Maret 2000
Nocturno

Kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu
entah kapankah bisa kutangkap...

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Nocturno
Karya: Sapardi Djoko Damono
Dalam Bus

Langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana
wajah di kaca jendela yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat: waktu henti ia tiada.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Dalam Bus
Karya: Sapardi Djoko Damono
Ketika Menunggu Bis Kota, Malam-malam

"Hus, itu bukan anjing; itu capung!" katanya. Tapi capung tak pernah terbang malam, bukan? Capung tak suka ke tempat sampah
- biasanya ia hinggap di ujung daun rumput waktu pagi hari,
dan kalau ada gadis kecil akan menangkapnya ia pun terbang ke balik pagar sambil mendengarkan suara "aahh!" Tubuhnya mungil, bukan?
Sedangkan yang kulihat tadi jelas anjing kampung yang ekornya buntung, menjilat-jilat tempat sampah yang di seberang halte itu, mengelilinginya,
lalu kencing di sudutnya.
Hanya saja, aku memang tak melihat ke mana gaibnya.
"Itu capung!" katanya. Sayang sekali bahwa kau merasa tak melihat apa pun di seberang sana tadi.

1982
"Puisi: Ketika Menunggu Bis Kota, Malam-malam (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Ketika Menunggu Bis Kota, Malam-malam
Karya: Sapardi Djoko Damono
Bunga, 1

I
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padang waktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketika nampak sekawanan gagak
terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku
ini si bunga rumput, pilihan dewata!”

II 
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-sela geraham batu-batu gua pada suatu pagi,
dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua
itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm
dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan
hutan terbakar dan setelah api ....
Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para
manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!” 

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Bunga, 1
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sudah Kubilang, Jangan Kamu ke Sana

1
Sudah kubilang, jangan kamu ke sana.

2
Ternyata memang tak ada
perempuan itu -
seorang tukang sepatu
di sudut perempatan;
digosoknya sepatu kaca
sebelah kanan saja;
tidak digubrisnya
pertanyaan yang hati-hati disodorkan
kepadanya.
Sepanjang jalan tanpa gerak
tanpa dengus napas.
Mendadak di seberang sana
terdengar seseorang
bicara tak jelas
dengan pemuda tampan
yang menuntun sepeda motornya
selebihnya: seutas tali
yang sia-sia.

3 
Memang hanya seorang
tukang sepatu
hanya waktu yang berhenti
di tengah malam
tepat, tak bergerak
sebelum berganti hari
seperti menunggu warta.
Tapi aspal tak ramah
terhadap kereta kuda
yang diharapkan lewat
tengah malam itu
menyampaikan amanat
dari langit yang sengit
yang lebih suka
tinggal di bukit.

4
Sudah kubilang, jangan kamu ke sana.

5
Perempuan tanpa gincu
berhenti di depan tukang sepatu
tampaknya menanyakan sesuatu
mungkin menanyakan sesuatu - 
rok kubis merah meredup
di bawah rimbun malam
yang berharap hari
segera berganti
yang berharap kena hujan;
bibir yang tak putusnya
melelehkan suara-suara
mungkin mantra
mungkin rasa perih
yang menyertai putus asa
mungkin harapan yang salah musim;
dan tukang sepatu menggosok
dan terus menggosok
moga-moga berpikir
itulah jawabnya.

6
Kota ini sebuah muara
bagi sekawanan burung
yang telah bermigrasi
dari tanah-tanah jauh
hanya untuk tiada –
setelah sejenak bertengger
sejenak saja
di pohonan pinggir jalan
sebelum sempat bercericit
tentang sepatu kaca
sebelah kiri saja
yang tak terurus
di tangga istana di sebuah bukit
sebelum sempat memberi salam
kepada si tukang sepatu
yang sejak semula yakin
tak akan ada seekor burung pun
sempat hinggap di kota
yang muara
yang sengit
yang tak gemar
pada kata.

