Maret 2001
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet 6

Sampai hari tidak berapi? Ya, sampai angin pagi
mengkristal lalu berhamburan dari batang pohon ranggas.
Sampai suara tak terdengar berdebum lagi?
Ya, tak begitu perlu lagi memejamkan mata, bergegas

memohon diselamatkan dari haru biru
yang meragi dalam sumsumku; tak pantas lagi
menggeser-geser sedikit demi sedikit bangkai waktu
agar tak menjadi  bagian dari aroma waktu kini.

Sampai yang pernah bergerit di kasur
tak lagi menempel di langit-langit kepalaku?
Sampai kedua bola matamu kabur,
sayapmu lepas, dan kau melesat ke Ruh itu.

Ruh? Ya! Sampai kau sepenuhnya telanjang
dan tahu: api tubuhmu tinggal bayang-bayang.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 6
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bunga, 2

Mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isyaratnya - tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan
menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Bunga, 2
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Pemakaman

Kaukah yang menyapaku selamat pagi? Kita menundukan kepala
di depan kapal-kapal yang terdampar, elang yang lelah,
Angin berhenti. Aku pun membalasmu selamat pagi
dengan lirih
dan menundukkan kepala kembali. Kita tidak berhak tengadah ke
matahari,
kita hanya akan menyihir alam: matahari akan menjelma api,
bau kembang akan membusuk, suara burung akan menjelma terompet
dari lembah orang mati. Kita adalah tukang sihir, menunduklah,
kita tak berhak tengadah ke matahari.
Kini, saat ini, kau dan aku adalah orang-orang asing terkucil
dari alam. Kita bukan bagian dari suara dan warna,
dan mesti menunduk. Pengebara-pengembara tak dikenal,
dan tak juga mau mengerti. Selamat pagi, katamu.

1963
"Puisi: Di Pemakaman (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Di Pemakaman
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Masa Kecil, 3

Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya berkata “biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya?

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Catatan Masa Kecil, 3
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet: Entah Sejak Kapan

Entah sejak kapan kita suka gugup
di antara frasa-frasa pongah
di kain rentang yang berlubang-lubang
sepanjang jalan raya itu; kita berhimpitan

di antara kata-kata kasar yang desak-mendesak
di kain rentang yang ditiup angin,
yang diikat di antara batang pohon
dan tiang listrik itu; kita tergencet di sela-sela

huruf-huruf kaku yang tindih-menindih
di kain rentang yang berjuntai di perempatan jalan
yang tanpa lampu lalu-lintas itu. Telah sejak lama
rupanya kita suka membayangkan diri kita

menjelma kain rentang koyak-moyak itu, sebisanya
bertahan terhadap hujan, angin, panas, dan dingin.

"Puisi: Sonet: Entah Sejak Kapan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Sonet: Entah Sejak Kapan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sepasang Lampu Beca
(Untuk Isma Sawitri)

Ada sepasang lampu beca bernyanyi lirih di muara gang
tengah malam sementara si abang sudah tertidur sebelum
gerimis reda.

Mereka harus tetap bernyanyi sebab kalau sunyi tiba-
tiba sempurna bunga yang tadi siang tanggal dari keranda lewat
itu akan mendadak semerbak dan menyusup ke dalam pori-pori
si abang beca lalu mengalir di sela-sela darahnya sehingga ia
merasa sedang bertapa dalam sebuah gua digoda oleh seribu
bidadari yang menjemputnya ke suralaya dan hal selamat tinggal
dunia.

"Puisi: Sepasang Lampu Beca (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sepasang Lampu Beca
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mencari

Aku mencari
Di kebun India,
Aku pesiar
Di kebun Junani,
Aku berjalan
Di tanah Roma,
Aku mengembara
Di benua Barat,

Segala buku
Perpustakaan dunia
Sudah kubaca,
Segala filsafat
Sudah kuperiksa.

Akhirnya ku sampai
Ke dalam taman
Hati sendiri.

Di sana Bahagia
Sudah lama
Menanti daku.

"Puisi: Mencari (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Mencari
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bimbang

Aku duduk dalam kesunyian jiwaku dan mencoba membunyikan lagu pada kecapi.
Ah, tiada suara yang keluar dan aku menundukkan kepala,
termenung akan tanah air mengeluarkan lagu yang tidak menyambung waktu silam.

Adinda datang dan berkata dengan suara penuh duka,
"Mengapa Tuan termenung saja, tidak membunyikan lagu penghibur hati?
Sudah lama cantingku berhenti, tidak sanggup melukis tenunanku,
karena engkau tidak kudengar membunyikan kecapi."

Aku mengangkat kepada dan memandang dia dengan mata murung caya.
"Aduh, Adinda, hatiku lemah mendengar suara yang tidak
sepadan dengan kehijauan tanah airku."

"Puisi: Bimbang (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Bimbang
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Buah Bulan

Duduk sendirian di bawah pohon cemara, peri waktu
yang kesepian menimang-nimang buah bulan
yang hijau muda. Buah bulan ditaruh di atas meja,
dikupas, dibelah-belah, lalu dimakannya.

Dari jendela kamar lantai tiga belas perempuan itu
hanya bisa menggerutu, “Bangsat benar itu bangsat.
Tak secuil pun ia sisakan. Padahal itu buahku.”

2004
"Puisi: Buah Bulan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Buah Bulan
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kacamata

Baru tiga puluh tahun menyair, ia sudah pakai kacamata.
Biar tampak bijak dan matang. Biar dikira banyak mikir
dan merenung. Biar lebih kebapakan.

