuhanlah punya
katakanlah
aku-kamu-dia-mereka tak lain gema
ketika tapak tapak semakin letih berketipak.

Jakarta, 1979
"Puisi: Tapak-Tapak (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tapak-Tapak
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Imaji Seorang Pejalan Malam

Bulan cabik malam tadi
dalam tatap pejalan malam pemburu ilham
luruh menutup separo wajahnya yang keriput
membayangkan buih-buih hitam meleleh
menenggelamkan kota senantiasa bersolek
dalam bisnis pantai Kuta.

Bulan cabik malam tadi
tersangkut di pundak pejalan malam pemburu ilham
memberati langkahnya yang beringsut
membayangkan malam hitam anak istrinya
tanpa bulan di mesin tulis tanpa bulan di piring.

Jakarta, 1980
"Puisi: Imaji Seorang Pejalan Malam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Imaji Seorang Pejalan Malam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat Anak Kepada Ibunya
yang Ditinggalkan di Suatu Kampung Nelayan

Pada hari kukatakan aku mesti pergi
ibu, kau cari-cari dusta dalam mataku
tapi ketika tak kau temukan itu di sana
selain bara dan api yang menyala
kau sembunyikan tetap dalam kelopak mata
dan bicara seperti pada diri sendiri
"mengapa melihat dunia orang mesti mengembara
duduk di belakang meja
buku-buku akan bercerita padamu
bila letih tinggal kau angkat gelas susu kambing tuamu
dan kita tak perlu berperang melawan rindu"

Ibu, kusimpan heran di balik senyumku
kau yang perkasa yang tak goyak oleh derita
tiba-tiba hari ini bicara tentang
rindu dan sembunyikan mata
tapi aku tak ingin membaca laut-angin-gunung-hutan
dari buku di lemari tuaku
aku ingin menjadi buku itu yang bercerita pada dunia
biar mereka membaca lewat mataku
lewat senyumku, lewat debur jantungku
mungkin ini kelewat berat untuk hari ini
tapi lebih berat bila aku hanya menghabiskan hari-hari
menghitung debur ulang ombak di pantai
dan bila berita ini kau baca dengan tatap yang letih
aku sudah jauh darimu.

Jakarta, 1980
"Puisi: Surat Anak Kepada Ibunya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Surat Anak Kepada Ibunya
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kabar Sepanjang Musim

Seorang anak berjalan di kaki ombak
memunguti buih-buihnya
menaburkan ke matahari
menjadi mimpi-mimpi
kampung pesisir tanpa lendir.

Seorang anak berjalan di matahari
memunguti pijar-pijarnya
menaburkan ke bumi
menjadi jarum-jarum
di mulut si emak yang melepuh.

Seorang anak tersedu sendiri
kehilangan buih dan matahari
dan kampung tiba-tiba sunyi
bapak emak tubuh telah penuh duri
pergi ke kota sendiri-sendiri.

Tahukah dia anak sahabat luka
kota penuh buih dan matahari
membuat orang tua pada mimpi
hari-hari terus mengalir
hitam putih merah ungu
dan angin mengabarkannya sepanjang musim.

Jakarta
Agustus, 1986
"Puisi: Kabar Sepanjang Musim (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kabar Sepanjang Musim
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jakarta dalam Catatan

Musim mengirim angin
ke setiap sudut kota
selamat pagi Jakarta
dalam deru kereta
dalam gerung bus kota
dalam cepat langkah sepanjang trotoar plaza
dalam musim mengirim debu ke taman-taman
selamat siang Jakarta
dalam semangkuk mie pinggir jalan
dalam denting gitar pengamen Ardan
dalam mataku mulai rabun oleh perjalanan.

Jakarta kita saling menyatu
dalam nafas dalam langkah dalam gairah
Jakarta, kita saling mencari
makna jati diri makna kasih insani
Jakarta, perjalanan masih panjang
kita sudah kepalang

tahun-tahun muncul dan tenggelam
meninggalkan banyak beban
kita sama-sama penuh luka
sedang mencoba mengobatinya
lebih indah jika saling dekap
sambil hitung nuansa di tingkap-tingkap
memahami liku-liku perburuan di dalam rimba betonmu
melelahkan tapi tak ingin kutinggalkan
kita sama-sama berangkat tua digiring zaman
kita dalam persekutuan.

