Februari 2001
Telegram Gelap Persetubuhan

Kukirim telegram cinta, untuk sesuatu yang deras, mengalir ke ubun,
yang ganjil, yang kucari dalam ledakan-ledakan. yang kutemukan
dalam kekecewaan demi kekecewaan.

Kukirim beratus teriakan kecil dalam gelombang tak berpintu.
membentur-bentur dinding dan kesangsian. kuberikan berdesimal
ciuman bimbang. sampai hangat membakar dari mata terpejamku.

Kukirim sebaris telegram cinta: lewat lelehan keringat dan
dengus nafas liarku. yang menyisakan sebaris kalimat bisu
dalam gelembung racun kebencian.
dan setelah itu kutulis cerita cabul yang memualkan,

tentang seekor kelinci lemah berbaju gumpalan daging
dalam sederet langkah "the man with the golden gun."
kukirim ke alamat persetubuhan paling dungu.

Mengapa kaukutuk kesenangan kecil ini. sambil kau sembunyikan
lolongan anjing dan ringkik kuda sembrani dalam berhalaman kitab
atau berbaris grafiti di dinding luar menara.

Diamlah dalam kelangkangku, lelaki.
sebelum kaukutuk sebagian fragmen dalam cermin bekumu,
sebelum aku menjadi pemburu sejati: untuk membidikkan panah
yang kurendam racun beratus ular berbisa.
dan kibas jariku melemparkan bangkaimu
ke lubuk senyum nikmatku paling dungu.

Februari, 2000
"Puisi: Telegram Gelap Persetubuhan (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Telegram Gelap Persetubuhan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Keranda Nenek Tua

Tuhan, t'lah kami siapkan dupa-dupa
Roh pun pulang kepada-Mu
Ibu Bumi, t'lah kami siapkan air suci
jasad pun kembali padamu
Amien, Amien, Amien
lengkaplah duka-duka anak cucu
ketika menerobosi bawah keranda
sempurnalah bakti sederhana
ketika ujung-ujung kenanga berjuntai sisi keranda
Innalilahi Wainnalilahi Rojiun.

Jakarta, 1980
"Puisi: Keranda Nenek Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Keranda Nenek Tua
Karya: Diah Hadaning
Jakarta dalam Ketika

Jakarta,
ketika bulan merah kulihat
wajahmu tersangkut di atap-atap
rumah kampung Condet yang
tersilet-silet.

Jakarta,
ketika musik-musik berderam
kudengar suaramu menyatu
dalam doa sabar polisi-polisi kecil
berpanas-hujan sepanjang jalan Sudirman.

Jakarta,
ketika bunga-bunga ulang tahun
cantik memanjang gedung kapitol
kulihat dirimu tak henti
menggoyang angan-angan para urban
yang tak pernah lelah mencari
sementara terus kehilangan.

Jakarta,
ketika forum-forum cantik
bicara tentang profil kota ideal
kulihat dirimu sabar mendengar
sesekali menatap air Ciliwung
di mana bayangku limbung
dan Harmoni penuh bunga imajinasi.

Jakarta
Juni, 1988
"Puisi: Jakarta dalam Ketika (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta dalam Ketika
Karya: Diah Hadaning
Catatan Seorang Anak Kota

Sebuah penjara telah dimasukinya
ketika pintu-pintu dunia lelaki
rasa tertutup oleh perkawinan
ia mencoba bebaskan diri
tinggalkan kampung halaman
kota kecil kesayangan
dan seorang bocah si anak lanang
Jakarta, tunggu langkah pengembara
yang bermodal jiwa tualang.

Lelaki sederhana menatap Jakarta
di mana-mana seringai serigala
o, keramahan di dada siapa masih tersemat?
adakah di cucuran atap rumah kardus? 
depan rumah putih gaya sepanyolan?
Lelaki sederhana rindu tegur sapa.

Sebuah penjara telah dimasukinya
ketika pintu-pintu kebebasan semu
tak memberi sesuatu selain deru
Jakarta luruh dalam terminal bus kota
ketika seorang kawan lama menemukannya
mengipas luka diri oleh sayatan Jakarta
apa kau cari di hutan bangunan ini?
Sedang aku siap kembali
kata sang kawan bagai tikam belati.

