Juli 2001
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dingin Vancouver

Kuintip dingin Vancouver dari celah tirai
dan kutempelkan tangan memberi salam pagi
ternyata lebih dingin rusuk penjara Tangerang
yang menggigit sampai ke sumsum, penghinaan
kemanusiaan lebih tajam dari salju

Suara gagak menyambut remang pagi bersahutan
bukan isyarat kematian
walau di Bangladesh, Sri Langka, melantunkan kemiskinan
gagak Vancouver mengundang mata terbuka
jendela lalu lintas wacana
membiarkan dingin dilukis beragam nuansa
lantas, di mana temanku aborigin itu
buldozer putih meratakan peradabannya

Di dompetku, kusimpan sebuah pusaka:
mengapa?

Vancouver
Oktober, 2000
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiDingin Vancouver
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Suara Para Sai Maras
(: Yudin Ainusi)

Subuh masih jauh
burung malam lari berebut cahaya pertama
melangitkan mimpi para pendendam

Raja-raja datang dan pergi
mengutuk nasibku jadi penghuni paling sunyi:
Papua
tanah yang dijanjikan
tanah yang ditinggalkan

Kamilah kaki-kaki hitam yang berjalan memunggungi matahari
memunggungi arah pendatang-pendatang malang
rimbunan bambu berjajar di bukit-bukit
menjelma doa pagi di sekarung sagu:
remah-remah rezeki paling purba itu
ke rumah-rumah ke perut anak-anak ke dapur para istri.

Matahari belum benar-benar tinggi
ketika huruf-huruf latin itu susah payah kami eja
dan angka-angka keparat itu makin memusingkan kepala
apakah sesudah itu akan kita dapati
gedung yang tak berpindah-pindah, guru-guru
yang selalu hadir dan ada, atau sisa-sisa buku dari kota?

Kami lebih abadi dari dongeng
dari noken-noken Sai Maras
yang membentang pulau
yang warna-warnanya di langit
menjelma kejora.

Dusun ini tak dapat kami tempuh dengan puisi
dengan gerimis pelengkap sepi
hanya dengan mata-mata nyalang
dan tangan mengepal
kebodohan ini bisa ditamatkan.

Sai Maras,
2 Mei 2014
"Puisi Nana Riskhi Susanti"
PuisiSuara Para Sai Maras
Karya: Nana Riskhi Susanti

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Seruan Pejalan Kaki

Ini trotoar tuan!
Tempat kami berjalan
tempat kami mengenal keadilan
tempat kami mematuhi perundang-undangan.

Mungkin kemacetan ini masih sama dengan kemacetan yang lalu
banjaran kendaraan berdesakan, merayap jalan yang kian sesak
tapi tuan-tuan yang melintas sama saja dengan tuan-tuan lintasan lalu
masih tak peduli! Sedangkan urusan kita sama-sama mendesak
: melayani alur-alir kota yang kian acuh dalam warta.

Turunlah! Ikuti jalurmu, sebagaimana kami dengan sabar menyelusuri jalur kami
sebab kami tak sanggup menghitung berapa banyak hak kami yang tercuri
sebab kami tak lagi peduli pada drama tirani di televisi

Di sini saja! Di atas trotoar belajar mengenal keadilan
agar undang-undang yang berkumandang tak terasa sumbang
meski setiap tapak harap dalam dekap kian lesap!

Cilegon, Banten
10 Februari 2012
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiSeruan Pejalan Kaki
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat untuk AA

Ia menuduh hujan membuat mata jadi basah, pohon jadi tunas, dan langit jadi hijau. Ia pun menuduh malam menyebabkan pohon bersetubuh, hewan bersetubuh dan semua orang bersetubuh. Ia pun menuding rembulan menimbulkan orang mendengkur, kodok bernyanyi, alam semesta menjadi senyap dan angin berlenggang menyisir partikel demi partikel dan dinding demi dinding. Ia pun menuduh hujan, malam dan rembulan yang mengakibatkan kata-kata jadi rumit dan kalimat berbelit-belit
 
Katamu: Biarkan pantun demi pantun menandak, melesak dalam sajak. Sudah lama hutan kata tak berjejak diliputi onak dan kalimat yang beranak pinak. Begitu katamu.

3 Desember 2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiSurat untuk AA
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kambing dan Kucing di tengah Hujan
(- Opung Saut)

Kambing bisa kuyup karena hujan. Tapi kucing bergelung di kasur yang hangat. Salahnya jadi kambing, kata kucing. Kalau aku jadi kambing, aku pilih berteduh di bawah pohon pisang. Indahnya hidup bisa melihat air memantul-mantul dari helai-helai daun. Kambing itu terdengar mengembik. Ia makin kisut dalam kuyup hujan. Ia seperti membiarkan dirinya terjerat air tergenang. Kucing masuk ke dalam bantal. Ia menatap bulan Januari dari balik selimut. Kabut hujan tampak di kaca jendela. Kambing itu terdengar mengembik. Bulunya makin pipih didera hujan. Takdir kambing, kata kucing.

2010
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiKambing dan Kucing di tengah Hujan
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bukan Sambal Terakhir Persembahan Istri

Adik makan rendang di depan komputer. Kakak main boneka 
di dalam kamar. Di dapur, istri bikin sambal kesayangan 
untuk Ayah tercinta. Ini sambal terakhir yang 
kupersembahkan bagimu, kata istri di dalam hati sambil 
mengulek terasi.

Ayah terus mengetik. Ia sedang asyik 
membuat puisi. Ketika tiba di bait terakhir, Ayah 
mengernyitkan dahi, ”Aku mencium harum terasi dalam 
sajakku,” serunya. Beberapa meter dari situ, istri juga 
terperanyak. ”Puisi cinta siapa ini di dalam sambalku?’’ 
tanyanya. 

Tapi keributan itu tersimpan dalam plafon. Di 
depan komputer, di dalam piring rendang, adik terus 
memainkan sendok dan garpunya. Bersama boneka kakak 
menyanyi di dalam kamarnya. Ini bukan sambal terakhir yang 
kupersembahkan bagimu, kata istri sambil membaca puisi.

02/02/2011
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiBukan Sambal Terakhir Persembahan Istri
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||