Desember 2000
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membisiki Telinga Sendiri


Biru
Hari kusam dan bergeser lamban.
Radio mengingatkan lagu kenangan
dengan kekasih yang di riba bumi.

Kok aneh.
Kuingin hari lebih cepat berlalu
dan terpupuslah segala dongeng itu.
Alangkah sedihnya kalau sudah kutahu,
atas segala keluh,
mereka sudah jemu.
Tapi darahku tak bisa tahu
dan pada arusnya masih juga menderu
lagu ratapan yang panjang.

Kukata pada diriku:
Rendra kau harus berbuat apa-apa
kalau tidak, bisa gila.
Jadi kulangkahkan kakiku.

Selanjutnya,
dengan sepatu karet kujalani Pasar Pon.
Di sini hidup berlangsung dengan semangat.
Dan alir keringat bermuara senyuman sehat.

Begitu detik berlalu,
begitu terpancar lagu.
Harus kubuat apa-apa,
kalau tidak,
bisa gila.

Kukenal Mansyur Samin,
penyair anak Sumatra
yang menggadaikan kereta anginnya
untuk sekolah di Tanah Jawa.

Begitu detik berlalu, begitu terpancar lagu.
Kupergi makan ke Warung Tiga Bola,
sepiring nasi hati rendang.
Di sini kujumpa penyanyi suka ketawa
yang sering makan berutang.

Harus kubuat apa-apa,
kalau tidak, bisa gila.

Di Pasar Pon kukenal si Tatak
dengan bininya telah berkembang biak.
Anak banyak, kerja banyak, kesenangan banyak
kerna satu yang tak banyak,
mimpi indah yang memuncak.

Begitu mereka maju,
seluruh hidupnya berlagu.

Ada Mbah Kasim penjual jamu.
Mulai modal kecil dulu.
Siang-siang baca koran,
sore mandi dan minum kopi.
Malam kerja kurang enak.
Sekarang tidur nyenyak.

Mereka berlalu maju,
seluruh hidupnya berlagu.

Mari kukenang si Tatak
Apa yang dipunya serba banyak.
Mansyur Samin, Rakhman penyanyi,
Mbah Kasim, dan banyak lagi.
Juga Bang Buyung yang jarang mandi
Hidupnya seperti main sulap
Empat hari tahan tak bisa makan
terus hidup dan banyak dongeng.

Sebenarnya sudah bisa kupupus kesedihanku.
Bisa kubawa dansa muda-mudi
cuma aku sendiri yang keras kepala
Lukaku sudah muda, tetapi kugaruk lagi.

Kucari sendiri kesedihanku.
Aku cuma lesu dan sedikit kepayahan.
Perasaan tenggelam didalam-dalamkan.

Ayo diriku, kok begitu.
Soalnya kan sudah ketemu.
Mereka terlalu maju,
seluruh hidupnya berlagu.
Harus kubuat sesuatu,
tiada pos tempat menunggu.

Solo, 1954
"Puisi: Membisiki Telinga Sendiri (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Membisiki Telinga Sendiri
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ayam Jantan


Kekasihku sangat payah
setelah bersamaku menyusuri kota.
Sekarang tidur nyenyak melepas lelah
dalam bahagia dan mimpi.
Sebab itu,
wahai ayam jantan,
janganlah berkokok terlalu pagi!


Sagan, 1958
"Puisi: Ayam Jantan (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Ayam Jantan
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Khotbah


Fantastis.
Di satu Minggu siang yang panas
di gereja yang penuh orangnya
seorang padri muda berdiri di mimbar.
Wajahnya molek dan suci
matanya manis seperti mata kelinci
dan ia mengangkat kedua tangannya
yang bersih halus bagai leli
lalu berkata:
"Sekarang kita bubaran.
Hari ini khotbah tak ada."

Orang-orang tidak beranjak.
Mereka tetap duduk rapat berdesak.
Ada juga banyak yang berdiri.
Mereka kaku. Tak mau bergerak
Mata mereka menatap bertanya-tanya.
Mulut mereka menganga
berhenti berdoa
tapi ingin benar mendengar.
Kemudian dengan serentak mereka mengesah
dan berbareng dengan suara aneh dari mulut mereka
tersebarlah bau keras
yang perlu dicegah dengan segera.

"Lihatlah aku masih muda.
Biarlah aku menjaga sukmaku.
Silakan bubar.
Ijinkan aku memuliakan kesucian.
Aku akan kembali ke biara
merenungkan keindahan Ilahi."

Orang-orang kembali mengesah.
Tidak beranjak.
Wajah mereka nampak sengsara.
Mata mereka bertanya-tanya.
Mulut mereka menganga
sangat butuh mendengar.

"Orang-orang ini minta pedoman. Astaga.
Tuhanku, kenapa di saat ini kautinggalkan daku.
Sebagai sekelompok serigala yang malas dan lapar
mereka mengangakan mulut mereka.
Udara panas. Dan aku terkencing di celana.
bapak. Bapak. Kenapa kautinggalkan daku."

Orang-orang tetap tidak beranjak.
Wajah mereka basah.
Rambut mereka basah.
Seluruh tubuh mereka basah.
Keringat berkucuran di lantai
kerna udara yang panas
dan kesengsaraan mereka yang tegang.
Bau busuk luar biasa.
Dan pertanyaan-pertanyaan mereka pun berbau busuk juga.