1988
"Puisi: Jakarta dalam Catatan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta dalam Catatan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Pembebasan

Pimperpel hitam berbunga biru
tanaman kecil yang muncul di ladang jagung itu
telah tumbuh jadi pohon lebih tinggi dari harapan
bunganya aroma udara segala musim tanah Afrika
Rolihhala Dalibhunga bapak dari segala anak
telah tercatat hari-hari paling mashur dalam umur
dan banyak tangis, getir para martir
pada dinding-dinding penjara Robben dan Paarl
dikatakannya pada anak-anak yang tinggal jauh
tahukah kamu tiada tiada pengadilan mampu
memasang getar harapan dan denyut jantung
karena sungai darah bermuara pada
masa kanak penuh harmoni di silamnya Transkei
sebuah koral putih di tanah hitam.

senyum langit telah turun
semburat pada wajah lelah kembali rekah
bahkan mortir dan bayonet tak mampu
meredam suara angin bangkit
di jalan-jalan kota
di ladang-ladang tua
di hutan-hutan purba
Afrika semarak merah kesumba
dalam binar mata orang-orang yang mengalirkan cinta
perjuangan dan kesaksian 
dalam warna hitam hijau keemasan di tubuh
perempuan dalam hujan menyanyikan :
lelaki kami telah pulang!

Jakarta
Februari, 1990
"Puisi: Nyanyian Pembebasan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nyanyian Pembebasan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kidung Awal Musim

Ketika hari-hari tak bisa lagi menghitung hujan
dan lalang mulai menyemak di kebun kita
katakan pada segala satwa pernah kautangkap
bunyi pesan sepanjang musim
hidup ini - ya kenang
cerita yang dikemas sehari-hari
lewat berita koran-teve dan puisi
cerita flora dan fauna membuat mimpimu manis
meskipun pengap pikiran manusia
o, carilah lembaran Tagore dan Rumi di antara
jerami umurmu - ya kenang - yang kenang
ia akan bangkitkan putih di antara hitam
sementara hari-hari tak bisa lagi menghitung hujan
kita tak bisa lagi menghitung kesalahan.

Jakarta
Desember, 1989
"Puisi: Kidung Awal Musim (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kidung Awal Musim
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Anak-Anak Taman Kota
Mengejar Layang-Layang Bendera

Anak-anak tumbuh di taman kota
kau tak melihatnya
mereka berkerumun di embun-embun
berlompatan di ubun-ubun
mencabik-cabik matahari
melempari rembulan
mereka menyerang bagai kuman
menjerit bagai hewan
mencabik-cabik impian
melempari harapan
kau dan aku tertegun kehilangan ubun-ubun
di langit mengejek layang-layang bendera
mereka mengejarnya sambil mengejek kita.

1993
"Puisi: Anak-Anak Taman Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Anak-Anak Taman Kota
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bunga Kali Mati

Bunga-bunga kecil
tumbuh sepanjang kali hitam
luput dari tatapan 
anak zaman hutan besi.

Bunga-bunga kecil
hilang dari percakapan
sejarah mencatat
hanya mahkota
pertumbuhan kota budaya.

Bunga-bunga kecil
tumbuh liar di semak hatimu
mekar di sisi malam heningmu
setia menjaga kesepianmu.

Kali hitam tambah hitam
kali mati tambah mati

Bunga menjadi kerak hati
sembunyikan tangis bumi.

Bogor
Juli, 1994
"Puisi: Bunga Kali Mati (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bunga Kali Mati
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku, Muria dan Laparku

Ketika IBU lapar
kuberikan jua
darah dan tulangku
Ketika BAPA lapar
kupersembahkan
nurani dan zadku
Ketika teknologi lapar
tiba-tiba aku gagu
ketika alam lapar?

