Februari 2002
Syair untuk Jakarta
kepada dm

Sebab mesti kusimpan rindu
pada batu-batu jalanan.
lalu kuhitung
berapa lembar kertas terkoyak
-sebab senantiasa tak jelas
kulukis wajahmu
terbungkus debu jalanan.

1987
"Puisi: Syair untuk Jakarta (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Syair untuk Jakarta
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Tembang di atas Perahu

Seperti di atas perahu kecil sendirian
aku terombang-ambing ombak kecil dalam tubuhku
jika aku terlelap, kumimpikan pangeran dengan jubah berderai
dan rambut mengurai beribu kalimat dengusnya yang dusta.
kulihat pancuran dari pedangnya yang panjang dan gagah.
kutiup terompet gairahku dalam tetembangan dari tanah jauh.
alangkah ngelangut. alangkah deras rindu tanpa alamat.
alangkah sunyi dan palsu impian.

Seperti di atas perahu kecil sendirian
aku terjaga. tak teratur napasku. mencari beribu nama
dan alamat. dalam berjuta situs dan bermiliar virus. berbaris
cerita cabul pesan-pesan asmara yang memualkan.

Aku sendirian, seperti lukisan perempuan di depan jendela
: memandang laut biru di batas langit. sambil membendung
badai dan ombak yang mengikis karang-karang.

Februari, 2000
"Puisi: Tembang di atas Perahu (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Tembang di atas Perahu
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Di antara Keangkuhan

Aku anak perempuan Ki Suto Kluthuk
berjalan terus berjalan
di mana-mana menghadang keangkuhan
tak disapa - sudah
tak didengar - sudah
tak diberi - sudah
bagaimana mungkin kubilang - ya sudah

Dirantai jiwaku - sudah
dibantai harapku - sudah
digadai nasibku - sudah
bagaimana mungkin kubilang - tak masalah
ah, orang tlah lupa guritan hati
ah, orang tlah lupa bisik nurani
dalam tembangan jiwa insani

"oe eo oe eo oe eo oe eo 
jangan tidur sore-sore bulang terang indah permai
lebih baik memujilah pada Tuhan Sang Pemurah
agar hidup tertata, tentram damai dan sentosa
oe eo oe eo oe eo oe eo"

Di antara debur ombak di laut barat
terdengar pesan purba diulang-ulang
hidup harus dipagari - hidup harus dipagari
honocoroko dotopo rogo - honocoroko dotopo roso
ho!

"Puisi: Di antara Keangkuhan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Keangkuhan
Karya: Diah Hadaning
Pesan Gaib Jelang Purnama Suraya

Usai mengeja lirik lampu sepanjang malam
kudapati pagi hari tak tanah basah
roh air telah meresap dalam sejarah
saat langkahmu gegas pergi bapa
ilusi?
Mengapung bayangku di udara
saat angin mati
berputar-putar mencari Malioboro
pojok benteng barat dan timur
sampai Kaliurang kilometer 19
tak kujumpa seorang penari pun
untuk kusalami
baru kuingat
penari-penari itu
telah masuk ke dalam rumah jiwamu
gelar tarian musim dan geliat abad.

Tratak Gondosuli
Januari, 2007
"Puisi: Pesan Gaib Jelang Purnama Suraya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pesan Gaib Jelang Purnama Suraya
Karya: Diah Hadaning
Di antara Gemuruh Kota

Adalah peluhmu yang menetes sepanjang jalan
hari ini kulihat kilau di seberang jalur hijau
debu-debu jalang melapisinya nyata
membuat bujur hitam perjalanan
sementara itu roda-roda lalu lalang
melumat bekas-bekas tanda kehadiranmu
menyapu bayang-bayang itu
mestikah kukutuk gemuruh kota
yang membuat hening jadi poranda
dan kenangan kecil menguap di pucuk cemara
di balik hari ini semua makin jauh olehnya
menuju ke arah tikungan tahun
kota pun makin gemuruh ........

Jakarta, 1978
"Puisi: Di antara Gemuruh Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Gemuruh Kota
Karya: Diah Hadaning
Sajak Sebatang Pohon

Daun-daunnya menyembunyikan rahasia
menyembunyikan cahaya dan mentera tetua desa
lupa Tuhannya yang sabar
menanti di puncak ufuk.

