April 2001
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Orang-orang Jam 7 Pagi

Lemari makan dan atap rumah, ribut sekali semalam. 
Sisa-sisa mie goreng seperti serakan orang bunuh diri. 
Tikus mengundang teman-temannya di situ, membuka 
lemari es, membayangi selokan got pada irisan mentega. 
Tak pernah kutahu kebahagiaan dan kesedihan mereka: 
Aduh! Ribut sekali kalimat seperti ini. Lalu sikat gigi, 
suara air kamar mandi, mulai membuka pintu dan 
jendela-jendela pagi.

Selimut masih membayangi sebuah kota, bersama 
bubur ayam, mentega dalam roti, dan air mendidih di 
atas kompor. Sepatu mereka mulai berbunyi, menjauh 
dari teras rumah, bau sabun dan shampo pada rambut 
basah. Suara ribut di meja makan mulai berubah jadi asap 
knalpot. Aku adalah 3 km yang lalu dalam bis penuh 
sesak, menelusuri koridor-koridor yang menyimpan 
betismu. Lalu menghilang di balik lift. Aih! Tak ada lagi 
masyarakat, pada telepon yang kau angkat.

Jam 7 pagi aku antar tubuhku dalam kristal-kristal 
vitamin C, lembar-lembar foto-copy: tolong cumi kering 
setengah kilo; minyak goreng satu botol; bawang putih: 
siapa yang telah menyusun pagi jadi seperti ini? 
Suaranya, seperti siaran berita yang menggebrak meja.


1995
"Afrizal Malna"
Puisi: Orang-orang Jam 7 Pagi
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketapang-Gilimanuk

Bermula dari ombak pasang
Yang menyediakan ruang
Bagi tubuhku
Ulakan air melahirkan kata-kata
Yang berloncatan seperti lidah api

Di paha-paha batu karang
Kata-kata bergerak dan meluap
Aku pun terdesak
Ke sudut sempit selangkanganmu
Yang gelap. Sebuah persetubuhan sunyi
Waktu yang terus menari dan menyanyi
Menciptakan ruang-ruang murni
Di balik ceruk ombak

Tubuh bugilku
Terapung
Di atas tubuhmu yang asin
Burung-burung dan deru angin selat
Menggoreskan jejak lain. Sebuah isyarat
Garis yang ditarik lurus
Dari kaki langit
Tempat cahaya menenggelamkan dirinya di air

Seperti seorang perenang
Aku pun menyelam dan mengembara
Dengan kata-kata liar tangkapanku
Sebuah kelahiran kembali
Yang perih
Kesunyian tiada tara
Perjalanan dari biru menuju jingga
Sebelum kata-kata saktiku akan tercipta
Dari derita.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Ketapang-Gilimanuk
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nasib
(kepada Diro Aritonang)

Harus kita apakan hidup
terlanjur masuk.

1981
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Nasib
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jalan Menuju Rumahmu

Jalan menuju rumahmu kian memanjang
Udara berkabut dan dingin subuh
Membukus perbukitan. Aku menggelepar
Di tengah salak anjing dan ringkik kuda:
Engkau dimana? Angin mengupas lembar-lembar
Kulitku dan terbongkarlah kesepian dari tulang-tulang
Rusukku. Bulan semakin samar dan gemetar

Aku menyusuri pantai, menghitung lokan dan bicara
Pada batu karang. Jalan menuju rumahku kian lengang
Udara semakin tiris dan langit menaburkan serbuk gerimis
Aku pun mengalun bersama gelombang
Meliuk mengikuti topan dan jumpalitan
Bagai ikan. Tapi matamu kian tak tergambarkan

Kukit-kulit kayu, daun-daun lontar, kertas-kertas tak lagi
Menuliskan igauanku. Semua beterbangan dan hangus
Seperti putaran waktu. Kini tak ada lagi sisa
Tak ada lagi yang tinggal pada pasir dan kelopakku
Kian runcing dan pucat. Kembali aku bergulingan
Bagai cacing dan pucat. Bersujud lama sekali

Engkau siapa? Sebab telah kutatah nisan yang indah
Telah kutulis sajak-sajak paling sunyi.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Jalan Menuju Rumahmu
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mimpi

Mimpi yang bernas melepas kejang remaja pandang ranum antara kita mengenggani hadir orang ke-3

Langit panas biru muda lantang nafas darah belia mengembang bunga di pekarangan di saban tumpak dan debarnya dada

Kerja sehari-hari membilang panas nafas kemudian percakapan di langkan kediaman mimpi ranum menggeliati kejang remaja.

