April 2000
Piramida Syahadat

Limabelas maret. ini waktu siapa aku di kuburan. menaiki
tangga. menaiki tangga. menaiki tangga. bersembahyang
hingga sampai ke lingkaran syahadatmu. orang-orang ber-
sujud di antara kabel-kabel. aku di kuburan. memutar jam
seenaknya. tak ingin lagi laut tak ingin lagi matahari. semua 
dunia ingin bunuh diri.

Aku sembahyang sampai ke kantor-kantor. terbangun
dari jadwal kerja. menaiki tangga. menaiki
tangga. gunung-gunung syahadat tumpah dari ujung-ujung
jemariku...

Aku di kuburan. mencari selimut untuk matahari. mencari
selimut untuk laut. seribu neon membawa kuburan ke arahku.
mengalir aku dalam sesak jalan rayamu. memilih manusia di
antara lalu -lintas seribu televisi.

Aku di kuburan. mengibarkan selimut untuk matahari.

1984
"Afrizal Malna"
Puisi: Piramida Syahadat
Karya: Afrizal Malna
Epidemi Lelaki Mati

Pagi, seperti sebuah epidemi waktu. Aku ingin 
mengulangi lagi pagi kemarin. Matahari sama, 
petugas kebersihan kota sama, penjual kopi di 
warung kopi sama. Pagi hari, semua tidak sama lagi 
dengan kemarin. Darahku menyusun sel-selnya lagi, 
membangunkan seluruh makhluk yang menginap 
dalam tubuhku. Mereka merayakan epidemi pagi. 
Cahaya hangat matahari, kopi hangat, pisang goreng 
hangat. Kenangan bercinta yang tersisa pada 
pecahan kulit telur ayam.

Pagi yang menular, hingga aku seperti memandikan 
mayatku sendiri di kamar mandi. Aku bersihkan gigi, 
kuku dan seluruh tubuhku yang bukan hidup lagi, 
yang bukan aku lagi, yang bukan seorang pagi lagi. 
Aku rayakan lelaki mati di sebuah pasar yang pernah 
terbakar di Surabaya. Kini berdiri sebuah mall di s
ana. Mall dengan sisa-sisa bau beras terbakar masih 
tersimpan di seluruh dindingnya.

Double espresso, aku memesan kopi kental. Seorang 
lelaki mati memelukku. Kekasihku, katanya, aku tidak 
bisa lagi mengingat cintamu. Tetapi aku tak pernah 
lupa pelukanmu. Jejak-jejak pasir di bibir, sebuah 
perahu yang tidak lagi merasakan waktu. Sebuah 
pantai yang pergi, meninggalkan sebutir pasir di 
telapak tanganku.


"Afrizal Malna"
Puisi: Epidemi Lelaki Mati
Karya: Afrizal Malna
Korek Api di Atas Bayanganmu

Ada masa kanak-kanak yang masih mengenalmu, datang di suatu sore, dan menuliskan sesuatu di atas bayang-bayangmu. Sebuah korek api bekas membersihkan gigi. Masa kanak-kanak itu menulismu, rasanya perih. Seperti belahan pada telur asin. Sore itu, aku masih memeluk lehermu: Sebuah kota di masa liburan sekolah. Anak-anak belajar memelihara orang tua, memandikannya, memberinya makan, dan menguburkannya bila mati aku menulisnya. Anak-anak belajar membeli beras dan minyak goreng, dan menjadi orang tua dengan bayangan yang terbuat dari korek api. Anak-anak melahirkan, aku menulisnya sore itu ketika ombak datang membasahi lehermu. Anak-anak dari bayangan korek api. Anak-anak sekolah, sekolah dari bayangan korek api. Anak-anak mencari kerja, lapangan pekerjaan dari bayangan korek api. Lehermu kemudian mengeras, seperti masa liburan sekolah yang telah berakhir. Seperti kemarahan korek api terhadap kotamu. Seperti perjalanan korek api kembali ke hutan, kembali ke batang-batang pinus, tempat api melahirkan ibumu. Tempat api melahirkan sebuah sore. Dan aku menulis bayanganmu dengan tangan-tangan api.


"Afrizal Malna"
Puisi: Korek Api di Atas Bayanganmu
Karya: Afrizal Malna
Dada

Sehari. Waktu sama sekali tak ada, Dada. Bumi 
terbaring dalam tangan yang tidur. Ingin jadi manusia 
terbakar dalam mimpi sendiri. Sehari. Semua terbaring 
dalam waktu tak ada. Membaca, Dada. Membaca kenapa 
harus membaca, bagaimana harus dibaca. Orang-orang 
terbaring dalam tubuhnya sendiri, orang-orang terbaring 
dalam pikirannya sendiri. Mengaji, Dada. Mengaji. 
Keinginan jadi manusia, menulis dan membaca di tangan 
sendiri.

Sehari. Waktu tidak menanam apa-apa, Dada. Hanya 
hidup, hanya hidup membaca dirinya sendiri; seperti 
anak-anak membaca, seperti anak-anak bertanya. 
Menulis, Dada. Menulis kenapa harus menulis, 
bagaimana harus ditulis. Orang-orang menjauh dari 
setiap yang bergerak, Dada; seperti menakuti setiap yang 
dibaca dan ditulisnya sendiri. Membaca jadi mengapa 
membaca, menulis jadi mengapa menulis.

