November 2000
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tingkat Lebih


I
Di antara malam yang paling tersimpan
yang asing di mana hati mengenal diri.

II
Di antara menyimpan yang paling mengerikan
bayi dikandung sudah menanti bapak terkatung
jauh dari pelabuhan.

III
Di antara yang paling menyesakkan dan tak terduga
cinta tumpah dari mata datangnya tiba-tiba
air pasang sejuk mendadak di tebing pecah hati.

IV
Di antara hal biasa yang paling dianggap tidak
riuh lagu kentong putar kampong orang peronda
mendadak sunyi. Satu tokoh di pintu janda.
 
 
"Puisi: Tingkat Lebih"
Puisi: Tingkat Lebih
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ia Bernyanyi dalam Hujan


Ia bernyanyi di dalam hujan
dan tak seorang tahu
darimana datangnya.
Tak seorang berani nengok
begitu gaib datangnya.
Dimuntahkan dari angin.
Menggembung dari air gelembung.
Ia bernyanyi di malam hujan
entah darimana datangnya.
Burung lepas ditangiskan.
Tangis domba di perut lembah.
Dan air jeruk menetesi
luka daging baru terbuka.
Empedu! Empedu yang pecah!
jarum terhanyut pada darah.
Dan di mulut terkulum
rasa buah-buah logam.
Ia bernyanyi di malam hujan
penyapnya perlahan
terapung bagai gabus
tergantung di sunyi yang bertanya.
Tak seorang tahu datangnya
mayat kere dijumpa pagi hari
perempuan tua dan buta.
Ia bernyanyi di malam hujan
entah dari mana datangnya.
Telah lebih dulu ia tahu
tentang kepergian dirinya.
 
 
"Puisi: Ia Bernyanyi dalam Hujan"
Puisi: Ia Bernyanyi dalam Hujan
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malaikat-malaikat Kecil


Malaikat-malaikat kecil
mengepakkan sayap-sayap kapas.
Kaki-kaki batang ubi
dan bau buah nangka.
Mulut-mulut mawar kecil
omongnya melulu yang baik,
Bukan begitu, Manis?
Angin tertumbuk pada nyanyi
Berpusar-pusar dan pergi tinggi sekali
Bahasa air sungai,
suara gaib rumah kerang,
yam anis, manis,
angin menggosok gunung batu.
Malaikat-malaikat kecil
menggelitik kulit kuduk.
Malaikat-malaikat kecil
mengepakkan sayap-sayap kapas.
 
 
"Puisi: Malaikat-malaikat Kecil"
Puisi: Malaikat-malaikat Kecil
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bulan Kota Jakarta


Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya!

O, gerilya kulit limau!
O, betapa lunglainya!

Bulan telah pingsan.
Mama, bulan telah pingsan.
Menusuk tikaman beracun
dari lampu-lampu kota Jakarta
dan gedung-gedung tak berdarah
berpaling dari bundanya.

Bulannya! Bulannya!
Jamur bundar kedinginan
bocah pucat tanpa mainan,
pesta tanpa bunga.

O, kurindu napas gaib!
O, kurindu sihir mata langit!

Bulan merambat-rambat.
Mama, betapa sepi dan sendirinya!
Begitu mati napas tabuh-tabuhan
maka penari pejamkan mata-matanya.

Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya.

Bulanku! bulanku!
Tidurlah, Sayang, di hatiku!
 
 
"Puisi: Bulan Kota Jakarta"
Puisi: Bulan Kota Jakarta
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ia Telah Pergi


Ia telah pergi
lewat jalannya kali
Ia telah pergi
searah dengan mentari.
Semua lelaki ninggalkan ibu
dan ia masuk serdadu.
Kemudian ia kembang di perang;
dan tertelentang. Bagi lain orang.

 
 
"Puisi: Ia Telah Pergi"
Puisi: Ia Telah Pergi
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat kepada Bunda:
Tentang Calon Menantunya

Mamma yang tercinta,
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.

Terpupuslah sudah masa-masa sepiku.
Hendaknya berhenti gemetar rusuh
hatimu yang baik itu
yang selalu mencintaiku.
Kerna kapal yang berlayar
telah berlabuh dan ditambatkan.
Dan sepatu yang berat serta nakal
yang dulu bisa menempuh
jalan-jalan yang mengkhawatirkan
dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara,
kini telah aku lepaskan
dan berganti dengan sandal rumah
yang tenteram, jinak dan sederhana.

Mamma,
burung dara jantan yang nakal
yang sejak dulu kau piara
kini terbang dan telah menemu jodohnya.
Ia telah meninggalkan kandang yang kaubiarkan
dan tiada akan pulang
buat selama-lamanya.

Ibuku,
Aku telah menemukan jodohku.
Janganlah kau cemburu.
Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti:
pada waktunya, aku mesti kaulepaskan pergi.

Begitu kata alam. Begini kau mengerti:
Bagai dulu bundamu melepas kau
kawin dengan ayahku. Dan bagai
bunda ayahku melepaskannya
untuk mengawinimu.
Tentu sangatlah berat.
Tetapi itu harus, Mamma!
Dan akhirnya tak akan begitu berat
apabila telah dimengerti
apabila sudah disadari.

Hari Sabtu yang akan datang
aku akan membawakannya kepadamu.
Ciumlah kedua pipinya
berilah tanda salib di dahinya
dan panggilah ia dengan keras: Anakku!

Bila malam telah datang
kisahkan padanya
riwayat para leluhur kita
yang ternama dan perkasa
Dan biarkan ia nanti
tidur di sampingmu.

Ia pun anakmu.
Sekali waktu nanti
ia akan melahirkan cucu-cucumu.
Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu.
Dan kepada mereka
ibunya akan bercerita
riwayat yang baik tentang nenek mereka:
bunda-bapak mereka.

Ciuman abadi
dari anak lelakimu yang jauh.

Willy.
 
 
"Surat kepada Bunda: Tentang Calon Menantunya"
Surat kepada Bunda: Tentang Calon Menantunya
Karya: W.S. Rendra