Jepara
Mei, 1995
"Puisi: Aku, Muria dan Laparku (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Aku, Muria dan Laparku
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Orang-orang Pantai

Purnama ke berapa ketika angin mati
perahu terapung di ombak henti
sudah lama burung camar hilang kepak sayap
buih ombak tak lagi putih merayap
perempuan-perempuan punggung kecoklatan
berkeluh kesah sepanjang siang di teritisan
menunggu para lelaki nelayan sisa peradaban
barangkali satu hari pulang
tapi mungkinkah
sementara berita ramai mengabarkan
mereka terdampar jauh
dan menghuni ruang tahanan
yang tak jelas akan batas
atau barangkali itu hanya penghibur hati
karena angin musim terakhir pancaroba
kabarkan di tengah laut hiu berpesta.

Orang-orang pantai hati karang
berapa musim tak lagi berdendang
segalanya telah berubah
angin, ombak, kampung, gelak
yang hilang itu namanya semarak
nelayan tua bapak siapa
ubun-ubun kian retak
bentuknya berdahak-dahak
aku ingin mencium bendera itu
bisiknya layu.

Bogor, 1996
"Puisi: Balada Orang-orang Pantai (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Orang-orang Pantai
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Api Telah Padam

Api telah lama padam
jalanan telah dibersihkan
anak-anak mulai bermain
tembangkan lagu pembaruan.

Api telah lama padam
puing-puing telah disingkirkan
orang-orang mulai bergabung
menyeru salam dan mendukung.

Ada air mata dan darah
di halaman kampus perjuangan.

Ada air mata dan darah
di jalanan sebelum hujan.

Ada air mata dan darah
di hari-hari tak bertuan.

Mei, 1998
"Puisi: Ketika Api Telah Padam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika Api Telah Padam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dialog di Bawah Pohon Penantian

Di bawah pohon penantian
sehabis hujan mengguyur taman
orang-orang kembali berbincang:
ada yang tumbang
ada yang hilang
ada yang bingung
ada yang menghitung-hitung
datang seorang lelaki kumuh
ke plaza penuh genangan
jumpa orang di bawah pohon penantian
saya membawa pesan
pesan dari siapa?
para saudara di pinggiran
pasti yang rindu pembaruan
apa bicara di sini aman?
tentu saja, di sini sampeyan merdeka
benarkah reformasi terus bergulir?
sampeyan tak salah pikir
kalau benar bereformasi:
teruskanlah, saya pemerhati
ya kalau benar bereformasi
jangan sampai hanyut diri
jangan sampai hanyut nurani
jangan hanya tiru-tiru
harus bikin bentukan baru
kursi dan orang tak berlebihan
seperti kapal penuh muatan
pesan sampeyan memang rasional
saatnya kini proporsional
tidak asal professional.

Mei, 1998
"Puisi: Dialog di Bawah Pohon Penantian (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Dialog di Bawah Pohon Penantian
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Awal Desember

Melangkah sepanjang jalan raya
sambil menghitung doa
lagu dinyanyikan masih sama
seruan-seruan tak berbeda
selalu ada dalam pikiran
kekasih yang telah berkorban
sahabat muda bergelimpangan
tekad selalu kuat
hasrat selalu mencuat
satu kata membakar asa
kibar bendera di Cendana.

Kaki melepuh 
menapak aspal jalanan
langkah diayun
dalam panas dalam hujan
balik arah jangan biarkan
seru sang kawan
lalu bendera ulang dibiarkan
menyapu udara berjelaga
apa yang kau cari di sana
tanya orang-orang di jalan
buktikan praja yang hilang.

Desember, 1998
"Puisi: Doa Awal Desember (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Doa Awal Desember
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Antara Tragedi dan Parodi

I
Dalam langkah mencari
antara dua gunung
orang-orang bingung
orang-orang yang mbilung
orang-orang yang limbung
menjadi ulat jedung.

Dalam suara ribut
antara kubu-kubu
orang-orang lupa
bening danau-Nya
teduh rembulan-Nya
hangat mentari-Nya.

