Mei 2000
Simponi Untuk Rumi

(1)
Mestinya hujan turun malam ini
Agar embun berkicau esok pagi
Di pucuk dedaun di sela angin
Dan jatuh di lorong bebatuan dingin
Seperti syair Rumi tentang alam damai
Semesta tanpa bentak-bantai
Semesta tanpa air mata di lantai

“Aku tak hidup seperti air
Yang diam terus mengalir
Meski takdir menghantam
Dan hidup telungkup di titik nadir”

“Aku adalah hitam bebatu
Hidup harus saling tipu
Makrifat jaman baru
Sekedar hidup matikan kalbu”

(2)
Mestinya tak ada badai malam ini
Biarkan gelombang pasang melandai
Tapi apakah artinya menjadi manusia
Jika amarah menjadi agama
Jika amuk massa adalah syariatnya
Jika caci maki rukun doanya

“Manusia baru harus siap diadu
Seperti binatang di altar Romawi
Jauhkan hasrat manusiawi
Karena di sini dilarang menjadi
Makhluk sejati seperti syair Rumi”

“Kisah kebaikan telah usai
Sejak merahnya matahari tenggelam
Oleh beringas hujan tanpa henti
Dan Tuhan meninggalkan urat nadi
Seperti simponi tak selesai” 

Jakarta, 2011
"Cucuk Espe"
PuisiSimponi Untuk Rumi
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Kuburan Imperium

(1)
Raja agung dijunjung dan jatuh kemudian.
Berduyun pergi bangsawan tanpa pulang.
Trah imperium dikulum takdir kekalahan.
Lalu senyap dalam babad dan reruntuhan.

Kafilah berbalut jazirah menebarkan ajaran.
Berjingkat firman ke tahta dan pedusunan.
Tlatah pecah dan huruf kakawin tertawan.
Keyakinan leluhur mengungsi ke seberang.

Prasasti tak cuma lempeng batu kali di ladang.
Titah dan darah kepada angin mengirim pesan.
Burung tak membaca kitab dan cuma terbang.
Tapi kicauan mengusik lelap batang ketapang.

Jerami yang mudah terbakar adalah kekuasaan.
Kelewang dan pertikaian membabat kesunyian.
Di kedalaman kali tenggelam sisa akhir perang.
Ikan-ikan berenang dan langit fana mengawang.

(2)
Berjaga toko roti di gerbang desa kemudian.
Telah hengkang tahi kuda dan kereta perang.
Tiang listrik menikam perut perkampungan.
Deru mesin membuyarkan senyap pertapaan.

Lama sudah tinta Prapanca resap di perabuan.
Risalah gemilang menjelma lembaran kusam.
Di warung-warung keluhuran silam melekang.
Orang-orang tersekap hunusan masa depan.

Di koran, pemuda desa Jambuwok tercacah logam.
Darah melumasi gilingan tajam mesin adonan.
Pabrik berkabung dan miris peluh buruh harian.
Jam kerja tak lagi berduka seusai penguburan.

Lesatan masa meninggalkan berdepa zaman.
Barisan mobil bersideku di halaman petilasan.
Setapak ditimbun pejal beton dan aspal jalan.
Tiada kefanaan di bumi yang tak ditinggalkan.

(3)
Sekujur senja Brahu sendu kecoklatan.
Membisu di sudut candi kikisan kejadian.
Berhuni roh brahmana di celah retakan.
Terkubur abu waktu di kolong ingatan.

Kebun tebu menyerap serbuk mayat pangeran.
Sepi dan rahasia tersimpan di lambung batang.
Terbenam tilas permaisuri di bawah pematang.
Bunyi tapak kaki ratu menjadi peri menawan.

Akar perdu menusuk pori undakan persemadian.
Di pucuk mempelam keluarga tekukur bersarang.
Asap dupa lenyap dari udara setelah trah padam.
Tak lagi duka melinang meratapi raja yang hilang.

Kucuran pestisida dirayakan di sekujur persawahan.
Tiada mantra hama di ladang dan pudar dari ingatan.
Tikus dan serangga hancur terlindas di tengah jalan.
Manusia dan alam berseteru tanpa juru keadilan.

(4)
Gerobak bakso bertahta di pinggiran Kolam Segaran.
Para kawula bernaung langit mengail nasib dan ikan.
Tiada lagi utusan dari seberang dijamu raja di tepian.
Ranah agung Wijaya telah menjelma tlatah bawahan.

Pagar kawat kolam terulur dari mesin pengetahuan.
Mati laskar penjaga dan tak pernah lagi dilahirkan.
Di sekujur dunia waktu melesapkan tilas kefanaan.
Genangan air membenam peristiwa dan bungkam.