Sehari. Aku bermimpi aku jadi manusia, Dada. Sehari. 
Dada. Sehari.

1983
"Afrizal Malna"
Puisi: Dada
Karya: Afrizal Malna
Arsitektur Hotel

Hotel sepi. Hotel mati. Seekor burung dari kamar ke 
kamar, menyileti cermin. Dan batu-batu membuat 
bangku, dan batu-batu membuat pintu, dan batu-batu 
membuat tamu. Dada. Telur-telur mati mengisi hotel. Beri 
aku orang.

Hotel mengubah orang-orang datang jadi orang-orang 
pergi, menyetir mobil sendiri, menyetel radio sendiri, 
memanggil burung-burung terbang, menghias sunyi di 
setiap telur. Maka, dada, kupu-kupu bersarang jadi 
pohon mati, burung-burung terbang jadi bukit mati. Ia 
bangun manusia pecah.

Ini jam hotel. Dada. Waktu sedang membuat sarang, 
membuat telur. Setelah semua janji dianggap tidak suci, 
angin itu jadi hotel, semangka itu jadi hotel, sapi itu jadi 
hotel. Maka jendela-jendela hotel, Dada, menunggu 
semua yang pergi, menunggu semua yang lari, 
menunggu semua yang tak setuju.

Biarkan tamu-tamu datang. Dada. Memecahkan telur 
dari kamar ke kamar. Memecahkan telur dari kamar ke 
kamar.

1984
"Afrizal Malna"
Puisi: Arsitektur Hotel
Karya: Afrizal Malna
Celukan Bawang

Kadang airmataku menjadi butiran garam
Yang berkilauan di bawah bulan
Tanganku gemetar dan jemariku memercikkan air
Sebuah tembang mengalirkan masa kanak-kanakku
Yang terasa dingin, asing dan sangat jauh
Kupilih menyendiri di pelabuhan kecil ini
Sambil menggambari pasir dengan ingatanku
Di penghujung malam kadang aku berteriak
Bersama rumputan, batu karang dan ombak pasang
Atau kadang menjerat bintang-bintang
Dengan tarianku. Setiap fajar tiba
Wajahku menjadi ungu oleh sajak-sajak
Yang tak kunjung dituliskan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Celukan Bawang
Karya: Acep Zamzam Noor
Goa Hijau Penuh Kaligrafi

Lelehan keringatmu telah menjadi lautan
Kembali aku berenang dan kerasukan
Dalam panjangnya ciuman. Dadamu
Gelombang yang penuh lekukan
Selalu menyediakan ruang
Bagi lahirnya kata-kata

Kudengar deru ombak
Pantai tinggal sehamparan pasir
Dan sungai hanya perpanjangan garis
Yang menguap di udara. Aku berenang lagi
Tanpa gerakan yang menakjubkan
Tanpa membalikkan badan
Atau memutar tangan
Kuturuni pinggulmu yang curam
Senja telah menyarungkan pisaunya
Ke tengah-tengah malam

Aku berenang
Aku minum
Aku bermimpi menjadi sufi
Sebuah goa hijau penuh kaligrafi
Pelan-pelan kumasuki. Pohon-pohon bakau
Menjadi rambut dan jangggutku
Sedang terumbu karang
Yang mekar di selangkanganmu
Masih juga menyisakan ruang
Bagi kata-kata. Aku terus berenang
Dan semakin kerasukan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Goa Hijau Penuh Kaligrafi
Karya: Acep Zamzam Noor
Candidasa

Sebuah pantai yang bersih dengan retakan-retakan
Yang ditinggalkan hujan. Kami memulai ziarah
Menggambar bentuk perahu di balik kaca jendela
Kulihat sekuntum bunga di atas pasir
Jauh di tengah laut, tiga batu karang tegak
Dua bukit menjadi gerbang bagi kerajaan air
Tempat api menampakkan dirinya di antara gelombang
Dan kesenyapan kaki langit yang jauh

Kami meninggalkan hotel dan memulai ziarah
Menyusuri pantai dan retakan-retakan tanah
Bangkit dan menunjuk arah pondok-pondok garam
Menemukan patung dari susunan dayung-dayung
Gulungan layar serta sisa gambar di badan perahu
Lebih jauh lagi, sebuah gua penuh kelelawar
Yang pintunya dijaga batu-batu penuh ukiran

Kami terdampar di sini bukan untuk memusnahkan diri
Tapi keabadian dan keagungan maut selalu mengisyaratkan
Cahayanya sebagai ombak yang menjilat-jilat
Sepanjang tepi bumi. Kudengar teriakan-teriakan
Seribu kelelawar dan seribu pohon besar
Seribu gamelan yang ditabuh dan seribu penari kasmaran
Dengan pakaian warna-warni dan wewangian
Ramai-ramai membakar mayat di pantai.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Candidasa
Karya: Acep Zamzam Noor
Hujan Telah Reda

