Mei 2001
Indonesia Milik Siapa

Indonesia milik siapa
Jika polisi menembaki mahasiswa
Jika buruh dikebiri upahnya
Jika TKI mati dimutilasi
Jika bayi-bayi dibuang ke selokan

Indonesia milik siapa
Jika agama biang celaka
Jika politik anti kritik
Jika demokrasi pantat banci
Jika birokrasi sarang korupsi

Indonesia milik siapa
Bukan milik Islam, Nasrani, Hindu, Tionghoa, atau Budha
Bukan juga milik Pancasilais, liberalis, sosialis, atau komunis
-; Indonesia milik kita!

Merah putih sampah angkasa
Pancasila slogan tanpa makna
Presiden patung istana negara
Dimana rakyat bertanya?
-; Benarkah Indonesia milik kita?

Surabaya
November, 2014
"Cucuk Espe"
PuisiIndonesia Milik Siapa
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Memo Candi Minak Jinggo

Tak kembali masa silam.
Telah pergi masa depan.
Meresap di tanah amuk darah.
Jiwa disiksa tahta yang marah.
Blambangan terpenggal kepala.
Kesumat tak kuasa menukarnya. 

"Binhad Nurrohmat"
PuisiMemo Candi Minak Jinggo
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Ayat-ayat Alam

Berabad-abad wajah Tuhan bertaburan
jadi ayat-ayat alam yang berserak pada batu-batu
tiap perciknya menjelma wajah yang berbeda
berabad-abad wajah Tuhan bertaburan
dalam serpihan cinta sekaligus sengketa.

Berabad-abad pula Adam gelisah
mencoba menyatukan wajah Tuhan
dalam gambaran seutuhnya. Namun
selalu sia-sia ia. Sebab, Tuhan lebih suka
hadir dalam keelokan yang beraneka.

Pada keelokan pohon dan keindahan batu
pada keperkasaan ombak dan kediaman gunung
pada wajah suci seorang bayi dan hangat matahari
dan pada wajah manis seorang istri
Tuhan hadir dalam senyum abadi.

Berabad-abad wajah Tuhan bertebaran
pada ayat-ayat alam yang selalu
menemukan tafsir sendiri.

Jakarta
1995/2007
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Ayat-ayat Alam
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Pastoral View

Bulatan bola mata begal yang
pecah itu tercecer
selaput rusak itu tersangkut
rumput, di ranting garing
di dekat parit pertelon: terkejar
- langsung dihajar
sekarat dalam aroma telau
dan uar bau amis darah
berkelejatan. refleks barbarik
serta instinki lapar
tapi tak pernah lapar lagi,
meskipun tidak kenyang.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Pastoral View
Karya: Beni Setia
Variasi Imigran

Data KTP sunyi, ketika di-scan
terbaca: Alien
Aku berasal dari mana? Rentangan
rel ratusan mil
Berangkat petang tiba pagi, tersuruk
ke waktu lain
Apakah kita satu silsilah? Engkau
melengos - bungkam.
Dan derap roda kereta sepertinya
menuding: kau kau...
Tolong dicatat: mati dalam terbuang
- berkalang sunyi
Sendiri lagi. Kembali jadi angin
: semesta hampa.

2015
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Variasi Imigran
Karya: Beni Setia
Usai

Tidak seperti sepak bola, seusai menulis
puisi tak ada tukar-menukar baju. Cuma
rokok. Paginya [biasanya]: Aku terjaga
bersiul-siul. Berak. lega tanpa gangguan apa-apa.

2007
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Usai
Karya: Beni Setia