"Saudara-saudaraku, para anak bapak di sorga.
Inilah khotbahku.
Ialah khotbahku yang pertama.
Hidup memang berat.
Gelap dan berat
kesengsaraan banyak jumlahnya.
Maka dalam hal ini
kebijaksanaan hidup adalah ra-ra-ra.
Ra-ra-ra, hum-pa-pa, ra-ra-ra.
Tengoklah kebijaksanaan kadal
mahluk Tuhan yang juga dicintai-Nya.
Meniaraplah ke bumi.
Kerna, lihatlah:
Sukmaku terjepit di antara batu-batu.
Hijau.
Lumutan.
Sebagai kadal ra-ra-ra.
sebagai ketonggeng hum-pa-pa."

Orang-orang serentak bersuara:
Ra-ra-ra. Hum-pa-pa.
Dengan gemuruh bersuara seluruh isi gereja.
Ra-ra-ra. Hum-pa-pa.

"Kepada kaum lelaki yang suka senapan
yang memasang panji-panji kebenaran di mata bayonetnya
aku minta dicamkan
bahwa lu-lu-lu, la-li-lo-lu.
Angkatlah hidungmu tinggi-tinggi
agar tak kau lihat siapa kau pijak.
Kerna begitulah li-li-li, la-li-lo-lu.
Bersihkan darah dari tanganmu
agar aku tak gemetar
lalu kita bisa duduk minum teh
sambil ngomong tentang derita masyarakat
atau hakekat hidup dan mati.
Hidup penuh sengsara dan dosa.
Hidup adalah tipu muslihat.
La-la-la. la-li-lo-lu.
Jadi marilah kita tembak matahari.
Kita bidik setepat-tepatnya."

Dengan gembira orang-orang menyambut bersama:
La-la-la. la-li-lo-lu.
Mereka berdiri. Menghentakkan kaki ke lantai.
Berderap serentak dan seirama.
Suara mereka bersatu:
La-la-la., li-li-li, la-li-lo-lu.
Hanyut dalam persatuan yang kuat
mereka berteriak bersama
persis dan seirama:
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu.

"Maka kini kita telah hidup kembali.
Darah terasa mengalir dengan derasnya.
Di kepala. Dan di bagian tubuh lainnya.
Lihatlah. oleh hidup jari-jariku gemetar.
Darah itu bong-bong-bong
Darah hidup bang-bing-bong.
Darah hidup bersama bang-bing-bong
Hidup beramai-ramai.
Darah bergaul dengan darah.
Bong-bong-bong. Ban-bing-bong."

Orang-orang meledakkan gairah hidupnya.
Mereka berdiri di atas bangku-bangku gereja.
Berderap-derap dengan kaki mereka.
genta-genta, orgel, daun-daun pintu, kaca-kaca jendela,
semua dipalu dan dibunyikan.
Dalam satu irama.

Diiringi sorak gembira:
Bong-bong-bong. Bang-bing-bong.

Cinta harus kita muliakan.
Cinta di belukar.
Cinta di toko Arab.
Cinta di belakang halaman gereja.
Cinta itu persatuan dalam tra-la-la
Tra-la-la. La-la-la. Tra-la-la.
Sebagai rumputan
kita harus berkembang biak
dalam persatuan dan cinta.
Marilah kita melumatkan diri.
Marilah kita bernaung di bawah rumputan.
Sebagaimana pedoman kita:
"Tral-la-la. La-la-la. Tra-la-la."
Seluruh isi gereja gemuruh.
Mereka mulai menari. Mengikuti satu irama.
Mereka saling menggosok-gosokkan tubuh mereka.
Lelaki dengan wanita. Lelaki dengan lelaki.
Wanita dengan wanita. Saling menggosok-gosokkan tubuhnya.
Dan ada juga yang menggosok-gosokkan tubuhnya ke tembok gereja.
Dan dengan suara menggigil yang ganjil
mereka melengking dengan serempak.
Tra-la-la. La-la-la. Tra-la-la.

"Melewati Nabi Musa yang keramat
Tuhan telah berkata:
Jangan engkau mencuri.
Pegawai kecil jangan mencuri tulang-tulang ayam goreng.
Para pembesar jangan mencuri bensin.
Dan gadis jangan mencuri perawannya sendiri
Tentu, bahwa mencuri dan mencuri ada bedanya.
Artinya: Cha-cha-cha, cha-cha-cha.
Semua barang dari Tuhan.
Harus dibagi bersama.
Semua milik semua.
Semua untuk semua.
Kita harus bersatu. Kita untuk kita.
Cha-cha-cha, cha-cha-cha.
Inilah pedomannya."

Sebagai binatang orang-orang bersorak:
Grrr-grrr-hura. Hura.
Cha-cha-cha. Cha-cha-cha.
Mereka 'copoti daun-daun jendela.
Mereka ambil semua isi gereja
Candelabra-candelabra. Tirai-tirai. Permadani-permadani.
Barang-barang perak. Dan patung-patung berhiaskan permata.
Cha-cha-cha, begitu nyanyi mereka
Cha-cha-cha, berulang-ulang diserukan.
Seluruh gereja rontok.
Cha-cha-cha.
Binatang-binatang yang basah berkeringat dan deras napasnya
berlarian kian ke mari.
Cha-cha-cha. Cha-cha-cha.
Lalu tiba-tiba terdengar lengking jerit perempuan tua
"Aku lapar. Lapaar. Lapaaar."
Tiba-tiba semua juga merasa lapar
Mata mereka menyala.
Dan mereka tetap bersuara cha-cha-cha.

"Sebab sudah mulai lapar
marilah kita bubaran.
Ayo, bubar. Semua berhenti."

Cha-cha-cha, kata mereka.
dan mata mereka menyala.
"Kita bubar.
Upacara dan khotbah telah selesai."

Cha-cha-cha, kata mereka.
Mereka tidak berhenti.
Mereka mendesak maju.
Gereja rusak. Dan mata mereka menyala.

