November 2001
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Orang Tua dan Pemain Gitar


Memberi jiwa pada tali-tali gitar
kesepuluh jarinya berbulu
bagai udara dalam sumur bergetar
simpanan pekik nestapa rindu.

Mata seorang kakek direbutnya
tertenung di depan dan bulan adalah tungku.
Bulan punya siapa,
jantung mereka atau waktu?

Pada getar tertinggi dan terakhir
napas langit atas air
apalagi yang bisa tersisa
kecuali pertukaran mata mereka!?

- Lagu itu tentang putri naik kuda
dan hati jenaka bagai padang belantara
bagaimana masuk di telinga bapak?

- Tidak tergelar di telapak tangan
tak ada yang kugenggam, tak ada yang kutahu.
Bagiku: Lagu itu telah membunuh waktu
dengan cara yang menyenangkan.
 
 
"Puisi: Orang Tua dan Pemain Gitar"
Puisi: Orang Tua dan Pemain Gitar
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Perempuan di Kali


Kali Solo yang coklat
merambat-rambat
Oi, dibawanya bau tanah liat!
Tujuh ratus tangan nakal
merabai sekujur tubuhku.
Mengembang kain basahan
sepenuh mimpi pagi hari.

Di mudik para penangguk
kerbau-kerbau masuk air
menghadang awan-awan berendam.
Wahai, bau tanah Lumpur
Wahai, bau tanah perunggu!

Dengan nuri di mulutku
kucuci bajumu merah, Kanda,
tikar pandan petak-petak
sampan dari mimpi
dan seluruh tubuhku bersabun.

Berenang anak-anak yang mungil
diberkati air leluhur.
Wahai, adiknya datang di tahun depan!

Dengan mentari di perutnya panjang
segala yang teralahkan
dan segala awan-awan yang kembara
sungai mengalir pergi jauh
pulang dari bundanya.
Kali Solo yang coklat
merambat-rambat.
Oi, dibawanya bau tanah liat!
 
 
"Puisi: Nyanyian Perempuan di Kali"
Puisi: Nyanyian Perempuan di Kali
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kalangan Ronggeng


Bulan datang, datanglah ia!
dengan kunyit di wajahnya
dan ekor gaun
putih panjang
diseret atas kepala-kepala
dirahmati lupa.
Atas pejaman hati
yang rela
bergerak pinggul-pinggul bergerak
ronggeng palsu yang indah
para lelaki terlahir dari darah.
Wahai manis, semua orang di kalangan
tahu apa bahasa bulan!

Kabur bulan adalah muka-muka
adalah hidup mereka
menggelepar bayang-bayang
ikan-ikan ditangguk nasibnya.
Gamelan bertahta atas nestapa
kuda di padang berpacuan
mengibas sepi merangkul diri,
angin tak diharapkan
cari sarang dan tersia.
Ditolaknya sandaran nestapa
betapa gila ditolaknya!
dan bila bertumbuk ke langit
terpantul kembali ke bumi.

Lalu di jagoan bersorak
pada harap adalah gila yang lupa.
Penyaplah, penyap,
nestapa yang hitam ditolaknya.
Balik pula.
Pada ditolaknya.
Dan selalu ditolaknya.

Wahai. Manis, semua orang di kalangan
tahu apa derita bulan.
 
 
"Puisi: Kalangan Ronggeng"
Puisi: Kalangan Ronggeng
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Setelah Pengakuan Dosa


Telah putih tangan-tangan jiwaku berdebu
kau siram air mawar dari lukamu.
Burung malam lari dari subuh.
Kijang yang lumpuh butuh berteduh.

Di langit tangan-tangan tembaga terulur
memanjang barat-timur bukit-bukit kapur.
Tuhan adalah bunga-bunga mawar yang ramah.
Tuhan adalah burung kecil berhati merah.
 
 
"Puisi: Setelah Pengakuan Dosa"
Puisi: Setelah Pengakuan Dosa
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nina Bobok bagi Pengantin

Awan bergoyang, pohonan bergoyang
antara pohonan bergoyang malaikat membayang.
Dari jauh bunyi merdu lonceng loyang.

Sepi syahdu, madu rindu.
Candu rindu, gairah kelabu.
Rebahlah, Sayang, rebahkan wajahmu ke dadaku.

Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung
antara daunan lembayung bergantung hari yang ruyung
Dalam hawa bergulung mantra dan tenung.

Mimpi remaja, bulan kenangan.
Dukacita, duka berkilauan.
Rebahlah, Sayang, rebahkan mimpimu ke dadaku.

Bumi berangkat tidur.
Duka berangkat hancur.
Aku tampung kau dalam pelukan tangan rindu.

Sepi dan tidur, tidur dan sepi
Sepi tanpa mati, tidur tanpa mati.
Rebahlah, Sayang, rebahkan dukamu ke dadaku.
 
 
"Puisi: Nina Bobok bagi Pengantin"
Puisi: Nina Bobok bagi Pengantin
Karya: W.S. Rendra