Kalau lagi kencan dengan kata-kata, ada-ada saja tingkahnya:
mencopot kacamata, membersihkannya, menerawangnya,
kemudian mengenakannya kembali sambil pura-pura batuk
dan pilek. Biasa, cari perhatian. Biar kelihatan berwibawa.
Biar dikagumi topeng yang nampang di hadapannya.

Dan ia sudah punya bermacam-macam kacamata.
Tapi ia masih harus mencari mata-kaca yang bisa membuatnya
tidak grogi menerima teluh cinta kata-kata;
yang bisa menjadikannya tidak nyeremimih dan ingah-ingih
saat menghadap yang maha-makna.

1999
"Puisi: Kacamata (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kacamata
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pohon Perempuan

Pohon perempuan itu masih berdiri anggun di tengah kota
walau sudah sangat tua umurnya.
Teman-temannya sudah tumbang dan roboh semua
tapi ia masih tegar di sana.

Aku ingin mencicipi sepasang buahnya yang indah
yang selalu tampak segar dan basah.
Tapi kata orang itu buah keramat
dan tak seorang pun boleh memetiknya.

Pohon keramat itu selalu ramai dikunjungi peziarah
yang datang untuk memohon berkah dan tuah.
Dan kata orang, hanya yang kudus dan bersih hidupnya
boleh ke sana. Sedang aku seorang pendosa
yang ketika lahir saja sudah tega menyiksa
dan melukai seorang wanita.

Tadi siang aku melihat
seorang tiran ditangkap,
ditelanjangi, diarak keliling kota
kemudian digantung di pohon itu
sampai melet lidahnya
dan mendelik matanya.
Sebelum nyawanya oncat
ia sempat mendengar
pohon perempuan itu berkata:
“Minumlah tetekku, hai anak durhaka.”

1999
"Puisi: Pohon Perempuan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pohon Perempuan
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sakramen

Tubuhmu kandang hewan
tempat seorang perempuan singgah
melahirkan anaknya yang malang.

Tubuhmu bukit tandus
tempat kau salibkan Kristus
dan kaubiarkan ia mengalahkan ajal
sendirian.

Tubuhmu gua batu
tempat jasadnya kau makamkan
dan kau wartakan:
“Di tubuhku Tuhan bersemayam.”

Kau lama tak tahu, tak juga paham
pada hari ketiga kuburnya sudah kosong
dan tubuhmu telah ia tinggalkan.

Kau kini sibuk mencari ia di luar badan.

2000
"Puisi: Sakramen (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Sakramen
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Serdadu

Ketika kau tidur, ada seorang serdadu duduk-duduk di atas
tubuhmu, merokok, main gitar, dan dengan suara sumbang
menyanyikan lagu selamat malam.

Di atas tubuhmu ada serdadu sedang tiduran, menjilat darah
pada pisau, bersiul, kemudian berdiri sambil mengacungkan
senapan. “Hidup revolusi!” pekiknya lantang.

Ketika kau tidur, Sayang, ada serdadu mencari-cari jejakku
di bilur-bilur merah di maha-sakit tubuhmu.

2001
"Puisi: Serdadu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Serdadu
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pohon Bungur
: Anno 1968-1973

Pohon bungur di puncak bukit
dalam naungan senja.

Bunga-bunganya berceceran
dihirup angin selatan.

Pohon bungur di puncak bukit
dalam belaian usia.

Kuingat selalu bunga merahnya yang ranum
diguyur hujan menjelang malam turun.

1990
"Puisi: Pohon Bungur (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pohon Bungur
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tukang Cukur

Ia membabat padang rumput yang tumbuh subur
di kepalaku. Ia membabat rasa damai
yang merimbun sepanjang waktu.

“Di bekas hutan ini akan kubangun bandar, hotel,
dan restoran. Tentunya juga sekolah,
rumah bordil, dan tempat ibadah.

Ia menyayat-nyayat kepalaku.
Ia mengkapling-kapling tanah pusaka nenekmoyangku.

“Aku akan mencukur lentik lembut bulu matamu.
Dan kalau perlu akan kupangkas daun telingamu.”
Suara guntingnya selalu mengganggu tidurku.

1989
"Puisi: Tukang Cukur (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tukang Cukur
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hati Jogja

Dalam secangkir teh
ada hati Jogja yang lembut meleleh.
Dalam secangkir kopi
ada hati Jogja yang alon-alon waton hepi.
Dalam secangkir senja
ada hati Jogja yang hangat dan berbahaya.

2016
"Puisi: Hati Jogja (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Hati Jogja
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Litani Terima Kasih

Hati hujan yang menenangkan
Terima kasih
Mata malam yang meneduhkan
Terima kasih
Bibir kopi yang menghangatkan
Terima kasih.

Ibu hujan yang mendaraskan rincik-rincik merdu
Terimalah kasihku
Lampu malam yang memancarkan cahaya biru
Terimalah kasihku
Cangkir kopi yang menampung segala rindu
Terimalah kasihku

Hati ibu yang berpendar sepanjang waktu
Aku terima kasihmu
Mata lampu yang menerangi halaman buku
Aku terima kasihmu
Bibir cangkir yang tahu pahit-manisnya bibirku
Aku terima kasihmu

Hujan, malam, kopi, dan kamu
Terima kasih.

2016
"Puisi: Litani Terima Kasih (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Litani Terima Kasih
Karya: Joko Pinurbo