7
Sudah kubilang, jangan kamu ke sana.

8
Seutas tali yang sia-sia.

9
Waktu tak hendak beranjak
tepat di pergantian hari.

"Puisi: Sudah Kubilang, Jangan Kamu ke Sana (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sudah Kubilang, Jangan Kamu ke Sana
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sudah Lama Aku Belajar

1
Sudah lama aku belajar memahami
apa pun yang terdengar di sekitarku,
sudah lama belajar menghayati
apa pun yang terlihat di sekelilingku,
sudah lama belajar menerima
apa pun yang kauberikan
tanpa pernah bertanya apa ini apa itu,
sudah sangat lama belajar mengagumi matahari
ketika tenggelam di tepi danau belakang rumahku,
sudah sangat lama belajar bertanya
kepada diri sendiri
mengapa kau selalu mamandangku begitu.

2
Ia menyaksikanmu memutar
kunci pintu rumahmu,
masuk, dan menutupnya kembali.

3
Kalau pada suatu hari nanti
kau mengetuk pintu
tak tahu apa aku masih sempat mendengarnya.

 
"Puisi: Sudah Lama Aku Belajar (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sudah Lama Aku Belajar
Karya: Sapardi Djoko Damono
Buku Cerita Anak
(Untuk Riris)

Ketika kami sibuk memperkosa perempuan-perempuan itu
dalam buku cerita para kurcaci sedang berdebar menyaksikan.

Sang Pangeran mencium kening Putri Tidur -
kobaran api itu melepaskan isyarat yang tak ada lagi kuncinya.

"Puisi: Buku Cerita Anak (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Buku Cerita Anak
Karya: Sapardi Djoko Damono
Percakapan Malam Hujan

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, "Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam."

"Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang."

1973
"Puisi: Percakapan Malam Hujan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Percakapan Malam Hujan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Kecapi

O, Kekasih, dunia hiru-biru.
Kita duduk berdua saja, terasing dari yang lain.
Biarkan daku membunyikan kecapi dan berceritera dengan bernyanyi.
Siapa tahu ada orang yang berjuang yang rindu kepada kedamaian dan keteduh-tenangan.
Ia mendengar beberapa lagu dan ia terkadang menyanyikannya dalam malam duka nestapa.
O, Adinda, barangkali ia teringat akan kekasihnya dan pantunku menghiburkan hatinya.

"Puisi: Kecapi (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Kecapi
Karya: Sanusi Pane
Aku Tidur di Remang Tubuhmu

Aku tidur di remang tubuhmu
sampai kau lelap dalam ombak dan deru.
Saat ombak surut dan waktu terbungkus kabut,
mimpi baru setengah jadi. “Ayo melaut lagi!”
Melautlah lagi. Aku sedang mati.

2004
"Puisi: Aku Tidur di Remang Tubuhmu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Aku Tidur di Remang Tubuhmu
Karya: Joko Pinurbo
Hijrah

Setelah tugas-tugas di ranjang
kubereskan, badai kuredakan, aku hijrah
ke jauh tubuhmu, menyusuri
jalan setapak yang terjal berliku, melintasi
daerah-daerah berbahayamu,
sebelum sampai di perhentian terakhir
di mana aku disalibkan di sebuah ujung
dan tubuhku tinggal ruang.

2004
"Puisi: Hijrah (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Hijrah
Karya: Joko Pinurbo
Kalvari

Hari sudah petang ketika maut tiba di ranjang. 

Orang-orang partai yang mengantarnya ke situ 
sudah bubar, bubar bersama para serdadu 
yang mengalungkan kawat berduri di lehernya 
dan membuang tubuhnya tadi siang. 

Hanya ada seorang perempuan sedang sembahyang 
berkerudung kain kafan 
dan menggelarnya bagi raga yang capai. 

“Bapa, belum selesai. Entah kapan saya sampai.” 

Hanya ia yang tawakal 
menemani ajal, 
menyiapkan pembaringan 
buat tidur seorang pecundang: 
warga tanpa negara, tanpa agama. 

Hanya ia yang mendengar sekaratnya. 

“Telah kuminum anggur 
dari darah yang mancur. 
Telah kucecap luka 
pada lambung yang lapa. 
Di tubuh Tuhan kuziarahi 
peta negeri yang hancur.” 