Hujan telah reda
Sekali lagi, hujan telah reda
Sepanjang musim basah
Dengan udara yang membeku seluruhnya
Darahku teramat sejuk, seperti jam
Yang menggenang di lantai kayu:
Aku tak dapat membedakan mana lebih indah
Kenyataan waktu yang pergi atau garis kenanganku
Yang terpatah-patah. Tapi harus kutemukan sudut lain
Buat cahaya redup dari kata-kataku ini
Besok, ketika matahari menyembul dari balik bukit
Tanganku akan mencapai ujung rambutmu yang terdekat

Hujan telah reda
Sekali lagi, hujan telah reda di sini
Tungku pemanas di ruangan tengah
Suara batu bara yang terbakar
Adalah isyarat paling akhir dari sunyi:
Sepasang sepatu bukanlah satu-satunya dunia
Setumpuk surat, kartu telepon dan rekening listrik
Hanyalah bagian dari kamar sempitmu di kota
Kini kata-kataku berjuang melawan slogan dan retorika
Di antara riuhnya televisi dan dinginnya kulkas
Kelak, ketika koran-koran mengabarkan kematianmu
Satu ciumanku akan memerahkan seluruh pipi cakrawala

Hujan telah reda
Sekali lagi, sayang, hujan telah reda
Pisau yang penuh mentega
Begitu tenang di samping roti
Mungkin aku masih memasak di dapur
Saat pikiranku menjelajahi hutan dan museum:
Kereta api telah membawaku ke sudut-sudut paling rahasia
Dari sejumlah perang saudara yang berkobar di sana
Namun sejengkal dari pusarmu kutemukan tahi lalat itu
Lalu kehidupan pun dapat kusimpulkan dengan segera
Kini, ketika bom-bom dijatuhkan dan meledak
Di ranjang kita masih berpelukan dan sedikit berkeringat.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Hujan Telah Reda
Karya: Acep Zamzam Noor
Para Kekasih

Attar telah bernyanyi tentang burung
Yang terbang dari dahan-dahan jiwa
Sana’i telah menanam dan memetik mawar abadi
Telah banyak nyanyian dan juga kesedihan
Dibisikkan angin yang memuja keramahan Sulaiman
Batu-batu digosok para kekasih menjadi nilam sejati
Dan udara dipenuhi aroma hati yang terbakar

Begitu mendengar senandung Daud yang merdu
Pohon-pohon terhenti dari kejatuhannya ke tanah
Dan airmata langit mengkristal di udara
Jalaluddin telah mengundang matahari turun dari hatinya
Rumput-rumput terkejut dari keterikatannya pada akar
Sedang jiwa bumi bergerak dalam tarian yang riang
Hingga batu-batu berterbangan bagaikan kapas

Di sepanjang Laut Tengah yang tawar
Langit bagaikan logam yang disepuh keemasan
Di sana Yunus memahat sajak-sajaknya dalam kaligrafi
Yang sulit dibaca. Tapi ikan-ikan dapat membacanya
Kadal-kadal telah membacanya dengan mata terpejam
Karang-karang menyusut menjadi butiran pasir
Dan lautan membukakan lembaran-lembaran buku

Hafiz menyuling anggur dari kebun hatinya
Lalu mengundang burung-burung untuk mabuk bersama
Jami bergoyang-goyang di antara dua cawan besar
Yang disajikan langit dan bumi pada kehidupan
Tak terhitung berapa lagu dan juga airmata
Disalurkan sungai-sungai rahasia ke Safa dan Marwah
Menjadi gelombang para kekasih yang mengalir


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Para Kekasih
Karya: Acep Zamzam Noor
Dari Fort Santiago
(In Memoriam Jose Rizal)

Mungkin kehijauan lahir dari pengorbananmu juga
Berabad sudah cuaca memulas tembok-tembok ini
Dan seperti tak ada nyanyian, hanya buku
Yang kehilangan halaman-halamannya

Mungkin suaramu masih bergulung di udara
Atau tengah menyentuh lorong-lorong penjara
Dan seperti tak ada sejarah, hanya remah roti
Bagi merpati yang terbang ke sana ke mari.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Dari Fort Santiago
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepanjang Jalan

Sepanjang jalan kupungut patahan ranting
Kukumpulkan luruhan daun dan kutandai jejak kaki
Sepanjang musim yang basah kuaduk tong sampah
Kubongkar cuaca. Hanya hujan, hanya banjir
Dan aku kehilangan seluruh matahari
Kususuri selokan dan gang, kureguk minuman paling keras
Kulepaskan pakaian dan kuburu sunyi yang berloncatan
Seperti bunyi senapan. Kukejar hingga ke tengah pasar:
Aku pun menjelma pedagang kaki lima, menjajakan cinta
Pada setiap orang. Mengobral janji dan harapan

Sepanjang jalan kutulis sajak-sajak penuh kutukan
Kucari ungkapan-ungkapan paling gelap serta kurekam raung
Ambulan dan pemadam kebakaran. Sepanjang jalan raya
Sepanjang siang dan malam. Kumasuki penjara
Kujelajahi semua masjid, gereja dan vihara
Selalu saja aku tak tahu mesti menuju ke mana
Sepanjang keterdamparan, sepanjang keterasingan
Tak ada yang bisa kumengerti, tak ada yang perlu kupahami
Ingin berlayar, ingin terus mengembara
Mengayuh perahu usia, menggali kubur di lautan kata-kata.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sepanjang Jalan
Karya: Acep Zamzam Noor
Bau Tanah Sehabis Hujan