Rumah berubin licin menjalar di permukiman.
Berjaga televisi di ruang tamu tanpa terpejam.
Telah redam suara petuah suci kaum begawan.
Benda-benda datang dengan harum godaan.

Ludruk kadang berkacak lagak pada malam.
Panggung dari bilah papan dan bedak riasan.
Di latar rumah tersaji kisah suci dan kejam.
Kibasan sampur menguras perut celengan.

(5)
Raja-raja menjelma plang nama gang dan jalan.
Kekuasaan tanpa tahta sepi di tepi perempatan.
Kenangan agung jadi gurat cat di lembar logam.
Tukang pos datang mengantar surat dan tagihan.

Negara mengirim lempang jalan besar melintang.
Tlatah terbelah membentang di utara dan selatan.
Betapa riuh orang-orang berlintasan dari seberang.
Toko sepatu memencilkan gerbang Wringin Lawang.

Arca batu bertapa di latar rumah dan tepian jalan.
Tiada asap dupa, mantra dan kembang pemujaan.
Hampa membalur patung bersila bugil melajang.
Patung pahatan tak mengiba nasib ke tatah logam.

Bangkai tikus dan puntung mengapar di aspal hitam.
Di bawah truk tak ada upacara kremasi dan kuburan.
Telah mati para raja dan tak dikuburkan di pertokoan.
Nama-nama gang dan jalan dibuat dari sisa kematian.

(6)
Di dinding kamar seorang bocah menggambar kapal selam.
Teropong kapal tersembul melihat kenyataan di atas lautan.
Tiada laut di Trowulan dan gores serbuk kapur terhapuskan.
Sejarah adalah orang tua menatap jejak rongsokan kejadian.

Di Lebak Jabung trah istana mengubur mayat ayam jantan.
Kuburan lengang di dusun terkepung kerukan penambang.
Truk-truk buncit batu galian melindas jalan duka pangeran.
Kesedihan menjelma kubang hujan dan takdir sopir harian.

Anak-anak dusun kemudian tanpa jangkrik dan belalang.
Hujan terpencil dari keriangan kaki telanjang di halaman.
Televisi menjadi kerajaan iklan dan kuburan kejadian.
Bau mi instan merasuki mimpi hingga pelosok terdalam.

Pasar-pasar desa menjual kenangan sayu dan harapan.
Ideologi menghuni sekujur mini-market sehari 1 x 24 jam.
Sawah-sawah sekarat di jantung dusun dan pelipis jalan.
Sepotong roti tak bisa ditukar dengan beras segantang.

(7)
Lars kolonial Eropa melayap ke pedalaman.
Tibalah Raffles di tlatah imperium terpendam.
Akar alas jati abad XIX mencengkeram ingatan.
Orang benua jauh mengejutkan binatang hutan.

Hingga sekian mil terserak kisah sayup silam.
Tampak waktu kelabu tersekap tidur panjang.
Di kepala candi kawanan serangga bersarang.
Ruang renta tertimbun perca tembikar kelam.

Jejak utusan ratu asing telah raib di Trowulan.
Wajah penjajah tak tergurat di gerabah kusam.
Eropa menguburkan tahta para raja di selatan.
Haru Raffles tersaput abu belulang kekuasaan.

Serbuk kabut luruh di belukar dan ujung jalan.
Sekujur Penanggungan tergeletak telanjang.
Meluap dangdut dari radio di perkampungan.
Pujangga Desawarnana telah lama berpulang.

(8)
Dewa di kakawin dipuja kawula dan tuan.
Asap dupa merasuki udara dan pemujaan.
Sudah berubah wajah kisah di Trowulan.
Iga sapi panggang terkulai di meja makan.

Tamu dari gurun tiba berbekal surga dan kalam.
Kakawin lama berdiam di guci abu begawan.
Gapura tampak purba dijaga roh kesunyian.
Patung batu hilang dan tak lagi ditemukan.

Langit tlatah dihuni bintang dan rembulan.
Turun gerimis firman dari ubun ketinggian.
Mayat-mayat diarak orang ke liang makam.
Kamboja di bumi bermekaran di atas nisan.

Jalan waktu entah lurus atau serupa gelang.
Hujan di masa resi seperti hujan kemudian.
Genangan hikayat menghuni kelok selokan.
Mimpi tak bisa mati menjadi kabut harapan.

(9)
Laut telah sekarat dan tiada gema di ranah selatan.
Kapal dan nakhoda di bilik sejarah tidur panjang.
Trowulan tanpa junjungan sejak abadi kehancuran.
Di belakang warung tergeletak bekas keagungan.

Di ceruk bumi tertanam upeti dan jarahan perang.
Trah raja tanpa buntelan harta di candi kematian.
Bekas tahta terpendam menjelma puing warisan.
Emas desa Kemasan dipulung kaum penambang.