Pohon kekar tumbang pada saat badai
menghimpit sang tetua tengah bermentera
sebuah keesaan terlambat dikabarkan
mentera telah jadi cendawan.

Jakarta, 1980
"Puisi: Sajak Sebatang Pohon (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Sebatang Pohon
Karya: Diah Hadaning
Bukit di Bawah Matahari

Yang menyimpan batu-batumu
yang menyimpan hijau-hijaumu
yang menyimpan tegar-tegarmu
yang menyimpan harap-harapmu
bukit di bawah matahari
anak manusia tak henti memanjati
mencari anginmu
mencari puncakmu
mencari rahasiamu
beribu jejak menjadi iga-igamu
garis-garis pergulatan
nafas-nafas tak sepikan hening
makna-makna pencarian
bukit di bawah matahari
hari ini mungkinkah
kita berbincang sendiri
ada rahasia di antara kita
dalam lipatan kampung tua
padahal kesederhanaan
membenci benalunya.

Lampung
Oktober, 1986
"Puisi: Bukit di Bawah Matahari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bukit di Bawah Matahari
Karya: Diah Hadaning
Percakapan dengan Angin
di Telaga Kedokan Parang Gupito Wonogiri

ke Kedokan Nok, ke Kedokan
kau basuh debu tubuhmu
kau basuh luka musimmu
kau basuh matahari Wonogiri
(angin kering menyisiri jalan setapak
bekas jejak perawan banyak kehilangan)

Ke telaga tanpa warna
aku Dhenok memotong senja
matahari membakar bianglala
kusembunyikan di celah dada
(siapa memperhatikan suaranya
selain angin bukit kapur tanah leluhur)

Senandungmu lirih
adakah perlambang sedih
telaga kian menyusut
Tuhan tetap Maha Kasih
(angin menggugurkan debu di udara
hinggap pada bulu burung dan angsa)

Ke telaga tanpa warna
kubasuh wajah letih
bunga kecubung Parang Gupito
air telah bercampur lumpur
menjadi boreh dan lulur
air telah bercampur kencing
manusia dan sapi serta segala
kusapa Gustiku Maha Cinta
(di keruh telaga Dhenok mencoba berkaca
musim hanguskan kulitnya) 

Jakarta
September, 1987
"Puisi: Percakapan dengan Angin (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Percakapan dengan Angin
Karya: Diah Hadaning
Sajak Lapar

Kudengar berulang
orang-orang senandungkan
laparnya sendiri
zaman terus berlari meninggalkan
yang menangis diam-diam di teritisan
: aku!

kudengar berulang
orang-orang menimpuki
laparnya sendiri
musim terus berganti membiarkan
yang tersakit mengenang Lemah Abang
: aku!

Lapar telah menjadi sebuah unikum
lapar telah mekar berkuntum
lapar telah menyerigala
lapar yang amuk
lapar yang murka
: Giri Mahkota!

Bogor
April, 1993
"Puisi: Sajak Lapar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Lapar
Karya: Diah Hadaning
Penalaran

I
Anak-anak lahir dari rahim tercemar
dibesarkan mimpi-mimpi dalam layar kaca
tumbuh jadi benalu, parasit dan me-angsa
Anak-anak lupa wajah ibu
digantikan wajah-wajah iklan siang malam
seni hidup telah berganti bendera
berkibaran di angan-angan
warna-warna berkelebatan memenjara penalaran.

Malam-malam dijajakan dalam paket
dan ruang-ruang dalam rumah penuh suara-suara
deru mobil berkejaran
suara pelor berdesingan
dan pekik perempuan
lalu caci maki beterbangan
melompat dari tabung-tabung kaca
melekat di dahi di mata di mulut
syair-syair pujian terhela kemarau panjang.

II
Bapa, betapa rapuhnya hati anak-anak-Mu
peradaban baru mengubah mutiara dalam jiwa
memasir dari malam ke malam
doa-doa tak seharum zaman moyangku
hidup menjadi sehampar laut
dan kami hiu saling buru.

Kami kenapa pilih gelap sementara ada terang
kami kenapa pilih serat sementara ada merjan
kami pilih murtad sementara ada iman
kami pilih lupa sementara ada ingatan

Bapa, betapa rapuhnya hati anak-anakMu
peradaban baru mengubah mutiara dalam jiwa
di mana-mana kulihat pasir semula padang impian
dan kami terhisap pusaran angin
sementara belum selesai pertobatan.