Maut sudah kosong 
ketika mereka hendak menculik mayatnya. 
Hanya ada seorang perempuan 
sedang membersihkan salib di sudut ranjang. 

“Ia sudah pergi ke kota,” katanya, 
“dan kalian tak akan bisa lagi menangkapnya.”

1998
"Puisi: Kalvari (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kalvari
Karya: Joko Pinurbo
Meditasi

Celana tak kuat lagi menampung pantat
yang goyang terus memburu engkau.

Pantat tak tahan lagi menampung goyang
yang kencang terus menjangkau engkau.

Goyang tak sanggup lagi menampung sakit
yang kejang terus mencengkram engkau.

Telanjang tak mampu lagi melepas,
menghalau Engkau.

2000
"Puisi: Meditasi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Meditasi
Karya: Joko Pinurbo
Perempuan Senja

Perempuan itu telah berjanji bertemu senja di kuburan.
Ia terlambat datang. Senja baru saja pergi dan hanya
meninggalkan dedaunan kering dan kotoran burung di atas nisan.

Ia melamun saja, mencari-cari wajah senja di cakrawala.
“Senja telah menyerahkanmu ke pelukanku,” tiba-tiba malam
menepuk punggungnya dan hendak menciumnya.

Perempuan itu menjerit dan serta merta ditepisnya tangan malam
yang hendak merebut wajahnya. Ia bergegas pulang dan malam
menguntitnya terus dengan gerimisnya yang cerewet dan nakal.

Pagi mendapatkan tubuhnya yang telanjang di ranjang.
“Malam telah kubunuh di kuburan. Kau milikku sekarang.”
Tapi perempuan itu masih nyenyak tidurnya:
mungkin ia sedang bermimpi dicium senja di makam.

2000
"Puisi: Perempuan Senja (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Perempuan Senja
Karya: Joko Pinurbo
Kain Kafan

Kugelar tubuhku di atas ranjang
seperti kugelar kain kafan yang telah dibersihkan.

Siapa yang tidur di atas kain putih ini semalam?
Kutemukan bercak-bercak darah: gambar wajah
yang kesakitan dan luka lambung yang belum disembuhkan.

Kulipat tubuhku di atas ranjang
seperti kulipat kain kafan yang kaujadikan selimut tadi malam.

2000
"Puisi: Kain Kafan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kain Kafan
Karya: Joko Pinurbo
Tubuhmu Lebih Luas Dari Ranjang

Semalam sehektar ranjang.
Setahun sejengkal badan.

Kutempuh kau di hektar-hektar mimpi.
Di hektar-hektar sakit kau kujelajahi.

Tubuhmu jauh, menikung, curam.

Tubuhmu lebih luas dari ranjang.

2000
"Puisi: Tubuhmu Lebih Luas Dari Ranjang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tubuhmu Lebih Luas Dari Ranjang
Karya: Joko Pinurbo
Perempuan Jakarta

Memang tampak cantik ia
dengan celana merah menyala.
Senja berduyun-duyun
mengejar petang mengejar malam.
Pada sebuah billboard masih juga ia bertahan
dengan air mata yang disembunyikan.

Di jalanan para demonstran pesta pora
mengibarkan kata mengibarkan celana.
“Ayo kita sergap dia!”
“Ayo tangkap saya!” ia menantang
sambil ia pamerkan pantatnya yang matang.
Mereka lalu mengepungnya,
ingin meraih wajahnya, meraih sakitnya.

“Rebutlah aku!” ia merayu
dan mereka siap menyerbu.

Perempuan pengembara.
Aku telah lihat ia punya rahasia.
Aku telah lihat tahi lalat kecil di teteknya,
tahi lalat besar di pantatnya.
Aku telah lihat luka yang dalam dan kekal
di sentral tubuhnya.

Memang tambah cantik ia
dengan anggur darah di tangannya.
Kota akan kehilangan dia bila ia tak lagi di sana.

2000
"Puisi: Perempuan Jakarta (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Perempuan Jakarta
Karya: Joko Pinurbo
Doa Sebelum Mandi

Tuhan, saya takut mandi.
Saya takut dilucuti.
Saya takut pada tubuh saya sendiri.