Bertandang orang desa ke sawah dan ladang.
Hanyutlah air sumur di serabut sekujur badan.
Terbang seikat padi menguning ke wuwungan.
Arwah leluhur bersila di sepanjang pematang.

Desa-desa merengkuh bayang diri yang hilang.
Sehari sebakul nasi dan secobek sambal bawang.
Dari lincak ada marak senja tenang dipandang.
Semuanya pulang selain keagungan Trowulan.

"Binhad Nurrohmat"
PuisiKuburan Imperium
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Nyanyian Senja Seorang Pecinta

Jika aku mati, luluhlah bagai air
menyusup tanah dan batu-batu
menumbuhkan pohonan di tamanmu
putik bunga pun bertemu benihku
membuahkan cintamu.

Jika kau haus, minumlah jiwaku
Jika tubuhmu berdaki
mandilah dalam kasihku
ikan-ikan bahagia dalam asuhanku
kafilah gembira menemuku.

Tiadalah arti hidup jika sekadar hidup
Tiadalah arti mati jika sekadar mati
Jika hidup tiada sebatas hidup
Jika mati pun tiada sebatas mati
(Jika tak takut hidup jiwa pun tak takut mati
karena dalam mati jiwa menemu hidup sejati)

Jika aku mati, luluhlah bagai air
menyusup akar belukar dan pohonan
katak-katak bahagia dalam sejukku
teratai pun tersenyum
dalam ayunan jiwaku.

Tiada makna hidup
jika tiada menghidupi
Tiada nikmat hidup
jika tiada memberi arti
- Jika engkau pelaut
layarkan perahumu
pada keluasan hatiku!

Yogyakarta
1984/2007
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiNyanyian Senja Seorang Pecinta
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sembahyang Rumputan

Walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah Tuhan
aku rumputan takkan berhenti sembahyang
: Inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil 'alamin.

Topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi.

Sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan Tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan.

Walau kautebang aku
akan tumbuh sebagai rumput baru
walau kaubakar daun-daunku
akan bersemi melebihi dulu
aku rumputan
kekasih Tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan.

Aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
: sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi Allah tuhan sekalian alam.

Pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan
pada tanah akar kupertahankan
agar tak kehilangan asal keberadaan
di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema
menggetarkan jagat raya
: la ilaaha illalah
muhammadar rasululah.

Aku rumputan kekasih Tuhan
seluruh gerakku adalah sembahyang.

1992
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Sembahyang Rumputan
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Politisi Indonesia

Lelakon hidup bagai komputer yang data-datanya
ter-fragmentasi dan harus di-de-fragmentasi (ulang)
sebelum sadar kalau 1001 virus membuat orientasi: error.

2009
"Puisi Beni Setia"
PuisiPolitisi Indonesia
Karya: Beni Setia
Labirin Dante

Kiri mushala, dekat tempat
berwudhu: keranda pikul
cat agak kusam, tapi kuat
buat si setengah abad
kebersamaan penghabisan
sebelum jadi kenangan
tubuh diantar ke kuburan,
ke fakta: ruh tanpa tubuh
gerbang dengan gang kelam -
tangga menuju pusat neraka.


"Puisi Beni Setia"
Puisi: Labirin Dante
Karya: Beni Setia
Variasi Caruban

(1)
Bongkahan batu, jalur tanah -
disambung jembatan gantung
jalan makadam mengikat rindu
: galau menunggu panen
rumput di tepi saluran, embik
kambing di dalam lambung
bunga turi dan daun tela disiram
air sambal kacang
bertahun tubuh dipiut, ruh
keriput di tengah usia
di batu-batu tertera huruf-huruf
: di-angon lapar
dan nafas, bagai kentut, membawa
perih asam lambungnya.

(2)
Dan kelahiran bertanda liang
lahat: kubur placenta
lantas rentangan panjang lapar
direndam telau keringat
denging tongeret pada dahan
cempedak. kemarau nanar
jalan simpang ke kuburan -
ke jalur pintas. gantung diri
apakah ada reinkarnasi? Jelma
menjadi anjing?
Antara lahir dan mati: lapar
tetap sepanjang usus
ruh gemetar, yang hidup butuh
kenduri, makan serta doa.

2015
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Variasi Caruban
Karya: Beni Setia
Caruban, Banjir

Dari pundak dan punggung: hujan tumpah
gemuruh - meluncur bersama bibir jurang

Membendung. Mencegat tumpahan semalam
di hulu, dan membuat arus itu menggelegak
: "kenapa kau hambat perjalanan bergegas ini?"

Wilis yang termangu itu, wilis yang menjulang
di selatan ingin bercerita tentang pohon-pohon
ditebang - dengan melumpurkan hamparan tanah

"Tak ada yang tersisa" katanya - menyimpan bah
di balik pelangi, menahan arus lalu melontarkan
semuanya dalam hitungan detik. Gemuruh menghilir.