Bogor, 1994
"Puisi: Penalaran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Penalaran
Karya: Diah Hadaning
Semak Bakau Catatan Dua

Aku banyak kehilangan
sewindu ini
katamu sambil menahan
rasa haru tiba-tiba
jadi semak bunga ungu
di sela tulang igamu.

Muara angke 
muara karang
kau susuri diam-diam
kau tetap kehilangan
ketika elegi
kau ubah jadi epigram
pandang suwung jadi buram
muaramu mimpimu
destarmu yang tercabik.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Semak Bakau Catatan Dua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Semak Bakau Catatan Dua
Karya: Diah Hadaning
Bunga Misteri Bagi Diana

Sekuntum bunga misteri
yang tumbuh di jantung buana
telah kau petik
kau semat di gapura maya.

Sekuntum bunga misteri
yang menjadi karisma abadi
telah kau bawa
dalam perjalanan paling jauh
tak kembali.

Bunga misteri itu
cinta bestari yang baru kau miliki.

bunga misteri itu
getar pesona
kau bawa mati.

Bogor, 1996
"Puisi: Bunga Misteri Bagi Diana (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bunga Misteri Bagi Diana
Karya: Diah Hadaning
Tragedi Titik Api

I
Kehijauan alam timur
hutan kemilau
prajamu prajaku
prajaku prajamu
hutan kemilau
kehijauan alam timur.

Agni ya agni
lidahnya merah tragedi
seutuhnya ajaib elegi
bumi hijau jadi padang
padang jadi tangis hari
elegi ajaib seutuhnya
tragedi merah lidahnya
agni ya agni.

II
Hutan
sisakan sepi
satwa
hilang suara
unggas
hilang gegas
hutan
sisakan mimpi
kampung
hilang gaung
kembara
hilang angina
tragedi.

Memilihi-milih kayu ulin
memilihi-milih rotan kenangan
memilihi-milih damar selingkar.

Bogor
April, 1998
"Puisi: Tragedi Titik Api (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tragedi Titik Api
Karya: Diah Hadaning
Orang-Orang Angkuh

Dia, dia, dia
tak pernah ucap salam
mulutnya belati siap tikam
tak pernah mengangguk
nafasnya aroma pasar induk
sketsa orang-orang angkuh.

Jika dia berjalan
kau harus copot kepala
simpan di kantung celana
jika dia berhenti
kau harus copot kaki
sandarkan di kolong sunyi
dia harus satu-satunya
sketsa orang-orang angkuh.

Dia, dia, dia
ingin seperti maharani 
ingin seperti pendekar sejati
membela bumi pertiwi
sementara kaki injak melati
sketsa orang-orang angkuh.

Nopember, 1998
"Puisi: Orang-Orang Angkuh (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Orang-Orang Angkuh
Karya: Diah Hadaning
Tembang Babak Salu

Adalah sang babak salu kaki seibu
merayapi liang berulang
menunggu lewat manusia alpa
yang hatinya berbulu
manakala negeri melati
prahara mengiring orang mati
sementara yang hilang tak kembali.

Adalah sang babak salu kaki sepasang
melenggok di musim jalang
dalam jiwa manusia dungu
selalu mimpi jadi ratu
aku pun jadi gagu.

Hidup ibarat lintasi titian
lalu sibuk dan lupa panggilan
sirnakan bulu di hati
matikan sang babak salu
agar jiwa tenteram rahayu.

Bogor
Februari, 2000
"Puisi: Tembang Babak Salu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tembang Babak Salu
Karya: Diah Hadaning
Di Tikungan

Orang-orang pemilik senyum bunga
tiba-tiba hilang kendali
menjadi kepompong tak berjiwa
bergerak tanpa jantung dan kepala
mengiringi tarian iblis
sambil menyabetkan linggis
para kawula menangis
kota pun semakin berubah
jarah dicacah-cacah
karisma mutiara langka itu
di mana hilangnya kini kucari
gagap seorang saksi jaman
meraba dalam kegelapan
sementara galau di timur
resah di tanah barat
membuat harapan masih sekarat
doa terlempar di altar
zikir kemibir di subuh getir
mimis amis tak pilih nyawa
ruh hukum hilang makna
seorang saksi jaman terus mencatat
tangannya gemetaran
di antara para pemerkosa gentayangan
di antara para korban berjatuhan
jaman telah sampai di tikungan.