Di kerumunan pulau yang jauh di sana
Masih tersimpan puisi-puisiku. Pohon-pohon bambu
Rumpun-rumpun perdu serta hamparan sawah
Yang menguning. Arus sungai bergolak dalam dadaku
Memompa urat darah, memacu degup jantung

“Aku segera ke sana,” bisikku pada garu dan luku
Pada kerbau yang menunggu. Kuhirup bau tanah sehabis hujan
Kujejaki pematang dengan ingatan, lantas termangu:
Di manakah aku? Kulihat langit masa lalu
Langit lengkung biru

Di bawah matahari yang membakar
Terkubur tanah airku. Pecahan batu, lelehan aspal panas
Genangan semen menghapus semua jejak waktu:
Di manakah aku? Hanya julangan rangka-rangka besi
Bentangan kawat-kawat listrik dan gemuruh pabrik
Hanya awan hitam, kepulan asap dari cerobong zaman
Membumbung seperti lengking azan

Udara buruk menyesaki dadaku, angin jahat merabuki napasku
Kemarau menjadi api, hujan menjadi ancaman dan petir berkilatan
Seperti pedang. “Aku segera ke sana,” bisikku pada penjaga parkir itu
Pada birokrasi. Tersenyum, mengangguk, lalu masuk:
Telah kusatroni salon dan butik, kusambangi restoran dan apotik
Kurampok panti pijat dan rumah sakit. Tapi di manakah aku?


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Bau Tanah Sehabis Hujan
Karya: Acep Zamzam Noor
Tchaikovsky 1812

Dalam dada sesak
Kabut mengerang lalu tergelepar
Dan di sini kulihat Iwan
Ketika dia menunjukkan
Sebuah bulan bujur sangkar.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Tchaikovsky 1812
Karya: Taufiq Ismail
Kenangan pada Dunia Kanak-Kanak

Masih ingatkah kau, masa bocah kita
Sekali lama, di desa Zahleh karunia
Betapa di kebun anggur dua bayang bertemu
Bertukar gelak di rimbun semak rindu?

Masih ingatkah kau, bila kita bersirebutan
Memetiki gugusan anggur paling matang
Dan semua kita bayar dengan rekah senyuman
Bercita rasa manis mabuk kepayang?

Masih ingatkah kau pagi malaikat berdua
Pada pelukannya kemesraan dan kesayangan
Melambungkan kita ke kilau-kilau angkasa
Meninggi hingga kita lingkari kayangan?

Dan bagaimana sungai yang selalu kita mudiki?
Masihkah ia mengalir dengan biru tanah tepi?
Ah, begitulah cinta meramu semua
Memerciki pepohonan dengan kebugarannya.

26 Agustus 1959
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kenangan pada Dunia Kanak-Kanak
Karya: Taufiq Ismail
Suatu Pemikiran Bermukim dalam DiriKu

Suatu pemikiran bermukim dalam diriku
Aku akan mati di atas empuknya ranjang
Aku akan layu sekuntum kembang
Punah dikerikiti ulat durjana

Jangan beri daku ajal ini. 
Tuhan
Jangan beri daku ajal ini

Jika aku pekayuan disambar petir
Dikoyak badai, terambung dari muka bumi
Jika aku karang kelabu, di celah sungai salju
Diputing topan terlempar ke dada jurang

Jika setiap orang merenggutkan serba kekang
Dan menengadahkan kepala mereka ke pesta
Kemerdekaan Dan panji-panji ungu berkebar-gebar
Mengumandangkan kata agung ini ke seluruh bumi 
KEMERDEKAAN

Dan di tumpak terompet lengking melengking
Dari Timur ke Barat
Dan di tumpak orang-orang merambah rata semua yang membelintang
Di sana biarkan aku gugur, pada padang ini
Di sana biarkan darahku remaja mengalir dari jantungku.

20 Mei 1959
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Suatu Pemikiran Bermukim dalam DiriKu
Karya: Taufiq Ismail
Batasan Sajak

Sajak adalah siul melengking curam
Sajak adalah gemeretak kerucut salju beku
Sajak adalah daun-daun meng-es sepanjang malam
Sajak adalah dua ekor burung malam menyanyikan duel
Sajak adalah manis kacang kapri yang mencekik mati
Sajak adalah air mata dunia di atas bahu.

13 Mei 1959
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Batasan Sajak
Karya: Taufiq Ismail
Admiral Padang Gandum

tim anak padang gandum
rambutnya perang kusai jerami
tim suka arbei ranum
rengeknya menggayut gaun: mami!

matanya biru warna danau pun biru
dan tim kecil mengintip dari jendela kapal 
demi kapal
merambatlah di cakrawala
dan tim kecil mau jadi nakhoda

terlalu muda anakku sayang
ibu nanti tinggal sendirian
teluk terlalu jauh
anak takut bapa tinggal sendirian

tim jalan tunduk ke ladang,
tangan di sakunya
hati betapa sebal
jerami pun patah-patah
aha begini para lembu jadi kapalnya
tim cilik adalah amiral padang gandum!