Kalau saya buka tubuh saya nanti,
mayat yang saya sembunyikan
akan bangun dan berkeliaran.

Saya ini orang miskin yang celaka.
Hidup saya sehari-hari sudah telanjang.
Kerja saya mencari pekerjaan.
Tubuh saya sering dipinjam orang
untuk menculik dan membinasakan korban.
Mereka bisa dengan mudah dihilangkan
tapi di tubuh saya mereka tak dapat dilenyapkan.

Tuhan, mandikanlah saya
agar saudara kembar saya
bisa damai dan tenang di tubuh pembunuhnya.

2000
"Puisi: Doa Sebelum Mandi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Doa Sebelum Mandi
Karya: Joko Pinurbo
Pada Lukisan Monalisa

Di rambutmu burung-burung membuat sarang.
Burung-burung yang terbang dari khasanah senja;
yang sudah berapa lama terkurung dalam himpitan Hawa.
Burung-burung yang memintal benang-benang cahaya
dengan kepak lembut sayap-sayapnya yang luka.
Burung-burung yang menggurat padang langit hijau
dengan cakar-cakar perih dan kicau-kicaunya yang parau.

Dan engkau adalah pohon yang dahan-dahannya
menjulur lentur karena adalah kenangan.
Yang akar-akarnya menjuntai ke wilayah malam.
Yang ranting-rantingnya lembut karena adalah igauan.
Yang daunnya rimbun menghalau kobaran jaman.
Yang pucuk-pucuknya menjulang karena adalah jeritan.

1990
"Puisi: Pada Lukisan Monalisa (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pada Lukisan Monalisa
Karya: Joko Pinurbo
Penyair Tardji

Tardji minta bir buat pesta di malam buta.
“Sampai tuntas pahit-asamnya.
Sampai pecah ini botolnya.”

Dalam mabuk ia minta tuak dari jantung-Mu.
“Mana kapak? Biar kutetak leher panjang-Mu.”

Sampai huruf habislah sudah.
Sampai nganga luka dibelah.
“Ya Allah, sajak terindah kutemu dalam Kau darah.”

1986
"Puisi: Penyair Tardji (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Penyair Tardji
Karya: Joko Pinurbo
Malam itu Kita Kondangan

Malam itu kita pergi kondangan.
Naik andong kehujanan,
kudanya lari kencang:
kling klong kling klong.

Malam sudah sangat larut.
Sudah sangat panas pestanya.
Di dalam rumah banyak tamu asing
lagi asyik main kuda lumping.

Pengantin mengenakan topeng monyet,
duduk mengangkang di pelaminan.
"Selamat kawin, saudara kembar,"
kita ucapkan salam.
“Selamat datang, calon jerangkong,”
sambutnya riang.

Kau terkekeh dan lalu terkenang
melihat potretmu di dinding ruang
lagi meringis dalam gendongan.
"Dia si anak hilang," pengantin
menjelaskan.

Malam itu kita kondangan.
Naik andong kehujanan,
kudanya lari kencang:
kling klong kling klong.

Kita melaju, melenggang
dalam sengkarut ingatan.

1997
"Puisi: Malam Itu Kita Kondangan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Malam itu Kita Kondangan
Karya: Joko Pinurbo
Mata Sunyi

Tempat terindah
untuk cuci mata
ialah matamu: mata sunyi yang memancar
di balik keriuhan hari-hari dan keramaian kata-kata.

Matamu: rona langit jam lima pagi,
masa kanak yang terlahir kembali,
doa cerah seorang bocah,
kecantikan yang hangat dan rendah hati,
warna hujan di cerlang senja,
lampu tidur yang tak mau tidur,
nyala rindu yang menerangi cinta,
indonesia kecil yang pandai berbahagia.

Matamu: mata air
yang menyembul di rahim waktu
ketika magrib menggema dan pengembara
singgah sejenak membasuh muka, membaca tanda.

2016
"Puisi: Mata Sunyi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Mata Sunyi
Karya: Joko Pinurbo