"Puisi Beni Setia"
Puisi: Caruban, Banjir
Karya: Beni Setia
Selepas Koran Pagi

Seperti air dan arus sungai, seperti
jeram dan gemuruh jatuh, seperti
matahari pagi dan bayang-bayang
yang dipaksa beringsut dari barat
: Kita dalam waktu dan ruang berbeda.

Angin di rimbun jambu, sulur putih bunga
jatuh berserakan. Setapak menjadi lengang
ketika kanak terakhir memasuki gerbang
sekolah. Tinggal kertas alas harum-manis
terguling-guling, terpuntir-puntir. Sendiri
dan pada gelas kosong terpantul wajah sunyi.

Kembali bersama Allah, kembali bersama
Allah lagi. Menyimak diri mengekalkan
lelap sendirian. "Berapa jarak antara kita, kini?"

2008
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Selepas Koran Pagi
Karya: Beni Setia
Tahajud Menurut Aliefya

Antara pot mawar dan kamboja
- di teras: terselip HP jingga
tiap dini hari berdering. Bening
bagai sulur bilah kaca disapu angin.

Suara apa itu, gumanmu. Antara
kemarin dan kini ada kelenting
: tanda 999 SMS masuk - alpa
dibaca. Amplop biru pembuka gerbang.

Engkaukah itu? - Guman rindu dini hari.
2007
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Tahajud Menurut Aliefya
Karya: Beni Setia
Deklarasi Cahaya

(I)
Dengan nama Allah! Menjelmalah tongkat Musa
menjadi perkasa, menelan segala ular
dari sihir peradaban. Tongkat itu pula
yang membelah lautan membuka jalan
pembebasan. Tapi siapa
yang tahan hidup merdeka
berdiri bebas menengadah cakrawala?
Hanya para Nabi dan pencinta
dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia

(II)
Sulaiman di singgasana gemilang
yang terbentang sejauh mata memandang
terhampar dari ufuk fajar
hingga malam menjelang. Tak putus-putus
merebahkan kening ke tanah
dalam takjub yang enggan sudah
pada-Nya, pemilik semesta raya
maka kalbunya pun berpuasa
atas segala kemilau dunia. Tapi siapa
yang tahan hidup merdeka
berdiri bebas menengadah cakrawala?
Hanya para Nabi dan pencinta
dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia.

(III)
Dengan cinta pada Allah yang tunggal
dan tak berbagi, yang mustahil tanggal
dan abadi, Ibrahim membawa kapak
menghancurkan berhala pada peradaban
dan hatinya sendiri. Di kalbunya hanya Allah
Esa dan dan bercahaya
membikin jiwanya bagai
padang terbuka
lautan luas yang bebas
dan mandiri. Tapi siapa
tahan hidup merdeka
berdiri bebas menengadah cakrawala?
Hanya para Nabi dan pencinta
dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia.

(IV)
Matahari memucat dan rembulan
bagai lilin yang lama padam. Panorama
segera jadi lusuh, kala cahaya wajah Yusuf
tersenyum menerangi dunia.
Perempuan-perempuan jelita
berduyun-duyun menyulut syahwat
memikat Yusuf dalam sepenuh-penuh hasrat.
Tapi Yusuf memilih penjara
bagi tubuhnya, dan merdeka
bagi ruhnya. Terlalu indah Cinta-Nya
dibanding bermilyar perempuan.
Dirangkainya tiap detik dan ingatan
dengan gemerlap nama-nama Tuhan. Tapi siapa
yang tahan hidup merdeka
berdiri bebas menengadah cakrawala?
Hanya para Nabi dan pencinta
dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia.

(V)
Di sunyi malam ketika angin
menunduk takzim bersama dingin
Muhammad bershalat
melipat seluruh semesta
dalam kalbunya yang sabar dan bercahaya
lalu berangkat menjumpai Tuhannya
dengan sepenuh-penuh rindu
kepada Dia yang esa satu.
Ketika suku Qurays mempersembahkan
singgasana agar dia serahkan hati
pada berhala dan tradisi
leluhur suku yang asli, iapun menampik
bahkan sekalipun matahari
bahkan sekalipun rembulan
kepadanya dipersembahkan, dia tak sudi
menghambakan diri pada peradaban
sebab hanya pada Tuhan
ia temukan kebebasan
sebagai diri dan pribadi.

Dunia tersipu malu
di ujung tikar sembahyang
ketika pada Tuhan, ruh dan tubuhnya
pergi dan pulang. Tapi siapa
yang tahan hidup merdeka
berdiri bebas menengadah cakrawala?
Hanya para Nabi dan pencinta
dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia.

2000
"Agus R. Sarjono"
Puisi: Deklarasi Cahaya
Karya: Agus R. Sarjono