1988
"Puisi: Catatan Seorang Anak Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Seorang Anak Kota
Karya: Diah Hadaning
Lelaki Tanah Rawa
Lelaki Rindu Nikmat Merdeka

Semak bakau hijau pekat
satwa bebas dari pukat
pernah selalu diracik jadi geguritan
sambil menyusuri garis matahari
nafasnya aroma tanah rawa
hasratnya angin semak
laut lepas ladang bebas
Kasih Allah ada di mana-mana.

Musim berlepasan dari almanak
hari-hari bertemperasan
kalung merjan lepas dari rangkaian.

Semak bakau hijau pekat
satwa bebas dari pukat
tak lagi bisa diracik geguritan
tanah rawa telah ditimbun rata
di atasnya telah tumbuh pohon-pohon baja
laut dan ladang bukan lagi milik Tuhan
tempat menghirup kemerdekaan
tempat menembang kasih sayang.

1993
"Puisi: Lelaki Tanah Rawa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lelaki Tanah Rawa
Karya: Diah Hadaning
Percakapan dengan Hujan

Ada ritmis menepis-nepis kaca jendela
menyapa pagi dengan bahasanya sendiri
perempuan memang muara menjelang laut
segala tertampung awalnya hanyut
lalu kata-kata dan makna-makna
mengemas dirinya sendiri
memasang sayap-sayap untuk mengejar pelangi
ya, muara akulah itu
hujan semusim berkepanjangan
tak membuatku ragu nampung bebatu
hujan memahami dan terus menderas tanpa henti.

Bogor, 1995
"Puisi: Percakapan dengan Hujan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Percakapan dengan Hujan
Karya: Diah Hadaning
Semak Bakau Catatan Satu

Masih ada tengaranya
bincang panjang itu
tersangkut di semak hijau
tumbuh jadi hasrat kita
teluk hijau kemilau
anak nelayan saling himbau.

Musim luruh 
ada yang berubah cepat
di sekitar kita
akar bakau pernah simpan
perbincangan itu
tak lagi kita temukan.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Semak Bakau Catatan Satu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Semak Bakau Catatan Satu
Karya: Diah Hadaning
Balada Orang-orang Kampung Lor

Orang-orang Kampung Lor di kota itu
tak pernah tahu apa yang tengah meraja
di antara deru kehidupan dunia
mereka bangun pagi dan bekerja seadanya
sembahyang dan selamatan sederhana
ketika kehidupan menghadirkan kelahiran
ketika batas waktu menghadirkan kematian
ada tawa dan tangis saat panen di sawah
ada tawa dan tangis saat panen di laut
ada tawa dan tangis saat hidup carut-marut.

Orang-orang Kampung Lor tak pernah neka-neka
dunia selebar daun pisang selebar daun kelor
semua sama saja jika memang telah seharusnya
Allah Maha Pengatur manusia yang penggusur
lalu ke mana hilangnya putih hilanya nur
Orang-orang Kampung Lor membiarkan segalanya
mengalir bersama waktu seirama ombak
yang selalu setia membasuh Jepara kian tua.

Bogor, 1996
"Puisi: Balada Orang-orang Kampung Lor (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Orang-orang Kampung Lor
Karya: Diah Hadaning
Balada Pak Tua Pengrajin Gerabah

Pak Tua duduk mencangkung
mendekap kaki menatap ke kejauhan
sesuatu tengah berubah
bukan soal gerabah
bukan soal tanah
tapi pohon kemerdekaan.

Tumbuh sederhana di pinggir desa
dia selalu menjanjikan
mimpi awal tak bertuan.

Yogyakarta pak tua tak pernah sangsi
buminya masih seperti dulu
simpan peluh dan tetes darah
menjadi kali-kali tempat berkaca
anak-anak peradaban.

Pak Tua merenung panjang
dering kereta kuda menyibak siang
banyak sudah yang terjadi
di sepanjang jalan antara Yogya-Godean
semuanya ditelan diam-diam
bulan Syura tumpuan harapan.

Bogor, 1996
"Puisi: Balada Pak Tua Pengrajin Gerabah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Pak Tua Pengrajin Gerabah
Karya: Diah Hadaning
Jaket-Jaket di Rumah Rakyat

Ketakutan itu
tak harus disembunyikan
ketakutan itu 
tak pula disandarkan
ketakutan itu
telah mengalir ke lautan.

Sesungguhnya
rasa itu ruh penjajah
sesungguhnya
rasa itu bisa ubah arah.

Setelah cermin pecah
anak jaman luruskan sejarah
setelah jembatan runtuh
anak jaman masih utuh
setelah sakit dan luka
anak jaman kibar bendera.