Desember 1955
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Mimpi
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bebek

Bebek kami berbunyi kwek-kwek-kwek-kwek Kwek-kwek-kwek-kwek
Pagi hari mereka berbunyi kwek-kwek-kwek
Sore hari mereka berbunyi kwek-kwek-kwek

Dua puluh ekor banyaknya bebek yang kami pelihara
Di kebun yang berpagar bambu sederhana
Dedak, rumput dan jagung makanannya
Air yang banyak supaya mereka jangan dahaga

Pagi hari mereka berbunyi kwek-kwek-kwek
Sore hari mereka berbunyi kwek-kwek-kwek

Telurnya kami kumpulkan sore dan pagi
Sepuluh sampai lima belas butir hasilnya setiap hari
Ke sungai kecil mereka kami bawa sekali-sekali
Supaya bebek itu berenang-renang bersenang hati

Pagi hari mereka berbunyi kwek-kwek-kwek
Sore hari mereka berbunyi kwek-kwek-kwek.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Bebek
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Proklamasi Generasi Si Toni, Tertua 30 Tahun

(I)
Di Depan Media Massa Cetak dan Elektronik Dunia

Atas nama rakyat empunya Indonesia
Yang berumur 30 tahun dan lebih muda
Dengan ini resmi kami bubarkan Republik Indonesia
Beserta seluruh perangkat pemerintahannya

Negeri ini menyatakan diri bangkrut secara keseluruhan
Yang patut dipertahankan dari A sampai Z tak ada lagi
Percuma kerja lama tambal-menambal dan sulam-sulaman
Kami tenun kini paradigma kain, kuat dan baru sama sekali

Dengan ini hutang yang dibuat generasi tua
Kami batalkan semua dan selama-lamanya
Para institusi dunia, kalian pasanglah telinga
Kami batalkan hutang semua dan selama-lamanya!

Kami jatuh sangat miskin tapi tinggi percaya dan harga diri
Dari koordinat nol bangsa ini mulai beringsut lagi
Tanpa mewariskan hutang pada anak cucu kami
Kerja keras menggarap sumber alam dari bumi sendiri

Seluruh jajaran aparat kenegaraan di atas umur tiga puluh
Sudah bersedia berdiri ke pinggir secara menyeluruh
Bangsa kini dipimpin oleh anak-anak muda yang sebenar bersih
Kami muncul lewat tahun-tahun pengalaman yang sangat pedih.


(II)
Laporan Pandangan Mata Adegan Generasi Tua yang Memalukan

Penyerahan kekuasaan di lapangan Monas ibukota
Hadir bersimpuh di tanah seluruh petinggi penguasa
Mencucurkan air mata semua menyerah kepada yang muda
Akhirnya mereka mengaku tak mampu mengurus negara


Inilah adegan komikal sekali gus betapa mengharukan
Di lapangan luas seperti ribuan kambing menjelang Idul Adha
Gembala sapi gringo gaek berpuluh tahun sesak nafas kekenyangan
Kulit perut terbudur terjuntai membuat malu ikat pinggangnya
Beratus juta ditipu wajah-wajah terpelajar dan bahkan kebapakan
Kalau omong ababnya kosong, kosa kata berjuta-juta

Berpolitik penuh intrik, moordenaar ganas dalam pembantaian
Lihatlah semua cuci tangan tapi darah bepercikan di kemeja
Para peracik tuba pikiran dalam 1000 penataran
Seperti berisi kaidah ilmu tapi dalamnya sejari saja
Sejak muda sampai keriputan urusan duit lincah cekatan
Referensi suci mereka Uang Uang Dasar Empat Lima