Dalam sengit berebut
antara badai kemelut
orang-orang hilang pemahaman
yang gila itu waras
yang waras itu gila
sementara negeri bunga
disebut kini negeri prahara
di rumah-rumah orang berbantah
di jalan kota orang usung bara
menyalakan api di dada-dada.

II
Perempuan-perempuan elok
yang duduk tenang di rumah atap cendawan
intannya sebesar kenong
tapi jiwanya kosong
jadi tak beda
dengan si meong
saat kampung-kampung basah
dipenuhi garong
saat kebijaksanaan baru
tetap kirim saudara-saudaranya
ke tanah seberang
untuk menjadi ajang
liur-liur tak bertuan

Perempuan-perempuan elok
suaranya lenyap
didalam gedung anggun
perjuangan itu dimana
kalian sembunyikan
teriak parau mereka yang di jalanan.

Bogor
Maret, 2000
"Puisi: Antara Tragedi dan Parodi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Antara Tragedi dan Parodi
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat dari Tanah Barat

Peradaban tombakkan dera
di antara gelap gulita, Alianca
manakala dajal muncul tanpa sapa
raungkan getar jahanam
tanah air selalu sisakan kasih
di antara pengkhianatan
bagi orang-orang tersisih.

Allianca, Allianca
ilalang hijau muda
nafas meruang dan mewaktu
saat-saat gelar juang
memberi makna kemerdekaan
bumi Loro Sae ditinggalkan purnama
gadis muda membaringkan mimpi
yang diusung dari sungai kering peradaban
di antara derap kaki tak beraturan
di sela tulang rusukmu
zaman ada simpan pedang, Allianca.

Jangan lupa petik lili putih
dari ladang sukma
di dataran Ermera
buat bersaksi pada Sang Bunda.

Bogor
Juli, 2000
"Puisi: Surat dari Tanah Barat (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Surat dari Tanah Barat
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Bentara

Menyimak dongeng rembulan jatuh
wajah-wajah kurun penuh tafsir
rasanya kita dari pohon yangliu yang sama
pohon di pinggir tebing tanah Utara
hanya rahim kita tumbuhkan benih yang beda.

Jakarta, 2002
"Puisi: Di Bentara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Bentara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sekar Ilalang dan Ritual Unggun Rembulan


Seakar ilalang lolos dari genggaman
kembara kehilangan jalan
jatuh tercecer di pasir tanah Utara
seakar ilalang mencari habitat baru
di antara laut dan darat
terapung dalam getar waktu
ikut menandai pencarianku.

Ketika kugubah syair menjadi kidung rembulan
sementara nyala unggun belum padam 
ilalang menembus ruang dan waktu
akarnya mencari tanah hatiku
diiring suara tangis orang Merapi
malam pun kehilangan nafas selintas 
saat sejekap aku merasa jadi kapas.

Jepara
Agustus, 2002
"Puisi: Sekar Ilalang dan Ritual Unggun Rembulan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sekar Ilalang dan Ritual Unggun Rembulan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menyimak Rapsodi Hujan November

Menyimak rapsodi hujan senja
Seakan segala tragedi sirna dari tanah merdeka
Sepemakan sirih lupakan kemungkinan
Kaliyuga ingkar janji, haruslah lewat
Malah berhenti, anak manusia sakit hati
Menyimak rapsodi hujan senja
Sebait intro sebuah lagu tak pernah selesai
Menagih janji November
Mana kelanjutan cerita perjalanan Nusantara
Sempat suntingimu bunga.

Sabarlah bagai kesabaran Sabdopalon
Menagih janji 'tika pisah dengan tabah
Bersalam pada Prabu Brawijaya akhir
Terhenyak aku menghitung abad
Saat telah begitu dekat
Sabdopalon menagih janji
Sementara sebait intro menjauh
Lambai tangan lihat aku telah di garis kesadaran.