Jaket-jaket di rumah rakyat
telah bicara dalam warna
jaket-jaket di rumah rakyat
milik anak tanah merdeka.

Mei, 1998
"Puisi: Jaket-Jaket di Rumah Rakyat (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jaket-Jaket di Rumah Rakyat
Karya: Diah Hadaning
Doa Luka Ketapang

Doa belum selesai ditata
nyanyian masih ruang jiwa 
luka masih membasah pula
Jakarta radang
Ketapang mega mengambang
anak bermain di jalanan
memburu awan 
mengeja-eja impian.

Ada yang lepas
dari rangkaian waktu naas
senja panas jiwa telengas
doa hilang tak tuntas
ketika senja menjadi api
membakar sisa doa
membakar sisa luka
anak manusia hilang rupa.

Ketapang senja remang
Ketapang November perkabungan

Ketapang mozaik tercabik
Ketapang hilangnya manis persik.

November, 1998
"Puisi: Doa Luka Ketapang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Doa Luka Ketapang
Karya: Diah Hadaning
Bendera di Kota-kota

Mozaik warna
mozaik rasa
mozaik daya

kota-kota tertawa
anak manusia simpan bara
hujan dan angin
bebaskan sekap ingin

telah terlalu lama
merindukannya 
bagai meregang nyawa
seorang lelaki muda berseru

kota-kota terbahak
jiwa menggelegak
panas dan debu
bebaskan sisa ragu

Mozaik daya
mozaik rasa
mozaik warna.

April, 1999
"Puisi: Bendera di Kota-kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bendera di Kota-kota
Karya: Diah Hadaning
Tembang Kali Code

Menyapa sang kalasuba
di akhir musim ngusung mimpi
anak negeri kehilangan matahari
episode emas hanyut dalam arus
darah, hitam merah hitam merah.

Menyapa sang kalasuba
pernah janjikan mutiara naga
lewat pesan tabib perempuan Indian tua
kubasuhlah segala luka darah
dengan tetesan embun iman.

Subuh lewat
zuhur lewat
asar lewat
magrib lewat
isya' lewat
hening malam pun tiba.

Musim merentang waktu
padang rumput telah berbatu
lereng berkabut telah berlumut
ruang dan waktu selembar langit
aku terdiam lama di bantaran Code.

Yogya
Februari, 2000
"Puisi: Tembang Kali Code (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tembang Kali Code
Karya: Diah Hadaning
Bunga-Bunga Ungu di Danau Buyan

Yang mencari dermaga
angin dari arah timur danau Buyan
yang mencari bantaran
arus jiwa menyusur jejak leluhur
aku pejalan mencoba membaca warna
aku penabur mencoba membaca lahan
di timur hanya sehampar bunga ungu
danau tua diam kaku
enceng, enceng
hijau ungu
adakah pertanda baru.

Bethara Bethari
adakah denyut andika
dalam guritan ini
Bethara Bethari
adakah murka andika
dalam pertanda ini
yang ungu di air
yang merah di tanah
kias kotaku berdarah-darah.

Bunga-bunga ungu
di danau Buyan
saksi musim tak bertuan.

Bogor
Juli, 2000
"Puisi: Bunga-Bunga Ungu di Danau Buyan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bunga-Bunga Ungu di Danau Buyan
Karya: Diah Hadaning
Perempuan yang Mencari Bukti

Mencari bukti kasih sayang
dan janji setia seorang anak lelaki pada jaman
menelusuri tanda-tanda
dari berkas lama sampai kibar bendera
dari darah di jalan aspal sampai taburan bunga
alas warna hijau suara parau ruangan galau
tak terasa waktu berlalu
dalam deret kotak trotoar
dalam hitungan tahun dan rindu terbakar
kata pasti raib ke langit tinggi
menyatu dengan segala keanehan negeri.

Ia menyibaki lembar sejarah
yang nampak selalu bayang darah
anak masa depan itu di manakah
ia bisa bernama apa saja
ia bisa tertimbun tanah di mana saja
ia bisa dilupakan sejarah kapan saja
berapa banyak ia
tanpa bukti namun ada.