Perencanaan dan visi mereka seperti tinggi penuh sofistikasi
Tapi implementasi di lapangan, kerja bandit Sicilia sejati
Ekstrim tengah duit-fungsi, menggergasi jadi fanatikus multi-fungsi
Bagai haus air lautan tak tertahan berwindu minum lagi minum lagi

Hasil bumi, tambang dan hutan daerah disedot pusat keserakahan
Semua pelaku di atas sana kecuali tanpa, kaya harta luar biasa
Super spesialis dalam penginjakan dan penekanan
Perubah sejarah penghapus nama sangat entengnya
Tukang ancam, pakar penyadapan, cekatan pelarangan
Ahli manipulasi semua laporan tertulis mata-mata

Tukang belah partai, peniup-niup isu, pemecah-mecah golongan
Pencencang demokrasi, penyulap total trias politika
Demikian ringan tak sungkan membagi kursi majelis dan dewan
Karena tak terbantah kursi-kursi itu sejak dulu milik nenek mereka
Sekali lima tahun menipu hitungan suara, kerja para penjahat kambuhan
Sangat terbiasa sehingga wajah mereka tampil tanpa dosa di layar kaca

Kini lihatlah mereka bertobat-sehabis-tobat mengakui ketidak-mampuan
Seraya mengembalikan seluruh rampasan harta benda
Hasil komisi, proyek, mark-up, upeti dan jarahan
Saksikan kini ditumpuk di  Monas setinggi Gunung Muria
Rakyat berdiri menonton berjuta-juta, mata mereka kelilipan
Bersimpuh, koor menangis menyerahkan Republik pada yang muda
Berlutut minta maaf kepada rakyat, bertobat nasuha kepada Tuhan
Ternyata tak kompeten berpuluh tahun mengurus ini negara.


(III)
Konperensi Pers Bangsa yang Total Ambruk, Puing Berantakan

Membuat nama baru bangsa sedang kami pertimbangkan
Nama Indonesia ini ‘kan orang lain yang menetap-netapkan
Hal begini prinsip generasi tua itu tak pernah merenungkan
Nama sendiri pun tak punya, betapa sungguh memalukan

Istilah republik pun gantinya sedang kami pikirkan
30 tahun lebih feodalis-aristokratis melekat citra
Demokrasi dan kebebasan ekspresi cuma kata permainan
Belum ketemu nama yang pas bentuk baru ini negara

Kamilah bangsa termuda di permukaan dunia hari ini
Generasi tua total gagal, mereka rela kini berjongkok di tepi
Payah sangat kami membuat akhlak kembali berdiri
Dan mengembalikan hukum agar kukuh lagi membumi

Karena akhlak rusak hukum mana mungkin tegak
Karena hukum tak tegak keadilan mustahil dijalankan
Secara sengsara beban sebesar ini kami pikul di pundak
Saksikan inilah yang kepada kami mereka wariskan.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Proklamasi Generasi Si Toni, Tertua 30 Tahun
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Si Toni Berdebat Mengenai Sistem Mengemis Antri 20.000 Kilometer Atau Tengkurap Digorok Upeti

Si Toni I berdiri di depan cermin merenungi identitas diri
Si Toni II berdiri di depan cermin merenungi identitas diri
Wajah peminjam dengan sikap jiwa peminta-minta
Wajah pengemis terdesak meminjam berapa saja
Atau gabungan sedikit banyak dari keduanya

Mereka, muda-muda, tak suka itu semuanya
Tapi cermin ini berterus-terang juga

Si Toni I tak percaya dengan cara yang lama
Setiap pinjaman bocor di jalan sepertiga
Daripada menambah kaya mereka yang bertengger di atap negara
Kini dia kerahkan orang-orang berjuta antri  
Dari Lapangan Monas ini menuju Nineteenth Street di Di-Si
Tempat  Ai-Em-Ef dan World Bank berkantor di dua sisi
Dua puluh ribu kilometer jaraknya dari sini
Dua ratus juta orang antri bersama jalan kaki
Menyeberang Pasifik sudah dibikinkan jembatannya
Kalau satu menit satu orang dilayani di loket sana
Tiga ratus delapan puluh tahun bisa selesai urusan semua
Bersih tanpa potongan pinjaman sampai ke kocek keluarga

