Penalaran

I
Anak-anak lahir dari rahim tercemar
dibesarkan mimpi-mimpi dalam layar kaca
tumbuh jadi benalu, parasit dan me-angsa
Anak-anak lupa wajah ibu
digantikan wajah-wajah iklan siang malam
seni hidup telah berganti bendera
berkibaran di angan-angan
warna-warna berkelebatan memenjara penalaran.

Malam-malam dijajakan dalam paket
dan ruang-ruang dalam rumah penuh suara-suara
deru mobil berkejaran
suara pelor berdesingan
dan pekik perempuan
lalu caci maki beterbangan
melompat dari tabung-tabung kaca
melekat di dahi di mata di mulut
syair-syair pujian terhela kemarau panjang.

II
Bapa, betapa rapuhnya hati anak-anak-Mu
peradaban baru mengubah mutiara dalam jiwa
memasir dari malam ke malam
doa-doa tak seharum zaman moyangku
hidup menjadi sehampar laut
dan kami hiu saling buru.

Kami kenapa pilih gelap sementara ada terang
kami kenapa pilih serat sementara ada merjan
kami pilih murtad sementara ada iman
kami pilih lupa sementara ada ingatan

Bapa, betapa rapuhnya hati anak-anakMu
peradaban baru mengubah mutiara dalam jiwa
di mana-mana kulihat pasir semula padang impian
dan kami terhisap pusaran angin
sementara belum selesai pertobatan.

Bogor, 1994
"Puisi: Penalaran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Penalaran
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top