13 Desember 1958
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Admiral Padang Gandum
Karya: Taufiq Ismail
N.Y.

Sebelas ribu mil dan rabu
di sini mahal harganya
poster pucat di beton dingin
anak tuan-tuan butuh hijau cemara

dinding kota menjulur dalam bukit semen dan besi kapur
suara dan cahaya tak terjangkaukan
merembeslah dalam pori-pori sel
panjangnya bayang perigi

anak-anak tumbuh dengan 2 rabu
rabu semen dan rabu cemara


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: N.Y.
Karya: Taufiq Ismail
Nostalgia Pelayaran Atlantika

Rindu pun kerna semenanjung dua benua mengeras
di julang perbatuan karang

Dendam pun kerna biru teluk Lisboa
di dada tertatah serasa berlinang.

1957
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Nostalgia Pelayaran Atlantika
Karya: Taufiq Ismail
Lagu Roban

Bermerahanlah bunga semak liar pesisir rimba jati
Pantai sepanjang liku berlambai kelopak randu
- dan menjarak kau,
- musim kemarau bertangan pijar

Limas bukit biru remaja, jati-jati berputik
Laut genit mengempas pucuk buih berbunga
- dan bermukimlah kau,
- musim hujan berdada lembut.

Desember 1955
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Lagu Roban
Karya: Taufiq Ismail
Pelancing Kemalaman

Kelenjar yang didarahi lecut angin lorong berisik dalam jantung meramu angan sendiri aspal rengkah musim kemarau di sore lembab dan gerimis pintu-pintu yang bertutupan ada janji pelancong dengan dunia.

Menginap malam di tengah perjalanan sebuah kota yang nyenyak terdingin larut di kaki lima raun peronda kantuknya dilempar ke pangku perempuan malam truk barang lewat raung satu-satu bermata nyalang sepi trotoar mengendapi jantung pelancong yang tambah sepi di los pasar rasanya sejuk mengecil aku tidur mau di sana ah ucap pelancong kecil rasa sejuk mengecil na ada hangat tikar ikan peda semalam ini janji dia dengan bangsal pasar dunianya kemudian dentang-dentang pekayuan di gudang pagi penjaja sayur dan pedati luar kota yang memekak dan pelancong kecil yang menjelajah kutu di celana kumalnya.

Juli 1955
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pelancing Kemalaman
Karya: Taufiq Ismail
Rimba Jati (Alas Roban)

Mendenyut kemarau ke jantung rimba
Hutan 
Roban jati mengujur bukit
Kehidupan coklat terbentang di sela musim

Seekor elang menyelinap hitam dahan-dahan botak telanjang
Lengking menikam ruang terkabar daun-daun kesat membumi
Tanah mersik menua, jati dewasa di dada

Mendesing musim ranggas kuning-kuning bercenungan
Bukit penyimak peristiwa terbungkuk tua
Mengujurkan kakinya ke laut kelabu

Gairah terbaring pada satu hanya musim
Depan rimba jati, mendenting pada satu titik api
Gairah terik musim membakar jantung rimba jati

Menerjang asin ombak ke kaki bukit terbungkuk tua
Bumi mersik lekah di puncak demam makin melela
Demam rimba jati dituang ke satu titik api musim di muka.

29 Mei 1955
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Rimba Jati (Alas Roban)
Karya: Taufiq Ismail
Kelelawar

Kelelawar mengantuk dan tidur siang hari
Cara istirahatnya memang aneh sekali
Dia tidak perlu memakai tempat tidur
Apalagi tempat yang lunak seperti kasur

Dia bergantung pada cabang pohon-pohon kayu
Sayapnya dilipat menutup badannya
Dan tidurlah dia dengan cara begitu
Kaki ke atas dan kepala ke bawah arahnya

Di malam hari dia bangun dan mencari rezeki
Makanannya buah-buahan dan juga serangga
Maka terbanglah dia ke sana dan ke mari
Melayang dan mengelepakkan kedua sayapnya

Kelelawar itu penglihatannya tidak terlalu tajam
Bagaimana supaya tidak tertubruk ketika terbang malam?
Tuhan Yang Adil memberinya alat radar di kepalanya
Yang menjaga keselamatan penerbangannya.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kelelawar
Karya: Taufiq Ismail
Sersan Hasan