Bogor
Agustus, 2000
"Puisi: Di Tikungan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Tikungan
Karya: Diah Hadaning
Sebuah Partitur

Di antara bunga sukla
dan harum nafas doa
engkaukah yang masih lantunkan gita
angin kesiurkan isyarat alam
membuka lembar rahasia
engkaukah yang masih eja aksara kehidupan
sementara di mana-mana
orang-orang membuat gaduh
engkaukah yang masih berkidung
membuat malam menjadi teduh
membuat retak menjadi utuh.

Bogor, 2002
"Puisi: Sebuah Partitur (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sebuah Partitur
Karya: Diah Hadaning
Catatan Musim 2002

Sebuah legenda tentang nama-nama
tak pernah selesai dibaca
sementara siang malam pesona dihantar
layar kaca, nadirkan bius meratus
sinta dan kebodohan jiwa
perjuangan dan pengkhianatan
mencari tuannya di ujung musim
membujuk ujung pena dan ujung ingatan
tak berkesudahan
musim merentang waktu
padang rumput telah berbatu
lereng berkabut telah berlumut
lelawa bersungsang di lelangit
catatan musim berbau sangit.

Bogor
Juli, 2002
"Puisi: Catatan Musim 2002 (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Musim 2002
Karya: Diah Hadaning
Catatan Aneh

Biasanya kulihat hadirmu di antara
kata-kata, berloncatan dari ujung ke ujung
sesekali terbalik-balik, sementara aku
coba memahaminya dengan susah payah
tapi sejak awal kemarau ini hadirmu
berubah-ubah, membuat imagi pecah-pecah.

Kau berdiri di beranda gedung sangat tinggi
'natap ke bawah seolah dalam benua mimpi yang asing
kau juga ada di gigir bukit cadas sangat terjal
amati rimbun dusun sisa peradaban
kau bahkan ada di pucuk menara sangat tua
penuh misteri sejarah tentang kekuasaan
wajahmu binar tatap mata pijar
manakala kulambai tangan gemetaran ke arahmu
terasa tenggorokan menyempit tiap kemarau datang
ditambah rasa ngungun dan dungu menatapmu
kau sedang apa saudaraku, tanyaku terbata
oleh endapan pahit getir kehidupan
kabarkan pada dunia, aku mau benahi sorga
yang porak poranda, sahutmu dengan suara gema.

Bahkan aku tak menghalangimu
aku sangat memahami sandi maksudmu
jika itu memang pilihanmu, kenapa ragu
tiba-tiba kau nampak melayang
cepat sekali dan makin cepat
'hunjam ke arah bumi.


Bogor
Juli, 2003
"Puisi: Catatan Aneh (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Aneh
Karya: Diah Hadaning
Menyimak Rumah Bambu II

Sesekali simak ulang catatannya
Rekam kasih sayangnya pada pernik kehidupan
Di antara hiruk kaum berkepentingan
Dan macapatan kaum urban

Sesekali simak ulang senyum ikhlasnya
Bias rumah bambu di bantaran
Dia sesungguhnya ruh rumah bambu itu
Denyar-denyar kirim isyarat-isyarat kasih

Tak pamrih, obat purba hidup perih
Lewati lingkar ring road di selatan
Pandangku hitung pohon Jalan Gejayan
Aku mengenangmu, bisikku tertahan.

Yogya
Oktober, 2003
"Puisi: Menyimak Rumah Bambu II (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyimak Rumah Bambu II
Karya: Diah Hadaning
Ilusi

Yang jatuh atas ranjangku lewat genting kaca
yang menyatu dalam bayang-bayang bulan
yang kutangkap dalam kidung di ujung senyap
dan membuat malam jadi penuh risik angin
dan membuat pohon-pohon mencari kepak kelelawar
dan membuat cermin ingin bersatu pada langit
begitu adanya
adalah sosok bayang-bayangmu
adalah ilusiku
adalah warna jingga dan ungu.