Si Toni II tak setuju dengan cara kolosal radikal begini
Dua ratus juta orang bila sama-sama bergerak antri
Panjangnya itu satu seperempat keliling bumi
Bagaimana dengan logistik perjalanan begitu lama
Itu harus dipikirkan oleh 76 presiden Indonesia
Yang mati dan lahir di jalan sangat repot mengurusnya
Sudahlah tekan perasaan, tutup mata pada kebocoran
Berapa dulu ditilep, sepuluh persen?
Bisa jadi dua puluh, bahkan kalau diperas terus
Paksa saja rakyat tengkurap sampai tiga puluh
Picing mata tuliskan laporan yang tertutup transparan
Sangkal secara meyakinkan mana ada kebocoran
Sumbang yayasan-yayasan ini dan itu
Beri upeti semua yang dirasa perlu
Sebuah orde bisa berangkat, sebuah orde boleh mendarat
Tapi ‘kan birokrasi itu juga tetap masih jadi aparat
Jadi urusan yang identik sama masih jadi hakikat

Maka lihat si Toni I dan si Toni II tak habis berdebat
Alternatif satu dan alternatif dua pilih yang mana
Karena alot dan panasnya diskusi jadi mampat
Dan belum sampai juga pada kesimpulan bagaimana.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Si Toni Berdebat Mengenai Sistem Mengemis Antri 20.000 Kilometer Atau Tengkurap Digorok Upeti
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Remah

Di atas truk, dari karung jatuh bertetesan
Di lantai bak, beras di sana-sini berceceran
Cuaca gudang tengah hari atap seng seperti api
Beras tiga genggam dicakar-cakar dengan sapu lidi

Berempat anak di balai-balai duduk
Menjilati piring kaleng hingga terbungkuk
“Jangan sampai ada remah tersisa,”
kata ibu mereka, tadi siang mengais-ngaisnya.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Remah
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Trem Berklenengan di Kota San Francisco

Pagimu yang cerah, San Francisco, sampai padaku di atas bukit itu, lautmu bagai bubur agar-agar, uap air di langitmu mencecerkan serbuk kabut seperti tepung nilon dan terjela-jela sepanjang jembatan raksasamu tepat seperti kartu pos bergambar yang pernah kubeli di kedai Hindustan duapuluh empat tahun yang silam di Geylang Road ketika aku masih bercelana pendek dan asyik menghafalkan nama-nama hebat dengan huruf-huruf c, v, x, dan y pada pelajaran ilmu bumi di Sekolah Rakyat partikelir.

Matahari terlalu gembira menyinari bukit-bukitmu. Bukit-bukit yang ditumbuhi rumah-rumah Eropah, Meksiko, Habsyi dan Cina, bercat putih beratap merah tua dengan bunga-bungaan yang mekar karena persekutuan akrab dengan musim semi bagai tak kunjung habisnya. Debu segan padamu. Kotoran mekanika dan asam arang kauserahkan sepenuhnya pada Los Angeles si buruk muka. Dia cemburu padamu.

Pasar buah dan rempah-rempah. Trem berklenengan dan meluncur gila pada penurunan bukit-bukit sama-kaki yang sempit. Sebuah peti cat meledak di udara dan warna-warna pun dibagi-bagi pada deretan bangunan dinding trem kota, tulang jembatan, atap, pintu dan jendela. Angin mengeringkannya dan mengaduknya dengan aroma daun-daun perladangan jeruk serta uap perairan dermaga lalu dikibas-kibaskan oleh sayap kawanan burung camar mengatasi muara lautan.

Percintaan bulan dengan lekuk-lekuk tubuhmu semacam percintaan anak-anak muda yang garang kemudian dilukiskan oleh pelukis-pelukis kubistis. Emas yang diburu-buru abad yang lalu dilambangkan dalam cahaya natrium, amat geometris, lewat tingkap-tingkap dan pipa-pipa kaca, simetris dan tidak simetris. Kapal-kapal angkat jangkar.

