Januari 2001
Pada Sebuah Tamasya


Ditangkai air pohon-pohon teh
kutemukan pertanyaanmu
Sepucuk kalimat lama tertoreh
seperti jejak yang dahulu.

"Kenapa kau ikuti aku
dengan kembang di krah baju
Kenapa kau ikuti aku
seperti elang melingkari bisu".

Ditangkai air pohon-pohon teh
tak kutemukan apa jawabku
Hanya lumut terasa leleh
hutan mengerang hari mengabu.
 
1978
"Puisi: Pada Sebuah Tamasya (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Pada Sebuah Tamasya
Karya: Goenawan Mohamad
Istriku

Kalau istriku tidak kawin denganku
dia bukan istriku tentu
Aku kebetulan mencintainya
dia pun mencintaiku
Seandainya pun aku tidak mencintainya
dan dia tidak mencintaiku pula
Dia tetap istriku
karena ia kawin denganku.
 
  
1987
"Puisi: Istriku (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Istriku
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Perempuan

1
Perempuan yang meninjau dari jendela
hatinya terus bertanya
Kemana perginya suami yang luka
membawa pikiran kacau
Rindu anak-anak malam hari
bertanya akan bapanya
Tapi bapa telah melangkah
bagai samar senja musim kemarau.

2
Karena terlalu membekas bilur
di jantungnya guratan sendu
Itulah yang memaksanya melepas risau
berharian lewat jendela
Sedang di hadapannya terhampar hari
merangkak atas warna kelabu
Siapa akan datang kepadanya
untuk kawan berbagi duka.

3
O lelaki mengapa begitu sampai hati
meremas mimpi perempuan yang lemah ini
Mengembara membelakanginya setelah
membebankan kepadanya tiga orang anak
Lalu jandalah ia setelah seluruh malam
dan tubuhnya terjamah lelaki
Lelaki yang pergi, tiada juga mau
menjenguknya barang sejenak.

4
Setiap kali kalau aku melintas
di jalan ini, pulang dan pergi
Kembali ia kulihat merenung ke luar
jalan dan orang yang lalu
Betapalah iba merasuk hati
ditinggal lelaki tiada peduli
Membenam dendam kelabu
serta haruan sayu merindu.

5
Apalah yang dapat kuberikan
kepada perempuan yang malang ini
Angin yang dingin telah menyusul
menarikku dari belakang
Malam yang pekat berjalin dengan laguku
berpintal ketat sekali
Bergayut lekat di tapak sepatuku
nyanyian duka anaknya sayang.

6
Sedang kureka, karena terasa ada
yang harus kuberikan kepadanya
Kendati malam yang dingin tebal mendinding
memisah aku dari padanya
Tapi bila hatiku terang bagai
benderang bulan purnama
'Ku rangkai sajak yang mesra
pertanda kasihku pada manusia.

7.
Lewat hari, lewat orang berjalan
melintas di depan jendela
Menundukkan muka, mengelak aku
dari pandangan pilunya
Akupun lelaki yang rindu dan dahaga
akan mesranya gairah cinta
'Ku seka mata, seketika aku terpana
betapa manis gadis adiknya

8
Ke mana akan 'ku rebahkan diri
di antara keduanya akupun gusar
Terlalu asing bagi sebuah lagu
yang 'ku siulkan malam hari
Lalu kutulis di atas dada
siapa saja orang yang nanar
Bahwa orang yang kehilangan pegangan
membutuhkan sahabat sejati.

9
Disaksikannya, bahwa malam yang kelam
telah lama berangkat tua
Lalu ditariknya kedua daun jendela
dengan lunak dikatupkannya
Tapi hatinya yang masih terbuka
siapakah yang akan mengisinya
Disini ia terbaring memagut anaknya
karena malam terlalu sepi baginya.

10
Perempuan yang terbaring di atas ranjang
hatinya tabah menunggu
Kehadiran lelaki yang setia
akan menuntunnya kepada bahagia
Karena di hadapannya terhampar hari
merangkak atas warna kelabu
Siapa akan datang kepadanya
untuk kawan berbagi duka.
  
1958
"Puisi: Perempuan (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Perempuan
Karya: Aldian Aripin
Doa Persembunyian (di Sebuah Greja Rumania)
- untuk Ivan dan Evelina


Tuhan yang meresap di ruang kayu
di greja dusun,
di lembah yang kosong itu,
kusisipkan namamu.

Jangan jadikan kerajaanmu.

Bebaskan aku dari sempit yang gelap
seperti surga
yang gemetar ini.

Beri aku tuah,
dari isim yang asing
seperti sepatah kata Ibrani
dari lidah tuan padri.

Beri aku
merah anggur yang tumpah,
sebelum mereka datang

sebelum mereka
melintasi makam peladang
dan menangkapmu
dari jemaah yang tidur
di Getsemani ini.

O Tuhan yang lenyap
dalam ruang kayu
yang hitam, sehitam tembakau
kusembunyikan namamu

kusisihkan laparku
takutku,
pedangku.


"Puisi: Doa Persembunyian (di Sebuah Greja Rumania)  Karya Goenawan Mohamad"
Puisi: Doa Persembunyian (di Sebuah Greja Rumania)
Karya: Goenawan Mohamad
Abandoned Ship


Sebuah kapal layar
tertambat pada sauh
ditinggalkan.

terangguk-angguk
digoyang
gelombang.

Suatu senja
hal itu
kusaksikan.

Tanjung Balai, Karimun
1977
"Puisi: Abandoned Ship (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Abandoned Ship
Karya: Goenawan Mohamad
Tentang Sinterklas


Di dekat rumah yatim-piatu
Sinterklas terbunuh oleh peluru
"Piet Hitam telah menembakku!"
Dan anak-anak termangu.

Di dekat persimpangan lima
Polisi menahan seorang mahasiswa Afrika
Ia memang bersenjata, dan konon berkata:
"Aku telah merdeka!"
 
  
"Puisi: Tentang Sinterklas (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Tentang Sinterklas
Karya: Goenawan Mohamad
Hai, Kamu!


Luka-luka di dalam lembaga,
untaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.

Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.


Jakarta, 29 Februari 1978
"Puisi: Hai, Kamu! (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Hai, Kamu!
Karya: W.S. Rendra