Bogor
Juli, 2002
"Puisi: Perempuan yang Mencari Bukti (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perempuan yang Mencari Bukti
Karya: Diah Hadaning
Benih yang Tumbuh dari Tabur Hujan

Benih yang tumbuh sari tabur hujan
di tanah perdikan kau tinggalkan
sementara migrasi mimpi-mimpi
dari ruang ke ruang waktu yang tak sempat
kita miliki lagi, jangan bayangkan diriku
menjadi perempuan berkemben muncul perlahan
dari sisa tabir peradaban yang dilupakan
aku bukan semua yang terjadi dari angan-anganmu
aku tersesat terlambat melesat lahir
dalam jamanmu penuh khianat
topeng-topeng dipajang berontong-berenteng
di sepanjang jalan kecil bernama luring
bergoyang-goyang di bawah langit mendung
dalam catatanmu hanya terbaca:
ada perempuan hilang renung
ada pohon tua hilang suara burung.

Diam-diam kusimak benih yang tumbuh
dari tabur hujan, sambil mencoba mengenang
maksud catatanmu, dan aku semakin gagu.

Juli, 2002
"Puisi: Benih yang Tumbuh dari Tabur Hujan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Benih yang Tumbuh dari Tabur Hujan
Karya: Diah Hadaning
Menyimak Rumah Bambu I

Rumah bambu di bantaran Kali Code itu
Muncul dalam siluet dunia maya
Masih simpan getar angin musim hujan
Nopember senja, di antara sengketa
Tergelar tamak loba jauh dari pakem
Kehidupan seharusnya
Adakah kau lihat orang-orang
Seperti bukan lagi manusia.

Kali Code telah lama hilang jernihnya
Seperempat abad lalu senyum usia muda
Mekar di tepinya, tata arah pada langkah
Rumah bambu tahu semua itu
Kenangan tersimpan pada caping
Bukan pada busur panah
Bukan pada mata tombak
Bukan pada mikropon mimbar.

Bogor
November, 2003
"Puisi: Menyimak Rumah Bambu I (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyimak Rumah Bambu I
Karya: Diah Hadaning
Menyimak Tebing Ching Sui

Menyimak Tebing Ching Sui dalam lukisan
Seakan dengar kembali pesan lama
Tertiup angin benua dari arah Taman Taroko.

Sin minta apa saja pada pergiku kali ini
Tapi jangan minta sepotong batang yang itu
Hanya karena denyut rasa jadi hasrat
Simak liuknya kala purnama.

Menyimak laut dalam bawah tebing
Seakan dapat pahami relung misteri
Ucap itu, jauh hari berbilang musim
Ia tak ingin lihat perempuan lara dan merana.

Kini Tebing Chingshui sembunyikan bayangnya
Saat tak menemu bunga camellia
Kembang perempuan pesisir tanah Jawa.


Bogor
November, 2003
"Puisi: Menyimak Tebing Ching Sui (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyimak Tebing Ching Sui
Karya: Diah Hadaning
Dari Debu-Debu Revolusi

Kendati kami telah jadi debu dan tanah
terdapat sepanjang pantai dan lembah
belum hirup hangat mentari kemerdekaan
belum reguk segar nikmat kebebasan
namun bukan berarti
segala yang pernah kami korbankan
buat perabuk ladang tempat kau bertanam
dan kukatakan sekarang
segala kami yang nyawanya masih gentayangan
sampai yang damai di sisi Tuhan
kami tak pernah relakan
bumi hangat
yang kami basuh dengan darah
rimba padat
yang kami dekap dengan cinta pasrah
kau buat padang penggembalaan
bagi domba-domba kelaparan
percuma kami jadi debu beterbangan
bila megahnya bangsa sekadar lagu pujaan
galaknya tekad sekadar kata pajangan
bukan untuk itu kami telah sedia mati
namun buat maniskan madu laut khatulistiwa
tempat anak-anak masa depan
bebas berkubang sambil minum dan tertawa
tanpa cemas pada neraka dunia.


Yogya
1974
"Puisi: Dari Debu-Debu Revolusi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Dari Debu-Debu Revolusi
Karya: Diah Hadaning
Kuperam Sukmaku

Kuperam sukmaku di ketiak karang
kusemai benihmu dalam lambai dan salam
cambuk ombak melecut hari.
Lahirlah sapi yang menanduk kebosanan

kutemukan keloneng benang
dalam sunyiku.

Menganga liang: ombak panas
arusmu terbakar di lautan jingga.

Kujilat nanah di luka korban
kauletakkan krakatau ke dalam diriku
Lalu kubuat peta bumi yang baru
dengan pisaumu.

"Puisi: Kuperam Sukmaku (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Kuperam Sukmaku
Karya: D. Zawawi Imron
Tembang Dahaga

Air mata langit yang menetes perlahan
menghindar dari mulut bunga
dengan setia dijatuhinya sebongkah batu
hingga tertulis prasasti
sejak kapan dimulai gelisah.

