Juli 2000
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bung Agam

Engkau tidak pernah pergi
di mana pun engkau kini
tertinggal puisi
tumbuh menggedor tirani
mencatat Latini, Bandar Betsi, reformasi
kembaramu memahatkan puisi
hingga batas keampuhan insani.

Engkau tidak pernah pergi
tiba-tiba aku merasa sendiri.

Jakarta, 2003
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiBung Agam
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Berdiri di sini

Ah terbayang masa mudaku dulu
bersama orang tua hidup di kaki gunung membiru
sementara bapak nembang pangkur di tengah sawah membajak
aku istirah di pematang sempat membuat sajak.
Kini memandang bulir padi runduk bergoyangan
di pinggir rawa pening begini sepi
sementara mengusir burung beterbangan
di sekerat bumi ini aku ingin memetiki puisi.

"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiKetika Berdiri di sini
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bulan Madu
(untuk Nobuyoshi Araki)

Sebutir kancing kemeja terjatuh ke lantai dan dua-tiga helai benang dari gaun pendek tembus-pandang menancap ke seprei sebelum dua bahu yang semula saling menghela tampak jadi selengkung gelombang tunggal belaka yang segera memadat meninggi memecah ganti-berganti ke jeram jantung yang selalu lalai kapan mesti menutup tirai pada pintu geser kaca.

Alangkah baiknya jika terdengar saja derum mesin pemotong rumput dari arah taman agar erang dan raung mampu melesat tak tertahan dari sepasang kerongkongan yang kian dahaga demi mencapai puncak tamasya sejati tanpa mengganggu sesiapa yang di kamar-kamar sebelah atau atas mungkin sedang membuat sarapan pagi atau bersiap-siap terjun ke kolam renang.

Setelah empat hari di pintu masih juga tergantung DO NOT DISTURB agar tubuh yang hampir hangus oleh surya dan tubuh lain yang masih saja terlihat murni dan berwarna gading kian leluasa mengganas saling mengungkai seakan liburan segera berakhir besok seakan lukisan buah-buahan bergaya Cezanne di dinding cukuplah untuk menggantikan laut dan gugus karang di luar sana.

Muda adalah abadi jika lapar cukup disembuhkan dengan dua-tiga butir apel hijau dan susu kedelai sisa hari kemarin jika manis di bibir tetap bertahan sampai habis senjakala ketika semua katasifat yang digunakan terlalu melambung sepanjang hari harus diperbaharui dengan makan malam di restoran terdekat yang menyediakan salad pepaya ebi dan sup udang Thai dan bir Singha.

Pada hari ketujuh lidah mulai belajar meluncurkan t-i-d-a-k terutama jika telinga mendengar seruan di mana kaus kakiku yang sebelah di mana Femina yang kubaca tadi malam meski darah masih juga berlari kencang ketika sepasang mata berpapasan khususnya di pintu kamar mandi di mana sayang-disayang bisik- membisik bahwa terlaranglah berbasuh bersama atau bernyanyi di bawah pancuran air panas.

Bilah perut dan dada sudah mulai kehilangan api dan rambut menyulur lisut teramat kecut ketika baju-baju yang belum sempat dicuci mesti dimasukkan serampangan ke dalam dua koper geret dan sepatu kets dan sandal kulit yang belum dibersihkan dari sisa pasir dan garam terpaksa membungkus kaki-kaki yang mesti bergegas ke pelabuhan udara mengejar pesawat terakhir ke ibukota.

Akhirnya kita harus menyigi apa merek shampoo istri dan di mana terjatuh kacamata suami namun jangan lupa mengambil ruang tamu apartemen mereka ZOOM IN ke arah jambangan keramik hijau gelap kasar dan patung harimau perunggu bergaya Nyoman Nuarta yang dibeli di Sanur dan jika kau terpaksa membidik ke dapur tolonglah gunakan cahaya alamiah sebanyak mungkin -

sebab di sanalah si perempuan yang kita cintai sedang terluka telunjuk kirinya oleh pisau ketika mengiris daun bawang untuk telur dadar sarapannya sendiri sebab kita mual akan si lelaki yang barusan kasar membanting pintu kamar namun tiba-tiba terdengar teriakan CUT CUT CUT kenapa kalian larut ke dalam haru kenapa kalian lupa bahwa kita tengah membuat film pendek yang tanpa alur belaka.

