Juni 2000
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Desember
(: Ririn Riantini)

Desember ini, setiap rinainya
mengalunkan sunyi panjang
hingga aku tak mampu menemu
jalan untuk menjauh dari hatimu.


2014
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Desember
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Dekap Angin Pantai

Yah. Dalam dekap angin pantai pagi itu. Saat matahari tiba-tiba muncul dari balik bukit di dadamu. Tempat bersemayam penantian dan kesetiaan. Tiba-tiba ombak menggulung, aku mendengar suara gedebur yang amat gemuruh dari hatimu. Sesekali kau memeluk kepalaku dan menyandarkannya tepat di dadamu, yang selalu mendetakan degub jantung kita. Dan kau sesekali memberikan ciuman singkat di pelipis waktu.

Andai saja. Almanak masih berpihak pada kita, barangkali detik-detik yang kita lalui itu tak menjadi peremuan kali terakhir. Seperti pintamu, bahwa kau akan mengajakku terbang bersama camar yang sedari tadi berlenggak-lenggok di pelataran langit hati kita.

Kemesraan ini janganlah cepat berlalu, katamu. Iyah. Aku pun demikian sayang. Kekasih mana yang rela rindunya patah, menjadi butiran-butiran pasir yang memenuhi ingatan kita, tentang pertemuan kita di bus kota. Tentang hujan yang membasuh-basahkan hati kita. Tentang bunga mawar yang kuberi saat gerimis mengantar senja, dan rambut panjangmu basah karenanya, lalu kau mengajakku minum secangkir teh hangat di beranda waktu. Aih, tapi semua kini hanyalah kenangan masa silam. Yang terpendam entah di mana. Barangkali di pantai ini? Ah, aku tak tahu sayang.

Dalam dekap angin pantai, kita bercumbu di sebuah gubuk kecil yang kita susun dari kata-kata, dan kau menamainya puisi. Tapi ini lebih seperti pemberontakan kata-kata terhadap waktu yang ia jaga. Tapi kau selalu saja mengelak dari itu. Aku menjadi tak mengerti atas teka-teki ini, mengapa cinta kita harus begitu rahasia, hingga semesta tak boleh mengetahui? Tanyamu. Ah, aku tak mampu menjawabnya, biarlah gedebur ombak yang akan membawamu pada kepastian. Tentang airmata yang tak kunjung padam.


Pembaringan kata-kata
2012
"Dimas Indiana Senja"
PuisiDalam Dekap Angin Pantai
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gadis Bersampan
(Pemecah Ombak Waduk Penjalin)

Gadis bersampan, berjalan di dalam pusaran angin yang embun.
Matanya menerobos kabut yang menutupi hatiku,

Ketika fajar belum sempurna bertelanjang, gadis bersampan
Lebih dahulu membenarkan kerudungnya, lalu
Lengannya yang salju menuju dayung-dayung yang telah lama
Membuatku rindu.

Begitulah namanya yang melintasi lamunanku sore ini,
Biasanya tepat matahari menuju ujungnya, ia pulang dengan
Menjinjing tas berisikan impian-impiannya,
Berisikan lamunannya,berisikan
Mimpinya yang menghadirkanku.

Begitulah biasanya aku sebut-sebut namanya, tersebab ia
Tak pernah sekalipun berpaling dari terik kerinduan
Dan aku menemukan rambut panjangnya telah basah di atas sebuah sampan.
Sampan yang mengajakku untuk menuju rumahnya, lalu
Aku berharap di dalam semoga.

Begitulah selalu aku menyeka namanya dalam hatiku
Yang kabut. Tak pernah sekalipun ia berhenti dari
Perjalanan mimpi yang ombaknya tak berkawan.
Hingga keringatnya mengkristal,                   
Jatuh,
Memenuhi permukaan segara
Mengendap-endap dalam ombak
Mendekap mimpi di dalam dayung
Berkilauan, dan
Bola mataku berkilap
Tak kuasa aku menatap cahaya, Gadis bersampan.

Paguyangan
Juni, 2011
"Dimas Indiana Senja"
PuisiGadis Bersampan
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||