loading...

Membisiki Telinga Sendiri


Biru
Hari kusam dan bergeser lamban.
Radio mengingatkan lagu kenangan
dengan kekasih yang di riba bumi.

Kok aneh.
Kuingin hari lebih cepat berlalu
dan terpupuslah segala dongeng itu.
Alangkah sedihnya kalau sudah kutahu,
atas segala keluh,
mereka sudah jemu.
Tapi darahku tak bisa tahu
dan pada arusnya masih juga menderu
lagu ratapan yang panjang.

Kukata pada diriku:
Rendra kau harus berbuat apa-apa
kalau tidak, bisa gila.
Jadi kulangkahkan kakiku.

Selanjutnya,
dengan sepatu karet kujalani Pasar Pon.
Di sini hidup berlangsung dengan semangat.
Dan alir keringat bermuara senyuman sehat.

Begitu detik berlalu,
begitu terpancar lagu.
Harus kubuat apa-apa,
kalau tidak,
bisa gila.

Kukenal Mansyur Samin,
penyair anak Sumatra
yang menggadaikan kereta anginnya
untuk sekolah di Tanah Jawa.

Begitu detik berlalu, begitu terpancar lagu.
Kupergi makan ke Warung Tiga Bola,
sepiring nasi hati rendang.
Di sini kujumpa penyanyi suka ketawa
yang sering makan berutang.

Harus kubuat apa-apa,
kalau tidak, bisa gila.

Di Pasar Pon kukenal si Tatak
dengan bininya telah berkembang biak.
Anak banyak, kerja banyak, kesenangan banyak
kerna satu yang tak banyak,
mimpi indah yang memuncak.

Begitu mereka maju,
seluruh hidupnya berlagu.

Ada Mbah Kasim penjual jamu.
Mulai modal kecil dulu.
Siang-siang baca koran,
sore mandi dan minum kopi.
Malam kerja kurang enak.
Sekarang tidur nyenyak.

Mereka berlalu maju,
seluruh hidupnya berlagu.

Mari kukenang si Tatak
Apa yang dipunya serba banyak.
Mansyur Samin, Rakhman penyanyi,
Mbah Kasim, dan banyak lagi.
Juga Bang Buyung yang jarang mandi
Hidupnya seperti main sulap
Empat hari tahan tak bisa makan
terus hidup dan banyak dongeng.

Sebenarnya sudah bisa kupupus kesedihanku.
Bisa kubawa dansa muda-mudi
cuma aku sendiri yang keras kepala
Lukaku sudah muda, tetapi kugaruk lagi.

Kucari sendiri kesedihanku.
Aku cuma lesu dan sedikit kepayahan.
Perasaan tenggelam didalam-dalamkan.

Ayo diriku, kok begitu.
Soalnya kan sudah ketemu.
Mereka terlalu maju,
seluruh hidupnya berlagu.
Harus kubuat sesuatu,
tiada pos tempat menunggu.

Solo, 1954
"Puisi: Membisiki Telinga Sendiri (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Membisiki Telinga Sendiri
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top