Yogya, 1978
"Puisi: Ilusi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ilusi
Karya: Diah Hadaning
Tanah Wajo
Buat Pak A. Amiruddin

Siapa yang telah menyuarakan
jeram dari langit itu?
Aroma bulan yang semalam menepuk laut
mengemasi embun di pundak pagi
Burung-burung berhinggapan di pohon sukma
menyulamkan duka lama
di daun-daun lontara.

Kucari Wajo dalam diri
(tanah kelahiran badikku)
Gairah bertabur ke lembah-lembah
Gema sejarah yang mulai senyap
kutemukan di pelukan melati.

Hidup yang bergetar
menyelesaikan derai ombak di pantai
Dan Wajo yang makin tua, makin purba
bagaikan remaja yang gagah
menari
sambil menabuh mentari jadi genderang.

"Puisi: Tanah Wajo (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Tanah Wajo
Karya: D. Zawawi Imron
Sujud di Tepi Amstel
Di tepi tikungan Sungai Amstel
ada tiga buah bangku
untuk duduk memandang senja
Tiga temanku duduk
menatap bayang-bayang gedung
yang bergerak di permukaan sungai
Mereka seperti hendak menebak teka teki
kapan tertuai sekian janji.

Di belakang ada transaksi
Mulai dari barang loak
sampai gadis cantik yang disimpan dalam keranda
Merasa terjaga dari mimpi dan nyanyi
hatiku menyala
merindukan ujung menara.

Kuhampar sajadah cinta
Alangkah sulit menyentuhkan dahi
ke tanah yang sering diinjak kaki.

Orang-orang berhamburan mengejar senja
Diam-diam kupeluk bunga leli berputik cahaya
Orang yang jatuh cinta tak pantas menyerah kalah.

"Puisi: Sujud di Tepi Amstel (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Sujud di Tepi Amstel
Karya: D. Zawawi Imron
Selama Bulan Menyinari Dadanya

Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggil-panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Aku bulan lagi si cilik tidak tahu jalan
di hadapan berpuluh lorong dan gang menimbang:
ini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan "pas bebas"
Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggil-panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Juga ibuku yang berjanji
tidak meninggalkan sekoci.

Lihatlah cinta jingga luntur:
Dan aku yang pilih
tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur
rumah tersembunyi dalam cemara rindang tinggi
pada jendela kaca tiada bayang datang mengambang
Gundu, gasing, kuda-kudaan, kapal-kapalan di zaman kanak.

Lihatlah cinta jingga luntur:
Kalau datang nanti topan ajaib
menggulingkan gundu, memutarkan gasing
memacu kuda-kudaan, menghembus kapal-kapalan
aku sudah lebih dulu kaku.

1948
"Puisi: Selama Bulan Menyinari Dadanya (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Selama Bulan Menyinari Dadanya
Karya: Chairil Anwar
Jangan Kita di sini Berhenti


Jangan kita di sini berhenti
Tuaknya tua, sedikit pula
Sedang kita mau berkendi-kendi
Terus, terus dulu ...!!!

Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris
Pelayannya kita dilayani gadis-gadis
O, bibir merah, selokan mati pertama
O, hidup, kau masih ketawa?

24 Juli 1943
"Puisi: Jangan Kita Di Sini Berhenti (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Jangan Kita di sini Berhenti
Karya: Chairil Anwar
Sebab Dikau
Kasihkan hidup sebab dikau
Segala kuntum mengoyak kepak
Membunga cinta dalam hatiku
Mewangi sari dalam jantungku.

Hidup seperti mimpi
Laku lakon di layar terkelar
Aku pemimpi lagi penari
Sedar siuman bertukar-tukar.

Maka merupa di datar layar
Wayang warna menayang rasa
Kalbu rindu turut mengikut
Dua sukma esa - mesra.

Aku boneka engkau boneka
Penghibur dalang mengatur tembang
Di layar kembang bertukar pandang
Hanya selagu, sepanjang dendang.

Golek gemilang ditukarnya pula
Aku engkau di kotak terletak
Aku boneka engkau boneka
Penyenang dalang mengarak sajak.
"Puisi: Sebab Dikau (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Sebab Dikau
Karya: Amir Hamzah
Cari Muatan
Senen Sehabis Hujan

Tanah ditumbuhi lalang dan putus asa
pucat hujan menyisakan malam
dan kelabu langit penghidupan
dari stasion pertemuan pasangan perempuan.

