Januari 2002
Sajak Buat Arti


Semalam cemara laut
membaca peta pada pasir
dan beratus buih menyebut
entah siapa, seorang pasasir.

Paginya kapal-kapal siap
menyembunyikan tiang menggigil
pilihan-pilihan yang tak lengkap
dalam musim dan bintang labil.

Demikian itulah bermula
sebuah klise:
Seorang anak, yang berkata,
"Aku pergi ke sebuah sore."

Dan seperti semestinya
ia ke dermaga
dengan pantalon katun tua
meninggalkan ibunya.

"Kudengar, Ibu, layar beringsut
Kudengar garam berdesir
Kudengar palka menyusut
Kudengar hujan mengusir"

Adakah ia gentar?
Siapakah yang gentar?
Ibu itu tak hendak melambai
hanya tangisnya menatap lantai.

"Lihat, Bu, bayang-bayang
Lihatlah aku.
Sesuatu yang menghilang
ketika senja sampai ke pintu."

Esoknya tak tiba surat
karena ibu adalah menunggu
Kamar menatap. Cahaya berat.
Sebuah lampu. Sice tanpa tamu.

Cuma terdengar cemara laut
membaca cerita pada pasir
dan pantai yang melangut
melepaskan seorang pasasir.
 

1986
"Puisi: Sajak Buat Arti (Karya Goenawan Mohamad)"
Sajak Buat Arti
Karya: Goenawan Mohamad
Gelisahku


Gelisahku adalah gelisah purba
Adam yang harus pergi mengembara tanpa diberitahu
kapan akan kembali
Bukan sorga benar yang kusesali karena harus kutinggalkan
namun ngungunku mengapa kau tinggalkan
aku sendiri
Sesalku karena aku mengabaikan kasihmu yang agung
dan dalam kembaraku di mana kuperoleh lagi kasih
sepersejuta saja kasihmu
Jauh darimu semakin mendekatkanku kepadamu
cukup sekali, kekasih
Tak lagi,
tak lagi sejenak pun.
aku berpaling
biarlah gelisahku jadi dzikirku.
 
   
"Puisi: Gelisahku (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Gelisahku
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Guruku


Ketika aku kecil dan menjadi muridnya
Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar
Ketika aku besar dan menjadi pintar
Kulihat dia begitu kecil dan lugu
Aku menghargainya dulu
Karena tak tahu harga guru
Ataukah kini aku tak tahu
Menghargai guru?
 
  
1987
"Puisi: Guruku (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Guruku
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Pada Suatu Siang

Bunga-bunga melenggang
dikibas angin siang.

Anak-anak berlari
debu melekat di kaki.

Burung-burung terbang
gemulai di udara gersang.

Dari sebuah jendela
'ku saksikan ini semua.
  
1968
"Puisi: Pada Suatu Siang (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Pada Suatu Siang
Karya: Aldian Aripin
Sendiri
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya.
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!


Februari, 1943
"Puisi: Sendiri (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Sendiri
Karya: Chairil Anwar
Orang di Katedral
Burung-burung pun bermain
Di petak-petak suram dinding
Ketika ia melangkah, bermata basah
Dari alun sedingin khotbah.

Patung-patung pun sepi, pintu-pintu pun sepi
Terpampang di kota bising tengah hari:
- Adakah jarak begitu jauh
Antara terik jalan dan jubahku lusuh?

Tuhan, ini kali bukan berita lagi:
Semadi-semadi panjang dinihari
Kepada Roma yang tak kalah
Kepada Jakarta yang gelisah.

1961
"Puisi: Orang di Katedral (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Orang di Katedral
Karya: Goenawan Mohamad
Expatriate

Akulah Adam dengan mulut yang sepi
Putra Surgawi
yang damai, terlalu damai
ketika bumi padaku melambai

Detik-detik bening
memutih tengah malam
ketika lembar-lembar asing
terlepas dari buku harian

Dan esoknya terbukalah gapura:
pagi tumbuh dalam kabut yang itu juga
dan aku pergi
dengan senyum usia yang sunyi

Langkah akan bergegas antara pohonan lengang
Bersama bayang-bayang unggas, bersama awan
Sementara arus hari
Menyusup-nyusup indra ini

(Adakah yang lebih tak pasti
selain tanah-kelahiran
yang ditinggalkan pergi
anak tersayang).

1962
"Puisi: Expatriate (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Expatriate
Karya: Goenawan Mohamad
Februari


"Lewat, lewat," seseorang berkata sopan
kepada Waktu. Tapi dingin
menyetopnya, kota
menutup pintu.

Gedung-gedung masih mencoba
menyebutkan nama mereka
kepada gelap. Tapi sejak Jalan 108
tak ada lagi percakapan

Bulan sepucat margarin dan
tak bersuara.
Langit tak meleleh.
Rambu dan lampu
membentuk
deret huruf Mesir,
dan pada kilometer ke-enam
ada sinar terakhir,
mungkin terlontar
ke tengah selat:
cahaya yang sepelan
penari menirukan angsa.

"Lewat, lewat," seseorang berkata lagi
kepada Waktu.
Tapi laut menyedotnya dan
menit membiru.

Kekal pun singgah sebentar
dan kota
mendengarkan Ajal,
dari jauh,
seperti terompet pemburu...
 
 
"Puisi: Februari (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Februari
Karya: Goenawan Mohamad