September 2000
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Suti

Suti tidak kerja lagi
pucat ia duduk dekat amben-nya
Suti di rumah saja
tidak ke pabrik tidak ke mana-mana
Suti tidak ke rumah sakit
batuknya memburu
dahaknya berdarah
tak ada biaya

Suti kusut-masai
di benaknya menggelegar suara mesin
kuyu matanya membayangkan
buruh-buruh yang berangkat pagi
pulang petang
hidup pas-pasan
gaji kurang
dicekik kebutuhan

Suti meraba wajahnya sendiri
tubuhnya makin susut saja
makin kurus menonjol tulang pipinya
loyo tenaganya
bertahun-tahun dihisap kerja

Suti batuk-batuk lagi
ia ingat kawannya
Sri yang mati
karena rusak paru-parunya

Suti meludah
dan lagi-lagi darah

Suti memejamkan mata
suara mesin kembali menggemuruh
bayangan kawannya bermunculan
Suti menggelengkan kepala
tahu mereka dibayar murah

Suti meludah
dan lagi-lagi darah

Suti merenungi resep dokter
tak ada uang
tak ada obat
Solo, 27 Februari 1988
"Puisi: Suti (Karya Wiji Thukul)"
Puisi: Suti
Karya: Wiji Thukul
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gentong Kosong

Parit susut
tanah kerontang
langit mengkilau perak
matahari menggosongkan pipi

Gentong kosong
beras segelas cuma
masak apa kita hari ini

Pakis-pakis hijau
bawang putih dan garam
kepadamu kami berterima kasih
atas jawabanmu
pada sang lapar hari ini

Gentong kosong
airmu kering
ciduk jatuh bergelontang
minum apa hari ini

Sungai-sungai pinggir hutan
yang menolong di panas terik
dan kalian pucuk-pucuk muda daun pohon karet
yang mendidih bersama ikan teri di panci
jadilah tenaga hidup kami hari ini
dengan iris-irisan ubi keladi
yang digoreng dengan minyak
persediaan terakhir kami

Gentong kosong
botol kosong
marilah menyanyi
merayakan hidup ini.
6 Januari 1997
"Puisi: Gentong Kosong"
Puisi: Gentong Kosong
Karya: Wiji Thukul
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tuntutan

Rakyat adalah kami
mulut-mulut yang bersuara
mendukungmu
dalam setiap Pemilu

Rakyat adalah kami
tenaga dari kaki-kaki dan tangan-tangan
yang memikul tandu gambar
partaimu
yang bersorak-sorai oleh lemparan
permen
dan gula-gula janji perbaikan nasib

Rakyat adalah kami
usus-usus melilit
perut-perut butuh kenyang
yang kalian sebut-sebut
dalam pidato-pidato kampanyemu

Rakyat adalah kami
daun telinga yang mendengar
mata kepala yang bersaksi
: sekarang beras mahal.
kini kami tuntut
kalian di mana?
 
"Puisi: Tuntutan"
Puisi: Tuntutan
Karya: Wiji Thukul
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Buat L.Ch & A.B
Darahku mengalir hangat lagi
setelah puluhan jam sendi
sendi tulangku beku
kurang gerak

Badanku panas lagi
setelah nasi sepiring
sambel kecap dan telur goreng
tandas bersama tegukan air
dari bibir gelas keramik yang kau
ulurkan dengan senyum
manismu

Kebisuan berhari-hari
kita pecahkan pagi itu
dengan salam tangan
pertanyaan
dan kabar-kabar hangat

Pagi itu
budimu menjadi api

Tapi aku harus pergi lagi
mungkin tahun depan
atau entah kapan
akan kuketuk lagi
daun pintumu
bukan sebagai buron.
 
"Puisi: Buat L.Ch & A.B"
Puisi: Buat L.Ch & A.B
Karya: Wiji Thukul