"Astaga. Ingatlah penderitaan Kristus.
Kita semua putra-putranya yang mulia.
lapar harus diatasi dengan kebijaksanaan."

Cha-cha-cha.
Mereka maju menggasak mimbar.
Cha-cha-cha.
Mereka seret padri itu dari mimbar.
Cha-cha-cha.
Mereka robek-robek jubahnya.
Cha-cha-cha.
Seorang perempuan gemuk mencium mulutnya yang bagus.
Seorang perempuan tua menjilati dadanya yang bersih.
Dan gadis-gadis menarik kedua kakinya.
Cha-cha-cha.
Begitulah perempuan-perempuan itu memperkosanya beramai-ramai.
Cha-cha-cha.
Lalu tubuhnya dicincang.
Semua orang makan dagingnya, Cha-cha-cha.
Dengan persatuan yang kuat mereka berpesta.
Mereka minum darahnya.
Mereka hisap sungsum tulangnya.
Sempurna habis ia dimakan.
Tak ada lagi yang sisa.
Fantastis.
 
 
"Puisi: Khotbah"
Puisi: Khotbah
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Angsa

Majikan rumah pelacuran berkata padanya:
"Sudah dua minggu kamu berbaring.
Sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang.
Malahan padaku kamu berhutang.
Ini biaya melulu.
Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu mesti pergi."

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang sengsara.
Kurang cantik dan agak tua).

Jam dua belas siang hari.
Matahari terik di tengah langit
Tak ada angin. tak ada mega.
Maria Zaitun keluar rumah pelacuran
Tanpa koper
Tak ada lagi miliknya
Teman-temannya membuang muka.
Sempoyongan ia berjalan.
badannya demam
Sipilis membakar tubuhnya.
Penuh borok di kelangkang
di leher, di ketiak dan di susunya.
Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
Sakit jantungnya kambuh pula.

Ia pergi kepada dokter.
Banyak pasien lebih dulu menunggu.
Ia duduk di antara mereka.
Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka
Ia meledak marah
tapi buru-buru juru rawat menariknya.
Ia diberi giliran lebih dulu
dan tak ada orang yang memprotesnya.

"Maria Zaitun,
utangmu sudah banyak padaku," kata dokter.
"Ya," jawabnya.
"Sekarang uangmu ada berapa?"
"Tak ada."
Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.
Ia kesakitan waktu membuka baju
sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
"Cukup." kata dokter.
Dan ia tak jadi memeriksa.
Lalu ia berbisik kepada juru rawat:
"Kasih ia injeksi vitamin C."
Dengan kaget juru rawat berbisik kembali:
"Vitamin C?
Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan."
"Untuk apa?
Ia tak bias bayar.
Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
Kenapa mesti dikasih obat mahal
yang diimport dari luar negeri?"

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya iri dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku gemetar ketakutan.
Hilang rasa. Hilang pikirku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang takut dan celaka)

Jam satu siang.
Matahari masih di puncak
Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
Dan aspal jalan yang jelek mutunya
lumer di bawah kakinya.
Ia berjalan menuju gereja.
Pintu gereja telah dikunci.
Karena khawatir akan pencuri.
Ia menuju pastor dan menekan bel pintu.
koster keluar dan berkata:
"Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang.
Dan ini bukan jam bicara."
"Maaf. Saya sakit. Ini perlu."
Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
Lalu berkata:
"Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
Aku lihat apa pastor mau terima kamu."
Lalu koster pergi menutup pintu.
Ia menunggu sambil belingsatan kepanasan.
Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
ia menyalakan cerutu, lalu bertanya:
"Kamu perlu apa?"
Bau anggur dari mulutnya.
Selopnya dari kulit buaya.
Maria Zaitun menjawabnya:
"Mau mengaku dosa."
"Tapi ini bukan jam bicara.
Ini waktu saya berdoa."
"Saya mau mati."
"Kamu sakit?"
"Ya. Saya kena rajasinga."
Mendengar ini pastor mundur dua tindak.
Mukanya mungkret.
Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:
"Apa kamu - mm - Kupu-kupu malam?"
"Saya pelacur. Ya."
"Santu Petrus! tapi kamu Katolik."
"Ya."
"Santu Petrus."
Tiga detik tanpa suara.
Matahari terus menyala.
Lalu pastor kembali bersuara:
"Kamu telah tergoda dosa."
"Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa."
"Kamu telah terbujuk setan."
"Tidak. Saya terdesak kemiskinan.
Dan gagal mencari kerja."
"Santu Petrus"
"Santu Petrus! Pater, dengarkan saya,
Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.
Yang nyata hidup saya sudah gagal.
Jiwa saya kalut.
Dan saya mau mati.
Sekarang saya takut sekali.
Saya perlu Tuhan atau apa saja
untuk menemani saya."
Dan muka pastor jadi merah padam.
Ia menuding Maria Zaitun.
"Kamu galak seperti macan betina.
Barangkali kamu akan gila.
Tapi tak akan mati.
Kamu tak perlu pastor.
kamu perlu dokter jiwa."

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya sombong dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku beku tak berdaya.
Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang lapar dan dahaga).

Jam tiga siang.
Matahari terus menyala
Dan angin tetap tak ada.
Maria Zaitun bersijingkat
di atas jalan yang terbakar.
Tiba-tiba ketika 'nyeberang jalan
ia kepleset kotoran anjing
ia tak jatuh
tapi darah keluar dari borok di kelangkangnya
dan meleleh ke kakinya.
Seperti sapi tengah melahirkan
ia berjalan sambil mengangkang.

Di dekat pasar ia berhenti
Pandangnya berkunang-kunang.
Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar
Orang-orang pergi menghindar.
Lalu ia berjalan ke belakang satu restoran.
Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.
Kemudian ia bungkus hati-hati
dengan daun pisang
Lalu berjalan menuju ke luar kota.