Di ujung meja panjang terbuat dari kayu mahoni pada suatu bar dekat Market Street seorang tua berambut putih berkumis putih berjanggut putih duduk di atas kursi plastik yang bentuknya seperti bom waktu. “Aku tidak dengar Amerika menyanyi lagi” ujarnya. Pelayan bar memberinya segelas bir.

Amerika tidak menyanyi lagi.
Amerika mengerang.

Di atas bar kayu mahoni berlapis formika hampir biru muda, padang-padang Texas dilipat ke tengah, New York berhamburan ke dalam Grand Canyon, Niagara mengental, California tergulung-gulung. Walt Whitman memeras Amerika bagai sehelai karbon bekas, dan si tua itu menuangkan bir Milwaukee berbusa ke atasnya.

Amerika mengeluarkan bunyi kerupuk kentang kering.
Yang dikunyah lambat-lambat.

Camar-camar teluk San Francisco melayang di atas kedai-kedai bunga tulip, menelisik jaringan kawat trem-trem yang berkenengan dan buang air tepat di atas kantor asuransi.

Selamat jalan c
Selamat jalan v
Selamat jalan x
Selamat jalan y
Selamat jalan.

1972
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Trem Berklenengan di Kota San Francisco
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat Ricarda Huch (9 April 1933)
Kepada Presiden Akademi Kesenian & Ilmu Pengetahuan, Prusia

Tuan Presiden yang terhormat,
Terhadap pengangkatan saya sebagai anggota Akademi
Seyogyanyalah saya ucapkan terima kasih
Namun nampaknya di sini perlu dijelaskan
Saya tak dapat mengabulkan kehendak Tuan

Bahwasanya seorang Jerman adalah seorang Jerman
Bahwa pakalannya, siul lagaknya
Siul dan lagak Jerman
Adalah wajar dan layak
Tetapi, apakah makna Jerman
Dan betapa sikap Jerman
Beragam adanya pendapat dan jawaban
Apa yang diucapkan sebagai kesadaran nasional
Dewasa ini. Ialah sentralisasi, paksaan-paksaan
Cara-cara tak berkeadaban. Seribu fitnahan
Terhadap siapa yang memiliki pikiran
Lain. Dan jiwa yang habis-habisan onani!
Wahai kesombongan dan pemujian diri sendiri
Di depan bentangan peta bumi

Akademi mengatakan tak ada rintangan
Pada pendapat yang berkebebasan
Tapi semua radio, majalah dan koran
Senyap sunyi dari luasan opini
Hingar-bingar oleh tunggal opini

Sikap Jerman dewasa ini, ialah
Bahana malapetaka

Jermanku. Saya mengenalmu
Terbuka, jujur dan sopan
Tapi sorak pemerintah
Sorak histeris orang-orang super-nasionalis
Setiap engkau lewat di berbagai jalanan
Dalam pawai panji mengusungi slogan demi slogan
Saya bertanya ragu: betulkah engkau itu

Demikianlah. Terhadap keadaan begini
Yang meminta kesanggupan menyesuaikan diri
Maka, Tuan Presiden Akademi
Kesanggupan itu tak ada pada saya
Ini akan dimaklumi mereka yang kenal saya pribadi
Atau pembaca buku-buku saya

Bersama ini saya menyatakan diri
Keluar dari Akademi.

1965
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Surat Ricarda Huch (9 April 1933) Kepada Presiden Akademi Kesenian & Ilmu Pengetahuan, Prusia
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Silhuet

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang lelah
Angin jalanan yang panjang
Tak ada rumah. Kita tak berumah
Kita hanya bayang-bayang

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang letih
Di atas jasad yang pedih
Kita lapar. Kita amat lapar
Bayang-bayang yang lapar

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang sepi
Sehabis pawai genderang
Angin jalanan yang panjang
Menyusup-nyusup
Menusuk-nusuk
Bayang-bayang berjuta
Berjuta bayang-bayang

Di bawah bayangan pilar
Di bawah bayangan emas
Berjuta bayang-bayang
Menangisi gerimis
Menangisi gunung api
Kabut yang ungu
Membelai perlahan
Hutan-hutan
Di selatan.

Juli, 1965
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Silhuet
Karya: Taufiq Ismail