2008
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiBulan Madu
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Phinisi Puisi
(: MG)

Layar Pertama:
(Lelaki Platonik)

Ada yang menuntunmu mendatangiku
sudah terbuka kelopak bunga
ada yang menuntunku menemuimu
lihatlah malam berganti warna

Di sini pohon-pohon cemara berjajar
sepasang lebah mengulum madu dan menjatuhkannya ke tanah
disini rindu sudah tersulam dan terpagar
nyeri aku merajuk pada rasa manis dan dalam dirimu aku merajah

Datanglah, o, lelaki berperahu phinisi
menurunkan siang pada lubuk risauku yang hitam
memuaikan tiang-tiang pada angkasa senyapku yang legam
jemputlah aku di bukit sajak, pagi-pagi.

Sesungguhnya, o, empedu kegembiraan di hati tuan
adalah selembar sungai tergelar di siangku yang ungu
meski sampai kini belumlah aku paham, tuan
sekeramat takdir atau bebatu nasibkah itu yang menuntunmu menujuku

Layar Kedua:
(Kedatangan Nila)

Takkan rusak cinta sebelanga
bila tak kau bubuhkan nila pura-pura

Layar Ketiga:
(Perih Yang Mulia)

Jangan kau gosok lagi luka lama
senyampang ia mulai sembuh serupa kuning subuh
tapi, ah, karena kau nakal juga menggosoknya
bertambah ia kemana-mana, menjalarlah

Ke ruang paling riang nyawa mulai meregang
ia akan berkembang sembunyi-sembunyi
serupa ketabah-jelian ganggang
di pucuk batu-batu di hulu hati ini

Layar Keempat:
(Pisau Pencinta)

Adalah pisau paling kilau
mencari-cari kegempalan batinmu, yang galau
sebilah pisau paling pukau
menyimak bunyi serak sepatumu, kejutan penuh ranjau

Pulanglah luka lama, o, luka menganga dari tusuk si pendusta
kuhalau engkau dari wangi mawar sia-sia
sebab batinmu dan batinku adalah satu telaga
kemarilah, menangislah sepuas-puasnya di pundak dinda

Masuklah suka cita, o, suka cita yang kukirimkan dalam peti pesan
dalam dirimu kuikatkan sesimpul keyakinan
bahwa kepedihan di dahan jantungmu mulai kugugurkan
tanpa silau pisau yang membuatmu gemetaran.

Tegal, April 2009
"Puisi Nana Riskhi Susanti"
PuisiPhinisi Puisi
Karya: Nana Riskhi Susanti

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Untuk Kalian yang Kian Mesra

Apa bedanya jika aku melepas pertahanan dan membiarkan tubuh ini dijuluri lidah-lidah penuh birahi? aku ingin menjajakan diri pada sesiapa yang dahaga percumbuan, biar menjadi-jadi, biar semua orang bebas menguliti, mari sini... kalian yang bicara begitu manis dan mengiris: aku telah telanjang, telentang di atas ranjang, mengejanglah panjang seirama letupan napas dalam percumbuan paling jalang!

Setelah itu galilah tanah basah di pekarangan, sedikit merah, sedikit rembas, galilah dengan tangan yang dilumuri sperma, cukup bisikkan kabar di ruang paling sepi, orang tuli sekali pun akan sanggup menangkap pesan itu, di saat pena berputar-putar sendiri di atas kanvas hidup yang begitu menyerikan, sebentar lagi ia akan terhenti, niscaya takkan ada yang terbaca, meski berulang kali kusebut itu puisi, berkali kalian sebut itu sampah, aku begitu peduli, mendengar penuh takzim menyampaikan terima kasih meski tanpa bingkisan hati ini berdoa untuk keselamatan tapi suara-suara mulai sumbang minta aku berhenti menulis, aku takkan peduli! Akan tetap menulis. Meski lukisan wajah kalian kerap membuatku terkapar ingin membuang segala kata, aku takkan terhenti! Hingga lampu merah berjejeran, akan tetap melaju kencang menabrak rambu-rambu purba yang kian tua kian dipuja.