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
yang Mulya, dengarkanlah aku.
Maria Zaitun namaku
Pelacur lemah, gemetar ketakutan)

Jam empat siang.
Seperti siput ia berjalan.
bungkusan sisa makanan masih di tangan
belum lagi dimakan.
keringatnya bercucuran.
Rambutnya jadi tipis.
Mukanya kurus dan hijau
seperti jeruk yang kering.
Lalu jam lima.
ia sampai di luar kota.
Jalan tak lagi beraspal
tapi debu melulu.
Ia memandang matahari
dan pelan berkata: "Bedebah."
Sesudah berjalan satu kilo lagi
ia tinggalkan jalan raya
dan berbelok masuk sawah
berjalan di pematang.

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya tampan dan dengki
dengan pedang yang menyala
mengusirku pergi
Dan dengan rasa jijik
Ia tusukkan pedangnya perkasa
di antara kelangkangku.
Dengarkan, Yang Mulia
Maria Zaitun namaku
Pelacur yang kalah.
Pelacur terhina).

Jam enam sore.
Maria Zaitun sampai ke kali.
Angin bertiup
Matahari turun
Hari pun senja
Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
Ia basuh kaki, tangan dan mukanya.
Lalu ia makan pelan-pelan
Baru sedikit ia berhenti.
Badannya masih lemas
tapi nafsu makannya tak ada lagi.
Lalu ia minum air kali.

(Malaikat penjaga firdaus
tak kau rasakan bahwa senja telah tiba
angin turun dari gunung
dan hari merebahkan badannya?
Malaikat penjaga firdaus
dengan tegas mengusirku.
Bagai patung ia berdiri
Dan pedangnya menyala).

Jam tujuh. Dan malam tiba
Serangga bersiuran.
Air kali terantuk batu-batu
Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali
nampak tenang
dan mengkilat di bawah sinar bulan
Maria Zaitun tak takut lagi.
Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.
Mandi di kali dengan ibunya.
Memanjat pohonan.
Dan memancing ikan dengan pacarnya.
Ia tak lagi merasa sepi.
Dan takutnya pergi.
Ia merasa bertemu sobat lama.
Tapi lalu ia pengin lebih jauh cerita
tentang hidupnya.
Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.
Ia jadi berduka
dan mengadu pada sobatnya
sembari menangis tersedu-sedu.
Ini tak baik buat penyakit jantungnya.

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki.
Ia tak mau mendengar jawabku
Ia tak mau melihat mataku
Sia-sia mencoba bicara padanya.
Dengan angkuh ia berdiri.
Dan pedangnya menyala).

Waktu.
Bulan.
Pohonan.
Kali.
Borok.
Sipilis.
Perempuan.
Bagai kaca
kali memantal cahaya gemilang.
Rumput ilalang berkilatan.
Bulan.

Seorang lelaki datang di seberang kali.
Ia berseru. "Maria Zaitun, engkaukah itu?"
"Ya." jawab Maria Zaitun keheranan.
Lelaki itu menyeberang kali.
Ia tegap dan elok wajahnya.
Rambutnya ikal dan matanya lebar.
Maria Zaitun berdebar hatinya.
Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
Entah di mana.
Yang terang tidak di ranjang.
Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
"Jadi kita ketemu di sini," kata lelaki itu.
Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
Sedang sementara ia keheranan
lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
Ia merasa seperti minum air kelapa.
Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
Ia tak berdaya dan memang suka.
Ia menyerah.
Dengan mata terpejam
ia merasa berlayar
ke samudra yang belum pernah dikenalnya.
Dan setelah selesai
ia berkata kasmaran:
"Semula kusangka hanya impian
bahwa hal ini bisa kualami.
Semula tak berani kuharapkan
bahwa lelaki tampan seperti kau
bakal lewat dalam hidupku."
Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.
Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
"Siapakah namamu?" Maria Zaitun bertanya.
"Mempelai." jawabnya.
"Lihatlah. Engkau melucu."
Dan sambil berkata begitu
Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
Tiba-tiba ia terhenti.
Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
Di lambung kiri.
Di dua tapak tangan.
Di dua tapak kaki.
Maria Zaitun pelan berkata:
"Aku tahu siapa kamu."
Lalu memeluk lelaki itu dengan pandang matanya.
Lelaki itu menganggukkan kepala: "Betul. Ya."

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya jahat dan dengki
dengan pedang yang menyala
tak bisa apa-apa.
Dengan kaku ia beku.
Tak berani lagi menuding kepadaku.
Aku tak takut lagi.
Sepi dan duka telah sirna.
Sambil menari kumasuki taman firdaus
dan kumakan apel sepuasku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur dan pengantin adalah saya).


 
 
"Puisi: Nyanyian Angsa"
Puisi: Nyanyian Angsa
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pesan Pencopet Kepada Pacarnya


Sitti,
kini aku makin ngerti keadaanmu.
Tak'kan lagi aku membujukmu
untuk nikah padaku
dan lari dari lelaki yang melamarmu.

(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
Aku berjanji
di kamar mandi
tubuhku yang elok bersih kucuci.
O, abang, kekasihku
kutunggu kau di tikungan
berbaju renda
berkain biru).

Nasibmu sudah lumayan.
Dari babu jadi selir kepala jawatan.
Apalagi?
Nikah padaku merusak keberuntungan.
masa depanku terang repot.
Sebagai copet nasibku untung-untungan.
Ini bukan ngesah.
Tapi aku memang bukan bapak yang baik
untuk bayi yang lagi kau kandung.

