loading...

Tembang Dahaga

Air mata langit yang menetes perlahan
menghindar dari mulut bunga
dengan setia dijatuhinya sebongkah batu
hingga tertulis prasasti
sejak kapan dimulai gelisah.

Lantaran apa bunga mengidap rasa dahaga
sedang cuaca tak pernah dusta?
Bunga meludah dan terus meludah
sampai langit sempurna merahnya.

Bulan terlentang kematian warna
tak kuat lagi memukul dahaga
ia menolak tetek cucunya.

"Puisi: Tembang Dahaga (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Tembang Dahaga
Karya: D. Zawawi Imron

Post a Comment

loading...
 
Top