Sinar pudar becak mencari muatan
menemui kami yang hidup malam hari
sebelum jam sebelas berdendang
sebelum itu hidup sudah harus dipenuhi.

Siapa menembus gang menemui kami
memberi kami nafas dan itu tak kami siakan
kami berikan apa yang bisa kami berikan
dan malam pucat menyisakan hujan

di warung kami tertawa bersenda cubitan
sambil mengharap lonjakan tiba-tiba:
'mari!'

Sudah mereka rampas sawah dan rumah kami
dan lelaki kami berangkat tak kembali.

Sebelum sungguh-sungguh kami punah
muka perong gigi ompong tubuh reot
sebelum habis hujan malam dan beserah
lampu becak pudar dan makin pudar.

Lambang pernyataan hadir kami
warna kuning dan merah kesumba membungai bumi.

Di warung kopi ditumpahkan bir ke tenggorokan
dan kami dinyalai harapan kecil
sebelum berdentang sebelas malam
dalam menunggu tak disiakan.

Agar lambang kehadiran kami
bunga biru dan hijau muda memenuhi bumi
membesarkan lampu becak masih menunggu muatan.

Cahaya langit kelabu dan malam pucat
tanah ditumbuhi lalang dan putus asa
dari stasion pertemuan pasangan perempuan.
   
"Puisi: Cari Muatan (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Cari Muatan
Karya: Ajip Rosidi
Kepada Jakarta


'Ku kutuk kau dalam debu keringat kota
Karena di balik keharuan paling dalam
Mengintip malaria.

'Ku cinta kau kala senja
Mentari mengubur sinar menyirat bukit-bukit atap
Menari di kening-kening rumah, membelai perut sungai
Lalu lintas bergegas, kelip lampu becak
Semua makin pudar, semua jadi samar
Lahir kembali dalam kecerlangan malam
Mengambang mobil-mobil hitam di aspal hitam.

'Ku cinta kau dalam ketelanjangan malam
Penuh warna dalam keriahan gemilang
Sibuk dalam kelengangan arah
Menjauhi sudut jiwa paling sepi
Menyaruk-nyaruk jalan menyusur kali
Becermin di permukaan air kemilau
Bulan rendah seolah terjangkau.

'Ku cinta kau kalau dinihari
Redam batuk memecah sunyi
Dan nyanyian tukang becak
Mengadukan nasib pada langit
Dan bintang yang tak mau 'ngerti

'Ku cinta Jakarta
Karena kau kota kelahiran kedua.

 
  
1955
"Puisi: Kepada Jakarta (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Kepada Jakarta
Karya: Ajip Rosidi
Malam Lailatulkadar

Pada malam Lailatulkadar
adakah dialaminya peristiwa
yang mengguncangkan perasaan
dalam cahaya seribu bulan?

Telah lama dicarinya
sesuatu yang memberi makna
agar hidup yang selalu sendiri
benar-benar punya arti.

Lebih dari ingat pada Ibu
atau terima kasih pada Bapa
yakin jalan yang ditempuh
tidak berujung sia-sia.

Tapi apa hak manusia lata
tahu rahasia Yang Maha Kuasa
Apa pun yang ditakdirkan-Nya
akan diterima tanpa bicara.

   
"Puisi: Malam Lailatulkadar (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Malam Lailatulkadar
Karya: Ajip Rosidi
Sepanjang Gunung Sahari
Kami lupakan lapar dengan perempuan
Bersusu hitam: daki dan mentari
Kami lupakan kesibukan kota
Derum mobil dan kapal terbang
Anak-anak berkejaran mengakhiri hari.

Kami bicara tentang kebakaran
Ibu hangus ayah tertembak
Kampung habis dan kota kepadatan
Namun kami tak menangis
Kan menangis air mata habis.

Yang siang hari perempuan kami punya
Malam milik siapa saja
Pagi-pagi datang lesu dan habis daya
Menciumi kami keras dan liat
Pandangnya mengadukan kegarangan kota
Yang merampas kesegarannya
Namun mereka tak menangis.
Kan menangis air mata habis.
   
"Puisi: Sepanjang Gunung Sahari (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Sepanjang Gunung Sahari
Karya: Ajip Rosidi