(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
mentari nggeloyor muntah di laut
mabuk napas orang Jakarta.
O, angin.
O, abang.
Sarapku sudah gemetar
menanti lidahmu
'njilati tubuhku)

Cintamu padaku tak pernah kusangsikan.
tapi cinta Cuma nomor dua.
nomor satu carilah keselamatan.
Hati kita mesti ikhlas
berjuang untuk masa depan anakmu.
Janganlah tangguh-tangguh menipu lelakimu.
Kuraslah hartanya.
Supaya hidupmu nanti sentosa.
Sebagai kepala jawatan lelaki normal
suka disogok dan suka korupsi.

Bila ia ganti kau tipu
itu sudah jamaknya.
Maling menipu maling itu biasa.
Lagi pula
di masyarakat maling kehormatan cuma gincu.
Yang utama kelicinan.
nomor dua keberanian.
Nomor tiga Keuletan.
Nomor empat ketegasan, biarpun dalam berdusta.
Inilah ilmu hidup masyarakat maling.
Jadi janganlah ragu-ragu.
Rakyat kecil tak bisa ngalah melulu.

(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore
Hari ini kamu mesti ku lewatkan
kerna lelakiku telah tiba.
Malam ini
badut yang tolol bakal main acrobat
di dalam ranjangku).

Usahakan selalu menanjak kedudukanmu.
Usahakan kenal satu mentri
dan usahakan jadi selirnya.
Sambil jadi selir mentri
tetaplah jadi selir lelaki yang lama.
Kalau ia menolak kau rangkap
sebagaimana ia telah merangkapmu dengan istrinya
itu berarti ia tak tahu diri.
Lalu depak saja dia.
Jangan kecil hati lantaran kurang pendidikan
asal kau bernafsu dan susumu tetap baik bentuknya
Ini selalu akan menarik seorang mentri
Ngomongmu ngawur tak jadi apa
asal bersemangat, tegas dan penuh keyakinan.
Kerna begitulah cermin seorang mentri.

(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
kenanganku melayang ke saat itu
di tengah asyik nonton pawai
kau meremas pantatku
demikianlah kita lalu berkenalan
ialah setelah ku tendang kakimu.
Dan sekarang setiap sore
bagaikan pisang yang ranum
aku rindu tanganmu
untuk mengupasku)

Akhirnya aku berharap untuk anakmu nanti.
Siang malam jagalah ia.
Kemungkinan besar ia lelaki.
Ajarlah berkelahi
dan jangan boleh ragu-ragu memukul dari belakang.
Jangan boleh menilai orang dari wataknya.
Sebab hanya ada dua nilai: kawan atau lawan.
kawan bisa baik sementara
Sedang lawan selamanya jahat nilainya.
ia harus diganyang sampai sirna.
Inilah hakekat ilmu selamat.
Ajarlah anakmu mencapai kedudukan tinggi.
Jangan boleh ia nanti jadi professor atau guru.
Itu celaka, uangnya tak ada.
Kalau bisa ia nanti jadi polisi atau tentara
supaya tak usah beli beras
kerna dapat dari Negara.
Dan dengan pakaian seragam
dinas atau tak dinas
haknya selalu utama.
Bila ia nanti fasih merayu seperti kamu
dan wataknya licik seperti saya - nah!
ini kombinasi sempurna.
Artinya ia berbakat masuk politik.
Siapa tahu ia bakal jadi anggota parlemen.
Atau bahkan jadi mentri.
Paling tidak hidupnya bakal sukses di Jakarta.

(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
Oplet-oplet memasang lampu.
Perempuan-perempuan memasang gincu
Dan, abang, pesankan padaku
di mana kita bakal ketemu).

 
 
"Puisi: Pesan Pencopet Kepada Pacarnya"
Puisi: Pesan Pencopet Kepada Pacarnya
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pemandangan Senjakala


Senja yang basah meredakan hutan yang terbakar.
Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua.
Bau mesiu di udara. Bau mayat. Bau kotoran kuda.
Sekelompok anjing liar
memakan beratus ribu tubuh manusia
yang mati dan yang setengah mati.
Dan di antara kayu-kayu hutan yang hangus
genangan darah menjadi satu danau.
Luas dan tenang. Agak jingga merahnya.
Dua puluh malaikat turun dari sorga
menyucikan yang sedang sekarat
tapi di bumi mereka disergap kelelawar-kelelawar raksasa
yang selalu memperkosa mereka.
Angin yang sejuk bertiup sepoi-sepoi basah
menggerakkan rambut mayat-mayat
membuat lingkaran-lingkaran di permukaan danau darah
dan menggairahkan syahwat para malaikat dan kelelawar.
Ya, saudara-saudaraku,
aku tahu inilah pemandangan yang memuaskan hatimu
kerna begitu asyik kau telah menciptakannya.

 
 
"Puisi: Pemandangan Senjakala"
Puisi: Pemandangan Senjakala
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rick dari Corona


(Di Queenz Plaza
di stasion trem bawah tanah
ada tulisan di satu temboknya:
"Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?")

Ya.
Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?

- Akulah Betsy
Ini aku di sini.
Betsy Wong dari Jamaica.
Kakek buyutku dari Hongkong.
Suamiku penjaga elevator
Pedro Gonzales dari Puertorico
suka mabuk dan suka berdusta.
Kalau ingin ketemu, telepon saja aku.
Pagi hari aku kerja di pabrik roti
Selasa dan Kamis sore
aku miliknya Mickey Ragolsky
si kakek Polandia
yang membayar sewa kamarku.
Cobalah telpon hari Rabu.

Jangan kuatirkan suamiku.
Ia akan pura-pura tak tahu.
O, ya, sebelum lupa:
dua puluh dollar ongkosnya.