San, aku melihatmu sudah berkali-kali rasanya
Paling pertama ketika masa darurat Clash Kedua
Aku masih kanak-kanak engkau sudah bergerilya
Dulu kau tukang cukur di pasar, ayahku bercerita
Kemudian kulihat kau di sebuah gardu jaga
Terlindung dari terik matahari Oktober lima dua
Di ujung sana tampak meriam tank baja
Belakangan setelah empat belas tahun jaraknya
Aku dan kawan-kawan jalan kaki di Ikada
Keluar dari got, sesudah tembakan mereda
Menghitung barikade masihkah ada gunanya
Kita berselisih jalan, aneh umurmu sebegitu juga
Dari lenganmu selintas kau sersan masih tetap saja
Di tangan kananmu karaben tak ada bayonetnya
Menutup kepala ketat melingkar sebuah topi baja
Badanmu basah keringat, aku begitu juga
Mata kita berpapasan memang mungkin kenal di mana
Kita biarkan pertanyaan mengambang di udara
Lalu ada gulungan kawat berduri setinggi manusia
Dipasang mengancam langit melukai cuaca
Adegan sembilan delapan sore pengap peristiwa
Hasan sahabatku lama, umurmu sebegitu juga
Sekilas kulihat lagi engkau bersikap sempurna
Orang-orang berdemo beribu berteriak membahana
Kau dipungkangi 1000 kalimat bertanda seru mencerca
Tidak menjawab, kau jadi pagar tanpa kata
Matamu jauh memandang menyidik cakrawala
Perlukah aku bertanya masihkah engkau bintara
Dan kabarnya kau tidak lagi tinggal di asrama
Pulang dari tugas letih di batas dewan berjaga
Seragam penuh peluh itu kau lepas semua
Kecapekan duduk berkaos oblong tua
Tanpa karaben kini kau tiba-tiba jadi rakyat biasa
Yang luput dari sudut pandang mahasiswa
Kini kau hirup kopi pahit hangat yang kau suka
Seraya memeluk anak-anak kangen bapaknya
Ada yang memijat betis dan telapak kakinya
“Bapak capek ya,” begitu kata Aisa
Ditindih letih kau tertidur begitu saja
Diam-diam kupotret adegan Hasan sekeluarga
Lewat jendela sepuluh senti terbuka
Dengan sudut pengambilan tak diketahuinya
Dalam puisi 57 baris panjangnya
Dan diam-diam aku beri tabik padanya
Tercatatlah ini sebagai salut kedua
Karena yang dulu kulakukan pertama
Dengan badan tegak dada busung sempurna
Sembilan belas enam tiga tahunnya

Kulakukan itu di sebuah musium perjuangan
Di depan gambar Panglima Sudirman.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Sersan Hasan
Karya: Taufiq Ismail
Yang Menetes Yang Meleleh

Demikianlah tetes air mata kananku
Karena ingat 6 anak muda petinju
Mati berlatih dan bertanding di negeriku
Tidak banyak orang mau tahu
Dan yang tahu melupa-lupakan itu

Kemudian tetes air mata kiriku
500 petinju Amerika, begitu majalah Ring memberitahu
Mati bertinju selama jangka waktu 70 tahun lalu
Setiap lima puluh hari mati satu
Menyiarkan ini mana pers mau

Meleleh ingus lubang hidung kananku terasa
Di Madison Square Garden kucecerkan di gerbangnya
Omong kosong ukuran raksasa itulah WBC dan WBA
Mana pula olahraga, sejelas itu adu manusia
Lama nian habis-habisan kita bangsa minder ini dikecohnya

Lalu meleleh ingus lubang hidungku sebelah kiri
Kuhapus dengan koran pagi bergambar Don King ini
Si Rambut Tegak, Penipu Gergasi, Pembunuh dan Bandit Sejati
Di kakinya berlutut para petinju dan promotor satu negeri
Jutaan dolar kontrak ditilep masuk kantong jas dalam kiri sekali.

1988
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Yang Menetes Yang Meleleh
Karya: Taufiq Ismail
Rindu pada Setelan Jas Putih dan Pantolan Putih Bung Hatta

(I)

Di awal abad 21, pada suatu Subuh pagi aku berjalan kaki di Bukittinggi, hampir tak ada kabut tercantum di leher Singgalang dan Merapi, yang belum dilangkahi matahari. Lalu lintas kota kecil ini dapat dikatakan masih begitu sunyi, menurun aku di Janjang Ampek Puluah, melangkah ke Aue Tajungkang, berhenti aku di depan rumah kelahiran Bung Hatta.
 
Di rumah beratap seng nomor 37 itulah, di awal abad 20, lahir seorang bayi laki-laki yang kelak akan menuliskan alphabet cita-cita bangsa di langit pemikirannya dan merancang peta Negara di atas prahara sejarah manusianya.
 
Dia tak suka berhutang. Sahabat karibnya, Bung Karno, kepada gergasi-gergasi dunia itu bahkan berteriak, "Masuklah kalian ke neraka dengan uang yang kalian samarkan dengan nama bantuan, yang pada hakekatnya hutang itu".

Suara lantang 39 tahun yang silam itu terapung di Ngarai Sianok, hanyut di Kali Brantas, menyelam di Laut Banda, melintas di Selat Makassar, hilang di arus Sungai Mahakam, kemudian tersangkut di tenggorokan 200 juta manusia.

Dua ratus juta manusia itu, terbelenggu rantai hutang di tangan dan kaki, di abad kini. Petinggi negeri di lobi kantor Pusat Pegadaian Dunia duduk antri, membawa kaleng kosong bekas cat minta sekedarnya diisi. Setiap mereka pulang, hutang menggelombang, setiap bayi lahir langsung dua puluh juta rupiah berkalung hutang, baru akan lunas dua generasi mendatang.