Lantaran apa bunga mengidap rasa dahaga
sedang cuaca tak pernah dusta?
Bunga meludah dan terus meludah
sampai langit sempurna merahnya.

Bulan terlentang kematian warna
tak kuat lagi memukul dahaga
ia menolak tetek cucunya.

"Puisi: Tembang Dahaga (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Tembang Dahaga
Karya: D. Zawawi Imron
Musim Labuh

Jatuh gerimis musim labuh
wahai, manis!
Pada wangi tanah siwalan
ada bau sendu menikam
kutatap sepi
paras ladang yang merangkum merah membasah
hanya seorang petani
menghayati hakekat sepi
di kaki bukit.

Ada nyanyi pilu bening
hasrat yang biru memburu wangi ke puncak bukit
cuaca dingin
mengabur bersama warna
rindu yang ungu.

Gerimis kembali jatuh
di sini, manis!
Ada hakekat baru tumbuh
yang kurengkuh.

1966
"Puisi: Musim Labuh (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Musim Labuh
Karya: D. Zawawi Imron
Meeting Point
untuk Linde Voute

Aku menunggu, kami menunggu
di tengah Amsterdam yang gatal
Mantel-mantel wol
memantapkan langkah-langkah gontai
Mengusir rasa entah.

Aku menunggu, kami tetap menunggu
Detak jantung terus berpacu
Antara jenuh dan alunan sebuah lagu
Ada janji yang hampir beku.

Yang kami tunggu pun datang
Menyebut nama
dengan senyum yang dipersiapkan
sejak dari kandungan ibu.

Amsterdam yang agak gatal
tiba-tiba menjadi ramah
Tak penting
Antara kami dan dia tak pernah bertemu.

Yang penting kopi traktiran itu
telah mengingatkanku
pada samudra di dada ibu.

"Puisi: Meeting Point (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Meeting Point
Karya: D. Zawawi Imron
Hari Menuai
Lamanya sudah tiada bertemu
Tiada kedengaran suatu apa
Tiada tempat duduk bertanya
Tiada teman kawan beberita.

Lipur aku diharu sendu
Samar sapur cuaca mata
Sesak sempit gelanggang dada
Senak terhentak raga kecewa.

Hibuk mengamuk hati tergari
Melolong meraung menyentak rentak
Membuang merangsang segala petua
Tiada percaya pada siapa.

Insaf aku
Bukan ini perbuatan kekasihku
Tiada mungkin reka tangannya
Karena cinta tiada mendera.

Kutilik diriku kuselam tahunku
Timbul terasa terpancar terang
Istimewa lama merekah terang
Merona rawan membuang sedan.

Tahu aku
Kini hari menuai api
Mengetam ancam membelam redam
Ditulis dilukis jari tanganku.
"Puisi: Hari Menuai (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Hari Menuai
Karya: Amir Hamzah
Anak Sumbawa


Di Sumbawa Donggo punya kuda
Di Jakarta Donggo beli sepeda
Ia antar kota ke mimpinya, lampu jalanan jadi mati
Ia bangunkan kota dari tidur lelapnya pagi-pagi.

Cuma sepeda dan seperak di kantongnya
'lewatlah malam tiada mata memandang padaku
Sedang di dadaku bertumbuhan gairah
Lewatlah hari, kesepian merajalela, begitu.
Mereka lalu di jalan kepu'

Sumbawa punya kuda ayam bertelur padang rumput
Berpacu ia vidi dan gadisgadis dipingit
Ingin dilepas karena hati penuh madu
Ingin didekap nyala neraka di darahnya

Cuma sepeda di jakarta, kudakuda di sumbawa
Donggo rindu la vidi kuda kesayangannya
Mesra bunda mengelus kening si anak
Bapak sakit, jakarta memisah kasih.

Di Jakarta Donggo antar kota ke mimpinya
Relung malamnya, Sumbawa di dadanya menyala.
 
   
"Puisi: Anak Sumbawa (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Anak Sumbawa
Karya: Ajip Rosidi
Doger


Aku telah menari pada malam pertama
karena muka merah di lidah api pelita
karena hari terkungkung nafsu melingkung
harapan si gadis remaja alit jangkung.

malam membuka batas senja dan hatiku
ia pun terbuka, semangka masak merah kesumba
gadaikan malam pada kendang, lidah api dalam tarian
kecuali harapan, kutolak ke sisi pagi.
 