Betsyku bersih dan putih sekali
lunak dan halus bagaikan karet busa.
Rambutnya mewah tergerai
bagai berkas benang-benang rayon warna emas.
Dan kakinya sempurna.
Singsat dan licin
bagaikan ikan salmon

(Rick dari Corona
di perut kota New York
memandang kanan kiri
sambil minum jeruk soda)

Betsy.
Di mana engkau, Betsy?
- Ini, Betsy Hudson di sini.
aku merindukan alam hijau
tapi benci agraria.
Aku percaya pada dongeng aneka ragam
Aku percaya pada benua Atlantis.
Dan juga percaya bahwa hidup di bulan
lebih baik dari hidup di bumi.
Pada politik aku tak percaya.
Namaku Betsy.
Memang.
Tapi kita tak mungkin ketemu
Siang hari aku kerja jadi akuntan.
Malam hari aku suka nulis buku harian.
Untuk merias diri
memelihara rambut dan kuku
telah pula memakan waktu.
Namaku Betsy.
Cantik
Aku suka telanjang di depan kaca.
Aku benci lelaki.

(Dengan mobil sport dari Inggris
Rick dari Corona
mengitari kota New York
berkacamata hitam sekali.
Melanggar aturan lalu lintas
ia disetop polisi
sambil masih mimpi siang hari)

Betsy gemerlapan bagai lampu-lampu Broadway.
Betsy terbang dengan indah.
Bau minyak wanginya menidurkan New York
Dan selalu sesudah itu
aku diselimutinya
dengan selimut katun
yang ditenunnya sendiri
Betsy, di mana engkau, Betsy.

- Di sini, bodoh!
Kau selalu tak mendengarkan aku, Ricky!
Kau selalu menciptakan kekusutan.
Sepatu tak pernah kauletakkan pada raknya.
Selalu kau pakai dasi yang kacau warnanya.
Berapa kali pula kau kuperingatkan
kalau tidur jangan mendengkur.
Itu barbar.
Dan Ricky!
Kau harus belajar makan sup yang lebih sopan!

(New York mengangkang.
Keras dan angkuh.
Semen dan baja.
Dingin dan teguh.
Adapun di tengah-tengah cahaya lampu gemerlapan
terdengar musik gelisah
yang tentu saja
tak berarti apa-apa)

Rick dari Corona telah di sini
Ya. Ya.
Betsy, engkau di mana?
- Ricky, sayang, aku di sini.
Ya. Ya.
+ Engkau hitam.
   Engkau bukan Betsy.
   Engkau macam Negro dari Harlem.
-  Pegang pinggulku
   Rasakan betapa lunak dan penuhnya.
   Namaku Betsy. Ya. Ya.
+ Gadisku selalu menjawab dengan sabar
   segala pertanyaanku yang bodoh dan sangsi.
-  Aku Betsy kerna aku Negro.
   Kerna aku Negro
   aku adalah tanggung jawabmu.
   Ya, namaku Betsy.
   Telah kuputuskan namaku Betsy
+ Apyun. Apyun.
   Aku hasratkan pengalaman mistis.
   Aku ingin melukis tubuhmu telanjang.
   sambil kuhisap mariyuana.
-  Ricky, sayang, engkau akan kuninabobokan.
   Dan bagai bayi akan kau puja tetekku.
+ Dari Queens. Dari Brooklyn. Dan dari Manhattan….
-  Ricky, sayang, garudaku sayang.
+ Sebab irama combo, sebab buaian saxophone…
-  Pejamkan matamu.
   Dan bagaikan banyo
   mainkanlah aku

(Di Harlem, Manhattan, New York
di mana orang tinggal penuh sesak
di mana udara bau air kencing dan sampah
di musim panas dengan udara sembilan puluh lima drajat
para Negro menari watusi di tepi jalan
dan pada drajat ke seratus dua
terjadi perkelahian antara mereka).

Hallo. Hallo.
Di sini Rick dari Corona.
Dan Betsy juga di sini…
Hallo, Dokter.
Kami harus disuntik sekarang juga.
Kami kena rajasinga.
 
 
"Puisi: Rick dari Corona"
Puisi: Rick dari Corona
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Blues untuk Bonnie


Kota Bostron lusuh dan layu
kerna angin santer, udara jelek,
dan malam larut yang celaka.
Di dalam café itu
seorang penyanyi Negro tua
bergitar dan bernyanyi.
Hampir-hampir tanpa penonton.
Cuma tujuh pasang laki dan wanita
berdusta dan bercintaan di dalam gelap
mengepulkan asap rokok kelabu,
seperti tungku-tungku yang menjengkelkan.

Ia bernyanyi.
Suaranya dalam.
Lagu dan kata ia kawinkan
Lagu beranak seratus makna.
Georgia. Georgia yang jauh.
Di sana gubug-gubug kaum Negro.
Atap-atap yang bocor.
Cacing tanah dan pellagra
Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.

Orang-orang berhenti bicara.
Dalam café tak ada suara.
Kecuali angin menggetarkan kaca jendela.
Georgia.
Dengan mata terpejam
si Negro menegur sepi.
Dan sepi menjawab
dengan sebuah tendangan jitu
tepat di perutnya.

Maka dalam blingsatan
ia bertingkah bagai gorilla.
Gorilla tua yang bongkok
meraung-raung.
Sembari jari-jari galak di gitarnya
mencakar dan mencakar
menggaruki rasa gatal di sukmanya.

Georgia.
Tak ada lagi tamu baru.
Udara di luar jekut.
Anginnya tambah santer.
Dan di hotel
menunggu ranjang yang dingin.

Serentak dilihat muka majikan café jadi kecut
lantaran malam yang bangkrut
Negro itu menengadah.
Lehernya tegang.
Matanya kering dan merah
menatap ke surga.
Dan surga.
melemparkan sebuah jala
yang menyergap tubuhnya.