Bogor
November, 2003
"Puisi: Menyimak Rapsodi Hujan November (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyimak Rapsodi Hujan November
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mencari Ruh

Mencari:
ruh laut pada ombak
ruh pada pasir
ruh musim pada bunga
ruh sungai pada lubuk
ruh langit pada bintang
ruh cakrawala pada pelangi
akhirnya merajah tanah
dari selangkah ke selangkah
sampai henti di Rumah Abadi.

Bogor
Juli, 2003
"Puisi: Mencari Ruh (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mencari Ruh
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pertemuan dengan Pak Dirman

Langit di ubun Surabaya tak lagi menabur cahaya saat menjelang tengah malam kususuri urat nadinya 
Lampu-lampu merkuri telah mempersolek kotaku 
O, Surabayaku, alangkah cantiknya engkau molek bagai perempuan genit
Terus terang aku ingin mencintaimu dengan hati seorang santeri
Tapi, mungkinkah itu yang engkau mau
Lampu lampu kendaraan yang lewat sebentar sebentar menyorotku
menyilaukan mataku hampir pula menyilaukan hatiku sedang aku tidak berkawan selain Tuhan.

Di jantung kota 'ku temui sesosok tubuh kerempeng dan sederhana
ia hanya sebentuk patung
aku ingin sekali menegurnya andaikan ia bernyawa tapi tersenyum juga aku padanya
O Pak Dirman
Tubuhnya yang kurus tetap menyimpan keperwiraan
Sorot matanya yang lembut mengingatkan akan sajadah alam yang ia hamparkan saat gerilya.

Aku pun lewat di samping kanannya sesuai dengan aturan lalu lintas yang ada
Sepuluh meter setelah aku membelakanginya
tiba tiba terdengar suara "Penyair, kemarilah"

Aku celingukan ke kanan kiri tapi tak ada siapa siapa kecuali kendaran yang simpang siur tak mengenalku
Langkah pun kuayunkan kembali
Terdengar lagi suara "Anak, apa engkau tidak mendengar panggilanku?"
Aku menoleh ke belakang. Kulihat tangan patung itu melambai padaku.
Dengan denyut cinta bercampur takjub 'ku dekati patung itu
Amboi, jabat tangan kami erat sekali

"Pak Dirman, jabat tangan ini sungguhan atau hanya sebuah mimpi?"

"Sungguh atau mimpi itu tidak penting, anakku.
Yang paling penting pertemuan kita ini mengandung arti 
Perlu kau tahu, Ada mimpi yang benar benar sungguh dan ada kesungguhan yang cuma mimpi."

Aku diam dan mencoba mengunyah kata katanya. Belum mapan ucapan itu dalam pengertianku ia melanjutkan "Aku merasa kesepian, anakku."
"Aku ingin omong omong denganmu seperti daun yang telah gugur bercakap dengan daun yang sedang semi"

"Sangatlah aneh kalau Bapak kesepian" 
"Bukankah banyak sekali orang yang lewat di sini baik pagi, siang maupun malam?"

"Ya, ya, tapi mereka banyak yang tak mengenalku lagi, apa lagi menyapaku dengan suara damai, seperti orang orang melambaiku pada zaman gerilya dulu. Aku kini terasing di tengah keramaian."
"Apakah itu yang tersirat dalam pepatah ,habis wangi bunga dicampakkan?"
"Tidak"
"Pepatah itu tidak kena untuk menggambarkan keadaanku" 
"Hendaknya kau tahu bahwa wangiku tak akan habis sampai hari kiamat nanti
Wangiku telah menjadi coklat tanahmu
Wangiku telah menjadi garam dalam lautmu
wangiku akan selalu dikicaukan burung burung di ranting rangting pohonan
Silakan saja engkau melupakannya 
Tapi tak kan bisa engkau menghapuskannya"

Dudukku lunglai bagai sebutir debu yang tak bernyawa  
Haru dan sesal menghablur dalam jiwa

"Anakku, 
Kalau engkau merasakan manis jantungku coba jawab pertanyaan ini: 
Untuk kemerdekaan negeri ini apa yang telah terjadi?
Saya tahu betul itu banyak mayat bergelimpangan 
Mereka gugur oleh berondongan peluru dan bom musuh
Menurut engkau bagaimanakah kematian mereka?"