   
"Puisi: Doger (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Doger
Karya: Ajip Rosidi
Drama Kabuki


I
Siapa main dalam Sukeroku lakon kabuki?
Siapa yang berperan jadi Agemaki?
Semua tak ada yang kukenal. Namun kuhafal tanganmu
Menating poci teh-hijau harum mewangi.

II
Tatkala layar turun, malam telah larut
Kita berkejaran dengan waktu kian menciut
Kugenggam tanganmu dingin. Siapa masih bicara?
Yang menempias renyai hanyalah angin.

Antara kita bukan siapa.
 
  
1970
"Puisi: Drama Kabuki (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Drama Kabuki
Karya: Ajip Rosidi
Dewi Sukma Menghidupkan Lagi Mundinglaya di Kusumah


Bukankah raden lelaki sejati
Jantan gagah tiada lawan
Jago di bumi, pahlawan di angkasa
Perwira para perwira.

Mengapa kalah oleh Guriang Tujuh
Yang tumbuh dalam tubuh
Yang bersarang dalam jiwa
Yang kan takluk pada tekad.

Bangkitlah, Semangat
'Tuk bertempur, 'tuk berjuang
Jangan takut usia tak lanjut
Jangan kuatir menemu laut.

Bangkitlah, Semangat
Kan bangkit oleh kipasku
Kipas keramat punya nenenda
Sang Pohaci Wiru Mananggay.
 
  
1959
"Puisi: Dewi Sukma Menghidupkan Lagi Mundinglaya di Kusumah (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Dewi Sukma Menghidupkan Lagi Mundinglaya di Kusumah
Karya: Ajip Rosidi
Nyanyian Para Petani Jatiwangi


I
Dari pagi hingga petang
Kulepas kerbauku sayang
Entah ke mana kau menuju
Entah di mana kusembunyi.

Dari pagi hingga petang
Haram riang, kerja tak tentram
Subur sawah: rumput dan lalang
Burung lapar berputaran terbang.

Wahai, bukan peninggalan karuhun kusia-siakan
Tanah terbengkalai, kolam kering
Wahai, bukan tak mau sawah kukerjakan
Dalam hati penuh ketakutan.

II
Kalau hari menjelang senja
Lengang pematang, lengang rumah
Tiada anak mengandangkan ayam.

Kalau hari menjelang petang
Berat dan tiada harapan
Bayang-bayang lenyap di tikungan.

Kalau hari menjelang malam
Tiada lelaki merasa aman
Dalam rumah sendiri.

Kalau malam telah datang
Tiada nyanyi bunda menidurkan
Tiada lepas tangis bayi.

Kalau malam telah turun
Tiada suling, tiada pantun
Hanya gaang, hanya angin.

Kalammalam telah tiba
Tiada kacapi, tiada kinanti
Asmarandana dalam hari.

Kalau malam telah datang
Entah besok masih kujelang
Entah mentari kulihat lagi.

III
Wahai bulan, sunyinya sendirian
Tiada pemuda kan berpesan
Membisikkan kerinduan.

Wahai bulan, alangkah muram
Tiada perawan kan menyanyi
Menyampaikan bisik hati.

Wahai bulan, alangkah pelan
Muram dan sepi
Apa yang kau tatap?

Wahai bulan, alangkah lama
Was-was dan ngeri
Mentari yang kuharap.

Alangkah kusuka memandang bulan
Remang dan lembut
Tapi hati penuh takut.

IV
Siapa itu melangkah berat dan ribut
Siapa lagi malam ini didatangi
Berapa rumah musnah? Berapa yang mati?

Siapa itu melangkah berat dan ribut
Siapa lagi malam ini didatangi?
Gilirankukah atau Madhapi?

Fajar kembang merekah
Duhai, pabila burung berkicau
alangkah lega hati.
 
  
1958
"Puisi: Nyanyian Para Petani Jatiwangi (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Nyanyian Para Petani Jatiwangi
Karya: Ajip Rosidi
Surat Kepada Dunia

Kutempuh dengan hati pedih jalanmu ini.
Kukurbankan ketenteraman masa depanku:
kesedihannya menjadi gairahmu.

Bukankah itu maumu? Kepalsuan, di mana orang tertawa hampa
dengan jiwa luka: mengerang dengan mulut terkatup bisu.
  
1970

"Puisi: Surat Kepada Dunia (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Surat Kepada Dunia
Karya: Ajip Rosidi