Bagai ikan hitam
ia menggelepar dalam jala
Jumpalitan
dan sia-sia.
Marah
terhina
dan sia-sia.

Angin bertalu-talu di alun-alun Boston.
Bersuit-suit di menara gereja-gereja.
Sehingga malam koyak moyak.
Si Negro menghentakkan kakinya
Menyanyikan kutuk dan serapah.
Giginya putih berkilatan
meringis dalam dendam.
Bagai batu lumutan
wajahnya kotor, basah dan tua.

Maka waktu bagaikan air bah
melanda sukmanya yang lelah.
Sedang di tengah-tengah itu semua
ia rasakan sentakan yang hebat
pada kakinya.
Kaget
hampir-hampir tak percaya
ia merasa
encok yang pertama
menyerang lututnya.

Menuruti adat pertunjukan
dengan kalem ia menahan kaget.
Pelan-pelan duduk di kursi
Seperti guci retak
di toko tukang loak.
Baru setelah menarik napas panjang
ia kembali bernyanyi.

Georgia.
Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.
Istrinya masih di sana
setia tapi merana
Anak-anak Negro bermain di selokan
tak krasan sekolah.
Yang tua-tua jadi pemabuk dan pembual
banyak hutangnya.
Dan di hari Minggu
mereka pergi ke gereja yang khusus untuk Negro
Di sana bernyanyi
terpesona pada harapan akherat
kerna di dunia mereka tak berdaya.

Georgia.
Lumpur yang lekat di sepatu.
Gubug-gubug yang kurang jendela.
Duka dan dunia
sama-sama telah tua
Sorga dan neraka
keduanya usang pula.
Dan Georgia?
Ya, Tuhan
Setelah begitu jauh melarikan diri,
masih juga Georgia menguntitnya.

 
 
"Puisi: Blues untuk Bonnie"
Puisi: Blues untuk Bonnie
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Suto Untuk Fatima


Dua puluh tiga matahari
bangkit dari pundakmu.
Tubuhmu menguapkan bau tanah
dan menyalalah sukmaku.
Langit bagai kain tetoron yang biru
terbentang
berkilat dan berkilauan
menantang jendela kalbu yang berdukacita
Rohku dan rohmu
bagaikan proton dan elektron
bergolak
bergolak
di bawah dua puluh tiga matahari.
Dua puluh tiga matahari
membakar dukacitaku.
 
 
"Puisi: Nyanyian Suto Untuk Fatima"
Puisi: Nyanyian Suto Untuk Fatima
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Duniawi
Ketika bulan tidur di kasur tua
gadis itu kucumbu di kebun mangga.
Hatinya liar dan birahi
lapar dahaga ia injak dengan kakinya.
Di dalam kemelaratan kami berjamahan.
Di dalam remang-remang dan baying-bayang
menderu gairah pemberontakan kami.
Dan gelaknya yang angkuh
membuat hatiku gembira.

Di dalam bayangan pohon-pohon
tubuhnya bercahaya
bagaikan kijang kencana.
Susunya belum selesai tumbuh
bagai buah setengah matang.
Bau tubuhnya murni
bagaikan bau rumputan.
Kudekap ia
bagai kudekap hidup dan matiku.
Dan nafasnya yang cepat
ia bisikkan ke telingaku.
Betapa ia kagum
pada bianglala
yang muncul dari mata terpejam.

Maka para leluhur yang purba
muncul dari pusat kegelapan
datang mendekat
dengan pakaian compang-camping
dan mereka berjongkok
menonton kami.
 
 
"Puisi: Nyanyian Duniawi"
Puisi: Nyanyian Duniawi
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kepada M G


Engkau masuk ke dalam hidupku
di saat yang rawan.
Aku masuk ke dalam hidupmu
di saat engkau bagai kuda
beringas
butuhkan padang.
(Dan kau lupa siapa nama mertuamu)
Kenapa bertanya apa makna kita berdekapan?
Engkau melenguh waktu dadamu kugenggam.

Duka yang tidur dengan birahi
telah beranak dan berbiak.
Ranjang basah oleh keringatmu
dan sungguh aku katakan:
engkau belut bagiku.
Adapun maknanya:
meski kukenal segala liku tubuhmu
sukmamu luput dari genggaman.

Telah kurenggut engkau
dari kehampaanmu
dari alcohol kota New York
dari fantasi lampu-lampu neon
dan dari pertanyaan-pertanyaanmu
yang lesu naik turun elevator.
Engkau kuseret
kulekapkan pada keperawananku
pada kemuakanku terhadap lapar
pada filsafat pemberontakanku
pada sangsiku.
Astaga, rambutmu yang blonda
sungguh asing
dan membawa gairah baru padaku.

Sebagai bajingan
aku telah kau terima.
Engkau telah menyerah.
Sebagai perahu kaubawa aku
mengarungi udara yang gelisah
kerna nafasmu yang resah
dan tubuhmu yang menggelombang.

Hidup telah hidup dan menggeliat.
Waktu gemetar dalam ruang yang gemetar.
Ketika bibirmu mongering dan memutih
dan kuku-kuku jari-jarimu menekan pundakku
kupejamkan mataku.

Hidupku dan hidupmu
tidak berubah karenanya.
Masing-masing punya cakrawala berbeda.
Masing-masing punya teka-teki sendiri
yang berulang kali mengganyangnya.