"Sungguh kematian yang sangat indah."
"Karena mereka mati untuk sebuah cita cita yang sangat mulia
Yaitu biji dari cahaya yang pernah engkau pancarkan dengan getar darah dan nyawa."

"Ternyata engkau sangat pandai berteori dan berkesimpulan tentang cita cita dan cintaku
Itu bagus dan sangat bagus."
"Tapi mengapa kadang kini muncul keajaiban keajaiban; yang membuat katak katak tertawa. Semakin banyak orang pandai mengurai lembar lembar jejak, langkah dan senyumku, di lain pihak semakin banyak lagi orang orang yang tidak peduli pada desah lemah paru paruku."
"Kalau dulu aku mencurahkan keringat untuk kecemerlangan cahaya dan keharuman mawar, kini masih banyak lagi orang orang yang sibuk menari hanya untuk kutu busuk dan bangkai."

"Bapak, Kata katamu bagaikan pedang yang melukai hatiku."

"Syukurlah. Kalau hatimu merasa sakit oleh ucapanku. Itu pertanda engkau masih punya hati nurani. Kesakitan itu yang akan menjelma ksatria yang akan mengusir iblis dari hatimu,sehingga sosokmu utuh sebagai khalifah maupun sebagai hamba Allah."

Hening hatiku mengunyah dan terus mengunyah

"O, ya, sejak awal pertemuan ini aku melihat bayang bayang kesedihan di balik sorot matamu. Tolong ceritakan peristiwa apa yang membuat hatimu pilu?"

Aku hanya diam tak berhasrat untuk menjawab

"Mengapa engkau tak menjawab?"
"Ayolah jawab!"

"Tidak!"
"Saya takut untuk mengatakan dan saya tak mau mengatakan."

"Mengapa, anakku?"

"Kalau engkau masih mampu menatap bumi, menatap langit dan matahari
Katakan saja. Apa engkau masih meragukan hatiku?"
"Mari kita berbagi rasa, berbagi duka."

"Bapak, seorang saudaraku telah mati dengan cara yang mengerikan. 
Ia dibunuh dan mayatnya dibuang ke hutan."

"Mengapa ia dibunuh?"

"Saya tidak tahu." 
"Tapi ia terbunuh setelah memperjuangkan nasib para buruh."

"Siapa namanya?"

"Namanya, Marsinah"

"Ya Allah, 
Mata Pak Dirman yang tadi menyala itu tiba tiba meneteskan airmata."


"Puisi: Pertemuan dengan Pak Dirman (Karya: D. Zawawi Imron)"
Puisi: Pertemuan dengan Pak Dirman
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perjalanan Laut

Dalam begini, meski bisa 'ku tebak kabut yang besok akan
meledak, renyai musim labuh akan menunggu kuncup bersujud dalam
kelopak.
Hai, camar-camar yang nakal, kenalkah kalian pada merpati
putih milik pertapa?
Bisik-bisik berangkat ke dalam gua, tapi gua itu sepi, ular-
ular pada bernyanyi menuju laut karena wangsit ternyata boneka
cantik yang berisikan bom waktu.
ketika kutulis sajak ini aku tersenyum sendiri karena gagal
meniru teriak gagak.
Lampu-lampu memainkan laut, malam memainkan api, jiwaku yang
berpancang bulan sabit kadang mengambang atas pasang dan
tenggelam dalam surut.

1978
"Puisi: Perjalanan Laut (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Perjalanan Laut
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pelayaran

Sehampar pantai disebut bandar
serasa menyimpan telur-telur kelam
pada bibirnya yang lengang
ombak menyisir kenangan.

Gairah yang lama
tak menemukan aroma mayang
di sini
mencoba mengalih pandang
ke lokan-lokan di laut karang.

Kemudian layar
dikembangkan angin
lalloooo
kilau mata bunda
bermunculan di ombak-ombak.

Senja...