(II)

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, aku merenung di depan rumah beratap seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini, yang di awal abad 20 lalu tempat lahir seorang bayi laki-laki. Aku mengenang negarawan jenius ini dengan rasa penuh hormat karena rangkaian panjang mutiara sifat: tepat waktu, tunai janji, ringkas bicara, lurus jujur, hemat serta bersahaja.

Angku Hatta, adakah garam sifat-sifat ini masuk ke dalam sup kehidupanku? Kucatat dalam puisiku, Angku lebih suka garam dan tak gemar gincu. Tujuh windu sudah berlalu, aku menyusun sebuah senarai perasaan rindu, rindu pada sejumlah sifat dan nilai, yang kini kita rasakan hancur
bercerai-berai. Kesatuan sebagai bangsa, rasa bersama sebagai manusia Indonesia, ikatan sejarah dengan pengalaman derita dan suka, inilah kerinduan yang luput dari sekitar kita.
 
Kita rindu pada penampakan dan isi jiwa bersahaja, lurs yang tabung, waktu yang tepat berdentang, janji yang tunai, kalimat yang ringkas padat, tata hidup yang hemat.
 
Tiba-tiba kita rindu pada Bung Hatta, pada setelan jas putih dan pantalon putihnya, simbol perlawanan pada disain hedonisme dunia, tidak sudi berhutang, kesederhanaan yang berkilau gemilang.

Kesederhanaan. Ternyata aku tak bisa hidup bersahaja. Terperangkap dalam krangkeng baja materialisme, boros dan jauh dari hemat, agenda serba bendaku ditentukan oleh merek 1000 produk impor, iklan televisi dan gaya hidup imitasi.
 
Bicara ringkas. Susah benar aku melisankan fikiran secara padat. Agaknya genetika Minang dalam rangkaian kromosomku mendiktekan sifat bicaraku yang berpanjang-panjang. Angku Hatta, bagaimana Angku dapat bicara ringkas dan padat? Teratur dan apik? Aku mengintip Angku pada suatu makan siang di Jalan Diponegoro, yang begitu tertib dan resik, Tepat waktu. Bung Hatta adalah tepat waktu untuk sebuah bangsa yang selalu terlambat. Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat. Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa. Kelurusan dan kejujuran. Pertahanan apa yang mesti dibangun di dalam sebuah pribadi supaya orang bisa selalu jujur? Jujur dalam masalah rezeki, jujur kepada isteri, jujur kepada suami, jujur kepada diri sendiri, jujur kepada orang banyak, yang bernama rakyat? Rakyat yang di tipu terus-menerus itu.
 
Ketika kita rindu bersangatan kepada sepasang jas putih dan pantalon putih itu, kita mohonkan kepada Tuhan, semoga nilai-nilai dan sifat-sifat luhur yang telah hancur berantakan, kepada kita utuh dikembalikan.

(III) 

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, di depan rumah beratap seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini aku menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian aku masuk ke dalamnya, dan di ruang tamu menatap potret dinding aku berdiri, tampaklah Bung Hatta di antara rakyat banyak dalam gambar itu. Tiba-tiba Bung Hatta keluar dari gambar sepi itu.
 
Kemudian Bung Hatta berkata: "Ceritakan Indonesia kini menurut kamu" aku tergagap bicara. ^Angku, mangadu ambo kini. Angku, saya mengadu kini. Krisis berlapis-lapis bagaikan tak habis-habis. Krisis ekonomi, politik, penegakan hokum, pendidikan, pengangguran, kemiskinan, keamanan, kekerasan, pertumpahan darah, pemecah-belahan, dan di atas semua itu, krisis akhlak bangsa.
 
"Otoritarianisme panjang menyuburkan perilaku materialistic, tamak, serakah, tipu-menipu, konspiratif, mengutamakan keluarga dekat, memenangkan golongan sendiri, dan tingkah laku feodalistik. Krisis nilai luhur merubah potret wajah bangsa menjadi anarkis, bringas, ganas, tak bersedia kalah, tak segan memfitnah, memaksakan kehendak, pendendam, perusak, pembakar dan pembunuh. Kekerasan, api, batu, peluru, puing mayat, asap dan bom sampai ke seluruh muka bumi. Tetapi tentang bom itu, nanti dulu. Sepuluh dua puluh tahun lagi, lihat, akan terungkap apa sebenarnya sandiwara besar skenario dunia yang dipaksakan hari ini. Mentang-mentang.
 
Aku menarik nafas. Bung Hatta diam. Tak ada senyum di wajahnya Angku Hatta. Harga apa saja di Indonesia naik semua, kecuali satu. Harga nyawa. Nyawa murah dan luar biasa jatuh nilainya. Di setiap demo orang mati. Tahanan polisi gampang mati. Pencuri motor dibakar mati. Anak-anak sekolah belasan tahun dalam tawuran, tanpa rasa salah dengan ringan membunuh temannya lain sekolah. Mahasiswa senior yang garang menggasak, menggampar, menyiksa juniornya sampai mati. Tahun depan pembunuhan di kampus lain di ulang lagi. Dendam dipelihara dan diturunkan".
 