Kelak ajarkanlah pada anak-cucu kalian menulis puisi, tampar wajahnya atau guyur dengan air sumur jika tak unik dan tak mengesankan. Bukankah menjadi adalah keharusan, sedangkan proses yang dari itu ke itu saja amat menjengkelkan bukan? Jika mereka tak jua mengerti ceritakanlah tentang aku yang mempertaruhkan seluruh hidup dalam karya sastra sampah! Di ruang kepenyairan yang pengap, kekaryaan yang minta sulap “Bim salabim jadilah maka jadi” tanyakan pada mereka ‘adakah yang siap melanjutkan sejarah?’ 

Buang saja basa-basi itu! Aku telah mengenali semua topeng, takkan ada tempat untuk menyembunyikan rupa, ini karyaku, itu karyamu adakah yang dipertanyakan atau dirombak ataukah minta membuangnya? Baiklah! Dengan senyum bertebaran kuremas dan kulempar puisiku itu tapi aku akan menulis lagi, lagi dan lagi, kenapa, kau jengah? 

Ah...! Mengapa tiba-tiba kalian jadi sangat kasar? Sudahkah bosan memberiku susu, menyajikan makanan lima sehat empat sempurna. Kemana perginya malaikat yang Tuhan kirim untuk menemani segala duka-lara? Mengapa hanya ada para pemuja berhala yang tiada henti menyerahkan persembahan atas nama Tuhan untuk menuhankan diri!


Cilegon, Banten
24 Februari 2012
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiUntuk Kalian yang Kian Mesra
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kata-kata yang Ditimpuk Air Hujan
(- Penyair Han)

Aku mencelup dalam hujan. Tubuhku kuyup. Han dimana? Di bawah genting? Aku mencopot jas hujan. Celana dan bajuku basah. Han! Kupanggil dia. Dia bergantung di bawah ranting yang dibalut air hujan. Seperti embun. Heran. Orang-orang membicarakan orang lain. Han pacaran sama Gusti. Ngurah sama Dewi. Ines sama Saut. Orang-orang itu mestinya masuk ke dalam air hujan. Lidah mereka harusnya digunting. Supaya kata-kata mereka digelontorkan dalam got. Perut jadi bersih. Eh, Han dimana? Di bawah genting? Han! Kupanggil dia. Suaraku masuk ke dalam saluran air got di bawah tanah, terus melaju kencang, menyelinap dalam gorong-gorong, dan menyembul di jalan tol. Han, seruku. Tapi suaraku ditimpuk air hujan.

Januari, 2010
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiKata-kata yang Ditimpuk Air Hujan
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Iklan Kulkas

Hidup dalam kulkas, menyegarkan. Persis seperti bunyi 
iklannya: to be cool. Aku bisa bercengkerama bersama daging, 
ikan segar, buah segar, sirup, dan telur ayam. Sementara di 
luar kulkas, hidup sangat busuk. Suhu yang panas 
menjungkir-balikkan kata-kata dan benda. Gosip jadi meja, 
malu jadi lidah, lalat jadi pisau, pispot jadi bibir, Kau jadi 
miauww. Orang saling menggergaji dengan kaki dengan 
tombak. Lidah berjuntai-juntai, dengan pinggirannya yang 
tajam di mal, atau di kafe. Padahal hidup di dalam kulkas, 
menyenangkan. Kita tak perlu mandi, atau berkumur. Hidup 
jadi beku. Keindahan jadi abadi. Tak ada yang tumbuh liar. 
Kita tak perlu bercukur kumis atau jembut. Aku bisa bikin 
pesta sendiri bersama daging, ikan segar, buah segar, sirup, 
dan telur ayam. Pesta kebun? Yups, yummy, kataku, seperti 
iklan kulkas.

2010
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiIklan Kulkas
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Armend dan Hawking

Andai Hawking datang membawa bunga
dengan kursi roda di kedua kakinya
kita mungkin akan tetap berbelanja di plaza
seraya menimbulkan suara, saya belanja maka saya ada
atau mungkin kita tetap berdansa berdua
seraya mengucap ikrar, kami berdansa maka kami ada
tanpa menghiraukan penguasa angin selatan
berbayang di leher roda pedati

mengirimkan dua camar buta ke mataku
ke sungsum tulang punggung dan berpesta debu-debu
interval cinta kita.

Garut, Januari 2015
"Puisi Kinanthi Anggraini"
PuisiArmend dan Hawking
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||