Topeng
(untuk Danarto)

1
Ia gemar membuat topeng. Dikupasnya 
wajahnya sendiri satu demi satu 
dan digantungkannya di dinding. “Aku 
ingin memainkannya,” kata seorang sutradara. 

Malam hari, ketika lakon dimainkan, 
ia mencari wajahnya sendiri di antara topeng- 
topeng yang mendesah, yang berteriak, 
yang mengaduh: tapi tak ada. Ternyata ia masih 

harus mengupas wajahnya sendiri satu demi satu. 

2
“Di mana topengku?” tanyanya, entah kepada 
siapa. Dalam kamar rias: cermin retak, pemerah 
pipi, dan bedak berceceran di mana-mana; 
dan tak ada topeng. “Di mana 

topengku?” tanyanya. Tegangan listrik yang rendah, 
sarang laba-laba di langit-langit, 
dan obat penenang di telapak tangan. Tak ada 
topeng itu. Mungkin maksud sutradara: Sang Tiran 

harus menciptakan topeng dari wajahnya sendiri. 

3
Tapi topeng tak boleh menjelma manusia; 
ia, tentu saja, hafal sabda raja 
dan sekarat hulubalang. Ia kenal benar sorot mata 
dan debar jantung penonton. Ia, ya Allah, 

tak pernah tercantum dalam buku acara, 
tak menerima upah, dan digantung saja di dinding 
jika lakon usai. Tinggal berdua di belakang panggung 
yang ditinggalkan, sutradara tak juga menegurnya. 

Ia tak berhak menjadi manusia.

1985
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Topeng
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top