Madura melindap di bawah jingga
si bujang diam
hatinya menyelam
ke kedalaman laut yang hitam.

selintas di kaki langit
kelihatan
tanah malam
terbakar.

1965
"Puisi: Pelayaran (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Pelayaran
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Refrein Den Haag Sore
Seorang anak kecil
menyemburkan udara kabut
dari mulutnya yang mungil
ke arah seorang kakek.

Sang kakek membalasnya
dari bawah kumisnya yang tebal.

Kabut-kabut itu menyatu
di udara dingin
pusat kota Den Haag
Kabut itu tiba-tiba menjelma
seorang bidadari
yang menyanyi tentang cinta yang fitrah
tentang kesinambungan denyut darah.

Bahwa yang selain bunga pun harus mekar
tanpa menunggu musim panas yang segar.

"Puisi: Refrein Den Haag Sore (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Refrein Den Haag Sore
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Buat Nyonya N.

Sudah terlampau puncak pada tahun yang lalu,
dan kini dia turun ke rendahan datar.
Tiba di puncak dan dia sungguh tidak tahu,
Burung-burung asing bermain keliling kepalanya
dan buah-buah hutan ganjil mencap warna pada gaun.

Sepanjang jalan dia terkenang akan jadi satu
Atas puncak tinggi sendiri
berjubah angin, dunia di bawah dan lebih dekat kematian
Tapi hawa tinggal hampa, tiba di puncak dia sungguh tiada tahu.

Jalan yang dulu tidak akan dia tempuh lagi,
Selanjutnya tidak ada burung-burung asing, buah-buah pandan ganjil

Turun terus. Sepi.
Datar-lebar-tidak bertepi.
 
1949
"Puisi: Buat Nyonya N. (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Buat Nyonya N.
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Semangat


Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi
 


1943
"Puisi: Semangat (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Semangat
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Insaf
Segala kupinta tiada Kau beri
Segala kutanya tiada Kau sahuti
Butalah aku terdiri sendiri
Penuntun tiada memimpin jari.

Maju mundur tiada terdaya
Sempit bumi dunia raya
Runtuh ripuk astana cuaca
Kureka gembira di lapangan dada.

Buta tuli bisu kelu
Tertahan aku di muka dewala
Tertegun aku di jalan buntu
Tertebas putus sutera sempana.

Besar benar salah arahku
Hampir tertahan tumpah berkahmu
Hampir tertutup pintu restu
Gapura rahsia jalan bertemu.

Insaf diriku dera durhaka
Gugur tersungkur merenang mata:
Samar terdengar suwara suwarni
Sapur melipur merindu temu.
"Puisi: Insaf (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Insaf
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Manusia
Alangkah majunya manusia
Berpacu dengan waktu
Berpacu dengan dirinya

Alangkah sepinya puisi
Berdenyut malam hari
Dalam hati.
  
1984
"Puisi: Manusia (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Manusia
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Wajah


Wajah yang puluhan tahun kukenal dari hari ke hari
Bagian akrab hidupku, tetap asing dan rahasia. Teka-teki!
 
   
"Puisi: Wajah (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Wajah
Karya: Ajip Rosidi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dari Jakarta


Kesadaran tumbuh di Jakarta
kalau tiada Jakarta hidup betapa hitamnya
karena panggilan tinggal terpendam.
(Sedang darah menyala-nyala: derap kuda
berpacuan di dalam rongga)

Kemesraan paling dalam dikumur dalam dada
karena cinta bergalau kemualan
oleh kesudian paling terkutuk.
 
   
"Puisi: Dari Jakarta (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Dari Jakarta
Karya: Ajip Rosidi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lautan Maha Dalam


Lautan maha dalam! Tak kuketahui betapa sunyi dasarmu
Yang kukenal hanya riakan yang bergetar pada wajahmu
Kau sembunyikan badai dalam ketenangan yang syahdu
Namun yang menghempas-hempaskan daku dalam alunan nafasmu!
 
  
1970
"Puisi: Lautan Maha Dalam (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Lautan Maha Dalam
Karya: Ajip Rosidi