 
 
"Puisi: Kepada M G"
Puisi: Kepada M G
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mencari Sebuah Masjid


Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang tiang‐tiangnya pepohonan di hutan
fondasinya batu karang dan pualam pilihan
atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
digosok topan kutub utara dan selatan
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
dengan warna platina dan keemasan
berbentuk daun‐daunan sangat beraturan
serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan tunas jalin berjalin
bergaris‐garis gambar putaran angin
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang masjid yang menara‐menaranya
menyentuh lapisan ozon
dan menyeru azan tak habis‐habisnya
membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
kemudian nadanya yang lepas‐lepas
disulam malaikat menjadi renda‐renda benang emas
yang memperindah ratusan juta sajadah
di setiap rumah tempatnya singgah
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana
bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
engkau berjalan sampai waktu asar
tak bisa kau capai saf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini, yang luas luar biasa
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
dan orang‐orang dengan tenang membaca di dalamnya
di bawah gantungan lampu‐lampu kristal terbuat dari berlian
yang menyimpan cahaya matahari
kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
di sebuah pustaka yang bukunya berjuta‐juta
terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
tempat orang‐orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
dalam simpul persaudaraan yang sejati
dalam hangat sajadah yang itu juga
terbentang di sebuah masjid yang mana
Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Di manakah dia gerangan letaknya ?
Pada suatu hari aku mengikuti matahari
ketika di puncak tergelincir dia sempat
lewat seperempat kuadran turun ke barat
dan terdengar merdunya azan di pegunungan
dan aku pun melayangkan pandangan
mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
dia berkata :
"Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan"
dia menunjuk ke tanah ladang itu
dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
secarik tikar pandan
kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin mengalir beraturan
tanpa kata dia berwudhu duluan
aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
hangat air terasa, bukan dingin kiranya
demikianlah air pancuran
bercampur dengan air mataku
yang bercucuran.
 



Jeddah, 30 Januari 1988
Taufiq Ismail
"Puisi: Mencari Sebuah Masjid"
Puisi: Mencari Sebuah Masjid
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis,
Lalu Kalian Paksa Kami
Masuk Masa Penjajahan Baru,
Kata Si Toni

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara‐gara pewarisan nilai, sangat dipaksa‐tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami‐kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tepergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa‐tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa‐bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi‐kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai‐ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama‐sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama

Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi
Dicengkeram kuku negara multi‐kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa

Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini



 1998
"Puisi: Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis"
Puisi: Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Masa Penjajahan Baru
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dari Ibu Seorang Demonstran


"Ibu telah merelakan kalian
Untuk berangkat demonstrasi
Karena kalian pergi menyempurnakan
Kemerdekaan negeri ini"

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada
Atau gas airmata
Tapi langsung peluru tajam
Tapi itulah yang dihadapi
Ayah kalian almarhum
Delapan belas tahun yang lalu

Pergilah pergi, setiap pagi
Setelah dahi dan pipi kalian
Ibu ciumi
Mungkin ini pelukan penghabisan
(Ibu itu menyeka sudut matanya)

Tapi ingatlah, sekali lagi
Jika logam itu memang memuat nama kalian
(Ibu itu tersedu sedan)

Ibu relakan
Tapi jangan di saat terakhir
Kau teriakkan kebencian
Atau dendam kesumat
Pada seseorang
Walapun betapa zalimnya
Orang itu

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah
Di atas bumi kita ini
Sebelum kalian melangkah setiap pagi
Sunyi dari dendam dan kebencian
Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan
Serta rasul kita yang tercinta

Pergilah pergi
Iwan, Ida dan Hadi
Pergilah pergi
Pagi ini

(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta
Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka
Dan berangkatlah mereka bertiga
Tanpa menoleh lagi, tanpa kata‐kata)
 
 
"Puisi: Dari Ibu Seorang Demonstran"
Puisi: Dari Ibu Seorang Demonstran
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Buku Tamu Musium Perjuangan

Pada tahun keenam
Setelah di kota kami didirikan
Sebuah Musium Perjuangan
Datanglah seorang lelaki setengah baya
Berkunjung dari luar kota
Pada sore bulan November berhujan
dan menulis kesannya di buku tamu
Buku tahun keenam, halaman seratus‐delapan

Bertahun‐tahun aku rindu
Untuk berkunjung kemari
Dari tempatku jauh sekali
Bukan sekedar mengenang kembali
Hari tembak‐menembak dan malam penyergapan
Di daerah ini
Bukan sekedar menatap lukisan‐lukisan
Dan potret‐potret para pahlawan
Mengusap‐usap karaben tua
Baby mortir buatan sendiri
Atau menghitung‐hitung satyalencana
Dan selalu mempercakapkannya.

Alangkah sukarnya bagiku
Dari tempatku kini, yang begitu jauh
Untuk datang seperti saat ini
Dengan jasad berbasah‐basah
Dalam gerimis bulan November
Datang sore ini, menghayati musium yang lengang
Sendiri
Menghidupkan diriku kembali
Dalam pikiran‐pikiran waktu gerilya
Di waktu kebebasan adalah impian keabadian
Dan belum berpikir oleh kita masalah kebendaan
Penggelapan dan salahguna pengatasnamaan.

Begitulah aku berjalan pelan‐pelan
Dalam musium ini yang lengang
Dari lemari kaca tempat naskah‐naskah berharga
Kesangkutan ikat‐ikat kepala, sangkur‐sangkur
berbendera
Maket pertempuran
Dan penyergapan di jalan
Kuraba mitraliur Jepang, dari baja hitam
Jajaran bisu pestol Bulldog, pestol Colt. 
 
"Puisi: Buku Tamu Musium Perjuangan"
Puisi: Buku Tamu Musium Perjuangan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bayi Lahir Bulan Mei 1998

Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba‐hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta.

Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing.
   
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya.
1998
"Puisi: Bayi Lahir Bulan Mei 1998"
Puisi: Bayi Lahir Bulan Mei 1998
Karya: Taufiq Ismail