Sesak nafasku. Bung Hatta diam. Matanya merenung jauh. Alkohol, nikotin, judi, madat, putau, ganja dan sabu-sabu telah meruyak dan mencengkeram negeri kita, mudah dibeli di tepi jalan, di sekolah, di mana-mana. Indonesia telah menjadi sorga pornografi paling murah di dunia. Dengan uang sepuluh ribu anak SLTP dengan mudah bisa membeli VCD coitus lelaki-perempuan kulit putih 60 menit, 6 posisi dan 6 warna. Anak-anak SD membaca komik cabul dari Jepang. Di televisi perselingkuhan dianjurkan dan diajarkan

Gelombang hidup permisif, gaya serba boleh ini melanda penulis-penulis pula. Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabul-cabulkan karya, asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dan kompetisi Gerakan Syahwat Merdeka. Betapa tekun mereka melakukan rekonstruksi dan dekonstruksi daftar instruksi posisi syahwat selangkangan abad 21 yang posmo perineum ini.

Dari uap alkohol, asap nikotin dan narkoba, dari bau persetubuhan liar 20 juta keping VCD biru, dari halaman-halaman komik dan buku cabul menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus terlantar tiga hari di selokan pasar desa ke seluruh negeri.

10 Nopember 2003

Dibacakan oleh Taufiq Ismail pada Acara Deklarasi Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi, Sumatera Barat, di Asrama Haji, Tabing, Padang, tgl. 15 Ramadhan 1424 H.
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Rindu pada Setelan Jas Putih dan Pantolan Putih Bung Hatta
Karya: Taufiq Ismail
Taman Di Tengah Pulau Karang

Di tengah Manhattan menjelang musim gugur
Dalam kepungan rimba baja, pucuknya dalam awan
Engkau terlalu bersendiri dengan danau kecilmu
Dan perlahan melepas hijau daunan

Bebangku panjang dan hitam, lusuh dan retak
Seorang lelaki tua duduk menyebar
Remah roti. Sementara itu berkelepak
Burung-burung merpati

Di lingir Manhattan bergelegar pengorek karang
Merpati pun kaget beterbangan
Suara mekanik dan racun rimba baja
Menjajarkan pohon-pohon duka

Musim panas terengah melepas napas
Pepohonan meratapinya dengan geletar ranting
Orang tua itu berkemas dan tersaruk pergi
Badai pun memutar daunan dalam kerucut
Makin meninggi.

1963
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Taman Di Tengah Pulau Karang
Karya: Taufiq Ismail
Surat Ricarda Huch (Masa Perang 4 November 1941)
Kepada Uskup dari Munster, Pangeran Von Galen

Uskup yang mulia, jika saya
Yang tidak Tuan kenal dan asing
Saya menulis surat ini, adalah
Sebagai rasa terima kasih dan hormat
Pada Tuan

Pada bangsa kita selama
Tahun-tahun terakhir ini
Ada hal yang paling getir keadaannya
Kehilangan hak kemanusiaan
Lenyapnya rasa kemanusiaan
Dan di bawah kelabu mendung ini
Tuan Uskup telah berdiri
Menentang pengagung-agungan kezaliman
Dan tegak di pihak korban
Terang-terangan
Rupanya masih ada kesadaran bahwa
Tuntutan bersih suara hati
Lebih bernilai dari

Sejuta tepukan tangan
Wahai. Semoga Tuan akan merasa gembira
Bahwa banyak orang-orang lainnya
Terikat Tuan hati dan kalbu mereka
Walau tak terucapkan, tak bersuara
Sudilah kiranya Tuan menganggap saya
Dari orang-orang banyak itu, sebagai
Satu suara.

1965
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Surat Ricarda Huch (Masa Perang 4 November 1941) Kepada Uskup dari Munster, Pangeran Von Galen
Karya: Taufiq Ismail
La Strada, Atau Jalan Terpanggang Ini

Kini anak-anak itu telah berpawai pula
Dipanggang panas matahari ibukota
Setiap lewat depan kampus berpagar senjata
Mereka berteriak dengan suara tinggi
“Hidup kakak-kakak kami!”

Mereka telah direlakan ibu bapa
Warganegara biasa negeri ini
Yang melepas dengan doa
Setiap pagi

Kaki-kaki kecil yang tak kenal lelah
Kini telah melangkahkan sejarah.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: La Strada, Atau Jalan Terpanggang Ini
Karya: Taufiq Ismail
Negri Kadal

Negri kami negri kadal
negri yang tidak pernah sepi dari juluran lidah
menjelma dasi, panji-panji hingga janji-janji
yang selalu terpelanting bacinnya ludah.
Sambil melata, kami mengendap,
menikam dan bersenggama
sesekali menelikung lawan juga kawan.

Negri kami negri kadal
negri yang bersemak rempah
berbelukar bahan tambang, bererimbun hutan
namun selalu lapar
dengan pertikaian dan asap tebal
dari berbagai kayu bakar
; agama, harta dan kekuasaan
kami selesaikan masalah
hanya lewat desis dan kata-kata
sedang tindakan tersembunyi dengan sempurna
di ujung ekor yang tak berdaya
menjelma bom, meledak sembarangan.

Curiga mulus beranak pinak di sela sisik
malih rupa ketakutan
yang tak pernah terungkap di pengadilan
di negri kadal.
Solo
19 September 2000
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Negri Kadal
Karya: Sosiawan Leak